
"Pak Jo, beli makanan sebentar, Pak! Nina lapar! Kayanya martabak manis itu enak, Pak!" Gadis bertubuh langsing dan terkesan tomboy itu, menepuk pelan lengan Johan. Wajahnya berpaling pada penjual makanan yang berjejer di trotoar pinggir jalan.
Nina baru saja di jemput dari bandara oleh Johan. Dia baru sampai dari liburan di kampung halaman. Meski masih tampak lelah, namun dia terlihat ceria.
Johan tersenyum melihat Nina sampai menekan kaca mobil saking tidak sabarnya untuk turun dan menikmati martabak manis yang sejak tadi menarik perhatiannya.
"Pak Jo mau?" Nina menoleh ke arah Johan dengan sumringah.
"Boleh, full toping ya, Nin!" Ujarnya tanpa menoleh, sebab dia sedang fokus memarkirkan mobilnya.
Johan menunduk, heran, saat Nina mengulurkan tangannya di atas kemudi. Ketika menoleh, Johan dikejutkan dengan alis yang terangkat berulang-ulang. Astaga! Johan menepuk keningnya. Dengan gigi saling beradu, Johan meraba sakunya, mengambil dua lembar uang pecahan ratusan dari dompetnya.
"Dasar licik," Gumam Johan. Nina terkekeh saat Johan menyerahkan uangnya dengan sedikit tepukan di tangannya.
"Pak Jo kan single, uangnya banyak, sedekahlah Pak! Kan sedekah yang baik itu untuk orang-orang terdekat! Dan orang paling dekat dengan Pak Jo, ya Nina!" Celoteh Nina santai dan tanpa beban atau sungkan. Dan itu membuat Johan nyaman jika ngobrol sama Nina.
"Ini bukan sedekah, ini pemalakan namanya!" Johan mengusap kepala Nina dengan gemas.
"Ya elah, Pak! Berkurang dua lembar aja, perhitungan amat!" Nina menampik tangan Johan. Dengan uang di tangan, Nina membuka pintu dan turun.
"Dasar bocah!" Johan tertawa. Diapun turun dan menyusul Nina setengah berlari. Keduanya seperti ayah dan anak gadisnya. Nina tak tampak seperti wanita berusia 24 tahun. Gayanya yang santai dan tubuhnya yang kecil, membuatnya imut seperti anak SMA.
***
Nina menenteng martabaknya di tangan kanan, dan matanya tak henti memperhatikan tulisan yang tertera di atas pintu. Dia melangkah dengan tergesa. Meski sudah berkabar melalui sambungan telepon, tapi jika belum melihat langsung, dia belum lega. Sampai pada pintu paling ujung, dia berhenti.
"Mbakku Sayang!" Panggil Nina dengan nyaring dan panjang, saat mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Nina membeku sejenak, ketika di lihatnya ada Kakak iparnya, Rio dan Vivian.
"Malam semuanya!" Sapa Nina mengatasi kecanggungan. Dia salah tingkah saat menjadi pusat perhatian. Juga, merasa sesak lagi saat melihat Rio yang memandangnya sinis.
"Apa yang kau bawa, Nin?" Pertanyaan Kira membuat Nina tersadar, dan segera melangkah menuju ranjang kakaknya.
"Martabak manis, Mbak! Masih anget!" Nina segera membuka kantung plastik, mengeluarkan kotak dengan aroma legit yang menggiurkan.
"Enak Nin, kayaknya!" Kira menggosok kedua tangannya dengan antusias.
"Eh, tapi, Mbak beneran baik-baik saja kan?" Nina menghentikan tangannya yang hendak membuka kotak.
Kira mendesah, "Iya, Mbak baik-baik saja! Kau ini banyak bicara banget sih!"
Dengan tak sabar, Kira meraih kotak yang masih panas itu. Kira mencecap-cecap, tangannya mengambil sepotong martabak dengan toping kacang. Dan dengan lahap dia memakannya.
Nina hanya menggeleng melihat kelakuan kakaknya. "Mbak Kira berapa tahun ngga makan?"
"Kau pikir aku tak memberinya makan?" Suara dari tengah ruangan menggema, membuat Nina mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sadar bahwa ucapannya salah.
"Bawa kemari!" Perintah Harris yang masih tak merubah posisinya.
Nina dengan patuh membawa kotak yang lain ke hadapan kakaknya. Bukan hanya iparnya yang membuat jantung Nina berlomba, tetapi juga tatapan yang tak bisa di artikan dari Rio. Bagi Nina, itu tatapan kebencian.
"Beli dimana, Nin?" Tanya Harris yang langsung mencomot sepotong.
Nina terkejut setengah mati. Dia sedang memikirkan hal lain saat meletakkan kotak itu di meja.
"Di jalan menuju kemari, Pak!" Jawab Nina terbata.
