
Diruang makan, menyisakan Azziel yang sedang memasukkan sarapannya kedala mulut secara serampangan. Di sebelahnya, sang kakek nampak telaten mengelap sisa makanan di bibir cucunya. Sesekali dia menyuapkan oat dengan susu rendah lemak ke dirinya sendiri.
"Pagi Pa!" Harris meletakkan ponsel di sebelah sarapannya berada. Lalu mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Hem..." lelaki tua yang tak pernah menua itu tampak enggan mengalihkan perhatiannya dari cucunya.
Cibiran sarat kekesalan meliuk di bibir Harris. Dia selalu cemburu saat diabaikan sekalipun dengan anaknya.
"Papa nikah lagi saja, masih pantas kok punya bayi!"
Seketika Tuan Dirga menoleh, menatap tajam putra semata wayangnya. "Kau ini suka bicara sembarangan! Yang ada hipertensi Papa kambuh melihat kau dan Mama tirimu nanti bertengkar terus. Kau ini seperti ramah saja dengan orang baru!"
Harris tak bisa menjawab, sebab mulutnya penuh dengan roti isi telur setengah matang kesukaannya.
Klontang...
"Kau benar-benar anaknya Harris, Ziel!" Kakek Dirga memijat keningnya. Melihat cucunya yang tak bisa di tinggal barang sejenak. Meski hanya luput dari perhatian.
Seluruh makanan tumpah kelantai, berantakan, memenuhi celemek di dadanya, baju, dan tangan mungil itu meratakan yang tersisa di mejanya.
Baby sitter Azziel yang mendengar suara keributan itu segera menghampiri. Seakan sudah hafal, dia sudah membawa perlengkapan kebersihan. Semula, dia ingin membersihkan Azziel terlebih dahulu, namun bocah itu histeris ketika tubuhnya terangkat.
Harris bangkit dari kursinya, "Biar saya saja Mbak!"
Diambilnya tisu basah yang memang selalu tersedia di meja makan. Masih saja bocah itu memercik makanan yang sudah bercampur dengan susu yang di tumpahkannya.
"Azziel diam ya! Biar Papa bersihkan badannya!" Harris mulai membersihkan wajah Azziel.
Dirgantara yang sejak tadi memperhatikan putranya hanya mengulum senyum. Tak tampak dimatanya putranya yang arogan dan kasar. Hanya ada pria yang hangat dan begitu menyayangi keluarganya.
"Kau ambilkan baju ganti sana, percuma juga dibersihkan tapi bajunya masih kotor!" Sela Dirga saat acara bebersih itu tak kunjung selesai.
"Azziel kenapa, Bang?" Harris menoleh, Kira sedang berjalan menghampirinya diikuti dua babysitter dengan masing-masing satu bocah di genggaman tangan mereka.
"Ini Yang, makanannya tumpah!"
Helaan napas Kira begitu berat terdengar. "Abang lanjutkan saja sarapannya, biar aku urus Azziel!"
__ADS_1
Dengan cekatan Kira mengangkat Azziel dan membawanya ke kamar. Sekali lagi, tanpa teriakan atau protes dari Azziel.
"Jangankan Azziel, kamu aja di taklukkan olehnya!" Ucap Dirga saat melihat Harris begitu terpana melihat istrinya dengan mudah membawa Azziel.
Harris hanya mendengus dengan ekspresi lelah. Ketiga anaknya tidak ada yang beres, sikapnya benar-benar diluar perkiraan Harris.
Roti isi yang setengah kuning telurnya meleleh di piring, hanya dipandanginya. Tak ada niat menghabiskan sarapan yang sudah tak membangkitkan seleranya lagi, namun, sekali lagi, dia tak mau membuat istrinya membuang tenaganya percuma. Untuk sekedar menyeramahinya.
Kelopak mata Harris terpejam sejenak sebelum menjejalkan roti dingin itu kedalam mulutnya. Berbeda dengan Agiel, bocah itu lebih tenang saat makan. Bahkan kini sarapannya tinggal setengah saja.
