Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mereka yang memilih


__ADS_3

Mas, sakit, Mas” Rintih Melisa. Tangannya masih mencengkeram kuat lengan Rian. Meninggalkan bekas merah memanjang di seluruh lengan. Melisa berbaring menghadap ke kiri, sehingga keduanya saling berhadapan.


Sudah beberapa jam, Melisa merasakan kesakitan. Dia tidak lagi berteriak, setelah Dokter Vivian menegur Melisa. Namun, air mata dan rintihannya sangat menyakiti hati Rian.


“Sabar Sayang, banyak berdo’a, ya" Rian dengan lembut mengusap peluh di dahi Melisa. Berulang kali, dia mencium kening Melisa dan membelai lembut rambut Melisa yang berantakan.


“Mas, aku ngga kuat. Sakit banget" Rintih Melisa. Dia semakin kuat mencengkeram lengan Rian. Dokter Vivian, sepertinya mengerti kesakitan Melisa langsung menghampiri. Dia tersenyum melihat kesabaran Rian.


"Tuan, Nyonya, ini sudah pembukaan sempurna, bayi anda akan segera lahir. Suster, tolong bantu, saya" Dokter Vivian memanggil seorang perawat yang sejak tadi tidak meninggalkan ruangan ini.


“Nyonya, sungguh luar biasa, anda adalah wanita hebat, sebentar lagi bayi anda akan segera lahir. Ayo, Nyonya, Anda pasti bisa” Dokter Vivian mulai memompa semangat pasiennya.


“Iya, bagus, Nyonya. Tarik nafas, ayo, ayo, iya, benar begitu” Suara Dokter Vivian menggema di telinga Rian. Ini adalah pengalaman pertamanya menunggui persalinan istrinya.


Mendengar teriakan Melisa, Rian memejamkan mata. Tak sanggup melihat kesakitan di wajah ayu istrinya. Namun, dia tetap berusaha berdiri tegar, dia adalah sumber kekuatan Melisa.


“Jangan membuang energi anda Nyonya, ayo nyonya, sedikit lagi. Tarik nafas, Nyonya"


Melisa menari nafas lagi, tak bisa di gambarkan rupa dari wanita cantik ini. Wajahnya pucat, keringatnya mengucur deras, matanya terpejam, seperti mengumpulkan semua tenaga. Sekali lagi dia mengejan. Kali ini, Melisa tidak berteriak, dia memfokuskan tenaga dan pikirannya untuk melahirkan buah hatinya. Tangannya masih mencengkeram telapak tangan Rian.


“Ra, ampuni kami, ampuni kami, ampuni kami. Kami bersalah padamu” batin Rian.


“Ra, tolong jangan menyumpahi Melisa. Biarkan anak kami lahir” Pinta Rian dalam hatinya, tak kuasa melihat penderitaan Melisa. Air matanya menetes melihat wajah Melisa yang berubah-ubah. Pucat ketika menghela nafas, dan merah padam ketika berusaha mendorong bayinya keluar.


"Sayang, kamu kuat. Aku di sampingmu” Rian membisikkan semangat kepada Melisa. Hingga, saat Melisa seperti hendak menyerah, saat genggaman tangan Melisa melemah, tiba-tiba....


“AAAHHH” dorongan kuat dari Melisa membuat bayi mereka berdua lahir.


Tangisan nyaring keluar dari bibir bayi merah itu. Segera seorang perawat meletakkan bayi itu di dada Melisa, yang naik turun seirama tarikan nafasnya.


“Selamat, Nyonya. Bayi anda perempuan. Cantik seperti Mamanya” Ucap Dokter Vivian, yang tak kalah berkeringat dari Melisa.


“Terima kasih Dokter”


“Sayang, terima kasih, bayi kita perempuan” Rian terlonjak gembira. Menghujani wajah Melisa dengan kecupan.

__ADS_1


“Mas, aku haus dan lelah” Melisa tersenyum lemah.


Rian menyambar botol air mineral tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Minum ini, Sayang” Rian menyodorkan sedotan ke bibir Melisa. Melisa minum dengan tak sabaran, seakan dia telah melintasi gurun pasir, sehingga air minum menetes dari bibirnya yang pucat.


“Nyonya, saya akan membersihkan bayi anda dahulu” Perawat mengambil bayi Melisa dan membawanya untuk di bersihkan.


Rian keluar ruang bersalin menemui Ayahnya yang sejak tadi menunggu diluar.


“Cucu Ayah perempuan” Ucap Rian begitu melihat Ayahnya.


“Selamat, Nak. Sekarang kau sudah memiliki 4 orang anak” Ayah memeluk Rian. “ Bagaimana keadaan Melisa?”


“Dia baik, Yah. Hanya masih lemas” Rian tersenyum. Wajahnya penuh kelegaan, seakan baru saja lolos dari maut.


“Kau tau bagaimana dia berjuang bukan? Oleh karena itu, sayangi Melisa, hargai dia yang bertaruh nyawa untuk melahirkan anakmu” Ayah Atmaja menepuk punggung putra sulungnya itu. Memang, Ayahnya mengucapkan itu dengan senyuman tapi bagi Rian itu seperti silet yang menyayat hatinya.


Rian tertunduk lemas, dia sudah menyia-siakan Kira. 2 kali melahirkan tanpa dampingannya, ketika Excel lahir, dia hanya mengantar ke klinik dekat rumahnya, karena 10 tahun lalu rumah sakit ini belum beroperasi. Sedangkan yang ke 2, Rian sedang di luar kota, bersama Melisa. Mengingat itu, Rian merasa bersalah. Ingin rasanya dia memutar waktu, mengulang masa-masa dimana Rian senantiasa di samping Kira. Menunggui persalinannya. Mengadzani anaknya. Rian menangis dalam diam. Dialah seburuk-buruknya pria di dunia.


