Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sendiri 《Lagi》


__ADS_3

Waktu cepat sekali berganti, entah karena bumi menyusut atau matahari mempercepat lajunya. Hingg tanpa terasa, Kira sudah memasuki trimester ketiga kehamilan.


Di fase akhir kehamilannya kini, Kira sering frustasi dengan berat badannya yang semakin bertambah diluar kendali. Namun, dia selalu bersikap tenang dihadapan suaminya dan orang-orang terdekatnya. Ditambah Ranu yang sering merajuk dan memukuli perut Kira, membuatnya semakin merasa bersalah pada Ranu.


Pagi buta, Harris sudah bersiap dengan koper di tangannya. Dia sekali lagi harus berpisah dengan Kira saat persalinan Kira terjadi sewaktu-waktu. Harris meletakkan koper di ujung ruangan dan kembali lagi ke ranjang dimana Kira masih terlelap.


Sentuhan dingin dari kening ke pipi membuat tidur Kira terusik. Masih mengumpulkan segenap kesadaran, Kira mengerjap pelan.


"Abang mau berangkat sekarang?" Susah payah Kira bangkit dari tidurnya. Menyangga tubuhnya diatas siku.


"Iya, Yang!" Harris mengusap dan menghujani perut istrinya dengan kecupan. "Tunggu Papa pulang ya, kalau mau keluar! Maaf, Papa ngga bisa nengokin kalian seminggu ini!"


Ucapan Harris membuat sebuah tamparan berhasil mendarat mulus di lengannya berbalut jas tebal.


"Apaan sih, Yang!" Harris mengusap lengannya yang cukup sakit. "Abang berangkat dulu ya! Jangan bandel selama Abang pergi! Ada Papa yang bakal jagain kamu!"


Harris bangkit dan mengecup kening istrinya.


"Hati-hati ya, Bang!" Kira menurunkan kakinya dan mengikuti suaminya kebawah.


"Pa, titip Kira ya! Nanti malam Ibu yang akan temenin Kira!" Harris memeluk Papanya yang menyambutnya di pintu depan.


"Iya, sudah sana berangkat, ketinggalan pesawat nanti!" Dirga Senior menepuk pundak anaknya sambil sedikit mendorongnya. Membuat Harris mencibir.


"Pa, jangan bongkar aibku sama dia! Atau proyek besar Papa akan gagal total semua!"


"Tanpa Papa beritahu, aku sudah tahu semuanya, Bang!" Kira menukas ucapan suaminya dengan cepat. Membuat Wisnu Dirgantara terkekeh menyetujui ucapan menantunya.


Harris berdecak, sambil merengut karena tak bisa membalas ucapan istrinya, Harris berlalu menuju mobil dengan Doni sebagai sopir dan Johan mengambil alih koper Tuannya.


Lambaian tangannya mengiringi laju mobil hitam yang mengangkut mereka ke bandara.


"Masuk Nak, lanjutkan tidurmu! Subuh masih lama!" Tuan Dirga menggiring menantunya ke dalam rumah dan menutup lagi pintu utama.


"Ngga mau lanjut tidur lagi?" Tuan Dirga kaget saat melihat Kira duduk diruang tengah sambil menyalakan televisi.


"Udah ngga bisa tidur lagi, Pa!" Jawab Kira singkat.


"Apa sudah waktunya?" Tuan Dirga menatap mantunya yang sedikit kesulitan bernapas dan sepertinya lelah.


"Anak kurang ajar itu harus diberi peringatan agar tak menyiksa istrinya seperti ini" batin Tuan Dirga. Dia merasa iba melihat kondisi Kira yang seperti kesakitan.


"Belum, Pa! Perkiraannya masih minggu depan." Kira tahu dia diperhatikan mertuanya yang masih ganteng dan bugar diusia senjanya. Dia sedikit tersenyum, meski senyumannya bukan untuk menenangkan Papa mertuanya, tapi membayangkan wajah suaminya. Kedua manusia itu bagai pinang dibelah dua, bedanya hanya mertuanya lebih arif dan sabar. Sedangkan suaminya...


"Biar Papa temani ya!" Tuan Dirga duduk di sofa single sambil melirik jam besar di sebelah kirinya. "Abaikan saja Papa, nikmati drama kesukaanmu dengan tenang!"


Tuan Dirga mengambil majalah bisnis dan mulai membacanya. Mengabaikan Kira yang merasa tidak enak hati melihat drama luar negeri yang kadang terlalu vulgar. Hingga memaksanya mengganti ke saluran telivisi nasional. Dini hari, ada juga drama di salah satu stasiun tv swasta.


***


Matahari menampakkan tingginya, dengan pongahnya dia membakar bumi dengan panasnya. Panas yang dibutuhkan oleh tanaman, oleh sebagian orang dan demi kelangsungan hidup umat manusia.


