
Pagi yang dingin, tetapi tidak membuat Harris malas, terlebih hari ini, hari yang sudah sangat dia tunggu. Bahkan ketika langit masih gelap, dia sudah melesat membelah jalanan kota yang masih lengang.
Mengikuti kata suaminya, Kira pagi ini memilih sarapan terpisah, dari Viona dan Kristal. Mendengar penuturan suaminya, bahwa Viona memutar balikkan fakta, membuat Kira geram. Meski, pada akhirnya semua hutang piutang Viona telah di selesaikan oleh Harris.
Meski berulang kali, Kira melihat senyum penuh ejekan dari Viona, tetapi, dia mencoba sabar. Kira mengalihkan perhatiannya dengan menemani Kristal yang sedang mewarnai gambar di buku mewarnai yang baru di belinya.
“Apa Kristal ingin sekolah?,” Tanya Kira kepada Kristal yang telah menyelesaikan mewarnai gambarnya.
“Iya, Tante. Kristal mau, tapi Tante Viona tidak mengizinkan,” Jawab Kristal kembali membuka lembar baru dan mulai mewarnainya.
“Kristal dulu sekolah di mana?,” Kira melihat hasil dari mewarnai di buku-buku lain milik Kristal dan tersenyum. Kristal mungkin, masih TK saat terakhir sekolah.
“Di desa, Kristal dulu tinggal sama Bibi Yun, pengasuh Kristal.”
“Di mana itu Kris?,” Kira penasaran dengan asal usul Kristal.
"Desa Kristal jauh, Tan. Em, sebentar," Kristal bangkit, mengambil tas ranselnya yang bergambar Little Pony. Mengeluarkan majalah yang biasa di pakai anak-anak TK belajar dan menyerahkan kepada Kira.
“Ini, Tan. Ini alamat rumah Bibi Yun. Kata Bi Yun, jika Tante Viona jahat pada Kristal, Kristal harus lari dan menunjukkan ini kepada orang yang menolong Kristal.”
Kira membaca alamat lengkap yang tertera di sampul depan buku itu. Sama sekali tidak mencurigakan. Itu memang kolom untuk nama, kelas dan alamat. Bibi Yun, sepertinya mengkhawatirkan Kristal. Kira memandangi Kristal yang masih berdiri di hadapan Kira. Mata bulatnya yang lebar, berkedip-kedip pelan. Kira mengulas senyum dan membelai kepala Kristal lewat rambut kriwilnya, yang lucu.
“Kris, Tante ke kamar dulu ya, mau ambil ponsel,” Kira membawa buku itu, kemudian menelepon Santi untuk mencari tahu alamat desa yang hanya berjarak beberapa jam dari kampung halaman orang tua Kira.
Kira yakin, ada yang di sembunyikan Bibi Yun, mengingat bagaimana dia sangat mengkhawatirkan Kristal.
Ketika Kira hendak kembali ke kamar Jen, di lihatnya Viona tengah memilah-milah baju yang di antarkan seorang karyawan sebuah butik. Meski heran, Kira diam saja. Dia kali ini patuh pada perintah suaminya, agar patuh dan tidak banyak tingkah.
"Hei, kau tidak mau mencoba satu?," Teriak Viona dari bawah, melihat Kira yang hendak berlalu.
"Tidak, terimakasih," Jawab Kira tanpa menoleh.
"Jangan marah ya, hanya aku yang mendapat gaun, kau tidak," Teriaknya lagi, sambil tertawa mengejek.
Kira tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahu. Tidak peduli. Kira segera ke kamar Jen, bermain lagi dengan Kristal hingga menemani Kristal tidur siang, bahkan Kira juga ikut tertidur, di ranjang Jen.
Kira bangun saat merasakan ada yang mengigit telingannya. Kira mengerjap, mungkin tidur siangnya kali ini sangat nyenyak sehingga dia linglung saat di bangunkan mendadak. Kira menoleh malas, dia hapal betul, siapa yang menggigitnya.
"Bangun, pemalas," Bisik Harris di telinga Kira yang barusan di gigitnya.
Kira mengangguk, menggeliat sembari mengusap matanya. Manik mata cokelat itu, menelisik ke seluruh ruangan yang kosong. Entah mungkin hanya mimipi, sepertinya tadi dia mendengar suara Jen.