******


Kira, yang sudah merasa sehat, diperbolehkan pulang oleh dokter. Kini dia berjalan menuju lobi rumah sakit seorang diri. Harris dan Johan masih ada keperluan dengan seseorang, jadi mereka meminta Kira untuk menunggu di lobi rumah sakit.


Kira memang terbiasa melihat sekeliling bila berjalan kaki. Menurutnya, mengamati keadaan sekitar adalah sesuatu yang menarik. Benar saja, pandangannya terkunci pada sosok lelaki tua yang tengah duduk tak jauh dari ruang bersalin. Kira bergegas menghampiri sosok itu.


"Ayah?" Kira mengenalinya sebagai Ayah Atmaja, mantan mertuanya.


“Kira? Anakku?" Ayah Atmaja bangkit dari duduknya, ketika mengetahui Kira yang memanggilnya. Kira berlari kecil menghampiri Ayah Atmaja. Kira menyalami Ayah Atmaja, Ayah mertua yang selalu menyayangi Kira seperti anaknya sendiri.


“Ayah apa kabar? Ayah sehat?" Kira duduk bersebelahan dengan Ayah Atmaja, setahun tidak bertemu, banyak yang berubah pada diri keduanya.


“Kabar Ayah baik, Ayah sangat sehat. Apalagi Ayah bertemu denganmu di sini” Ayah Atmaja tersenyum. Menampakkan gurat-gurat halus di wajah senjanya. Tak bisa di pungkiri, bertemu dengan Kira, wajah tua itu seperti di gelayuti mendung pekat. Bagaimana istri dan anak-anaknya memperlakukan menantunya.


"Bagaimana kabar cucu Ayah?" Ayah Atmaja, tak ingin berlama-lam memikirkan masa lalu. Masa lalu yang menyedihkan, membodohi wanita tulus dan polos di hadapannya ini.

__ADS_1


"Mereka baik, Yah. Mungkin mereka sangat merindukan Kakeknya, tapi-, Ayah tau sendiri kan?" Kira tersenyum getir. Ayah Atmaja mengerti, apa penyebab mereka tidak bisa bertemu.


“Ayah sedang apa di sini?” Tanya Kira mengalihkan pembicaraan. Kira tidak ingin mengungkit keburukan Ibu mertuanya.


“Melisa melahirkan, baru saja” Ayah Atmaja tersenyum singkat. Seperti, tidak tahu harus bersikap seperti apa, dia tidak ingin menyinggung perasaan mantan menantunya.


“Wah, selamat ya, Yah. Ayah mempunyai banyak cucu sekarang" Kira tersenyum lebar. Kira tidak ingin Ayahnya tahu, bahwa dia masih terluka karena anaknya.


Namun, bukannya senang, Ayah Atmaja malah terlihat bersedih.


“Ra, Ayah minta maaf atas apa yang di lakukan Rian terhadapmu” Ayah Atmaja menunduk, malu. Bahkan, dia terlalu takut untuk membantah perintah istrinya. Dia seharusnya lebih tegas terhadap istri dan anak-anaknya.


“Kenapa Ayah yang minta maaf? Ini bukan salah Ayah" Kira menatap iba mantan mertuanya itu. Selama menjadi menantunya, Kira memang tidak mendapat perlakuan yang baik, hanya Ayah Mertuanya yang mendengar keluh kesah dan kesulitan Kira. Sedangkan Rian, terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan.


"Ayah sudah gagal sebagai kepala keluarga, Ayah gagal mendidik istri dan anak-anak Ayah, Ra. Ayah malu kepadamu. Mereka memperlakukanmu tidak selayaknya seorang menantu. Maaf Ra, maafkan kami" Ayah Atmaja melorot dan bersimpuh di kaki Kira.


"Yah, jangan begitu. Aku sudah melupakan semuanya, Yah. Ayah tidak perlu melakukan ini. Ayah, ayo berdiri" Kira menuntun Ayah Atmaja untuk duduk kembali. Kira merasa malu karena banya orang yang lewat dan melihat semua ini.


"Ayah, Ayah adalah ayah terbaik bagi Kira. Jika mereka tidak baik, itu bukan karena Ayah. Tetapi, karena mereka sendiri yang memilih. Ayah sudah memberi contoh bagaimana seharusnnya memperlakukan orang lain, tetapi, Ibu memilih membuat semua menjadi sulit. Jangan, menyalahkan diri Ayah, itu tidak baik untuk kesehatan Ayah sendiri" Kira duduk di hadapan Ayah Atmaja, memandang Ayah mertuanya yang di penuhi air mata karena ucapan Kira.


“Kamu semakin dewasa sekarang. Ayah mengira kamu akan membalas Melisa dan Rian karena sudah mengkhianatimu, Ra" Ucap Ayah Atmaja lemah. Ketakutan terbesar Ayah Atmaja adalah balas dendam yang akan di lakukan Kira, setelah mengetahui perselingkuhan suami dan sahabatnya. Kini, Ayah Atmaja merasa lega.


"Tidak, Yah. Kira tidak akan melakukan apapun, selama mereka tidak membuatku dalam kesulitan" Ucap Kira. Ya, selama mereka tidak mengusik hidupku, aku akan membiarkan semuanya, batin Kira.


"Terimakasih, Nak" Ayah Atmaja tersenyum, seakan tak ada ungkapan yang mampu dia ucapkan sebagai tanda terimakasih kepada Kira.


Kira mengangguk, "Yah, Kira permisi pulang dulu ya, ini sudah petang, anak-anak pasti sudah menunggu" Kira terlupa akan Harris. Pasti dia sudah menunggu lama.


"Dia akan membunuhku" Batin Kira.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2