Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Wanita tamak


__ADS_3

Viona tergugu, semua makanan yang masuk ke dalam lambungnya bergolak, perutnya terasa di aduk-aduk. Campuran rasa kesal, marah dan tidak berdaya, membuatnya ingin muntah. Seolah makanan ini adalah benda asing dalam tubuhnya. Ya, selama ini pantang bagi Viona untuk menyentuh nasi. Makanan sarat karbohidrat dan kalori ini, musuh terbesarnya.


Sekuat tenaga, dia menjejalkan nasi beserta lauk dan sayur yang di sediakan oleh rumah sakit. Menurut dokter, Viona mengalami kekurangan nutrisi, baik untuk dirinya maupun janin dalam kandungannya. Sebenarnya, bukannya dia tidak mau makan, dia mau, dan dia ingin, meski kehadiran janin itu, tidak di harapkan, tetapi dia tidak ingin menyiksanya. Viona enggan makan karena setelah makan dia akan mengeluarkan kembali seluruh makanan yang di telannya. Bahkan, walaupun dia tidak sedang usai makan, memikirkan kondisinya yang berantakan, membuatnya mual.


Perawat yang di tugaskan Kira dan Harris untuk menjaga Viona merasa iba. Wanita yang di kenalnya sebagai ratu di dunia seni peran ini, sangat memprihatinkan. Dia dengan sabar membantu Viona makan. Air matanya tak henti membanjiri pipi mulus tirus wanita ini.


"Minum, Nona?," Perawat itu menyodorkan gelas dengan sedotan bengkok ke arah Viona, saat di rasanya, Viona kesulitan menelan. Seolah makanan ini adalah sekam.


Viona mengangguk, menyambar sedotan dengan tidak sabar. Ah, kemana tingkah anggun dan berkelas itu? Mana jejak kelas kepribadian yang pernah dia ikuti? Dia hanya seorang wanita yang, memprihatinkan.


Hatinya terus bergumam, mendengungkan sumpah. Bahwa, dia akan merebut apa yang jadi miliknya. Menyelamatkannya dari wanita yang akan menyakitinya. Harus, dia harus di selamatkan, dari angsa hitam itu.


Viona menyerahkan gelas itu kepada perawat, dia sudah merasa baik. Meskipun masih pucat dan gemetar sekujur badan, tetapi nyeri dalam perutnya, sudah semakin berkurang, nyaris tidak terasa lagi. Mungkin, dia sudah merasa kenyang, nutrisi yang selama ini dia butuhkan, sudah tercukupi. Dia bergerak lembut di peraduan yang hangat. Menentramkan, Viona memejamkan mata. Menikmati anugerah yang di berikan padanya, memang semua wanita akan merasakan. Tetapi bagi Viona, dalam keterpurukannya, dia harus mempertahankan sebuah kehidupan, dalam hidupnya yang belum tentu bisa bertahan.


"Suster, apa tidak bisa mencegah mual? Atau obat-obatan mungkin?," Tanya Viona lirih. Bibirnya bergetar, menandakan dia masih lemah.


"Ada, Nona. Tapi, dalam kasus anda, anda harus berusaha makan. Ubah pikiran Nona tentang makan. Terutama saat anda harus membagi makanan anda dengan janin, anda harus makan 2 kali lebih banyak, Nona. Anda hari ini sudah sangat baik, jika ingin muntah, jangan di tahan, keluarkan saja. Menahan hanya akan membuat anda semakin sakit dan tertekan. Berdamailah dengan diri anda, Nona. Pikirkan bagaimana kehidupan baru yang akan anda persembahkan untuk suami anda," Perawat itu memberi dorongan semangat untuk Viona, dan itu sudah menjadi tugasnya. Wanita ini hanya tidak sadar, orang yang paling di bencinya, adalah orang yang paling di sayanginya, suatu saat nanti, setidaknya. Siapa yang tahu?. Perasaan kita saat ini dan beberapa detik kemudian.


.


.


.


.


"Besok kayaknya rumah kita akan di penuhi banyak penghargaan, Yang," Harris sedang memangku laptopnya. Dia sedang berselunjur di atas ranjang.


