
Di sela kepanikannya, Rega mendorong Kristal ke dalam lemari, lalu dengan napas yang masih memburu, Rega berjalan ke pintu, menarik anak kunci dan menyembunyikannya
"Sayang ...." Giza sepertinya belum berhasil membuka pintu kamar, sehingga Rega punya waktu untuk menarik napas dalam-dalam dan berusaha tenang.
Dia juga tidak membuka pintu, membiarkan mamanya saja yang membuka. "Aku baik, Ma ...."
Gemerincing anak kunci pun terhenti. "Biar Mama masuk, Nak ...!"
Giza bisa tenang setelah mendengar suara Rega lalu bisa mencari kunci kamar anaknya yang benar.
"Pintunya kekunci sendiri, sepertinya, Ma ...." Rega beralasan, sebab Giza sendiri tadi yang menutup pintu kamar ini sebelum pergi ke kamarnya sendiri.
Giza mengabaikan semuanya, dan memandang anaknya dari atas sampai ke bawah. "Mama takut kamu melakukan hal yang tidak-tidak, Sayang. Tadi kamu teriak keras banget, Mama kaget."
"Aku lagi nonton film horor tadi, Ma ... maaf kalau bikin Mama terganggu tidurnya." Rega tersenyum untuk menguatkan ceritanya.
Giza melongok ke dalam. Dia belum tidur saat terdengar suara wanita dari sini. "Kamu masih berhubungan sama Kristal? Kamu nelpon dia tadi?"
"Enggak," bantah Rega. Dia menggeser tubuhnya, agar mamanya bisa melihat ke dalam kamar. "Aku beneran hanya nonton film, Ma. Aku nggak mungkin berhubungan sama Kristal setelah apa yang dilakukan mereka pada kita, Ma."
Rega sungguh terpaksa mengatakan hal seperti itu. Dia hanya ingin agar mamanya segera kembali ke kamar dan Kristal bisa keluar. Lemari tempat Kristal bersembunyi sangatlah sempit, dia takut kalau Kristal kehabisan napas.
Giza mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia bukan wanita bodoh yang mudah dibohongi begitu saja, sehingga dia memeriksa bawah ranjang. Siapa tahu, Kristal bersembunyi di sana.
Giza bersumpah, suara itu bukan suara dari telepon. Dia jelas mampu membedakan.
Tangannya menyibak selimut, dan menuju lemari. Giza langsung membuka pintu lemari, dimana baju-baju Rega tergantung. Tetapi, di sana kosong.
Rega berkeringat dingin dan menggigil. Dia lupa kalau ibunya sangat teliti dan detail. Kalau tidak, bagaimana bisa dia menemukan satu angka yang salah pada laporan keuangan di tempat nya bekerja.
Melihat lemari kosong, Rega tak kalah terkejut. Kemana perginya anak itu?
Rega mengarahkan pandangannya ke jendela yang masih terbuka. Tidak mungkin kan, gadis bar-bar itu nekat kabur dari sana?
__ADS_1
"Mama mikir aku nyembuyiin cewek, ya? Di malam meninggalnya Papa?" Alih-alih mengusir mamanya yang malah membuat mamanya curiga, Rega membuat dirinya seperti tidak diberi kepercayaan dan menyedihkan. Rega tahu ini akan berhasil.
Giza menjatuhkan kedua bahunya, lalu memutar badannya menghadap Rega. "Bukan ... Mama hanya khawatir kamu melakukan sesuatu yang merugikan kamu. Kamu dari tadi diam saja dan tidak terlihat sedih saat memakamkan papamu. Jadi mama pikir, kamu akan bunuh diri tadi."
Rega tertawa kecil. "Aku nggak mungkin ninggalin mama sendirian. Aku hanya nggak bisa berlebihan menanggapi sebuah kejadian. Lebih ke pasrah aja, Ma ... Tuhan memberi kita garis hidup bukan tanpa tujuan. Jadi, aku bersedih seperlunya saja."
Ucapan Rega sepertinya membuat Giza tidak nyaman. Tepat sekali kata-kata itu untuknya, tetapi Giza masih ingin terus mengerami sakit hati dan sedih ini sedikit lebih lama.
"Mama lelah, Sayang." Giza mengusap pipi Rega, "selamat malam. Jangan lupa tutup jendelanya, ya."
Giza mencium kening anak lelakinya, lalu meninggalkan kamar Rega. Dia takut Rega akan mengeluarkan kalimat yang membuat hatinya tersentuh.
Ketika Rega mendengar pintu kamar mamanya tertutup, Rega bergegas menutup pintu dan menguncinya lagi. Lantas dengan langkah memburu, Rega memeriksa lemari sampai bajunya berantakan.
"Kris ... kamu dimana?" Rega frustrasi, akhirnya memanggil Kristal.
