Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Kapal Oleng, Kapten!


__ADS_3

Harris menuntun langkah Kira ke buritan kapal. Dimana mereka bisa melihat hamparan laut yang beriak-riak tertimpa sinar bulan. Beruntung sekali hari ini, cuaca sangat bersahabat, sehingga tidak membuat rencananya terhambat.


Harris memutar instrumen sebuah lagu di ponselnya. Instrumen yang akrab di telinga Kira. Membuat Kira menahan senyum bahagia saat Harris meraih pinggangnya agar tak berjarak lagi.


Kira melempar sepatunya, dan berpijak pada kaki Harris. Mengalungkan lengannya di leher suaminya, semakin menghimpit. Mereka saling pandang dalam diam, seolah tahu, bahwa tutur kata akan merusak suasana. Sesekali, mereka saling memagut.


Mereka bergerak ke kiri dan ke kanan, berputar seirama dengan melodi, hingga instrumen itu berakhir, mereka baru berhenti.


Kira turun dari sepatu Harris yang berkilat. Harris memutar badan istrinya menghadap lautan dan memeluk Kira dari belakang, menjatuhkan dagunya di bahu Kira, sesekali mengecup kecil bahu yang terbuka, menunjukkan tulang yang membentang kokoh. Mengatur nafas sejenak.


"Apa kau suka?," Pertanyaan konyol macam apa itu? Harris memejamkan matanya, menelusuri ceruk leher mulus istrinya.


"Tidak," Jawab Kira yang menggeram tertahan akibat ulah suaminya. Harris berhenti seketika, dia mengangkat wajahnya, melihat istrinya yang tengah mengerjap, menatap lautan.


"Tapi aku sangat suka," Kira menoleh ke arah suaminya. Tersenyum lebar, keduanya. Tertawa, tawa yang membelah lautan yang sunyi.


"Kau membuatku hampir mati," Harris membalik badan istrinya lagi, sehingga mereka berdua berhadapan. Menyatukan kening mereka. Hingga tawa mereka surut.


"Apa aku sudah gila, jika tidak menyukai ini?," Kira mendesis, mengalihkan bibirnya menelusuri rahang kokoh suaminya. Kira yang hanya bersandar pada pagar pembatas di buritan kapal, mengalungkan tangannya ke leher kekar suaminya. Mengusap kepala hingga sejengkal dari tengkuk suaminya.


"Aku khawatir kau tidak akan suka, atau bilang ini berlebihan," Harris menggeram, menikmati belaian lembut menggoda.


"Benar, tapi aku tidak mau merusak semua yang kau rencanakan," Kira menjauhkan kepala suaminya, menatap netra hitam yang memantulkan cahaya redup di sini.


Harris menarik tubuh tinggi itu, memeluknya penuh syukur. Dia sangat tahu menghargai jerih payah seseorang. Harris ingat betul saat dia harus merelakan waktunya untuk mempersiapkan sendiri seluruh acara dari sore hingga akhirnya berada di tengah lautan seperti ini.


"Kau lelah?," Tanya Kira saat Harris berulang kali menghela nafas, tanpa melepas tautan tubuh mereka.


"Tidak, aku hanya lega, semua berjalan seperti rencana awal," Jawab Harris dari balik kepala Kira.


"Memang ada yang bisa tidak sesuai dengan rencana Tuan Perhitungan?."


Harris melepaskan pelukannya, tergesa. "Jadi, yang kau maksud Tuan Perhitungan itu aku?," Harris menatap manik mata yang mengerjap kebingungan saat Harris mengakhiri momen hangat mereka.


"He eum," Kira mengangguk dengan bibir merapat namun masih mengulas senyum.


"Lalu Tuan Tarzan?."


Kira mengangguk dengan senyum semakin lebar.


"Hei, kau ini kurang ajar sekali!," Seru Harris tidak terima. Bagaimana bisa dia memberi julukan mengerikan padaku?, pikir Harris.


Kira segera mengecup sekilas bibir penuh suaminya, yang menatapnya tidak bersahabat.


"Bukan seperti itu cara meminta maaf," Harris mencebik. Kira kembali menghujani bibir itu kecupan berulang-ulang.


"Sudah kan?," Kira memiringkan kepalanya. Dan itu membuat Harris berdecih.


"Dasar licik."


"Em, Yang, tentang ucapanku tadi sore, apa putusanmu?," Kira menatap sendu ke arah Harris. Pembicaraan tentang Tuan Perhitungan, membuat Kira ingat, akan pernyataannya tadi sore.


Harris mendesah, " Kau masih memikirkan itu? Aku saja sudah lupa."


