
"Kenapa wajahmu begitu masam, Yo?" Kira memperhatikan wajah Rio dari dekat saat semua orang masih terhanyut dalam tawa.
"Penumpang gelap mencuri perhatian!" Jawab Rio ketus. Membuat Nina dan Kira tertawa tertahan.
"Aku tidak yakin jika ini suamimu, Nin!" Kira membingkai wajah adiknya dan meraihnya dalam pelukan. "Selamat adikku, semoga kalian bahagia ya! Jadi istri yang baik, patuhi suamimu, perbaiki tingkah konyolmu itu!"
Tanpa terasa titik bening meluncur dari sudut matanya, adik yang begitu disayanginya akhirnya menemukan pelabuhan cintanya. Rasanya baru kemarin, bocah ini masih nangis-nangis karena di penjara.
"Doakan adikmu ini bisa sepertimu, Mbak! Bisa jadi satu-satunya wanita yang dicintai suaminya!" Erat pelukan ditautkan keduanya. Seakan enggan berpisah.
"Tenang saja, ada yang akan siap menghunus pedang jika sampai dia menyakitimu!" Kira melerai pelukannya, diusapnya sekali lagi pipi berpulas warna dengan kedua belah tangannya.
"Kamu cantik sekali, Nin!" Ucapan Kira berhasil membuat Nina tersipu.
"Aku emang cantik kali, Mbak, dari orok!" Nina mencubit pipi kakaknya dengan gemas. "Mbak sekarang agak gendut ya?"
"Iyalah, orang dia lagi hamil!" Celetuk Harris yang berdiri di samping Kira.
"Bener Mbak?" Nina membelalak lebar, dia bahkan melompat kecil diatas sepatu hak yang tak terlalu tinggi.
"Hei, jaga sikapmu! Mana ada manten jejingkrakan seperti itu," Kira menahan tubuh kecil Nina.
"Selamat atas penikahanmu, Nina! Kau satu-satunya wanita yang bisa menakhlukan dia!" Harris memeluk adik iparnya. Membuat Nina menahan napas.
"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam, pria mengerikan ini memberiku pelukan! Untung saja kamu iparku," batin Nina dengan bibir terbuka dan wajah menghadap ke atas.
"Ma-makasih, Pak! Eh, Mas, eh-" Nina salah tingkah saat Harris melepas pelukannya dan tersenyum mengusap lengannya.
"Panggil saja Abang, sama seperti Rio memanggilku!" Nina nyaris pingsan mendengar suara kakak iparnya dalam mode lembut.
"Selamat atas kehamilamu, Ra!" Lirih Rio sambil tersenyum. Benar, kini tak ada lagi rasa untuk kakak dari istrinya ini. Namun, pernah memiliki "rasa" sebelumnya membuatnya salah tingkah saat berjarak sedekat ini.
Kira berpaling, "Hei, ini hari kalian! Kenapa aku yang mendapat ucapan selamat?"
"Sudah kubilang, disini banyak penumpang gelap, aku hanya penyelenggara saja!" Desah Rio dengan menurunkan bahu.
Harris menepuk pundak adik sepupunya itu, dan mendekapnya erat, "Segera cetak gol, Bro!"
Kira tertawa lirih, "Baiklah, kami akan pergi! Selamat menempuh hidup baru, untuk kalian!Sampai jumpa nanti malam!"
***
__ADS_1
Menjelang tengah hari, acarapun usai. Johan dan Viona melangkah ke kamar yang sudah di pesan sebelumnya. Dengan Nicky dalam gendongan Johan. Bocah itu merengek tak mau berpisah dengan sang Mama.
"Ini jam tidur siangnya, makanya dia rewel," suara Viona memecah kesunyian perjalanan mereka menuju kamar. Nicky memang sudah setengah terpejam di atas bahu Johan.
"Maaf merepotkanmu!"
"Kenapa kau masih sungkan denganku? Aku sudah jadi suamimu, bukan lagi teman atau orang lain lagi!" Johan menoleh sedikit ke arah Viona sambil menepuk punggung Nicky.
"Aku belum terbiasa, maaf!" Suara Viona lirih terdengar. Tetapi, jujur saja, itulah yang dia rasakan sekarang.
Mereka tiba di depan pintu, setelah menempelkan keycard, Viona mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Hawa dingin menyambut mereka, tak ada yang istimewa, hanya dekorasi sederhana, tanpa kelopak mawar bertebaran, atau buket bunga dimana-mana.
"Kau puas dengan dekorasi ini?" Johan menyusul Viona yang berdiri membuka tirai jendela kaca besar, usai membaringkan Nicky diatas ranjang.
Viona melepaskan gengamannya pada tirai, lalu tersenyum sekilas ke arah Johan. Helaan napas seakan melepaskan semua beban terdengar begitu jelas.
"Bagiku, diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, bertemu orang-orang baik, dan menikah denganmu adalah anugrah dalam hidupku, Jo! Kini, semua yang bersifat semu dan sementara, terlihat sekali bedanya dimataku!" Pandangan Viona mengintari seluruh pemandangan di luar kaca. Pun dengan Johan, meski kedua matanya menatap ke luar, tetapi, perhatiannya tetap pada apa yang diucapkan Viona.