Sekalipun sulit berjalan, Kira juga tak mau berdiam diri. Dia bermain dengan Ranu dan Nicky yang sengaja di minta Kira untuk menemani Ranu. Mereka bermain bola di halaman belakang.


"Ra, kakimu bengkak!" Ibu sudah berada tak jauh dari Kira sedang memperhatikan tubuh putrinya yang seperti menderita.


"Iya Bu! Baru dua hari ini sih kaya gini! Tapi ngga papa kok Bu, kata Vivian!" Kira mendudukkan tubuhnya di bangku taman yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


Ibu mengusap kepala putrinya, "Kamu udah hamil ke empat kalinya, Ra! Ngga pengen pensiun melahirkan?"


Kira mengikuti kemana ibunya berlabuh, "Aku terserah Papanya anak-anak, Bu! Selama bisa membuatnya bahagia, aku akan melakukannya! Aku ngga bisa bales kebaikan dia selain membahagiakannya!"


"Maafkan kami yang tidak bisa memberimu masa depan sendiri, Nak!" Ibu mengusap perut Kira dengan lembut, memandangi perut besar  itu dengan sendu.


"Ibu jangan berkata seperti itu, masa depan Kira jauh lebih baik karena dukungan kalian! Kita tidak bisa memilih takdir kita seperti apa, Bu!"


Ibu tersenyum, "Kau semakin dewasa sejak menikah dengan pria yang menurut ibu kasar dan angkuh! Tapi dia pria paling baik yang pernah ibu kenal!"


Keduanya tertawa, sambil terus memperhatikan Ranu dan Almeer. Tetapi, sesuatu meluncur deras dan basah di kaki Kira setelah tertawa. Apa tawanya terlalu kencang?


Panggulnya seakan tertekan, Kira meringis diiringi desisan, membuat ibu menoleh ke arahnya. Berulang-ulang Ibu beristigfar, kecemasan melanda wanita baya itu.


"Rina, Rin..." teriakan Ibu membuat siapapun yang mendengarnya berlarian menuju halaman belakang.


"Jaga anak-anak! Yang lain tolong panggil Doni!" Ibu membantu Kira berdiri. "Tolong siapkan keperluan bersalin ya! Bawa ke depan!"


Tanpa aba-aba dua kali, mereka langsung membagi diri. Ada yang kedalam, ada juga yang langsung memapah Kira.


"Astaga, aku baru sadar rumah ini sangat besar!" Ibu mengeluh sebab perlu waktu lama untuk ke pintu depan. "Tahan ya Ra!"


"Iya Bu," lirih Kira yang masih meringis menahan sakit yang lebih kuat melandanya kini. Diantara semua sakit menjelang persalinan, kali ini adalah yang tersakit.


Namun, saat hendak mencapai pintu, Ranu merajuk dan menangis keras. Tidak ada yang bisa menenangkan bocah perempuan bertubuh bongsor itu.


Ibu bergegas meraih cucunya dan membawanya ke arah Kira.


"Ranu baik-baik dirumah ya, Nak! Doain Mama ya!" Kira menciumi putrinya yang masih menangis tak mau di tinggal. "Ibu jaga Ranu saja! Biar Rina menemaniku!"


"Tapi, Ra..." gelengan kepala Kira menghentikan protes sang Ibu.


Kira mengukir senyum dan memeluk Ibu, tak ada kata yang terucap. Hanya air mata mewakili semuanya.


Sakit menginterupsi keduanya, Kira menjauhkan diri dari ibunya. "Tolong jangan beritahu menantumu, Bu! Dia pasti akan panik!"


Ibu menghela napas sekali lagi dan mengangguk. Benar, Harris pasti kelabakan jika diberitahu Kira akan melahirkan, sementara, masih tengah malam atau dini hari nanti dia sampai di tempat tujuan.


***


Mobil mengadu rodanya pada aspal jalanan kota. Di dalam mobil, Doni menelpon rumah sakit untuk mempersiapkan semuanya dan menyambut kedatangan mereka. Kebetulan saat ini, Wisnu Dirgantara sedang berada di sana.


Pelataran rumah sakit tampak sepi dengan beberapa petugas keamanan mengamankan jalur yang akan dilalui mobil yang membawa Kira.


"Nak, bagaimana keadaanmu?" Tuan Dirga menyambut menantunya yang masih didalam mobil.


"Aku baik, Pa!" Kira turun dari mobil di bantu Rina dan beberapa perawat wanita. Dengan pelan, dia duduk dikursi roda, yang membawanya ke ruang bersalin.


Tuan Dirga tampak cemas melihat wajah menantunya yang pucat dan berkeringat dingin. Dia masih setia mengekori perawat dan Rina yang juga tak kalah tegang.


"Pa, tolong jangan beritahu Bang Harris ya! Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang," ucap Kira tanpa menoleh ke arah dimana mertuanya berada. Dia yakin suaranya yang tak terlampau keras itu mampu di dengar oleh mertuanya.


