
Siang berganti senja temaram, burung-burung mulai beterbangan menuju sarangnya kembali, terlihat seperti bintik hitam berarak menjauhi cakrawala.
Johan memarkirkan mobilnya tak jauh dari undakan menuju teras kediaman Wisnu Dirgantara. Wajah sangar itu menyunggingkan senyuman, tatkala tubuhnya memutari badan mobil untuk membukakan pintu untuk Viona, Nicky dan Kristal.
Johan mengambil alih Nicky yang begitu lengket padanya, dari gendongan Viona. Bayi yang tengah aktif bergerak itu tampak menggemaskan, tangan mungilnya mencakar-cakar wajah Johan.
"Kapan kalian nikah? Serasi loh kalian itu," Sambut Kira saat Johan mendorong pintu utama hingga terbuka lebar. Keduanya tampak salah tingkah. Viona dengan wajah tertunduk, buru-buru mengambil alih Nicky yang terlihat enggan berpisah dari Johan.
Viona menghampiri Kira yang menggendong buah hatinya yang terlelap. Keduanya saling menempelkan pipi, "Semakin besar saja dia." Viona mengusap pipi bersemu merah muda dan bibir semerah wine.
"Iya, kuat banget dia! Sampai kuwalahan," Kira meringis membayangkan betapa rakusnya putri kecilnya saat menyusu. Kira mempersilakan Viona duduk di sofa yang tersisa. Dia sendiri duduk di lengan sofa di samping suaminya.
Semua orang tengah berkumpul di ruang depan, hanya Kira saja yang baru bergabung, sehingga dia bisa melihat kedatangan Johan dari layar monitor yang yang terletak di tembok antara ruang tengah dan ruang tamu, terhubung dengan cctv teras dan halaman parkir.
Nina tampak mengekori kakaknya kemanapun kakaknya melangkah. Dia lebih suka mendapat tatapan tajam iparnya daripada harus bertatap muka dengan Rio, yang sejak tadi siang tak kunjung pergi. Tak jarang, Nina memergoki Rio tengah menatapnya, seperti sekarang.
Nina ingin memperjelas kekaburan pandangannya akan hubungan Rio, Vivian dan Hendra. Namun, Nina sungguh takut mengajukan pertanyaan itu pada kakaknya, apalagi, sepanjang waktu Harris selalu menemani Kira.
Nina menghela napas, berat sekali rasanya beban keadaan yang ditimpakan padanya. Hubungan ambigu antara Rio, Hendra dan Vivian, dan Johan yang semakin dekat dengan Viona. Wanita yang menurut Nina tidak pantas untuk Johan. Meski berulang kali dia mengatakan keberatan tapi Johan tak pernah marah pada Nina ataupun menjauhi Viona. Nina menjerit dalam hati.
Segera semuanya membaur, bahkan Dirga tak lagi membenci Viona. Semua tertata di jalurnya, sesuai dengan keinginannya. Sang Asisten bahkan kini bisa menikmati hari tuanya dengan tenang. Nasihat dan petuah diberikan kepada insan-insan yang sudah berumur namun baru saja memulai hidup baru yang penuh tantangan. Entah, kemana saja mereka bertahun-tahun lalu saat harusnya mereka belajar memulai hubungan.
__ADS_1
"Pesan Paman cuma satu, hargai dan cintai pasangan kalian sepenuh hati. Lihatlah Paman kalian ini, kami bukan pasangan yang dimabuk cinta di awal pernikahan, kami juga di jodohkan dan sangat sulit ditahun pertama pernikahan kami. Namun, Paman mencoba untuk memahami istri Paman yang keras kepala, dan akhirnya sampailah di titik dimana kita saling mengerti. Tetapi, hingga akhir hayat istriku, tak ada wanita lain yang mampu menyamai atau menggantinya," Dirgantara menjeda ucapannya, sekedar menarik napas. Diedarkannya pandangan menyapu wajah-wajah yang antusias mendengarnya.
"Bohong jika Paman tidak mencoba mencari pengganti, tapi melihat buruk dan posesifnya satu-satunya anak Paman, Paman memilih melanjutkan hidup dalam kesendirian. Paman takut, jika Harris akan membenci papanya, karena menggantikan posisi wanita yang sangat dicintainya," Wisnu Dirgantara terkekeh diikuti yang lain. Harris hanya mencebik, namun dia merasa bersalah pada papanya. Diusianya dulu, pasti papanya sangat kesepian, terlebih menghadapi sikapnya yang sangat menyebalkan.
