Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Bercocok tanam.


__ADS_3

Warning....!! Twentyone only guys. Di mohon untuk bijak dalam membaca!




Kira berjalan sendirian usai mengantar setengah lusin rombongan mobil yang mengangkut karyawan di rumah keluarga Dirga. Hanya Bibi Mai yang tidak ikut serta, beliau memilih menemui anak cucunya. Suara langkah dan senandungnya menggema di penjuru rumah. Sepi dan hening, damai.


Kira kembali ke kamarnya, membuka tirai penutup jendela. Menyuguhkan pemandangan indah halaman belakang rumah. Kira melangkah ke balkon, sikunya di tumpukan pada besi pembatas yang kokoh setinggi perutnya. Ingatannya melayang lagi pada saat dia dan Papa mertuanya berbincang di tengah halaman berumput hijau. Dia tersenyum, mengingat betapa canggungnya dirinya saat itu. Dia bahkan tidak yakin dengan pernikahannya.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawa hangat sinar mentari pagi. Manik mata Kira terpaku pada kilauan air yang berkerlip bak bintang di malam hari.


Kira mundur beberapa langkah, keningnya berkerut sedikit. Kenapa tidak berenang saja? pikirnya. Bergegas dia mengambil handuk kimono dan melangkah dengan riang. Tak lupa dengan ponsel miliknya yang tergeletak di meja lampu. Matanya sejenak tertuju pada suaminya yang masih terlelap. Tersenyum.


Kira setengah berlari melintasi rerumputan, seakan tak sabar untuk mencapai kolam. Cukup lama dia memendam keinginannya untuk berenang di kolam milik sendiri.


Kira menanggalkan kimononya, begitu saja, di tepi kolam, setelah meletakkan ponsel dan handuknya di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Hanya mengenakan bajunya yang semalam. Walaupun sendirian, dia malu memakai bikini. Malu pada matahari pagi. Kira mencelupkan kedua kakinya secara bergantian di air, setelah meregangkan sebentar otot-otot tubuhnya.


Dengan gerakan indah, dia terjun ke air yang tampak biru segar, beriak-riak, seakan melambai padanya. Tubuhnya begitu lincah dan anggun bergerak. Dari ujung ke ujung, dari menyelam dan menyembul ke permukaan. Berteriak. Memercik air ke udara, layaknya anak kecil. Dia menikmati harinya yang bebas, walau hanya sebentar.


Harris memicingkan matanya, silau dengan cahaya dari luar menembus kaca. Perlahan dia bangkit, seraya meregangkan kedua tangannya di atas kepalanya. Dia menguap berkali-kali, matanya masih dilanda kantuk. Bagaimana tidak, dia baru benar-benar bisa terlelap saat langit mulai memutih. Sebelumnya, dia hanya berguling, memeluk istrinya atau membaca ulang rencana pekerjaannya beberapa bulan kedepan.


Tangannya mengucek kedua matanya, sambil berjalan ke arah kamar mandi. Namun, sayup-sayup dia mendengar suara dari halaman belakang. Tangannya berhenti seketika, kepalanya menoleh, telinganya menajam, jika dia tidak salah dengar, itu suara istrinya. Heran. Dia melangkah cepat ke beranda kamarnya, mengurungkan niatnya ke kamar mandi. Dan benar, seorang wanita sedang bermain air dengan gembira. Dengan senyum terkembang, dia segera berlari menyambar handuk, lalu menuruni tangga dengan semangat.


Kira terkejut bukan main, saat tubuhnya menabrak karang yang kokoh dan lembut. Siapa lagi kalau bukan, suaminya. Kaki panjang itu menyentuh dasar, sedangkan kepalanya masih berada di luar air. Perut kotak-kotaknya tampak jelas diatas celana pendek yang di kenakannya.


Kira bergegas mengeluarkan kepalanya dari air, berpegangan pada tubuh suaminya. Tubuhnya mengambang, sembari terus bergerak-gerak.