"Kau memang pelupa," Kira mencebik. "Jadi bagaimana?."


Harris menjentik kening Kira, dan berhasil membuat Kira meringis, sembari mengusap keningnya. Harris menangkap tangan Kira dan mendorongnya ke pagar pembatas.


"Apa aku masih akan melakukan ini, jika aku menyerah dengan alasan konyolmu itu?," Harris mengecup bekas jentikannya.

__ADS_1


"Dengar, tulis ini besar-besar dengan spidol warna merah, di sini," Menekan dada Kira yang sedikit terekspos akibat gaun off shoulders yang di kenakannya. "Bahwa, Harris Dirgantara tidak akan berhenti mencintai Akira Shofie, walau alasannya menikahi Harris Dirgantara karena ingin membuatnya jatuh miskin."


Kira tertawa, terharu sampai titik bening meluncur bebas di ceruk hidungnya. Tidak ada kata yang lebih indah, dari ini.


"Dengar, aku ingin mengucapkan ini, sejak tadi, tapi ku rasa, lebih baik hanya kita dan Papa yang tahu. Biar mereka semua, orang-orang di luar sana, hanya tahu, bahwa kita menikah karena kita saling jatuh cinta pada pandangan pertama," Harris menangkup pipi Kira dengan sebelah tangannya.


"Pembohong."


"Aku tidak bohong, aku bahkan nyaris gila saat harus mencarimu lewat teriakanmu yang sama sekali tidak merdu," Harris merogoh sakunya. Menyalakan ponsel dan beberapa saat kemudian menunjukkan wallpaper ponsel mahalnya kepada Kira.


"Kau dapat ini dari mana?," Kira merampas ponsel itu dari suaminya.


"Cctv rumah sakit. Dan kau tahu siapa dua laki-laki yang kau seret ke mobil tanpa belas kasihan itu?."


Kira meringis ngeri. "Apa orang itu mati?."


"Kau menyumpahiku mati?."


"Orang yang ku bawa ke rumah sakit itu. Bukan kamu," Kira mendelik sebal karena menyangka suaminya salah paham padanya.


"Iya, itu sama saja."


"Kau tahu dari mana aku menyeret pria itu?."


"Aku merasa, kau menarik paksa aku masuk ke dalam mobil, meletakkan dengan kasar, sampai kepalaku hampir terbelah. Dasar wanita kasar," Cerocos Harris, yang membuat Kira kesal.


"Kau bicara seperti itu seolah itu kau!," Teriak Kira. Namun seperti tertohok ucapannya sendiri, Kira membeku."Tunggu, jadi itu, kamu?," Kira menujuk Harris yang bersedekap menatap Kira yang masih belum menyadari kejadian sebenarnya.


"Iya, jadi apa kau masih mau bersamaku setelah kau tahu alasanku menikah denganmu karena aku berhutang nyawa padamu?."


Kira mengerjap tak percaya, pria berlumuran darah itu suaminya, selama ini. Orang yang paling ingin di hindarinya, malah setiap hari memeluknya, bahkan mereka sudah, sudah...


"Katamu, apa yang tidak kau sukai akan melekat padamu selamanya. Kurasa, kau menampar mulutmu sendiri."


Kira berdecih. "Kenapa kau tak bilang dari awal."


"Ya, untuk apa? Toh kau yang tergila-gila padaku, kau menghidari ku karena kau kira aku akan menjadi pria buruk rupa, benar?," Harris menggoda istrinya yang mulai salah tingkah.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku, aku, hanya-."


Ucapan Kira sudah tertelan bibir Harris yang terlebih dahulu menjawab semuanya. Semua keraguan atau jarak atau apapun alasan mereka bisa bersama. Tidak penting lagi, saat dua dawai bergetar bersama, melahirkan harmoni indah, sebuah melodi.


Panas, hawa dingin yang berhembus tak lagi membuat mereka dingin. Saling menuntut balas, hingga keduanya kehilangan nafas.


"Huuh," Keduanya terengah, dorongan gairah dari keduanya membuat dada mereka kembang kempis. Seakan baru kembali dari ruang hampa udara.


Keduanya saling pandang sejenak, kemudian tertawa, lega. Seakan semua menjadi jelas, seakan semua ragu, lenyap.


"Jadi, bisakah kita mulai dari awal, Nona?," Harris menyatukan kening mereka.


"Tidak, aku hanya ingin melanjutkan apa yang sudah kita mulai, Tuan."


Harris tertawa lirih, nyaris tak terdengar.