"Ga ... aku di luar."
Rega membeliak kaget, lalu berlari ke sisi jendela di mana suara Kristal terdengar.
"Astaga Kristal." Rega segera membantu Kristal kembali ke kamarnya, menarik tangan dingin dan gemetar gadis itu sampai kembali ke ranjang.
Rega tak habis pikir. Gadis ini nekat sekali dan tidak berpikir panjang soal resiko yang akan dihadapi nanti. Dia hanya berpikir praktis sesaat saja.
"Aku ketakutan, Ga ... aku takut mamamu lihat aku di lemarimu." Kristal berkata lirih penuh ekspresi ketakutan yang nyata.
"Makanya, kamu jangan berani kemari lagi, Mamaku menyeramkan, kan?" Rega mengambilkan minum untuk Kristal, membiarkan gadis itu minum.
Kristal menenggak rakus air minum pemberian Rega, seperti unta gurun yang sebulan tidak bertemu air. Kristal menghabiskanhya sangat cepat.
"Aku takut kalau diusir, padahal aku masih ingin berlama-lama disini sama kamu."
Mata Rega melebar, napasnya seakan berhenti. Oh ayolah, Kris ... mengertilah keadaan sekarang.
__ADS_1
"Aku mau nemenin kamu sampai kamu tidur." Kristal merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap kosong langit-langit kamar Rega.
Sementara Rega mengusap wajahnya dengan kasar. Mau apa lagi gadis aneh itu! batinnya geram.
"Bagaimana caranya biar mamamu mau membiarkan aku main sama kamu, Ga?" Kristal mendengar ucapan Giza saat bersembunyi tadi. Dia bukannya sakit hati karena tidak diinginkan, tetapi hanya ingin dibiarkan tetap berteman dengan Rega sebagaimana teman-teman yang lain. Dia ingin datang dan bertamu dengan normal. Bukan seperti ini.
"Kita bisa ketemu di rumah Jen kan? Atau sepulang sekolah, kita bisa main dulu. Nggak perlu kamu sampai manjat seperti ini, Kris. Kita punya banyak kesempatan yang normal." Rega memberi opsi bagaimana mereka bisa bertemu dan bebas berbicara.
"Maksudku, biar mamamu tidak menyangkut pautkan aku dengan apa yang dilakukan Mama dulu. Apa aku harus mati dulu, dan lahir di tubuh yang baru? Ah, aku ingin sekali seperti itu." Suara Kristal terdengar begitu menyedihkan.
Rega tersenyum. "Kamu nggak bisa milih lahir dari ibu yang mana, Kris, menjadi apa, siapa, dan hidupnya yang bagaimana. Kalau kamu mati, kamu akan jadi arwah, nggak akan bisa lahir kembali. Jadi, tidak usah berpikir yang aneh-aneh, Mama masih berduka, kehilangan orang yang dicintai memang lah menyakitkan. Suatu saat dia akan memaafkan kamu, seiring waktu berlalu."
"Mungkin ketika waktu itu tiba, kamu sudah menikah dengan orang lain ... tidak denganku."
Ada nada putus asa di sana. Rega tersenyum sekali lagi.
"Kau punya segalanya, walau tidak menikah denganku, Kris."
Kristal bangun dari tidurnya, menatap Rega seperti sedang menyimpan luka. "Tidak ada artinya tanpa kamu yang menikah denganku."
Kristal beringsut turun. "Aku pulang, semoga tidurmu nyenyak, Ga."
Suara lemah itu membuat Rega merasa trenyuh. Apa Kristal sungguh-sungguh dengan ucapannya ini? Gadis ini bahkan jauh lebih muda dari Jen yang masih doyan bermain rumah-rumahan. Tetapi kenapa bisa berkata seperti itu.
Rega menarik tangan Kristal, membawa gadis itu berbalik dan berjarak sejengkal darinya. "Aku tidak akan menikah dengan orang lain, Kris."
Itu hanya ucapan basa basi saja, mungkin. Agar Kristal tidak terus-terusan sedih. Tetapi, mungkin ada malaikat sedang lewat, yang mencatat ucapan Rega barusan. Sebuah kalimat ringan, yang berakhir terpintal menjadi benang takdir.
Kristal menatap mata Rega begitu lama. Entah itu sungguhan atau tidak.
"Kalau begitu, aku juga tidak akan menikah dengan pria lain selain kamu." Kristal tersenyum, lalu mundur dan kembali ke sisi jendela.
"Malam, Ga." Kristal melangkah turun, di bawah sana sudah ada dua orang suruhan Kristal yang menyiapkan tangga.
__ADS_1
Rega terpaku menatap udara yang ditinggalkan Kristal. Dia seperti sedang berada di alam mimpi.