
Hati manusia tidak ada yang tahu. Hanya Yang Maha Kuasa yang tahu dan mampu membolak-balik hati hamba-Nya.
Tidak berlebihan rasanya jika, menyebut Viona demikian. Di saat Kira sedang mengusahakan melunasi hutang-hutangnya, Viona malah akan menggunakan kesempatan ini untuk menghasut Harris. Segala usaha wajib di coba, begitu kira-kira prinsip Viona.
Viona tengah menonton televisi, mengabaikan Kristal yang tengah bermain dengan mainan milik Jen. Kristal semakin hari semakin baik keadaanya. Tubuhnya mulai menunjukkan perubahan, mulai dari pipi yang sedikit berisi dan tubuhnya yang terawat. Rambut keritingnya, yang lucu, membal saat dia berjalan, dan giginya yang tanggal satu, membuat Kira ikut tertawa saat Kristal tertawa lebar, menunjukkan barisan giginya yang mirip biji ketimun. Kristal kini, lebih ceria dan banyak bicara.
Viona, sedang memikirkan cara, bagaimana mendepak Kira dari rumah ini. Bukan lagi merebut Harris saja. Ya, jika di beri sedikit drama, pasti dengan mudah, topeng Kira di lepasnya. Viona menarik sudut bibirnya, bukan Viona jika tidak punya 1000 cara di dalam otaknya.
Kebetulan sekali, Kira sedang keluar rumah, jadi dia bisa leluasa mengotak atik strateginya, hingga menghasilkan rancangan yang sempurna. Sekali lagi, senyum kemenangan menghiasi wajah tirus itu. Bersiul-siul, sembari menggulung rambutnya dengan jari telunjuknya.
Mungkin Viona harus belajar, bagaimana cara, merayakan sebuah kemenangan, atau bagaimana cara menang tanpa berperang.
Sementara, di rumah sakit, Kira sedang berdiskusi dengan Dokter Vivian tentang kondisi Viona. Dan juga, kondisinya sendiri. Kira bukan wanita yang tidak tahu, apa keinginan umum seorang pria. Jadi tanpa di suruh atau di minta, Kira memeriksakan dirinya. Meski tidak terjadi masalah, tetapi, perlu waktu untuk mengembalikan kesuburan rahimnya.
"Mengenai Viona, aku sudah membicarakan ini dengan ahli gizi dan juga psikiater. Entah apa yang dia alami sebelum hamil, tetapi ini sangat mempengaruhinya. Jika ada orang terdekatnya yang tahu bagaimana kondisinya sebelum hamil, ini akan sangat membantu sekali. Tolong terus awasi dia, jika dia masih dengan sengaja memuntahkan makanannya, dia harus segera di bawa ke psikiater lagi," Tutur Dokter Vivian. Seorang dokter muda, yang sangat terbuka dan tegas.
"Apa dia tidak mau terbuka pada anda, Dok?," Jika dengan dokter saja dia enggan menceritakan masalahnya, apa lagi dengan Kira. Apa iya harus di ancam-ancam lagi?
"Iya, dia tetap menutup mulut, meski sudah saya ulangi beberapa kali. Saya tahu dia dalam tekanan besar. Meski saya harus akui, janinnya dalam keadaan baik, dan tidak perlu di khawatirkan," Dokter Vivian tersenyum. "Saya heran, dia adalah ancaman untuk keluargamu, kenapa kau masih perhatian padanya?."
"Saya kira, anda juga akan melakukan hal yang sama, Dokter. Viona, wanita yang ambisius, dan tidak peduli kepada siapapun. Jika dia di luar, saya khawatir, dia akan membahayakan kami. Namun, dengan bersama kami, dan membuatnya bergantung kepada kami, setidaknya dia merasa berhutang budi atau tahu diri," Kira menatap kosong, buku-buku di rak. Besar harapan Kira, Viona bisa menjadi wanita yang lebih baik.
"Anda tidak takut, Harris berpaling kepada Viona?," Dokter Vivian menggeser kepalanya, menghalangi tatapan kosong Kira pada rak buku.
Kira kembali fokus, tersenyum, "Mungkin saya terlalu percaya diri, Dokter, dengan keadaan diri saya yang serba kekurangan. Tapi, jika boleh saya sombong, kali ini, saya tidak takut."
"Dia laki-laki beruntung, kesal sekali aku padanya. Anda tahu, dia dulu menolakku mentah-mentah saat SMA. Katanya aku cupu. Namun, aku tak punya kesempatan membalasnya, dan seperti ku bilang, dia sangat beruntung. Aku sudah menyumpahinya tidak akan punya istri," Dokter Vivian tertawa.
"Benarkah itu, Dok?," Kira tidak percaya. Seorang dokter di tolak. Apa Harris tidak berpikir untuk memilih Dokter Vivian, alih-alih mengencani Viona?. Harris bodoh.
"Benar, ku rasa dia lupa padaku, terlebih dia tidak pernah bertemu denganku setelah SMA. Dan begitu aku bekerja di sini 7 tahun lalu, aku sudah tidak memakai kaca mata tebalku dulu," Dokter Vivian menerawang ke masa lalu. Matanya tiba-tiba berkilat sendu.
"Ada apa, Dok?," Tanya Kira saat melihat perubahan pada mimik wajah oriental dokter cantik ini.