"Enak, Nin! Kasih tahu tempatnya ya, nanti!" Ucap Harris sambil terus mengunyah.
__ADS_1
"Pak Jo tahu tempatnya, Pak!" Jantung Nina sudah melompat ke angkasa. Berdegup kencang sebab Kakak iparnya bersikap santai padanya. Tak ada sorot mata tajam atau suara dingin menusuk-nusuk.
"Silakan di nikmati, Pak!" Nina menunduk dengan sopan, ke arah Rio dan disertai senyuman saat menghadapi Vivian.
Nina mengambil langkah mundur, rasanya tubuh Nina memiliki banyak lubang. Tatapan tajam Rio padanya sudah seperti percikan bara.
"Enak ya, Mbak?" Tanya Nina saat dia kembali ke sisi ranjang. Dia menggeser kursi lebih dekat dengan kakaknya.
"He em! Enak banget, Nin!" Kira menggeser kotak berisi martabak manis ke arah Nina.
"Aku sudah makan satu porsi dengan Pak Jo tadi, Mbak. Habiskan kalau Mbak Kira suka!" Nina tersenyum melihat kakaknya makan dengan lahap sampai belepotan ke mana-mana.
"Uhuk...uhuk!"
"Kau ini kenapa sih, Yo! Aneh banget sejak tadi!" Celetuk Harris yang melihat Rio merah padam. Vivian yang duduk bersebelahan dengan Rio menepuk punggung Rio, pelan.
"Bukan apa-apa, Bang! Mungkin aku kurang hati-hati saat minum!" Jawab Rio sambil meringis. Tangannya masih menepuk dadanya.
Mereka sedang membahas rencana untuk memindahkan Kira ke rumah sakit Rio. Selain karena fasilitasnya lebih baik dan lebih lengkap, juga lebih dekat dan mudah mengawasi.
Nina masih berada di dekat kakaknya, sesekali mencuri pandang ke arah Rio dan Vivian. Melihat Rio yang perhatian kepada Vivian dan seperti sangat menjaganya, membuat Nina ingin menangis.
"Apa yang kau pikirkan? Murung terus? Iri sama pengantin baru?" Kira menatap adiknya intens.
"Apa sih, Mbak? Iri itu kalau aku udah punya pacar tapi ngga segera di lamar! Lha ini pacar aja ngga punya!" Jawab Nina sewot.
"Makanya cepet cari pacar, kelamaan jomblo jadi perawan tua loh! Nanti ngga laku kalau udah tua!" Goda Kira pada adiknya. Dan itu berhasil membuat Nina kesal.
"Aku pulang saja! Mbak Kira nyebelin!" Nina bangkit dari kursinya bersamaan dengan Rio dan Vivian yang juga hendak pamit.
"Nin, pulang sama Rio saja! Johan masih ada urusan yang belum selesai!" Ucap Harris pada Nina saat mereka berada di luar pintu.
"Ini sudah malam, kau bisa dalam bahaya jika naik taksi!" Bentak Rio.
Keterdiaman semua orang membuat Rio terhenyak, apalagi saat semua mata tertuju padanya.
"Maksudku, pulanglah bersamaku saja! Malam-malam begini taksi pasti sulit didapatkan!"
Rio tampak salah tingkah, namun dia segera berlalu setelah berpamitan dengan kakak sepupunya. Diikuti Vivian yang juga berlalu begitu saja, tanpa mengajak Nina.
Nina menggigit bibir, dan menatap Kakak iparnya dengan takut-takut.
"Tunggu apa lagi, susul Rio! Dia akan mengantarmu sampai rumah! Mungkin jika sudah malam, Rio akan menginap di rumah!" Harris mendorong bahu Nina, agar Nina mau bergerak, dia sudah seperti patung saja, kaku dan tegang.
Harris mengantar Nina hingga pelataran klinik, setelah memastikan mereka berangkat harris baru kembali ke kamar perawatan istrinya.
***
Sepanjang jalan, Nina tak mengucap sepatah katapun. Meski Vivian sering kali melibatkannya dalam obrolan tapi Nina hanya menjawab seperlunya. Selebihnya dia menahan pedihnya belati yang menggurat di dadanya.
Nina menaikkan sudut bibirnya, "Cinta itu menyakitkan,"
"Ya?" Vivian serta merta menoleh ke arah Nina yang duduk di belakangnya, pun dengan Rio.
Nina terkejut sendiri saat Vivian dan Rio menatapnya penuh tanya.
"Kau tadi bilang apa?" Tanya Vivian yang semakin mengulurkan lehernya agar bisa melihat Nina dengan jelas.
"Tidak ada, aku tidak bilang apa-apa!" Nina menggeleng kuat.
__ADS_1
Namun Vivian menolak percaya, dia yakin Nina mengucapkan sesuatu.