Belum sempat menjawab, Vivian dan Luna menghampiri mereka dengan tergesa-gesa. Mereka segera membawa Kira memasuki ruang bersalin.


"Nak," Dirga menyentuh pundak Vivian, yang langsung berbalik menghadapnya. Saking paniknya, dia lupa menyapa orang yang menggaji dirinya.


"Ah, Paman! Maaf, aku terlalu panik tadi!"

__ADS_1


"Usahakan yang terbaik untuk menantu dan cucuku! Dia sangat menderita di kehamilannya kini!" Tuan Dirga menatap lurus ke dalam mata Vivian. Penuh permohonan.


"Kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak, Paman!" Vivian mengerti permintaan pria ini, tapi itu harus dengan persetujuan suami. Vivian tidak ingin melampaui batasnya.


"Jika saja Harris bisa mengendalikan diri, aku tidak akan meminta ini padamu, Nak! Aku hanya ingin melihat menantuku memelihara keluarganya secara utuh!" Pria yang tampak tegar itu mendadak sayu, membuat Vivian merasa tidak enak hati menolak permintaannya.


Vivian tak bisa berbuat apa-apa, pernah sekali dia mengatakan pada Kira tapi belum pada Harris. "Akan saya usahakan, Paman!"


Vivian membungkuk, setelah melihat sekilas binar sarat kelegaan dari Tuan Dirga. Vivian langsung menuju bed dimana Kira berada. Baru beberapa langkah, Luna berlari menghampirinya. Dan membisikkan sesuatu, sepertinya keadaannya sangat mengkhawatirkan.


Vivian mengerti, dan langsung kembali menemui Tuan Dirga yang rupanya masih mondar mandir di depan ruangan itu.


"Paman, kami akan melakukan tindakan operasi caesar karena ketuban sudah pecah terlebih dahulu!"


"Lakukan apapun yang terbaik untuk menantu dan cucuku, Nak!" Tuan Dirga yang tak memiliki alasan mendengarkan penjelasan Vivian, memilih memotong ucapan Vivian. Tentu Vivian tau yamg terbaik untuk mereka.


Vivian hanya mengangguk, lalu meninggalkan pria yang tengah dilanda kecemasan. Sebenarnya masih banyak yang akan dia sampaikan tapi rasanya itu akan membuang waktu. Lebih baik, dia segera bergegas melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa mereka.


Berbagai persiapan dilakukan menjelang operasi yang akan berlangsung beberapa waktu lagi. Berbagai macam tes dilakukan untuk memeriksa kematangan organ tubuh janin mengingat usianya belum genap 39 minggu.


Beberapa saat kemudian, Dirgantara mengikuti kemana Kira di bawa, juga dengan Rina yang membantu membawa perlengkapan Kira. Mereka menuju ruang operasi.


Dirgantara yang perkasa itu tampak gelisah dalam setiap geraknya. Duduk sebentar, lalu bangkit lagi, hilir mudik dan menyangga dagunya. Sesekali kepalanya menengadah, memanjatkan doa. Pun dengan Rina yang tampak meremas kedua telapak tangannya.


"Baru pertama kali melihat istrinya melahirkan ya, Pak?" Tanya seseorang yang berada ditempat duduk panjang di depan ruang operasi itu, ketika Dirga menghenyakkan tubuhnya di sana.


Senyum penuh ejekan terlintas dari si penanya, saat Dirga menoleh ke arahnya. Apa ini?


"Saya sudah 4 kali Pak, dari dua istri yang berbeda, usia saya baru 45 tahun!" Jelas pria itu yang mengundang cibiran dari Wisnu Dirgantara.


"Bapak nikahnya ketuaan!" Cetus pria itu tanpa rasa bersalah. Membuat Rina tercengang, terlebih Tuan Dirga menampakkan wajah datar tanpa ekspresi. Ingin rasanya Rina menampar mulut kurang ajar itu dengan sepatu. Atau mungkin tidak sayang nyawa.


Tuan Dirga mengacuhkan ucapan pria yang tidak penting baginya dan hanya mengganggu khusyuk nya doa dalam hatinya.


Suara tangisan bayi terdengar lirih dari sisi luar, namun itu membuat dua orang itu saling pandang tanpa ragu.


Tuan Dirga bangkit mendekati pintu, berharap dia bisa melihat kedalam. Pun dengan Rina yang berjinjit tak jauh dari tempat duduknya, seakan bisa melihat ke dalam dari jaraknya kini.


"Kamu istri keduanya?" Pria tadi menatap Rina penuh minat, namun segera surut saat Rina menunjukkan tinjunya dan sorot mata membunuh.


"Rin, kau yakin hanya Kira saja yang sedang melakukan operasi caesar saat ini?" Tuan Dirga menoleh ke arah Rina yang masih memaku pandangannya pada pria tadi.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ada yang rindu tidak?🤭


__ADS_2