__ADS_1
"Kau cari siapa? Ayo bangun, dan mandi, kita harus segera ke suatu tempat. Ayo," Harris sedikit menarik tangan Kira, agar dia mau bangkit dari tidurnya.
"Kemana?," Kira beringsut turun dari ranjang Jen. Tidur siang membuatnya malas.
"Sudah, siap-siap saja, semakin cepat siap, semakin kau cepat tahu," Harris menggadeng lengan Kira, mereka berjalan cepat, dan segera bersiap.
Meski Kira bingung, tapi dia memilih diam dan mengikuti apa perintah Harris. Dan, pria itu sangat senang ketika Kira patuh padanya. Hingga berulang kali dia menghujani Kira dengan kecupan. Senyum puas menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan sore ini.
Namun, Kira tak bisa lagi, membendung rasa penasaran saat mobil yang membawa mereka menuju kantor Harris. Dia mulai menoleh ke kanan dan kiri, takut ada yang terlewatkan.
"Yang, kita mau kemana sih?," Kira menatap Harris yang menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil, dengan mata terpejam.
Harris menarik sudut bibirnya, "Kita akan malam mingguan,"
"Di kantormu?," Kira menggoyangkan tangan Harris pelan, agar dia mau membuka mata.
"Iya, sudahlah diam. Aku sangat lelah, bangunkan aku saat sudah sampai kantor," Harris membuka matanya sekilas, lalu menutupnya kembali. Mengabaikan Kira yang masih mematung di liputi rasa penasaran.
Kira memajukan bibirnya, Kira selalu kesal jika rasa penasaran-nya tidak terpuaskan. Dan, itu semua tak luput dari pandangan Harris. Membuatnya menarik sudut bibirnya.
Hingga, beberapa saat kemudian,
“Yang, bangun,” Kira mengguncang pelan tangan Harris. “Sudah sampai, nih.”
“Lho, ini ada lift, kenapa kemarin harus memutar lewat depan?,” Gumam Kira, yang tentu saja membuat Harris tersenyum.
Kira menatap muka bantal yang sangat menggemaskan di depannya, bersandar pada dinding lift yang berkilat. Harris melirik Kira yang menatapnya, dengan senyum simpul.
“Apa yang kau pikirkan?,” Harris meraih tangan Kira yang menganggur, di dalam saku jaket kulit yang di pakainya. Menautkan jemari mereka, dan mengusap nya berulang.
Kira segera mengerutkan bibirnya, ketahuan sedang memperhatikan suaminya.
” Apa tidak ada tempat romantis yang lain, selain di kantor?.”
Harris mengayunkan jari telunjuknya di depan Kira sembari tersenyum lebar.
“Kau mengejekku tidak romantis begitu?.”
“Tidak,” Kira mengalihkan pandangannya ke atas di mana lampu-lampu yang menyilaukan berada. “Patut di coba, bagaimana rasanya malam mingguan di kantor.”
Harris mengacak rambut istrinya yang di kucir ketat di belakang kepalanya. Lalu menarik kepala istrinya, mengecupnya berulang-ulang, membuat Kira kepanasan. Dan tertawa senang.
__ADS_1
Lift berhenti di lantai paling atas gedung, dan Harris menuntun Kira menaiki beberapa anak tangga sebelum sampai di pelataran luas atap gedung. Dari sini terdengar suara gemuruh, sehingga membuat kepala Kira di jejali beribu pertanyaan.
Kira ternganga lebar, ketika pintu terbuka dan melihat apa yang ada di depannya. Berulang kali dia mengerjap, mengucek matanya, seolah tak percaya apa yang di lihatnya.
“Ini?,” Kira tak mampu menyelesaikan ucapannya. Dia hanya memandang Harris dengan kedua tangan memegang pipi.
“Ayo naik,” Harris masih mengabaikan campuran ekspresi di wajah istrinya. Meski harus sedikit mendorong tubuh Kira, agar dia mau bergerak maju.