Kira mengeryit, "Penghargaan apa?."


"Oscar, untuk pemeran antagonis terbaik," Jawab Harris sembari mendongakkan wajahnya ke arah Kira yang sedang memijat pundaknya.


"Untuk siapa?."

__ADS_1


"Untukmu," Jawab Harris. Dia memindah laptopnya ke samping, sebelum meletakkan Kira dalam pangkuannya. Duduk berhadapan seperti ini, membuat mereka, semakin intim.


Kira melingkarkan sebelah tangannya di pundak suaminya. Dan, sebelah lagi, memainkan rambut hitam pendek, yang baru di pangkas. Posisi yang membuat jantung Kira berdentum.


"Aku hanya mau, kamu yang menghargaiku, bahkan jika 10 kali Oscar di berikan padaku, aku menolak," Lagi, Kira menyentuh pelipis hingga melukis telinga milik suaminya. Kedua manik matanya, mengikuti kemana tangannya melukis, seiring senyum terulas tipis di bibirnya.


"Kenapa?," Harris heran. Apa dia tidak tahu Oscar itu apa?, pikir Harris


Kira mendengus sebal, bukan itu yang dia mau. Dia ingin suaminya tergoda, dan membiarkannya bermanja-manja, membelai lekuk indah milik suaminya. Seketika, tangannya berhenti.


"Karena aku bukan aktris, Yang. Masa gitu aja harus bertanya," Bibir Kira sudah manyun saja. Hujan ciuman mendarat dengan selamat di daratan kenyal nan menggoda itu. Selain malu-malu, dia suka istrinya yang manyun. Harris tertawa senang, reaksi istrinya persis seperti yang dia harapkan. Menarik tubuh wanitanya, lebih dekat ke dalam dekapannya.


"Yang, kamu ngga takut Viona syok dan sakit lagi?," Harris mengendurkan pelukannya. Kini, dia yang bersandar di atas degup jantung istrinya.


"Tidak, kata Dokter Vivian, Viona sudah lebih stabil, dia stres, Yang. Kurang tidur dan kurang makan. Jadi, begitu tidurnya nyenyak dan sudah makan, pasti dia sekarang merasa lebih baik," Kira mengusap-usap bagian belakang kepala suaminya hingga ke punggung.


"Apa kau yakin dia akan segera pulih?," Harris memejamkan mata. Bukan lagi degup jantung yang dia rasakan, tetapi, buah manis, semanis cokelat kini menjelajah seluruh ruang indra perasanya.


"Yah, kurasa, jika bukan karena dorongan kebahagiaan, terkadang kebencian mampu menjadi semangat seseorang untuk bangkit. Ah," Harris membalik posisi, dia takut Kira akan merasa berat, menyangga tubuhnya sendiri dan tubuhnya. Meletakkan Kira di sandaran ranjang dengan bantal menopang punggungnya. Lalu, Harris berbaring miring, menatap wajah yang tiba-tiba merona, Harris masih ingin mendengar apa yang ada di dalam otak istrinya.


"Tapi kau dulu suka kan?," Kira menepuk pelan dan berulang pelipis Harris, seperti menina bobokan Harris.


Harris lesu, dan sayangnya iya. Dia sangat suka bahkan sampai gelap mata. Manis seperti racun, merembet pelan, menelusup kornea, dan menutupnya. Buta. Hilang arah dan bodoh. Harris malu, itulah kenapa dia merasa tidak pantas bersanding dengan Kira. Dia pria paling minder saat bersama Kira, bahkan dia tidak lebih baik dari Rian. Bedanya hanya, Harris setia dengan satu wanita, dia tidak bermain-main dengan godaan. Dan hanya Viona yang mebuat Harris, bertekuk lutut, menyerah.


"Dan, kurasa kau harus melakukannya sekali lagi. Tapi, kali ini hanya demi nyawa tidak berdosa. Bukan karena kamu mencintainya. Ingat selalu, di tulis besar-besar pakai spidol merah, di beri garis bawah, bahwa-," Kira menekankan kata bahwa, sembari telunjuknya memutar-mutar di dada suaminya seolah mengukir janji," Hanya aku yang boleh mencintaimu, dan kau hanya milikku," Kira mencapit hidung bak lereng gunung. Miring dan curam. Kira mengeram, seolah memberi tanda, tanda hak milik, paten, tidak bisa di ganggu gugat oleh pihak ketiga. Meski dialah pihak ketiga itu, sebenarnya.


