
Mobil yang dikendarai Harris melaju membelah jalanan yang masih padat. Hangat sinar matahari yang membias, tak mampu menembus kaca. Di dalam, terasa dingin, apalagi kedua orang itu hanya sedikit bercakap-cakap.
"Apa kau lelah?" Tanya Harris, setelah terdiam beberapa waktu. Dia sama sekali tak melepaskan tangannya dari jemari istrinya.
"Sedikit," Jawab Kira dengan malas dan tak jelas.
"Abang bilang juga apa? Kamu jadi lelah kan setelah terlalu lama berjalan?" Harris menatap istrinya yang merengut. Dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan mood istrinya berubah secepat itu.
"Kau mau sesuatu?" Tanya Harris lagi saat Kira sama sekali tidak menoleh kepadanya apalagi menyahuti ucapannya. Pikir Harris, Kira sedang ingin makan sesuatu atau menginginkan sesuatu. Jujur saja, Harris menantikan itu. Katanya, ada tantangan tersendiri ketika menaklukan kemauan aneh ibu hamil yang sedang ngidam.
Beberapa hal sudah Harris siapkan, jika istrinya meminta makanan tengah malam buta. Mulai dari menghubungi temannya yang punya resto, si owner donat yang beberapa waktu lalu di sukai Kira, dan Johan sekarang ikut tinggal di kediaman Dirgantara. Antisipasi dilakukan agar keinginan istrinya terpenuhi. Namun, sampai satu bulan lamanya, Kira tidak menginginkan apapun.
"Sayang, kau kenapa?" Harris sampai menepikan mobilnya saat Kira tak menjawab pertanyaannya. Bahkan dia semakin jauh berpaling.
Diusapnya kepala istrinya dengan lembut. Harris sampai menarik paksa bahu istrinya, namun masih tetap lembut. Bagaimanapun, dia takut membuat istrinya terluka.
Harris bingung, bagaimana bisa saat beberapa saat lalu Kira masih mengukir senyum manisnya dan sekarang dia membisu seakan ada lem di atas bibirnya.
Harris menghela nafas, dia harus tanya Vivian tentang perubahan emosi yang sangat mendadak ini.
"Say-,"
"Jalan Bang! Abang mau membuatku kepanasan?" Kira melesatkan kepalanya bak mobil balap ke arah Harris. Secepat kilat. Di ikuti tatapan yang mampu membuat Harris menarik tuas perseneling mobilnya. Melepaskan kopling dan menginjak pedal gas tanpa aba-aba kedua kalinya.
"Ya salam," Gumam Harris yang masih memegangi dadanya. Jantungnya masih berdebar saat ingat tatapan maut istrinya yang baru pertama kali dilihatnya.
Sepanjang jalan, Harris melirik istrinya yang masih menikmati pemandangan jalanan. Dilihatnya, Kira sesekali tersenyum saat melihat jajaran pedagang kaki lima, atau buah yang di jajar rapi oleh penjualnya. Hingga saat berhenti di sebuah lampu merah, Kira seperti menyeka bibirnya saat melihat buah mangga di pekarangan rumah tak jauh dari posisinya saat ini.
Tanpa pikir panjang, Harris mengirim pesan kepada ART di rumah agar menyiapkan mangga yang memang sudah tersedia. Apa yang sekiranya disukai wanita hamil, dia sudah siapkan.
"Sayang, kamu ngga ingin makan apa gitu?" Tanya Harris memecah kebisuan. Dia sangat tidak nyaman saat Kira mengacuhkannya.
"Bagaimana kalau kita ke kafe Ivy?" Sambung Harris. Meski dia sangat kesal, tapi Harris masih berusaha melembutkan tutur katanya. Yang manis biasanya akan membuat suasana hati lebih baik, pikir Harris.
Tanpa banyak tanya lagi, Harris membelokkan mobilnya ke kafe Ivy yang memang sudah terlihat dari jaraknya tadi.
Kafe memang baru di buka, tapi sudah ada beberapa pengunjung yang memenuhi hampir setengah dari kursi yang tersedia.
"Sayangku," Teriak seseorang dengan nada khasnya dari arah pantri. Jujur saja, Kira rindu tempat ini. Berkesan.
"Hei, kau kurus sekali? Di hajar terus ya tiap hari?" Ivy masih berjarak 3 sampai 4 langkah dari Kira saat mengucapkan itu. Bukan hanya satu dua orang yang menoleh, tapi hampir seluruh penghuni kafe mendengar dengan jelas perkataan Ivy.