"Aku tidak mau melupakan ketika aku menyumpahimu, atau ketika aku merasakan, aku sangat membutuhkanmu," Kira menggeser kepalanya ke dada bidang suaminya.


"Astaga, kau benar-benar membuatku kesal, apa ada istri yang senang menyumpahi suaminya?."


"Ada, itu aku dan hanya aku."

__ADS_1


Harris berdecih. Angin sepertinya mulai kencang. Melihat Kira yang berpakaian tipis, dia berpikir untuk mengakhiri ini. Harris khawatir Kira akan sakit.


"Ayo masuk, di sini semakin dingin. Kau bisa sakit," Harris menarik pelan jemari istrinya menuntunnya ke dalam kabin.


Lagi, Kira melongo melihat dalam kabin yang seperti hotel. Lampu-lampu redup menyala mengelilingi kabin mewah ini, mungkin sebagai pengganti lilin. Beberapa buket bunga mawar alih-alih bertaburan, tersusun di ranjang besar.


"Kapan kau menyiapkan ini?," Kira menggenggam tangan suaminya yang tersenyum menatapnya.


"Sejak kita kembali dari desa, tetapi, aku sudah memikirkannya sejak kau pingsan waktu itu," Harris menuntun Kira ke ranjang, di mana buket bunga itu berada.


"Sejak aku tahu, bahwa kau yang menyelamatkan hidupku, sejak aku menyadari bahwa ucapan Papa benar tentangmu, sejak aku tahu, bahwa kau mampu mengobati lukaku" Harris berlutut di hadapan Kira, menatap wajah sendu yang berbinar bahagia.


"Maaf aku telah mengatakan hal buruk padamu saat itu, maaf aku, bukan pria yang baik. Aku hanya pria buruk yang banyak sekali kekurangan, dan-,"


Kira menutup mulut suaminya, "Jangan katakan itu, lagi. Aku tidak mau mendengarnya."


"Kita akan melanjutkan semuanya, dengan pikiran yang baru, biar saja semua di belakang, terus saja menatap kedepan. Perhatikan belakang dari kaca spionmu, jadi kau tidak perlu membuang energimu untuk menoleh."


Harris segera beranjak dan dengan sigap menerkam lagi bibir yang suka berucap sok bijak. Gemas.


Tidak ada lagi Harris yang sok romantis, Harris yang sabar, yang ada hanya Harris yang kasar dan keras. Namun, sama sekali tidak menyakiti Kira.


"Pelan-pelan," Desis Kira, yang kewalahan membalas suaminya yang seakan tak sabar, seakan tidak pernah melakukannya.


"Pegangan Sayang. Aku takut kapalnya akan oleng," Bisik Harris yang membuat Kira membulatkan matanya.


Mengabaikan desahan protes dari bibir istrinya, Harris tak membiarkan Kira membuka matanya. Membuat Kira terus tersadar, dengan gigitan di seluruh leher nyaris hingga ke dada. Membisikkan rayuan yang membuat Kira semakin membubung tinggi. Membuat Kira terjaga dengan menyebut namanya.


"Yes, Honey," Jawab Harris, tanpa menghentikan gerakan intens pada istrinya yang entah sudah berapa kali mengerang hebat. Mengejang, meliuk, mendesis, bahkan menarik rambut cepak Harris.


Kasihan, buket bunga yang indah itu kini tergusur dari kasur, teronggok tak berdaya di bawah ranjang. Andai, mawar itu punya perasaan, pasti dia sudah menangis, menyesal telah di petik, hanya untuk di abaikan dan, dan menjadi saksi bisu pertikaian panas dua manusia beda jenis itu. Menjadi pendengar setia, suara-suara sumbang dan lenguhan kenikmatan yang menggeram di kerongkongan.


"Malangnya nasib bunga," Batin bunga mawar.


β€’


β€’


β€’


β€’


Adem panas awakku,πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


1,5 k kata, yang lebih panjang dari mengetik 10 bab, rasanya. 🀭🀭😊😊😊


Selamat pagi, semuanya....


Selamat beraktifitas,,,


Author nunggu tengah malam buat ngetik ini, biar gak ada gangguan dari berbagai penjuru kesibukan dunia nyata,🀭 ecieee, Author sok banget yahπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Maaf banget ni, jika ngga sesuai ekspektasi, 🀭🀭.


Selamat membaca semuanya, jangan lupa jempol mendarat ya, jika berkenan Vote ya, biar bisa naik lagi😊🀭, ngga maksa kok, seiklasnya aja, yang penting tetap dukung Author....Okeyyy....


ByeπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Salam manis dari Author😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2