“Akan kubuat kau tahu siapa aku, dan betapa romantisnya diriku,” Bisik Harris di telinga Kira sebelum sebuah headphone, menutup kedua belah telinganya. Tak lupa Harris memakaikan sabuk pengaman di badan Kira. Pun demikian dengan Harris, di tambah sebuah kaca mata hitam membingkai mata indah itu. Dari sudut pandang Kira, penampilan Harris, sangat mempesona.
Kira hanya mencebik, dia masih tidak percaya dengan apa yang di alami sore ini. Bahkan dalam mimpi sekalipun, dia tidak pernah berani menghadirkan bayangan kehidupan seperti ini. Tak sekalipun.
Dengung baling-baling mulai terdengar, dan embusan angin dari baling-baling mulai menerbangkan debu dan beberapa helai daun yang tak sengaja tertiup hingga ke puncak atap.
Perlahan, capung terbang itu mulai merangkak naik, meninggakan pijakan bertuliskan “H” yang sangat besar.
Heli mengudara membelah langit sore berwarna jingga. Membawa penumpangnya melihat cakrawala yang mulai memerah, indah. Harris meraih telapak tangan Kira yang terasa dingin. Kira, yang sebenarnya gemetaran, dan masih tak percaya dia mengalami hal ini, menoleh ke arah suaminya. Harris menunjuk panorama yang dia tinggalkan barusan. Hutan beton menjadi belantara yang tak tertembus, nyaris seperti mainan lego yang bersusun, jika di lihat dari atas. Lalu, telunjuk Harris, menunjuk kaki langit yang berpendar jingga kemerahan, di tambah matahari yang sudah setengah lebih di telan batas bumi. Menampilkan garis lengkung indah siluet matahari.
Kira hanya diam, menikmati suguhan pemandangan yang seumur hidup baru dia alami sekarang. Syukur, tak henti dia lafalkan dalam hatinya, melahirkan titik bening, yang berpacu mengalir di sudut matanya.
Harris memperhatikan Kira yang mati-matian menahan air mata yang mengalir deras. Dan semakin kencang, saat Harris mengusap pundaknya, tubuhnya kini berguncang hebat. Kira menangkupkan sebelah tangannya yang lain, ke bibirnya yang mulai bergetar. Seolah tak sanggup menahan suara yang hendak lolos dari bibirnya.
“Kau ini kenapa?,” Suara Harris terdengar sangat jelas, di ruang dengar Kira. Harris sangat khawatir jika Kira kenapa-kenapa, mungkin saja dia takut ketinggian atau bagaimana, Harris tak tahu.
Beruntung, tidak lama kemudian, heli mendarat di sebuah landasan sebuah gedung ditepi laut. Kira masih tergugu, dalam tangis bahagia.
Tetapi sayang, Harris mengira istrinya sedang tidak baik-baik saja, sehingga begitu mendarat, dia segera membantu Kira turun dari heli.
"Apa kau sakit?," Tak terbayang wajah panik Harris saat ini.
Kira menggeleng, namun, tiba-tiba, tangis itu semakin keras, dan Kira menghambur memeluk suaminya. Kira merasa dialah wanita paling beruntung, ketika dulu, dia tidak di hargai sama sekali di 10 tahun berumah tangga. Ketika dia hanya mendapat caci maki dan cercaan setiap hari. Dan kini, bahkan di usia pernikahannya yang baru seumur jagung, suaminya sudah mengajaknya menjelajah langit, menikmati indahnya dunia dari atas awan. Meskipun setiap hari, mereka sudah menjelajah....surga.
Harris membalas pelukan yang nyaris membuatnya kehilangan nafas, tetapi, dia diam saja. Membelai punggung istrinya dengan lembut, meletakkan dagunya di pundak istrinya yang cengeng ini.
"Sejak kapan sih, kamu jadi kaya Jen gini?," Pertanyaan Harris membuyarkan suasana romantis di penghujung senja, bermandikan sinar matahari yang sangat indah dan hangat. Saat yang paling di nanti bagi yang menginginkan momen spesialnya di ingat sepanjang hidupnya.
Kira mendorong pelan suaminya. Kesal. Lagi, Kira manyun. Dan berhasil membuat Harris tertawa lebar. Istri yang tamak dan cengeng, pikirnya. Tapi dia sama sekali tak berani melisankan itu saat ini, jika tidak ingin badannya remuk.
•
•
__ADS_1
•
•