"Kau wanita yang sangat serakah, siapa yang mengajarimu seperti ini, ha?," Harris pura-pura marah.


"Melisa dan Mas Rian," Jawab Kira enteng. "Dulu, pernah kulepas dengan mudah, tapi sekarang tidak lagi. Walau akulah Melisanya, tapi aku tak peduli."


"Wanita tamak," Harris tersenyum sebelum melabuhkan lagi siluet indah, mengulum senyum. Puas, sangat puas. Dicintai se egois ini, membuat dirinya mabuk. Mabuk cinta. Sampai ingin tumpah rasanya. Ia wanita gila sekarang. Kadang Harris bergidik ngeri membayangkan monster di balik wajahnya yang sendu.


"Kau tidak suka wanita sepertiku kan? Kau suka wanita lembut seperti Viona, 'kan? Dengar, Bro, apa yang kau tidak suka akan menempel di hidupmu, selamanya. Jadi biasakan, Bro," Kira meninju-ninju dada bidang Harris pelan.

__ADS_1


"Yah, apa boleh buat, itu hukuman buatku. Sungguh aku tidak beruntung," Harris mengangkat sebelah bahunya. Mereka sangat aneh, lebay, dan paradoks.


"Jadi, Tuan Tidak Beruntung, sudikah kiranya, Anda menerima sedikit keberuntungan dariku?," Lagi, mereka semakin lebay.


"With my plesure, My lucky lady," Harris memutar jemarinya yang sebagian menekuk, seolah mau berdansa ala dongeng kerajaan.


Selanjutnya, semua yang ada dalam bayangan anda, adalah yang terjadi, bayangkan dua insan yang saling mencintai. Bermandikan peluh cinta, berbagi keberuntungan seperti yang di lontarkan oleh Si Lady.


Deru napas masih berkejaran untuk masuk dan keluar rongga dada, sebagai tanda berakhirnya, bagi-bagi untung, sore menjelang malam ini. Kira segera bangkit, meski dia malas bangun. Menyegarkan kembali, tubuhnya yang terasa gerah.


Ketika membuka pintu kamar, nampak di ufuk matanya, Johan sedang bersandar di dinding.


"Kalian berdua tega sekali menyiksaku, tolonglah, Nona beruntung, gendang telingaku sudah penuh dengan nyanyian kalian," Johan menatap Kira dengan puppy eyes, di buat seimut dan se menyedihkan mungkin, namun, karena badannya yang besar, dan wajahnya yang sangar, kelakuan Johan malah mirip ikan.


"Uh, kasihan," Kira mengerutkan wajah. Menutupi rona merah di pipinya. Malu. Kira menggaruk pipinya dengan ujung kuku telunjuknya. Nyengir. Apa suaranya terlalu keras?, pikirnya. Segera saja, Kira melangkah menjauhi Johan.


"Kalian sungguh tidak punya hati," Gerutu Johan.


"Siapa suruh berdiri di depan pintu?," Kira sebal, salahnya sendiri kenapa dia yang di salahkan.


"Suamimu itu, katanya banyak yang harus di selesaikan, tapi apa? Dia malah sibuk mengerjakan tugas yang lain," Johan masih menggerutu, mengikuti Nyonya Bos, yang turun dan menuju dapur.


"Maaf Jo, kami kira kamu belum kemari tadi. Sebentar lagi dia pasti bangun," Kira meneguk air dingin dari kulkas, langsung dari botolnya.


Johan berdecih, "Tidak mungkin," Johan tahu betul bosnya, Mungkin sebaiknya dia kembali, dan tidur. Menunggu bosnya bangun, artinya dia di sini semalaman. Dan Johan tidak mau, mendengar nyanyian nada rendah yang membuat telinga seperti di gelitiki bulu ayam.





__ADS_1


#Apkdown


__ADS_2