
~Jangan tanya bagaimana perasaanku. Tentu kau sudah tahu~
•
•
"Bagaimana Jo?" Tanya Harris pada Johan, seusai menghubungi Tuan Winata. Johan telah bergabung dengan Harris saat ini.
"Tidak bisa di lacak, Tuan!" Johan melempar headphone-nya ke atas keyboard laptop dengan keras. Berulang kali dia meraup wajahnya dengan kasar.
Mereka berada di dalam sebuah mobil van yang di tata sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah ruangan. Ada 4 orang yang turut serta di dalam van itu.
"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan! Bolehkah saya meminta bantuan Asisten Toni?" Tanya Johan hati-hati.
Harris menghela nafas, pasrah. "Baiklah Jo!"
Di saat seperti ini, bisakah dia memikirkan dirinya sendiri? Istrinya lebih penting.
Johan langsung menjauh dan menghubungi Asisten Toni yang sebenarnya sudah siap di lokasi yang di tinggalkan Johan.
Posisi mereka memang tak jauh dari lokasi terakhir mobil Tuan Winata menghilang. Kawasan padat penduduk ini, seperti tameng bagi Tuan Winata untuk membentengi diri.
Harris menggigit bibir, frustrasi. Ini sudah beberapa jam berlalu. Bahkan dia meminta ke Hendra agar akses ke bandara di perketat. Intinya Harris mengurung kota ini sampai istrinya di temukan. Juga memutus semua kerja sama dengan perusahaan Tuan Winata. Harris tak peduli soal penalti atau kerugian yang di derita perusahaannya.
"Tuan, lihatlah ini! Bukankah ini nomor kendaraan yang membawa Tuan Winata?" Seorang pria berpenampilan santai menunjukkan gambar melalui citra satelit.
Harris yang menumpu kepalanya pada tangannya, menoleh layar laptop yang di ulurkan pria itu.
"Doni, pergilah ke tempat ini, sekarang! Aku akan menunggu Johan!" Perintah Harris pada Doni tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
"Baik, Tuan!" Doni mengangguk dan langsung menuju lokasi yang di tunjukkan oleh pria itu dengan beberapa rekannya.
Belum lama Doni meninggalkan mereka, Johan mendapat pesan dari Asisten Toni. Dia berjalan setengah berlari ke arah Harris yang belum beralih dari laptop tadi.
"Tuan, ini adalah rumah orang tua Tuan Winata! Kemungkinan Nyonya berada di sana!" Ucap Johan sambil menunjukkan alamat dan foto yang dikirimkan Asisten Toni.
"Tunggu apa lagi? Kita kesana sekarang!" Teriak Harris pada anak buahnya yang semakin banyak di ikut sertakan. Tak lupa alat komunikasi terpasang di telinga mereka, juga kelengkapan alat tempur mereka.
Mereka sudah di bagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang berjaga, ada yang menyisir dan ada yang ikut menyerbu.
Mereka bergerak hati-hati dan tanpa suara, ketika tiba di lokasi, Doni sudah berjaga di sana. Sunyi dan tenang. Johan masuk ke halaman dan memeriksa garasi, lalu mengangguk pada Harris. Ketika rumah berhasil di kepung, Johan dan Doni memimpin di depan dengan senjata mengarah ke depan. Senjata api yang di lengkapi peredam suara.
Harris mengikuti keduanya dengan sikap yang sama. Manik mata hitam itu sudah menguarkan hawa membunuh yang kuat. Meski dia terlihat tenang, tapi semakin tenang dirinya, semakin tidak ada yang tahu pula bagaimana dia akan menghukum lawannya.
Johan membuka pintu depan dengan pelan dan mendorongnya hingga terbuka. Johan mengulurkan kepalanya ke dalam. Kosong. Johan mengisyaratkan agar Doni melindunginya saat dia masuk. Ketika Doni sudah siaga, Johan mengendap masuk. Dan bersembunyi di balik kursi sofa tua berwarna cokelat gelap.
Doni masuk, saat Johan merangsek lebih dalam disusul Harris dan beberapa orang lagi. Mereka siaga dan tegang.
Ruangan luas itu kosong hanya ada segelas jus jeruk dan sebotol air mineral yang telah berkurang isinya. Ruangan itu temaram dan sunyi.
Anak buah Harris yang masuk melalui pintu belakang juga sudah berpapasan di balik lemari dimana Kira menguping pembicaraan Tuan Winata tadi.
__ADS_1
"Zero," Ucap salah seorang anak buah Harris yang menyisir dari belakang. Zero artinya tidak menemukan siapapun, termasuk Kira.
Harris sudah tak karuan lagi. Kalut dan marah. Dia menghentak kakinya dan meninju kaca lemari di sebelahnya hingga remuk.
"Tuan!" Teriak Doni dari kamar yang di tempati Kira tadi.