"Sekarang Paman lega sekali, rumah ini terasa hidup dengan anak, cucu dan kerabat seperti ini. Bahkan jika mau, besan dan Nina tinggal di sini juga, setidaknya ada yang lawan yang tangguh saat bermain catur,"
Ruang tamu kembali riuh, bahkan ART disini juga ikut mencuri dengar di ruang tengah, mereka tak sungkan ikut tertawa.
Disela tawa itu, terlihat Hendra yang memangku Almeer sedikit mencuri pandang pada Vivian yang duduk di sampingnya. Hatinya merasa cerah terlebih saat Vivian tertawa lepas, seakan tak ada beban atau sakit hati yang dirasakannya. Dengan acuh, Hendra menautkan jemarinya disela jemari lentik Vivian. Meremasnya pelan, saat Vivian mencoba menariknya.
Vivian menatap tautan tangan itu, hatinya menghangat, saat ibu jari Hendra mengusap lembut punggung tangan Vivian. Pun dengan matanya yang mulai mengembun. Ingin rasanya dia melompat kepelukan lelaki yang membuatnya sakit dan jatuh cinta sekali waktu. Vivian menipiskan bibir, saat lirikan keduanya bertemu. Apa bahagia itu seperti ini? Batin keduanya.
Namun lain halnya dengan hati yang masih diselimuti kabut keraguan. Mereka masih menyelami dalamnya palung hati. Mengais-kais sisa harapan dan cinta. Bisakah untuk menyatukan serpihan asa, membalutnya dengan impian dan harapan. Sebongkah tekat terbit dan mulai menggulung, membesar, meski tak yakin namun semua usaha wajib dicoba. Walaupun, jika gagal, bukan lagi menjadi serpihan tetapi berberai bagai debu.
"Gantian kalian yang main ke rumahku, ya!" Ucap Vivian saat dia memeluk sahabatnya.
"Tunggu sampai dia sedikit besar, aku akan sering main ke rumahmu," Kira mencium Almeer yang mulai bergerak gelisah. Bayi itu nampak lelah dan mengantuk.
Kira mengantar Vivian hingga ke teras. Meninggalkan Hendra dan Harris dibelakang.
"Jangan lupa mampir ke minimarket, stok pengaman yang banyak, Almeer masih kecil," Bisik Harris sambil menekan bahu sahabat karibnya.
__ADS_1
Hendra merapatkan gigi dan bibirnya, "**1*, mata lo awasin gue mulu,"
"Abisnya kelihatan banget sih! Sekali aja, masih belum terbiasa sama lo," Harris menggiring sahabatnya menuju pintu depan. Vivian pasti sudah terlalu lama menunggunya.
"Bisa diem ngga? Lo bikin gue gugup aja!" Hendra mendorong tubuh Harris yang makin mendekat padanya.
Harris tergelak, dia menjauh dari Hendra yang bersungut, dan menghampiri Kira dan Vivian.
"Al, malam ini, jagain Mama yah, ada anakonda berkeliaran di dekat rumah kalian," Harris membelai Almeer yang terkantuk-kantuk. Vivian membelalak lebar.
"Jangan nakut-nakutin gitulah! Ada ulat aja aku takut," Vivian meredup ke arah Harris. Dia benar-benar ketakutan, dia pobia terhadap ular.
"Sanca kali, Bang! Anakonda mah gede, sekampung pada rame kalau ada anakonda," Kira menatap suaminya yang cengengesan. Kira menajamkan matanya, curiga dengan tingkah suaminya
"Jangan dengarkan dia. Dia lagi kacau!" Hendra langsung membuka pintu mobil untuk Vivian. "Kuharap bayi kalian tidak memberi kesempatan kalian untuk berduaan."
Hendra mendengus sebal ke arah Harris yang terkekeh. "Ngga bakal mempan buatku."
Hendra sedianya hendak menutup pintu dengan kasar, namun saat melihat Almeer yang terlelap, Hendra menutupnya pelan, sebagai gantinya, dia melesatkan mobilnya dengan kecepatan penuh.
•
__ADS_1
•
•