
Pagi merayap naik, meski masih gelap, Kira bergegas bangun. Perlahan dia melepaskan pelukan tangan Jen yang melingkar di tubuhnya.
Semalam, Jen, merengek tidak mau di tinggal Mamanya. Macam-macam saja alasannya, sehingga Kira lebih memilih menuruti Jen, dan meninggalkan suaminya. Entahlah, bagaimana nasib suaminya tadi malam, Kira tidak mau memikirkannya.
Kira mengusap pelan rambut hitam panjang, yang tergerai menutupi sebagian wajah Jen. Tak lupa kecupan dia sematkan di pipi bulat itu.
"Kok tumben kalian sudah bangun?," Tanya Kira pada dua anak lelakinya yang sudah berdiri di dekat pintu.
Mereka berdua terkejut, dengan cepat mereka berbalik menghadap Mamanya.
"Iya, Ma. Jeje mau keluar, ke-ke, kemana Kak?" Jeje menyikut Kakaknya yang berada di sisinya.
"Kan kamu yang ajak Kakak bangun, kok malah balik tanya?" Excel memandang Jeje dengan sengit. Tangannya mengusap pelan ulu hatinya yang kena sikut Adiknya.
"Hehehehe...kemana ya, kok aku jadi lupa," Jeje meringis mengusap puncak kepalanya.
"Kalian ini kenapa sih? Sejak semalam aneh banget?" Kira menghampiri putranya, meraba dahi keduanya. Kali aja ada angin lewat.
"Mama apaan sih," Excel merengut, mendorong tangan Mamanya.
"Kami baik-baik aja, Ma. Mama jangan khawatir," Jeje beringsut mundur menjauhi Mamanya.
Kira mengangkat bahu, enggan menanggapi keduanya.
"Lho kok, tumben di kunci?," gumam Kira dalam hati, ketika hendak membuka pintu kamar anaknya.
Kira terkesiap, pantas saja Harris tidak membangunkannya, rupanya pintu di kunci. Pasti dia tidak bisa masuk. Bergegas, Kira melangkah ke kamarnya. Dengan tidak sabar dia membuka pintu hingga terbuka lebar.
Harris terkejut bukan main, ketika pintu kamar di terbuka seakan di dobrak paksa.
"Astaga, kau pagi-pagi membuatku jantungan. Ada apa sih, Yang?" Harris mengusap pelan wajahnya, mengumpulkan nyawa yang belum sempat kembali dari alam mimpi.
"Oh, tidak ada apa-apa," Kira bernapas lega, dia menyangka Harris akan mengamuk karena menunggunya. Atau berpikir dia menghindar dari suaminya, dengan mengunci pintu kamar.
"Kenapa pintu kamarnya di kunci sih, Yang? Kau sengaja ya, membiarkan aku tidur sendirian?," Harris meletakkan kembali kepalanya di bantal yang memantul, wajahnya sendu memelas, menelungkup di atas ranjang.
"Aku ngga kunci pintu kok, aku juga bingung, Yang," Kira yang hendak melangkah ke kamar mandi, berhenti sejenak, tangannya menggantung di handel pintu.
"Kau tidak sedang mengelak dari tugasmu kan?," Harris menyipit, memindai kebohongan di wajah istrinya.
__ADS_1
"Tidak, Yang. Sungguh, aku memang ketiduran, tapi aku tidak bermaksud menghindar," Kira menggeleng. Iya, memang dia ketiduran dan melupakan suaminya, tapi dia tidak melakukan itu dengan sengaja.
"Kau harus menggantinya," Harris bangun dari rebahannya, memandang Kira penuh maksud, tetapi Kira secepat kilat melesat ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Kira tidak mau, jika pagi-pagi harus kehabisan tenaga.
"Yang, buka," Harris menggedor pintu kamar mandi, tetapi Kira pura-pura tuli, dan menyalakan keran dengan aliran penuh. Sehingga membuat suara gedoran pintu tertelan gemuruh air di dalam bathup.
Kira melepas satu persatu pakaian yang melapisi tubuhnya, hingga bercak kecokelatan tampak di pakaian dalamnya. Kira mendesah, pantas saja badanku terasa pegal sejak kemarin, pikirnya.
Kira mematikan keran dan membuka pintu kamar mandi. Senyum penuh ejekan di layangkan suaminya dari muka pintu kamar mandi, Harris belum beranjak dari sana, dia pantang menyerah, sebelum dendamnya terbalaskan.
"Aku sudah menduganya, kau pasti akan keluar," Harris meletakkan sebelah tangannya di kusen kamar mandi, dan sebelah tubuhnya menekan dinding, mengurung Kira dalam kukungan tubuh kekarnya.
Kira menampik lengan kokoh itu, namun tak membuat lengan itu goyah, malah semakin kuat mencengkeram kusen pintu.
Kira berdecak, tidak kurang akal, Kira menerobos melewati bawah lengan suaminya. Lalu, melangkah cepat menuju laci, tempat dimana harta karunnya di sembunyikan.
Dengan wajah sumringah dia berbalik,"Anda harus berpuasa hingga tujuh hari lagi, Tuan," Kira melambaikan benda di tangannya, dan itu berhasil membuat Harris lesu.
"Nasib," Harris menepuk jidatnya. Harris melangkah gontai ke ranjang, merebahkan tubuhnya yang berbalut piama ungu tua, sedianya itu sepasang dengan istrinya.
Kira terbahak melangkah ke kamar mandi, selama satu minggu penuh, dia akan bebas dari penjajah. Dan bisa tidur dengan nyenyak.