Harris berlari menyusul Doni. Di dorongnya Doni yang di rasa menghalangi jalannya. Ada satu porsi makanan yang baru di sentuh sedikit dan baju yang di kenakan Kira teronggok di bawah ranjang.
Melihat itu, Harris mengamuk sejadi-jadinya. Menendang, membanting, melempar dan menghancurkan apa saja yang ada di ruangan itu. Hingga akhirnya dia terduduk lemas sambil menangis. Putus asa. Hari hampir pagi tapi Kira tak juga di temukan.
"Kau dimana, Sayang? Kau dimana?" Isaknya dalam tangis. Tangannya meninju lantai.
"Tuan, anda tidak boleh menyerah! Kita harus tetap mencari Nyonya! Mungkin saja Tuan Winata belum jauh!" Johan menepuk bahu Tuannya yang berguncang.
Johan? Jangan di tanya. Dia bahkan membentak Asisten Toni yang awalnya enggan membantu sebab Tuan Dirga belum memerintahnya. Johan tak kalah takut dan cemas dibanding Harris. Namun, dia tetap menekan perasaannya. Meski di balik punggung Harris dia mengusap air matanya dalam diam.
Harris bangkit, namun, di urungkannya saat melihat lemari kayu di sebelah kursi rotan yang sudah hancur itu sedikit terbuka. Harris dengan cepat berlari ke pintu lemari itu, di dapatinya, seorang wanita paruh baya tengah meringkuk ketakutan dan hampir kehabisan nafas.
"Tuan, ampuni saya, Tuan," Wanita itu tersuruk di depan Harris, "Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya pembantu di sini!"
"Kemana Tuanmu?" Tanya Harris. Harris hendak menarik rambut wanita itu, tapi langsung di cegah Johan. Johan menggeleng, seakan berkata "jangan".
"Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya di suruh bersembunyi dan jangan bilang apa-apa!" Cicit wanita itu.
"Di mana wanita yang memakai baju itu?" Tanya Harris sambil menunjuk gaun biru muda milik Kira.
"Nona itu kabur, Tuan!" lirih wanita itu.
Harris mengusap wajahnya kasar. Lega tapi juga masih khawatir, diluar sana? Sendirian? Menjelang pagi? Harris sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Mana Bosmu?" Teriak Johan yang seakan tak sabar menunggu Harris bertanya. Namun, pria itu tak menggubris sama sekali. Dia malah menatap Johan seakan menantang.
Johan mendidih, saat mendapat tatapan sarat tantangan itu. Dia menarik kerah baju pria itu dan menghadiahi kepalan tangannya yang kokoh di bawah mata mencapai hidung. Dua kali, oh tidak, Johan mengulangi lagi hingga yang ketiga dan empat. Sampai pria itu tak mampu menunjukan senyum se incipun, hidungnya berdarah dan wajahnya miring.
"Itu sepadan," Ucap Johan sambil melempar pria yang sudah lemas itu ke tanah.
Harris yang semula terpaku pada tindakan Johan yang aneh, seakan dia yang kehilangan istrinya, mengalihkan pandangannya ke sekitar. Pria itu pasti hanya pengalihan. Dia lalu menyelidik ke sebelah rumah yang gelap. Lalu mengarahkan anak buahnya dengan jemarinya. Dan, Harris sendiri kembali ke dalam rumah, jika tebakannya benar, Tuan Winata akan melewati pintu belakang dan melarikan diri lewat halaman belakang, saat pria tadi di hajar. Menurutnya, Tuan Winata masih bersembunyi di dalam rumah itu.
Benar saja, Tuan Winata berjalan mundur di bawah todongan senjata anak buah Harris yang merangsek dari pintu belakang. Harris sudah siap dengan senjata terangkat di ujung tangannya.
"Skakmat," Gumam Harris sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Sudut bibir Harris semakin meninggi, saat Tuan Winata berbalik menghadapnya.
Tuan Winata terperangah, tetapi dia adalah pria dengan pengendalian diri yang kuat. Dengan satu kedipan mata, Tuan Winata sudah menjadi pria mempesona lagi. Sayangnya, dia akan berakhir di tangan Harris, entah apa yang akan dia lakukan pada Tuan Winata nantinya. Semua tergantung pada apa yang terjadi pada istri kesayangannya.
***
"Astagfirullah," Seorang gadis muda berjilbab memegang dadanya saat tubuhnya bertabrakan dengan seorang wanita dengan baju yang minim.
Bibir gadis itu terus beristigfar, apalagi melihat cairan gelap yang mengalir di kaki wanita itu. Wajahnya memutih di bawah cahaya yang menyela diantara celah daun mangga yang menaungi keduanya.
__ADS_1
"Astagfirullah, bagaimana ini?" Gadis itu celingukan. Kebingungan. Dia sendiri sedang tidak aman, tapi wanita ini bisa saja tidak tertolong jika di tinggalkan.
Drt...drt.