Harris seperti biasa, acuh, bahkan tanpa menyapa Ivy, dia duduk di depan meja bar. Menyambar buku menu dan mulai membacanya.
"Jangan bicara lagi!" Kira membekap mulut Ivy yang menyeringai penuh kemenangan saat Harris membentengi diri dengan sikapnya.
__ADS_1
"Kau mau telingamu masih berfungsi sebagaimana mestinya kan?" Kira mengingatkan Ivy, bisa jadi ini kalimat terakhir yang mampu didengar Ivy. Ivy hanya terkekeh saat Kira melepaskan bekapannya.
"Suamimu udah jinak sama aku kok! Ngga mungkin dia berani bentak-bentak diriku!" Ivy mencapit hidung sahabatnya dengan gemas. Ia menuntun sahabatnya ke atas kursi tinggi di sebelah suaminya. Harris baru saja meletakkan ponsel setelah mengirim pesan pada Vivian, saat Kira duduk di sisinya.
"Gelato rasa bubble gum," Kira mengacungkan dua jarinya. Entah, hanya bau itu yang terasa pekat di indra penciumannya.
"Samain aja!" Ucap Harris saat Ivy melihat ke arahnya. Ivy pun berlalu setelah mengisyaratkan "oke" dengan jemarinya.
Kira melirik sinis suaminya yang tengah menyangga kepalanya. Kedua mata itu tak henti memandanginya.
Harris berulang kali menghela nafas dengan berat. Namun, senyum tak pernah luruh dari bibirnya. Ingin rasanya dia segera bertanya apa yang membuatnya murung. Tetapi, ia menahannya, menunggu hingga gelato memberi efek bahagia pada istrinya.
Ivy meletakkan dua porsi gelato berwarna biru dan pink di hadapan kedua orang itu. "Tumben kalian makan makanan seperti ini saat masih pagi?"
Tentu saja, pertanyaan itu di khususkan untuk Harris, meski Ivy sedang memandang Kira.
"Entahlah, suasana hatiku tiba-tiba buruk! Mungkin satu atau dua skup gelato, akan membuatku merasa lebih baik," Harris dengan acuh menyuapkan gelato ke dalam mulutnya.
Ivy mencibir, dia mengerti apa maksud Harris, "Selamat menikmati kalau begitu, aku tinggal sebentar ya!"
Harris meletakkan sendok dan meraih tisu untuk membersihkan sisa gelato yang berceceran di sudut bibir istrinya.
"Sayang, jangan menggodaku seperti itu, di sini banyak orang!" Bisiknya usai menyeka bibir Kira. Dia bermaksud menggoda tapi sekali lagi, tatapan maut menyabet Harris hingga serasa meninggalkan bekas goresan menyilang di dadanya.
"Gelato tidak berguna," Geram Harris dalam hati sambil menekan makanan dingin nan lembut itu dengan sendoknya. Hingga membuat denting yang nyaris membelah mangkuk itu menjadi dua.
Kira menikmati makanannya dengan santai. Ingin rasanya dia menambah satu porsi lagi, tapi mengingat bagaimana reaksi bayinya, dia memilih berdiri dan keluar kafe tanpa pamit terlebih dahulu pada sahabatnya.
Harris pun segera menyusul Kira usai berpamitan dengan Ivy. Panas matahari yang menimpa wajah ayu istrinya, membuat keningnya berkilat-kilat. Namun, langkah Harris terhenti saat ponselnya berbunyi. Harris buru-buru melihat ponsel yang masih dalam genggamannya. Rupanya Vivian. Setelah menjawab telepon, Harris segera membukakan pintu untuk istrinya yang semakin menekuk wajahnya.
Harris hanya mampu menarik nafasnya, ketika sekali lagi dia seolah sedang berbicara pada patung hidup. Apalagi, saat sampai di rumah, Kira membanting pintu mobil dengan keras.
"Astaga," Harris meraup kasar wajahnya berulang-ulang. "Untung saja dia sedang hamil anakku, kalau ngga, sudah ku buat bernafas saja susah."
Harris merapatkan giginya sambil terus memandang istrinya hingga lenyap tertelan pintu.
Harris hari ini berkerja dari rumah, selain karena sudah sangat siang juga tidak ada yang begitu mendesak untuk di selesaikan. Namun meski begitu, dia tetap berada di dalam ruang kerja hingga makan malam tiba.