"Tidak apa-apa. Hanya ingat calon suami saya, yang meninggal saat aku mulai bekerja di sini," Dokter Vivian menyeka pelupuk matanya yang mulai mengembun
__ADS_1
"Oh, maafkan saya, Dokter. Saya tidak bermaksud-,"
"Tidak apa-apa, saya rasa, saya yang harus segera melupakannya. Terlebih, saya akan menikah bulan depan. Yah, meskipun, kami menikah karena terpaksa," Dokter Vivian menghela nafas. Terlihat sekali dia sedang tidak baik.
"Anda akan menikah?," Kira berbinar.
"Iya, saya akan mengirim undangan ke rumah anda, Nona," Dokter Vivian tersenyum. Lemah. Namun, dia berusaha tegar, terlihat sekali dia tidak suka di kasihani.
"Pasti saya akan hadir, Dokter. Dan, panggil Kira saja, ku rasa, anda teman yang baik," Kira tersenyum.
"Baiklah, Kira. Aku akan menunggumu, karena kita teman, cukup panggil namaku saja. Vivi juga bagus, meski terkesan seperti nama pudel milik tetanggaku," Dokter Vivian sedikit mencondongkan wajahnya, sehingga mereka bicara lebih pelan.
Mereka berdua tertawa. Kira senang punya teman lagi. Banyak teman, banyak rezeki. Bahkan, jika mungkin Viona akan di jadikan teman.
Kira bergegas pamit, ketika di rasa matahari sudah condong ke barat. Dia masih ada janji dengan Ivy. Ah, Ivy, tiba-tiba saja rindu dengan wanita itu. Rindu dengan celotehnya yang menghibur.
"Zheyengkuh," Teriak Ivy, dari pintu depan kafe, ketika melihat Kira turun dari mobil.
Kira tersenyum dan segera menghampiri Ivy. Mereka saling melepas rindu dalam pelukan. Berteriak dan berjingkat, seperti anak-anak.
Kira mencibir, "Kamu jawab apa?."
"Aku bilang, aku ngga tahu lah. Memang aku ngga tahu kamu di mana. Rumahmu saja aku tidak tahu," Jawab Ivy, dia mulai menyuapkan kentang goreng ke mulutnya.
"Menurutmu, apa aku harus membiarkan anak-anak bertemu dengannya?," Kira menatap Ivy serius. Dia berpikir, dia terlalu egois, tidak mengizinkan anak-anak bertemu dengan Papanya.
"Biarkan anak-anakmu yang memutuskan, jangan di paksa, Ra. Kamu jelaskan saja, apa yang sebenarnya terjadi pada Papanya."
"Aku sudah menjelaskan kepada mereka, Vy. Tapi, mereka yang tidak mau tahu. Terlebih, Jeje, dia malah menutup telinga jika aku membicarakan Papanya," Kira mendesah. Selama setahun berpisah, Kira jarang membicarakan Papanya. Memang apa yang di bicarakan? Keburukan Papa dan Neneknya?.
"Gimana ya, Ra. Aku juga bingung, kamu sih ada niat buat mempertemukan mereka tapi, anakmu yang tidak mau," Ivy menggaruk pelipisnya dengan telunjuk. Meringis, tidak tahu harus berbuat apa.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi," Ivy beranjak meraih tasnya.
"Nih, undangan reuni sekolah kita. Udah 13 tahun sejak kita lulus, dan kamu belum pernah hadir sekalipun," Ivy menyodorkan undangan berbentuk persegi.
__ADS_1
Kira menerimanya dengan malas. Enggan rasanya hadir di acara reuni sekolah. Yang hanya akan mengingatkan tentang masa pembulian di sekolah saja. Mata Kira terpaku pada dresscode acara tersebut. Dresscode yang membuat mulut Kira terngaga lebar.
"Panitianya siapa sih, Vy? Gila apa?," Kira masih terpaku pada undangan itu.
"Tahun ini, angkatan kita yang menjadi panitianya. Dan aku yang usul baju apa yang di gunakan," Jawab Ivy santai. Benar, jika ada ide gila, pasti Ivy juaranya.
"Kau benar-benar kurang waras, Vy," Kira mengepal. "Aku ngga hadir."
"Eh, hadir dong, Ra. Kamu ngga mau ketemu anak akselerasi," Ivy segera menghalangi Kira yang hendak beranjak pergi.
"Ngga," Jawab Kira enteng.
"Yah, anak-anak kelas akselerasi pada penasaran pengen lihat kamu," Ivy menaik turunkan alisnya.
"Kacau kamu, Vy, mereka cuma mau buli aku lagi. Ngga ada, pokoknya aku ngga ikut," Kira menyingkirkan tubuh Ivy, dan segera keluar kafe di ikuti teriakan kecewa dari Ivy.
Kira berhenti tepat di depan kafe, bukan karena Ivy, bukan karena dia berubah pikiran. Tetapi, melihat sesuatu yang membuatnya sesak.
β’
β’
β’
β’
Sesuai janji, saya akan up dua bab, dan meluncur dengan selamat.
Hepi riding semuanyah, ππππ
Jan lupa dukung author ya, like, komen, dan vote.
Bye,πππ
Author mau merem dulu, kali bisa cepet sembuh!ππππ
__ADS_1