"Pa, aku berangkat dulu!" Harris mengelap sudut bibirnya sambil beranjak bangun. Melemparkan tisu di atas piring bekasnya. Menyaut ponsel dan mendesaknya kedalam saku depan celananya. Dirga hanya mengangguk, sekilas melihat putranya. Pria tua itu asyik menggulir ponselnya.
Baru saja Harris melangkah satu langkah, Agiel menjerit histeris. Tangannya merentang ke depan, menggapai ke arah Papanya. Mengangkat tubuhnya dan menghentaknya pelan, sambil berucap tak jelas.
"Pa..pa...pa..pa,"
"Agiel sama mbak saja ya! Kita main di belakang!" Bujuk babysitter yang baru bekerja sekitar 2 bulan dirumah ini. Namun sepertinya Agiel menolak, dan malah semakin histeris.
Sekali lagi, drama terjadi. Tak ada yang bisa dilakukan pria itu selain mengikuti kemauan putranya. Sejenak dia melayangkan pandangannya ke arah Papanya yang hanya mengendikkan bahu.
"Jika itu Azziel, dia pasti mau Papa ajak!" Benar, Agiel memang pemilih. Bahkan Kakek dan Utinya saja dia tolak mentah-mentah.
Namun, tawa bocah itu seketika menguapkan kekesalannya, ketika tubuhnya mendarat di dada si Papa. "Kau senang sekarang?" tanya Harris dengan gigi terkatup rapat. Gemas hingga hidung mancungnya bergesekan pelan dengan pipi putranya yang cukup tembem. Sambil terus berjalan ke arah pintu depan.
"Agiel mau di ajak ke kantor, Tuan?" Johan begitu terkejut melihat Harris membawa Agiel ke arah mobil.
Harris menggeleng pasrah. "Harusnya tidak, tapi tidak tahu nanti jika tak mau pisah!" Tangan Agiel masih bergerak kemana-mana, bocah itu tampaknya ingin masuk ke dalam mobil.
"Jo, undur semua jadwal pagi ini menjadi setelah makan siang, dan untuk sore nanti, pindah semua ke esok hari!" Setelah sejenak berpikir, tampaknya itulah jalan terbaik. Harris masih belum bisa menebak apa mau bocah ini, setelahnya.
Johan mengangkat tangannya, disertai gelengan pelan, pertanda dia tak bisa berbuat apa-apa. Sekalipun klien nya kali ini, akan mendatangkan untung jutaan dollar.
Tangan Johan meraih saku celananya, mengambil ponsel dan mulai memberi kabar yang begitu mengecewakan.
Dari dalam rumah, Kira berlari menghampiri suaminya. Tepat saat Harris mendaratkan tubuhnya di balik kemudi. Menempatkan Agiel di depannya, tangan kecilnya menggoyang kemudi dengan kuat.
"Agiel sayang, Papa mau kerja Nak! Ayo ikut Mama!" Tangan Harris terulur mengusap wajah istrinya yang tampak lelah dan berkeringat. Manik mata tajam itu tampak merasa bersalah.
__ADS_1
"Agiel bisa main apa saja yang Agiel mau, kita jalan-jalan atau ke rumah Tante Nina!" Gelengan kuat dari Agiel adalah jawabannya. Dia masih asyik dengan kemudi dan beberapa tuas dan tombol di dalam mobil ini.
"Azziel mana?" Pandangan Harris kembali menyapu wajah ayu itu.
"Di dalam sama Mbak nya!" Kepala Kira sedikit patah kesamping, sebelum kembali memperhatikan suaminya.
"Kita ke bawa ke kantor saja, Agiel tidak akan bisa tenang sampai kemauannya di turuti!"
Kira meliukkan bibirnya, "Benar, dia kan anakmu! Sifatnya sebelas dua belas sama kamu, Bang!"
Harris terkekeh, melihat ekspresi kesal istrinya yang kembali ke dalam rumah, mempersiapkan segala kebutuhan Kembar. Sementara Harris mengatur perjalanan pagi ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
jan kaget ya kalau ku labeli end🤭
tetap akan saya lanjutkan extra part (EP) atau BC( bonus chapter) nya....
Semoga masih setia sama saya ya🤭
dukungan teman-teman semua adalah suntikan semangat buat saya🥰
__ADS_1
❤❤❤❤