
Harris kembali bergabung dengan yang lain usai melegakan dirinya dari tekanan gairah yang tak mendapatkan dermaga. Dia meraup oksigen memenuhi rongga di paru-parunya, untuk mengembalikan ekspresi dirinya, yang angkuh dan sulit di dekati.
Meski sejak wanita itu menjajah hatinya dia sangat sulit untuk tidak tersenyum, atau garang. Wanita itu telah mengobrak abrik pertahanannya, melumpuhkannya dalam sekali bidikan. Bahkan, dia seperti bukan dirinya saat mendekap wanita itu. Semakin kuat dan semakin lemah dalam waktu yang sama.
Beberapa orang yang menganggap dirinya saudara Papanya, mulai mendekatinya, berusaha mengajaknya berbincang, namun Harris tahu kemana semua basa-basi itu bermuara. Harris mendengus tertahan di dada, sehingga mirip orang cegukan, sudut bibirnya mengembangkan senyum penuh ejekan, sebagai tanggapan dari berbagai bentuk negosiasi yang akan menguntungkan mereka saja.
Harris tak lagi memperhatikan lawan bicaranya, saat wanita penjajah itu tertangkap di bayangan matanya. Kibar gaunnya membuatnya seakan ikut melayang bersamanya. Dari kejauhan dia terus memperhatikan, wanita itu sangat mendominasi dengan tinggi badannya, seakan yang lain kecil di hadapannya. Bahkan Mami, yang sangat teliti saja dengan mudah di buatnya takluk.
Harris berdesir setiap kali memikirkan wanita itu, apalagi saat dia menggigit bibirnya, atau saat dia tertawa hingga matanya habis tergusur oleh pipinya. Harris sangat gemas, ingin rasanya dia menculik wanita itu dan membantingnya di kasur yang lembut.
"Sial," Harris memijat keningnya, saat tubuhnya kembali panas. Beberapa orang yang berada di sekitar Harris membeku dalam kecemasan. Bukan sesuatu yang baik jika Harris dalam suasana hati yang buruk.
Menyadari dirinya kelepasan bicara, buru-buru dia menegakkan tubuhnya. Sedikit bergidik, untuk menormalkan dirinya, "Maaf, saya ada urusan lain."
Sayangnya, setiap langkahnya tak luput dari sorot tajam anak sambungnya. Bocah itu seakan tak sabar memergoki Papanya saat melakukan kekerasan pada Sang Mama.
"Sudahlah, Je! Santailah, Papa tidak mungkin melakukan hal-hal buruk di tengah keramaian seperti ini. Kau ini terlalu banyak nonton sinetron sama Uti, agaknya!" Excel menepuk pelan bahu Jeje. Excel sendiri akhirnya mengerti mengapa ada tanda seperti itu di tubuh Mamanya. Diam-diam, Excel mencari tahu di internet. Dia nyaris mati membeku saat matanya ternoda untuk pertama kali. Dalam hati dia mengutuk Jeje yang membuatnya melakukan hal yang sangat memalukan.
"Jika Kakak tidak mau membantuku, diam saja dan lihat. Jangan menggangguku. Dimanapun aku harus waspada, Kak," Balas Jeje, tanpa mengalihkan perhatiannya dari Papanya yang sedang melangkah dengan tenang ke arah Mamanya. Excel menggeleng, pasrah saja, percuma memberitahu Jeje. Tidak akan menghasilkan efek apa-apa. Malah kesal sendiri akhirnya.
***
Jen sedang bermain dengan Candy, anak dari Kakaknya Rio, dia berusia 10 bulan. Bayi perempuan itu tampak menggemaskan, pipinya chubby dan rambutnya berdiri tegak, mirip sapu ijuk, hanya saja rapuh dan jarang-jarang.
Harris yang merasa langkahnya dalam pengawasan Jeje, mengalihkan tujuannya yang semula ingin mendekati istrinya kini berbelok ke arah Jen. Melihat bocah itu yang dengan gemas mencomot-comot pipi Candy, terlintas ide untuk membuat Jen membantunya mengalahkan Jeje.
"Hai, Ris! Mau main sama Candy?" Sapa Veronica, Kakak Rio. Dia memiliki 2 orang anak, yang masih batita. Harris mengurungkan langkahnya tepat di depan Vero.
"Tumben kau menawarkan anakmu untuk ku ajak main? Biasanya kamu tidak mengizinkan aku menyentuh anakmu?" Harris memiringkan kepalanya, melayangkan senyuman sinis pada Vero. Namun, Vero sama sekali tidak takut pada saudara sepupunya itu. Mereka memang selalu bertengkar sepanjang waktu.
"Dulu aku takut kau meremukkan anakku! Kau kan sangat kejam dan mengerikan," Ucap Vero dengan menaikkan alisnya sekilas.
"Sekarang pun masih, boleh ku coba?" Harris perlahan mendekati Candy yang di gendong Jen.
"Coba saja kalau berani," Vero menaikkan dagunya. "Ra, suamimu bikin ul- "
Harris secepat sambaran kilat menutup mulut Vero yang berteriak seperti meneriaki jambret. Matanya mengawasi Kira yang sepertinya tidak mendengar teriakan Vero.
"Ngeselin lama-lama mulutmu," Harris sedikit memberi tekanan pada rahang Vero, hingga Vero memukul-mukul lengan Harris.
Harris sedikit kasar melepas bekapannya. Sehingga wajah Vero berpaling ke samping. Pipinya memerah, meninggalkan bekas jari-jari Harris, setidaknya tiga.
__ADS_1
"Dasar pria kejam," Gumam Vero yang masih bisa di dengar Harris dengan jelas.