"Bi, mangganya kok masih utuh? Apa Kira belum makan sejak siang?" Harris mendapati mangga yang sudah dikupas masih utuh dalam sebuah boks tertutup.
"Nona tidak suka mangga, Tuan. Nona tadi membawa buah-buahan yang lain selain mangga," Bibi Mai menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia memandang Harris dengan lembut.
Harris menghela napas, sebelum menarik kursi dan duduk di atasnya. "Bi, apa wanita hamil itu mudah marah?"
Bibi Mai tersenyum, tangannya memegang sandaran kursi, "Hormon kehamilan yang menyebabkan suasana hati lebih cepat berubah, Tuan. Anda harus sabar!"
__ADS_1
Harris termangu menatap gelas yang masih kosong, "Maksudku apa semua itu terjadi begitu saja, tanpa sebab?"
"Bahkan sebutir pasir bisa membuat emosi wanita hamil tidak stabil, Tuan. Mungkin anda tanpa sadar membuat Nona tersinggung." Bibi Mai masih setia dengan suaranya yang lembut.
Lagi-lagi Harris dibuat bingung. Apa? Kapan? Harris merasa buntu. Dia merasa frustrasi, bukan saja dia tidak suka diacuhkan istrinya, tapi juga dia merasa sepi saat wanita yang biasanya banyak bicara itu tiba-tiba diam. Dia merindukan pelukannya, dia merindukan ciuman kecil diwajahnya, setidaknya, itulah pelipur lara dan pelepas penatnya.
Harris mengusap keningnya hingga ke dua matanya yang memang terasa lelah usai melakukan rapat video dengan karyawan dan rekan kerjanya.
"Bu, Nona akan makan malam di kamar," Ucap salah seorang ART yang sepertinya baru saja dari kamar dimana Kira berada.
"Siapkan segera dan antarkan ke kamar Nona," Perintah Bibi Mai pada Art tersebut.
Harris mengangkat wajahnya, mungkin dia bisa meluluhkan istrinya dengan mengantar makan malam kepadanya.
"Siapkan makanannya, Bi. Biar aku saja yang membawanya ke kamar!" Bibi Mai mengangguk mengerti, dengan cepat dia menata beberapa menu makanan yang ringan dan menyegarkan. Tak lupa semangkuk kecil nasi ia sertakan, barangkali Nonanya mau makan nasi yang masih mengepul.
"Biar saya bawa sampai depan pintu, Tuan!" Pinta salah seorang Art dengan sangat sopan.
"Tidak usah, Bi! Biar saya sendiri saja!" Harris bangkit dan mengangkat nampan yang menguarkan aroma yang menggugah selera. Harris harus menahan air liurnya, mencium aroma ini, membuatnya berliur.
Sejak Kira hamil, Harris juga mengalami kenaikan berat badan, meski dia selalu berolahraga setiap hari, tapi dia makan dua kali lipat lebih banyak, juga dia sangat menyukai nasi. Entahlah, tidak makan nasi, seperti ada yang kurang. Mirip sekali dengan kebiasaan istrinya.
Harris membuka pintu perlahan, di lihatnya istrinya tengah duduk dengan kaki menjulur di atas kasur, dia sedang bersandar dengan ponsel ditangannya.
Kira yang awalnya tersenyum, perlahan pudar setelah melihat Harris yang masuk.
"Sayang, makan yuk!" Harris meletakkan nampan di meja, sebelum menghampiri istrinya yang merengut masam.
"Kenapa Abang yang membawa makanannya?" Kira memandang suaminya penuh permusuhan. Ketidaksukaan tampak sekali di wajahnya.
"Sayang," Harris duduk menyamping di sebelah istrinya, menghadapi Kira yang membuang muka.
Harris menarik wajah istrinya di dagu, memaksa kedua pasang mata itu saling bertatapan.
"Sayang, kenapa kamu mendiamkan Abang? Apa Abang ada salah sama kamu?" Harris bertanya penuh kelembutan. Menyisihkan helaian rambut yang jatuh di wajah istrinya. Pikir Harris, cantik, tapi galak. Tanpa sadar Harris tersenyum.
Kira memberanikan diri menatap suaminya, aroma lembut yang menguar dari tubuh suaminya, membuatnya merasakan kedamaian. Kira menimbang sejenak, entah apa sebabnya, dia begitu kesal melihat suaminya sangat perhatian pada Vivian. Bahkan sampai mengabaikannya, yang sudah kepanasan, hanya untuk menjawab telepon dari Vivian.
•
•
•
•
__ADS_1