"Aku hanya bersenandung saja, Nona!" Nina menghela nafas, tajam sekali telinganya, pikir Nina.
Sunyi bagi Nina, sebab dia menulikan telinganya. Sepanjang jalan matanya di suguhi pemandangan yang tidak mengenakkan. Mereka berdua asyik tertawa dan berbicara panjang lebar.
Nina memegang dadanya saat melihat Rio membenarkan posisi Vivian saat tertidur, dan tersenyum penuh arti saat menatap Vivian.
Nina mengerjapkan matanya yang terasa panas. Tanpa bisa dicegah lagi, semua tumpah perlahan. Nina mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Suram dan gelap. Seperti perasaannya. Dia benci dirinya yang tak mampu melupakan perasaan yang baru mengambang, namun rupanya akarnya sudah mencengkeram ke dasar hatinya. Tanpa di sadarinya.
Nina menggigit bibirnya kuat-kuat. Bebaskan aku dari rasa yang menyiksa ini, gumam Nina dalam hati.
Semua itu, sebenarnya tak luput dari perhatian Rio. Laki-laki itu tau, Nina menangis, tapi sebab apa? Rio tidak tahu. Pikirnya, bukankah dia sudah bersama Johan selama ini? Rio bukan lagi memperhatikan Nina dari kaca di depannya, tapi dia bahkan menoleh secara terang-terangan. Bertanya? Rio bahkan tak sedekat itu dengan Nina. Ingin, tapi ketika dia membuka mulut, suaranya menguap bersama udara.
"Wanita memang memusingkan," Gumam Rio, sambil menghela nafas. Dia memutuskan untuk membiarkan saja. Rio memilih fokus untuk mengemudi dan segera sampai ke rumah Harris.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya, Pak! Maaf merepotkan!" Nina membungkuk memberi hormat kepada Rio. Dan itu membuat Rio terpaku.
"Kenapa dia jadi bersikap sopan dan serius? Apa dia salah minum obat?" Batin Rio. Namun, dia hanya tersenyum, sekedarnya.
"Selamat atas pernikahannya, Pak!" Ucap Nina, namun tertelan oleh suara mesin yang kembali menyala. Dan Rio sudah keburu menutup kaca mobilnya.
Nina tersenyum getir, "Oke Nina, sekarang kau hanya perlu melanjutkan hidupmu! Cari uang yang banyak dan bersenang-senang! Kau masih muda dan di luar sana, masih banyak pria lain yang menunggu untuk cintamu!" Ucap Nina pada dirinya sendiri. Langkahnya terasa ringan sekarang.
.
.
.
Epilog.
"Mak, sepatu Asep kembali, Mak!" Pagi-pagi sekali Asep membuat seisi rumah heboh.
Emak berlari ke depan, dengan sendok sayur di tangannya. "Ya Allah Sep! Ini apa Sep? Banyak sekali kotaknya! Ini dari siapa Sep?
"Ini Mak, ada suratnya! Katanya bilang makasih udah di pinjemi sepatu!" Asep masih terpaku pada secarik kertas di tangannya.
"Sep, yakin ini untuk kita?" Emak masih tidak percaya. Dia bersimpuh, dan meletakkan sendok sayur serampangan. Dia menyisihkan satu persatu kotak dan tas-tas belanjaan.
"Mak, apa yang ngambil sepatu Asep malaikat, ya?" Asep melihat Emaknya yang menimang-nimang sebuah kotak berukuran sedang.
"Mungkin Sep!" Jawab Emak tanpa mengalihkan perhatiannya dari kotak itu.
Keduanya menoleh saat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Orang yang keluar dari mobil itu, membuat mereka gemetar ketakutan.
"Selamat pagi, Ibu!" Sapanya ramah sambil melepas kacamata hitamnya. "Saya kemari di utus Nyonya saya untuk mengucapkan terimakasih secara langsung. Berkat sepatu yang di ambil dari rumah ini, Nyonya saya berhasil selamat."
Kedatangan Johan berhasil menyedot perhatian dari warga sekitar. Mereka berkerumun bak menyaksikan atraksi sulap.
"Ini buku tabungan dan kartu nama saya! Hubungi saya, kapanpun kalian dalam masalah! Kami akan membantu sebisa kami!" Sambung Johan saat apapun yang diucapkannya tak mendapat balasan.
Asep dan Emak hanya melongo, tak mampu berkata apa-apa. Apalagi, setelah kepergian Johan, masih ada lagi kejutan untuk mereka. Semua perabot rumah tangga dan perbaikan rumah juga sebuah sepeda motor datang bergantian, bahkan hingga sore mereka masih belum mempercayai apa yang terjadi pada mereka satu hari ini.
"Sep, kamu memang anak yang membawa keberuntungan buat kami!" Ucap Emak berkaca-kaca.
•
•
__ADS_1
•