"Tapi kau berhak meminta Vi! Sebagai laki-laki mapan, aku merasa aku bisa memberimu lebih dari ini!" Johan melirik Viona sejenak. Wanita itu tampak menyunggingkan senyuman.
"Dan aku berhak memutuskan, Jo!" Viona menatap Johan, "berikan aku yang terbaik dalam bentuk bimbingan dan kasih sayang! Materi bagiku kini hanya sebagai apresiasi atas usahaku, bukan lagi tujuanku! Menjadikan materi sebagai tujuan hidup, malah membuatku gila! Dan, aku mau, atas apa yang terjadi pada hubunganku dengan Evan, tidak lagi terjadi pada hubungan kita! Sekalipun aku lemah, tapi membagi beban merupakan sebuah penghargaan pada pasangan!"
Viona menahan tawa, "Sebelum tidur aku banyak merenung dan berpikir, apa kurangku, apa salahku, bagaimana mereka bisa bahagia sedangkan aku tidak? Padahal, aku memiliki segalanya!"
Johan mengulurkan tangan mengusap rambut dan menyisihkan helaian yang menggantung di pelipis. "Kurasa kau berhak bahagia, dengan segala kurangmu, dengan Kristal dan Nicky, juga aku! Orang-orang itu, mereka punya kekurangan, kesalahan dan memiliki segalanya. Mereka terlihat bahagia karena mereka menyembunyikan kekurangan dan melebihkan senyuman! Hanya itu!"
Viona berpikir sejenak, menelaah ucapan Johan, "Kau benar! Aku hanya kurang melebihkan senyuman!"
"Mulai sekarang tersenyumlah, sekalipun kau sedang bersedih! Hanya didepanku, kau boleh menangis dan bersedih! Hanya denganku kau membagi semua laramu! Kau mengerti?"
Viona mengangguk, "Ganti bajumu, dan istirahatlah, temani Nicky tidur!"
"Baiklah," Viona melayangkan senyum kelegaan, lalu melangkah ke arah sofa untuk melepaskan sanggulnya. Johan pun mengikuti Viona, dia duduk berseberangan dengan Viona. Mengambil ponsel dan ya, bekerja.
Bukan hal sulit bagi Viona membuka hiasan rambutnya sebab dia sudah terbiasa. Dengan cepat Viona menuju kamar mandi dan segera merendam tubuhnya di air hangat dengan essential oil aroma mawar yang begitu harum dan menenangkan. Menggosok tububuhnya pelan. Tiba-tiba Viona menarik bibirnya singkat, seakan baru teringat sesuatu.
Viona menyandarkan kepalanya hingga menatap langit-langit kamar mandi. "Johan pasti masih berpikir ribuan kali untuk menyentuhku! Jika bukan karena Martin masih diluar sana, Johan pasti tidak akan segera menikahiku!"
Johan memeriksa beberapa email dari klien diluar negeri yang memang selalu tertuju padanya.
__ADS_1
"Kenapa mandinya lama sekali? Aku juga gerah kali!" Gumam Johan saat Viona tak kunjung keluar hampir 30 menit lamanya dikamar mandi. Johan bangkit dan melepas jas yang masih melekat padanya. Tumpukan otot kekar membuat kemeja putih itu melukis siluet kokoh dan bertenaga.
Johan berniat menggedor pintu kamar mandi sambil menarik dasi yang melilit lehernya. Tepat saat dia mengulurkan tangannya ke muka pintu, pintu itu membuka menampilkan sosok Viona dengan handuk melilit kepala.
"Kelamaan ya?" Aroma wangi menusuk penciuman Johan, membuatnya membeku sesaat.
"Tidak juga!" Johan susah payah membasahi kerongkongannya. Dress merah marun itu membuat kulit putih Viona tampak mencolok.
Lambaian tangan Viona menyadarkannya dari sesuatu yang telah lama di pendamnya. Johan membasahi bibirnya, segera menormalkan dirinya.
"Aku mandi dulu, kau istirahatlah!" Johan berlalu begitu saja tanpa melihat Viona. Menutup kamar mandi dengan segera dan mengguyur kepalanya dengan air dingin.
"Dasar, duda tua haus belaian!" runtuknya dalam hati saat gelora dalam dirinya tak kunjung surut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih untuk komentar yang sangat bijak dan smart...π₯°
Saya bersyukur mendapat pembaca yang berpikiran luas...mampu membangkitkan semangat saya...π₯°
Maafkan saya jika up nya lama...maklum otak saya hanya selebar daun jambu...π€£ imajinasi sebatas dapur, sumur dan kasurπ€£π€£
Dan yah, minimnya apresiasi dari platform yang benar-benar membuat penulis kecil seperti saya mudah sekali down. Semakin sulit mendapat fee di sini, tapi di sini tempat paling nyaman untuk menulis.
So, please... tinggalkan jejak bagi yang sudah berkenan membaca cerita remahan saya...itu sangat berarti untuk kelangsungan penulis kelas bawang macam saya...π₯°
__ADS_1
Terimakasih yang sudah memberi saya hadiah, Vote, komen, like dan me-love cerita saya...πππ
Love sekebon duren buat kalian semuaπππππ