"Ikan paus!" Gerutu Kira, "Kau membuatku hampir mati karena jantungan! Sejak kapan kau di sana?"


"Menikmati hidup, Nyonya?" Harris meraih pinggang istrinya, hingga tak berjarak lagi. Mengecup bibir pucat itu sejenak.


Kira mengerutkan bibirnya, "Aku sudah lama menahan diri untuk tidak terjun kesini? Kenapa? Ada masalah?"


"Ada! Masalahnya, kenapa kau meninggalkanku? Kau harus pemanasan sebelum ke air," Harris mendekap istrinya dengan erat, sejak tadi tubuhnya timbul tenggelam, terbawa riak yang naik turun.


"Aku sudah pemanasan tadi!" Jawab Kira acuh, "Aku sudah selesai, dan aku mau sarapan dulu!"


Kira menumpuk wajahnya ke satu titik, "Lapar!"


"Aku sudah membawakan sarapan untukmu," Harris memiringkan kepalanya sekilas ke arah meja yang diapit kursi panjang.

__ADS_1


"Terimakasih, Abang," Kira berbinar-binar, melihat beberapa tumpuk roti isi dan susu, juga ada jus jeruk. Kira mengecup bibir suaminya berulang-ulang, hingga Harris terdorong ke belakang.


"Ayo makanlah, ini sudah siang! Minum susunya sampai habis! Sisakan aku jus jeruknya, ya!" Harris melepas pelukannya. Membiarkan istrinya makan pagi. Dia sendiri sudah sarapan sembari melihat istrinya berenang tadi.


Kira mengangguk mengerti. Tumben sekali dia melepaskanku tanpa syarat, batin Kira. Kira mengangkat bahu, terserahlah. Kira menanggalkan pakaiannya yang basah, dari balik handuk kimono yang membalut tubuhnya. Lalu mulai makan dengan tenang. Sesekali dia bertepuk tangan melihat suaminya yang sudah seperti atlit renang.


"Abang, gaya batu, bisa ngga?" Teriak Kira.


Harris hanya mencebik. "Tenggelam dong kalau gaya batu?"


Kira tertawa lebar, tawanya tenggelam di luasnya halaman rumah. Hingga Kira menghabiskan sepotong besar tumpukan roti itu, dan susunya sudah tandas, Harris baru keluar dari air. Hem, air yang menetes-netes, tubuh bersih dan kokoh dengan otot yang menonjol, berkilat-kilat di timpa sinar mentari. Kira menyeka hidungnya yang seakan berdarah-darah.


Kira segera berlari kecil, mengusap tubuh suaminya dengan handuk. Sebenarnya, modus sih, dia hanya ingin menyentuh kotak-kotak, di perut suaminya itu, tanpa harus membayarnya dengan menyenangkannya.


"Kau manis sekali pagi ini?" Harris mengusap dagu istrinya dengan lembut.


"Aku selalu manis, Bang!" Kira tersenyum penuh arti. "Ini Bang, handukmu! Pakailah" Kira menyodorkan handuk yang lain, yang segera dililitkan di pinggangnya.


Keduanya melangkah ke kursi santai panjang, dengan payung yang menaungi. Ada dua kursi tapi hanya satu yang terpakai, keduanya bagai terkena mantra perekat, menempel bak lintah. Kira duduk menyamping di depan suaminya, dengan paha sebagai alas. Kakinya menjuntai ke bawah.


Kira memainkan ponselnya selagi menunggu suaminya menghabiskan sisa sarapannya dan menyesap setengah jus jeruknya.


Kira mengabadikan kebersamaannya, dan mempostingnya di laman media sosial miliknya. Yang masih kosong melompong, dan dikonfirmasi sebagai postingan pertamanya.


"Sayang, waktunya menyirami benihku di sana sekarang!" Bisik Harris, dia menggigit bahu yang terbuka karena penutupnya merosot.