Ketiga anak yang sedang menunggu Papa, Mamanya turun, saling pandang saat mendapati Papanya, murung.
"Pagi semuanya," Kira menyapa anak-anaknya dan juga Kristal. Sudah ada Johan juga di sana.
"Pagi, Ma," Ketiganya tersenyum, menyambut ciuman Mamanya.
"Papa kenapa? Sakit?" Tanya Jen yang sejak tadi memperhatikan Papanya. Dan, kedua kakaknya, melotot tajam ke arah Jen, sehingga membuat Jen menutup mulutnya.
Harris yang melihat itu, tersenyum, walau sedikit memaksa, "Tidak ada apa-apa, Jen. Papa baik-baik saja, hanya ada sedikit masalah pekerjaan,"
Lirikan tajam mata hitam itu menghujam dalam ke arah Kira. Namun, Kira hanya mengangkat bahu, menanggapi suaminya dengan santai.
Jen ber ohh ria, sembari menganggukkan kepala.
"Kakak tidak boleh melotot seperti itu pada Jen ya, Jen hanya bertanya, dan Papa tidak keberatan sama sekali, malah Papa senang, Jen perhatian sama Papa," Harris mengusap kepala kedua bocah laki-laki yang menunduk menatap piring kosong di depannya, secara bergantian.
Mereka mengangguk mengerti, tanpa mengalihkan perhatian dari piring kosong itu. Kira hanya menggeleng, dan mulai mengisi piring kosong, dengan menu sarapan pagi. Nasi goreng, dan berbagai lauk, mulai nugget pesanan Jen, telur mata sapi, sosis, udang, dan ayam yang di suir-suir. Ada acar mentah, mentimun, kubis yang di iris tipis-tipis, dan irisan tomat sebagai pelengkap. Harris, yang sebenarnya kurang suka makan nasi di pagi hari, kali ini, pasrah saja apapun menunya. Meski dia akan merasa cepat mengantuk nantinya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, Papa," Kira mengantar Harris di depan rumah, bersama ke empat anaknya, Kristal kini masuk dalam hitungan anaknya, sebab dia lebih menempel pada Kira daripada Mamanya.
Mereka kembali ke dalam rumah saat di rasa mobil hitam yang membawa Papa Harris tak tampak lagi. Mereka berempat berhamburan ke halaman belakang, di mana mereka bisa leluasa bermain.
Kira bergegas ke ruang kerja Harris, di mana dia meletakkan flasdisk kemarin dan melihat ulang video Bibi Yun. Dalam video itu, Bibi Yun menceritakan awal mula dia bekerja pada Viona dan bagaimana dia bisa membawa Kristal dalam asuhannya. Sejak melahirkan Kristal, Viona memang mengalami depresi. Karirnya sebagai artis yang kala itu dia masih pendatang baru. Dan bisa di bilang Viona cukup terkenal, meski masih sekedar figuran. Namun, sejak adanya Kristal dalam perut Viona dan Ayah Kristal menghilang, Viona turun pamor. Isu miring tentangnya mulai berseliweran. Sejak itu, cap sebagai wanita simpanan melekat pada Viona. Menurut Bibi Yun, sampai Kristal berusia satu tahun, Viona belum menyerah mencari Ayah kandung Kristal.
Hingga seakan isi video itu berpindah ke memori otak Kira, saking seringnya dia memutar video itu, Kira berhenti. Lalu mulai mencari-cari di internet tentang Viona. Ketemu, isinya, gosip miring tentang Viona, yang membuat Kira merasa kasihan pada Viona. Melihat wanita polos itu menjadi korban keegoisan pria. Hingga membuatnya menjadi wanita yang tak berperasaan.
"Mbak....Mbak Kira?" Suara yang berulang menyebut namanya terdengar dari balik pintu.
"Ya," Kira melangkah setengah jalan ke pintu, namun pintu dengan cepat menganga lebar, menampilkan sosok adiknya di ujung sana.
"Mbak, itu Viona kan? Masa dia mantan Mas eh Pak Harris sih, Mbak?" Nina melangkah masuk usai menutup pintu di belakangnya. "Yakin Pak Harris tidak sedang di bohongi olehnya?"
"Kau tahu apa tentang dia, Nin?"
"Mbak, beberapa waktu lalu, dia kepergok berduaan dengan seorang laki-laki di rumah sakit, akun bibir yang mengupload," Nina mengambil ponselnya, dan membuka sebuah akun media sosial, lalu di sodorkan ke arah Kakaknya.
"Laki-laki itu katanya pemilik agensi di mana Viona bergabung." Lanjut Nina, saat Kira mengamati foto-foto itu dengan seksama.
"Nin, waktu Jen di rawat di rumah sakit, aku melihat bahkan mendengar Viona sedang berbicara dengan seorang laki-laki, dan, Viona bilang bahwa dia tidak mencintai Harris. Sayangnya, aku tidak melihat wajah pria itu."
"Jadi, Mbak,-,"
"Mungkin, pria itu Ayah dari bayi Viona, Nin!"
Mereka berdua saling pandang, "Dan, karena Viona sedang kesulitan, jadi dia memanfaatkan bayinya, untuk menjerat Pak Harris,"
Kira mengangguk, membenarkan ucapan Nina.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan, Mbak?"
"Memastikan, Viona tidak di kendalikan oleh pria itu. Karena pria itu, membenci Harris," Kira menatap foto pria yang tengah berada di area parkir. Kira mendengar dengan jelas, bahwa pria itu tidak sudi berbagi dengan Harris.
•
•
•
__ADS_1
•