Gadis bernama Nisa itu, mengambil ponsel yang berada di saku jaketnya.
"Bang, bisa ke sini tolong Nisa!" Sergah Nisa, bahkan sebelum orang dalam telepon itu mengucap sepatah katapun. Napasnya yang naik turun terdengar jelas di telepon.
"Nisa di belakang Mushala, Bang! Bersembunyi di belakang rumah warga! Abang lurus saja, nanti Nisa tunggu di pinggir jalan!" Ucap Nisa. Ya, Nisa saat ini kabur dari Bapak tirinya, yang memaksanya untuk menikah dengan lelaki tua sebagai tebusan hutang judi bapak tirinya.
Nisa bersimpuh di dedaunan kering, menyangga kepala Kira di pahanya. Dingin. Tapi nafasnya masih ada, pun dengan denyut nadinya yang terasa lemah. Nisa menggosok kedua telapak tangannya, gelisah.
Tak lama kemudian, sorot lampu dari sebuah mobil di kejauhan, menyoroti sela-sela tanaman pagar. Nisa meletakkan perlahan kepala Kira, dan melompat ke jalan. Decit rem mobil itu, menyayat hati. Nyaris saja...
"Nisa! Kamu ngga apa-apa kan?" Seorang pria bertubuh tinggi langsing, turun dari minibus silver. Kemunculan Nisa yang tiba-tiba mengagetkan Angga jika Angga tidak waspada bisa saja Nisa tertabrak olehnya.
"Ngga apa-apa, Bang! Sekarang bantu Nisa angkat wanita itu, kita harus menolong dia, Bang!" Nisa menarik tangan Angga dan mendorongnya ke balik pepohonan. Angga yang masih bingung, menurut saja pada Nisa.
"Nis, dia kenapa?" Angga terkejut bukan kepalang melihat Kira yang terbaring di rerumputan dan dedaunan kering.
"Ngga tahu, Bang! Pokoknya, kita selamatin dia dulu!" Jawab Nisa sedikit tak sabar dan takut jika sampai wanita itu kehabisan banyak darah.
Anggapun diam. Dia meletkkan Kira dalam gendongannya. Nisa menyibak tanaman pagar agar Angga bisa lewat.
"Hati-hati, Bang!" Nisa membantu Angga menyangga kepala Kira yang menjuntai ke bawah.
Susah payah akhirnya Angga berhasil meletakkan Kira di kursi penumpang dengan Nisa yang memangkunya. Tak lupa jaket milik Nisa di balutkan di bagian bawah tubuh Kira yang sudah memerah.
Angga melesat membelah kesunyian malam. Baik Angga maupun Nisa sangat cemas dengan keadaan Kira. Namun, Angga memelankan laju mobilnya saat berpapasan dengan mobil lain saat sudah menuju jalan raya. Angga tidak mau mengundang kecurigaan siapapun.
"Nis, gimana ceritanya kamu bisa ketemu wanita itu?" Tanya Angga saat di rasa sudah aman, melenggang di jalan raya.
"Saat aku bersembunyi dari kejaran Bapak dan orang suruhan Pak Jaya, kami bertabrakan Bang, pas aku berbalik dia sudah pingsan!" Ujar Nisa sambil mengusap kening Kira berulang-ulang. Berharap usapannya bisa mengurangi rasa sakit pada tubuh Kira bahkan lebih baik jika segera sadar.
"Nis, tadi di gang menuju rumahmu ada banyak orang berjaga! Jangan-jangan ada hubungannya dengan wanita itu, Nis?!" Angga tak bisa membendung prasangkanya. Biasanya, dia tak berani mengungkapkan pikiran buruk yang sering menguasainya. Terlebih menyangkut Nisa.
"Abang mikirnya jelek terus sama orang!" Ucap Nisa sambil merengut. Dan Angga sudah menduganya.
"Abang cuma bilang ada hubungannya, bukan mikir buruk tentang wanita ini!" Jawab Angga sambil tertawa.
Nisa hendak menjawab, tapi, mobil Angga sudah berbelok ke halaman Klinik yang cukup besar. Ketika sampai di depan pintu masuk, Angga berhenti dan memanggil perawat yang berada di sana.
"Semoga dia baik-baik saja ya Bang!" Ucap Nisa dengan tangan mengatup di depan bibirnya.
"Semoga, Nis! Oh ya, Abang mau lihat orang-orang tadi, siapa tahu mereka sedang mencari wanita ini!" Ucap Angga, entahlah, sepertinya mereka saling berhubungan.
"Abang," Nisa seperti keberatan dengan kehendak Angga.
"Kau tenang saja, aku tahu harus berbuat apa! Kau baik-baik di sini ya, calon istriku!" Angga mengusap jilbab gadis itu dengan sayang. Tak lupa senyum yang menampilkan cekungan di pipinya, membuatnya semakin manis. Sehingga membuat Nisa tersenyum merona.
•
__ADS_1
•
•