Kira terbelalak, seketika dia menoleh ke belakang. "Ini masih pagi, Bang. Masa sekarang?"


"Sebaiknya pagi dan sore kan? Agar cepat tumbuh!" Bisik Harris lagi, bibirnya menelusur hingga ke ujung telinga, dan mengigitnya lagi. Sebelah tangannya erat melingkar di perut, menahan istrinya dan sebelah lagi menelusup kedalam kimono. Mengusap-usap perut yang membuat Kira bergidik geli.


"Abang,"  Kira mulai meremang.


"Hem" Harris masih bermain di tempat yang amat sangat sukainya. "Ada apa?" Harris mendongak.


"Jangan begini!" Kira menarik handuknya ke atas, "Di luar masih ada pak satpam lo!"


"Mereka tidak akan meninggalkan posnya sampai jam makan siang. Jangan cari alasan!" Harris menurunkan lagi handuk itu, dan melepas lagi dahaga jiwanya.


Kira mengusap-usap belakang tubuh suaminya. Sesekali mendesis dan melenguh. Matanya setengah terpejam, bibirnya tergigit rapi. Darahnya terpompa lebih cepat memenuhi otaknya.


Suara decak panjang berakhir dengan lenguhan panjang pula.

__ADS_1


"Hadapi aku, Sayang!" Bisiknya di antara bibir dan telinga, bergesekan pelan.


Merinding. Ditambah angin yang berhembus, semakin meremangkan bulu halus di tubuhnya. Meski handuknya tak lepas dari tubuhnya. Menggantung manja.


Dari kejauhan, mereka hanya tampak seperti orang yang sedang duduk berhadapan. Hanya kursi yang melesak yang membedakan. Sebab, Harris menuntun istrinya pelan. Menikmati wajah yang bersemu merah.


"Sayaang," Harris menahan istrinya sebentar, saat dia hampir sampai. Wajahnya tak kalah memerah, menahan anak panah yang hampir melesat.


Harris membalik posisi, posisi terbaik untuk menyirami benih-benih. "Tahan sebentar, Sayang. Kita ke Puncak bersama-sama"


Harris menyesap dengan ganas bibir istrinya. Air masih menetes-netes dari ujung rambutnya, yang bergerak anggun namun semakin cepat. Menimpa wajah Kira, membuatnya geli, saat air menuruni wajahnya.


Kira merasakan punggungnya akan patah saat membentur papan kayu bersela di belakangnya. Berderit-derit. Namun, merasakan nikmat dari depan tubuhnya.


"Abaaang," Desisnya lirih. Dagunya menancap tegas di bahu suaminya. Tangannya meremas dengan ketat punggung suaminya. "Abaang"


"Abang datang, Sayang!" Kepala itu menengadah, bak serigala sedang melolong memanggil kawanannya. Tumbuhlah satu di sana, batin Harris.


Hentakan keras menyudutkan punggung Kira ke sela bangku. Perih. Terlebih, suaminya menahannya lebih lama dalam posisi seperti ini.


Harris memagut lagi bibir yang memerah karena ulahnya. Membiarkan deru nafasnya beradu lagi.


"Aku mencintaimu, istriku!"





Hai, Hai👋👋 maaf up hari ini telat banget.🙏


Semoga dua bab ini tidak terlalu mengecewakan. Maafkan author yang belum bisa menyenangkan semuanya. 😊🙏


Happy reading,🥰


Untuk semua dukungan buat author, Author ucapkan terimakasih. Jangan bosan-bosan untuk memberi like, komen dan Vote-nya ya!


Jujur saja, hanya dukungan kalian yang membuat author semangat lagi.


Oh ya, maaf belum sempat balas komentar readers.🙏

__ADS_1


Love you all💕💕


Salam manis dari Author🧚‍♀️


__ADS_2