"Makanya punya mulut di jaga, jangan asal mangap," Sembur Harris tepat di depan wajah Vero.
"Sudah, sudah, kalian ngga bisa ya, akur sebentar saja, sejak kecil kalian suka berantem, ngga malu sama anak-anak?" Mama Rio, melerai pertikaian kedua manusia dewasa itu.
Harris membuang muka, niatnya untuk membujuk Jen guna memuluskan rencananya gagal total. Kini dia sudah tak lagi berminat menggunakan anak Vero untuk mengiming-imingi Jen betapa imutnya seorang adik bayi.
Harris mengerang frustrasi, namun ujung matanya melihat istrinya sedang hilir mudik di depan pintu penuh kecemasan.
"Ada apa, Sayang?" Harris meraih pundak istrinya untuk menghadapnya.
"Mami kok belum keluar ya? Mami juga belum makan malam, Yang," Kira terlihat sangat cemas, jemarinya saling meremas dan berkeringat.
"Mungkin masih membujuk Viona, Sayang. Jangan khawatir, biar Rina atau Bibi Mai yang mengurusnya," Harris meraih jemari istrinya untuk menenangkannya.
Pandangan mata Kira mengikuti kemana tangannya di bawa. Hingga bermuara di manik mata hitam kesukaannya, dia baru berhenti. Selalu saja mata itu mengisapnya, membawanya ke pusaran tenang yang menghanyutkan.
"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa salah paham," Harris meraih dagu istrinya dan mendekatkan ke wajahnya.
"Kau selalu salah paham dengan setiap gerakanku," Kira melabuhkan bibirnya di sudut bibir suaminya.
Harris berdecih pelan, "Kau selalu saja menggodaku, awas saja kau nanti."
"Sama saja, menjauhlah! Aku tidak mau, Jeje membuatku semakin kesulitan. Lihatlah, dia sejak tadi melihat ke arah kita," Harris mendorong pelan istrinya.
"Oh ya? Aku perlu menegur Jeje," Kira masih menautkan tatapan pada suaminya.
"Biarkan saja, aku yang akan mengalahkannya! Selama kau mau bekerja sama," Harris menusuk ujung hidung Kira. Kedua alisnya terangkat bersamaan.
"Andai saja aku bisa bilang tidak," Jawab Kira acuh, ujung jemarinya mengusap keningnya seolah ada helaian rambut di sana.
"Aku tidak suka di tolak, kau ingat?"
Kira hendak menyahuti, tetapi, suara Nyonya Darmawan mengurungkan niatnya.
"Kalian menunggu Mami?" Kira segera berbalik dengan senyum merekah.
"Iya, Mi. Mami belum makan malam kan?" Kira menyambut Nyonya Darmawan dan menuntunnya.
"Sudah, tadi ada yang mengantar makan malam untuk Mami," Nyonya Darmawan mengusap tangan Kira.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu!" Ucap Kira penuh kelegaan. "Bagaimana Mi?"
"Seperti kamu bilang, Nak. Dia belum mengatakan apapun, tapi Mami yakin, jika kami sudah dekat, segalanya akan menjadi mudah. Lagipula, Mami khawatir akan kandungannya. Dia tampak lelah dan kesakitan," Nyonya Darmawan memandang Kira, tapi pikirannya sedang mengingat Viona.
"Dia sangat menderita akhir-akhir ini, Mi. Terlebih, melihat kekasihnya sudah menikah, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya." Tatapan Kira melemah, seolah ikut merasakan penderitaan Viona.
"Dia sudah mengatakan itu, tetapi dia tidak mengatakan jika dia sakit hati atas pernikahan kalian. Mami tahu dia terluka akan itu, oleh sebabnya dia menghindari mengatakannya."
"Apa dia menyinggung soal bayinya, Mi?"
"Tidak, tetapi dia mengisyaratkan bahwa dia bukan milik suamimu," Nyonya Darmawan tersenyum. "Dia hanya terpaksa tinggal di rumah kalian, karena tidak punya pilihan."
Kira dan Harris saling pandang sejenak. Perlahan tabir Viona mulai terungkap.
"Awalnya, Mami berpikir itu anakmu, Ris. Mami sampai bingung harus bagaimana menghajarmu jika itu terjadi. Bagaimana bisa kau mempermainkan dua wanita sekaligus?"
Harris mendelik, tenggorokannya tiba-tiba kering. "Mi, aku dan Viona sudah berakhir saat aku menikahi Kira. Mami jangan mempengaruhi Kira, dia bisa marah nanti,"
"Benarkah? Biar saja, kau memang pantas di marahi."
Harris hendak menyahuti, tetapi suara ledakan kembang api menggema di udara. Harris melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Semua orang menengadah langit, melihat percikan api di atas sana. Sungguh indah. Jen sudah duduk di pangkuan Kakeknya, diapit oleh Excel dan Jeje. Tuan Dirga tampak bahagia, bibirnya terlihat tak henti berbicara. Tangannya menunjuk langit dimana pendar cahaya pecah dan memudar.
"Harusnya kita menikmati itu di balkon kamar, Sayang," Bisik Harris.
Kira menampik pelan lengan Harris. "Otak kotor."
Harris tertawa tanpa suara, dan mengecup pipi istrinya. "Kau harus berterimakasih dengan benar, ini semua aku yang menyiapkan,"
"Aku tidak minta," Balas Kira sengit.
Harris hanya tertawa pelan, jemarinya bertaut ketat sedikit meremas jemari istrinya, di sisi tubuh keduanya.
Nyonya Darmawan masih memandang langit, menulikan telinganya akan bisik-bisik mesra di belakangnya. Romansa pengantin baru, pikirnya.
•
•
•
__ADS_1
•