
Siapa yang menyangka, diamnya seseorang adalah awal dari sebuah petaka.
Rian tengah termenung di depan kamar di mana Melisa berada. Sesal memang selalu datang terlambat, tetapi, meratapinya saja juga tidak akan merubahnya menjadi lebih baik.
Sudah beberapa hari sejak kepulangannya dari rumah sakit. Isi hari-hari Rian sejak saat itu adalah keluhan Melisa dan Ibunya.
Hari ini langit hitam menguasai angkasa, menghalangi cahaya, dan bersiap mengirim kilatan petir. Air mulai turun tetes demi tetes, kecil dan rapuh, namun sudah meninggalkan genangan di tanah.
Rian, sedang mendengar drama radio dari balik kamar, dimana ke tiga orang yang memiliki tempat tersendiri di hatinya, sedang berdebat sengit.
"Mel, uang untuk Kira mana?," Ucap Riana lirih, namun tetap saja Rian bisa mendengarnya dengan jelas.
"Jangan tanya aku, Mas Rian belum memberikannya padaku," Jawab Melisa.
"Jangan bohong, ini sudah lewat beberapa hari, pasti wanita itu sudah menunggu, bisa-bisa aku kena damprat wanita itu," Riana mulai memainkan dramanya. Pintu kamar yang tidak tertutup sempurna, membuat Rian leluasa melihat ke dalam. Walaupun tanpa melihat, Rian bisa membayangkan ekspresi Riana yang berlagak polos.
"Ri, kau tau kan, aku di rumah sakit, dan aku tidak memegang uang itu sekarang, kau bisa minta kepada Kakakmu, dan memberi tahu bahwa Kira selalu menindasmu. Biar kakakmu tahu, mantan istrinya itu tidak sebaik yang di lihatnya," Melisa menghadap Riana yang seperti ketakutan. Ibu sejak tadi hanya bersedekap memandangi anak dan menantunya.
"Aku mana berani, bisa-bisa aku yang di bunuh Kakak, kemarin saja, aku di seret keluar dari tempat Mbak Kira bekerja. Kau tahu kan, Kakak tidak bisa melupakan dia," Riana memasang wajah memelas di hadapan Melisa.
"Jangan mengatakan itu, aku benci dia, dia hanya masa lalu, tidak berarti apapun lagi bagi Mas Rian," Melisa berteriak, mulai terpancing oleh ucapan Riana.
"Buktinya Mel, Kakak melindungi dia, bahkan jika bukan karena aku, kamu pasti tidak akan tahu di mana dia."
"Mel, aku melakukan ini agar Mbak Kira tidak terus-terusan muncul mengganggu hidupmu, agar kau bisa tenang menjalani hidupmu," Riana mengelus lengan Melisa untuk meyakinkannya.
"Iya, aku ngerti, tapi Mas Rian belum memberiku uang, dan mereka sudah bertemu, mungkin saja dia memberinya langsung, lagi pula aku berada di rumah sakit beberapa hari ini," Melisa merendahkan suaranya, tetepi tidak meninggalkan amarahnya.
"Oke, kamu mintalah secepatnya, nanti berikan kepadaku," Riana tersenyum, lalu memandang ibunya memberi isyarat untuk pergi.
Melisa masih memaku di tempat, campuran amarah dan kekecewaan selalu menjadi kelemahan dalam dirinya. Kesal karena tidak bisa berbuat-apa.
Rian pura-pura baru saja sampai ketika berpapasan dengan Riana dan Ibu. Mereka sudah mengganti topengnya, pun dengan Rian.
Rian masuk ke kamar, melihat sekilas ke arah Melisa. Wanita bodoh ini, kemana wanita yang pintar itu pergi. Bukankah dia dulu pandai mengelabuhi Kira, membodohi Kira. Kenapa dia sekarang yang jadi bodoh.
Melisa tidak menyadari satu hal, apa yang di perbuatnya dulu kepada Kira, kini sedang terjadi padanya. Dulu, Melisa bersahabat baik dengan Kira, selayaknya saudara. Tetapi, Melisa dengan halus mengambil suaminya dengan tipu daya. Kini, Melisa berpikir Riana adalah keluarganya, mendukungnya, tetapi saat ini Melisa sedang di perdayai oleh iparnya sendiri.
"Mas, uang untuk anak-anak sudah kamu berikan apa belum? Ini sudah lewat dari tanggalnya," Tutur Melisa lembut di belakang suaminya. Memeluk perut datar suaminya.
"Aku akan memberikannya langsung," Rian memgusap lembut tangan yang melingkar di perutnya.
Rian menatap wajah putrinya, cantik sekali. Rian mendesah, seakan di gelayuti mendung hitam seperti langit diluar. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk menghadapi keluarganya yang saling menusuk dalam pelukan.
__ADS_1
Semua masalah berawal darinya dan dia pula yang harus mengakhiri. Tetapi itu semua tidak akan mudah. Ia tak tahu harus memulai dari mana.
Melisa melepas pelukannya, dan duduk di sisi ranjang. Tangannya saling meremas, bibirnya mengatup rapat sesekali dia mengigit bagian dalam bibirnya.
"Biar Riana saja yang memberikannya, Mas. Seperti biasa," Melisa berusaha tersenyum.
"Tidak. Aku saja yang memberikan, aku ingin melihat kakak-kakaknya," Rian menggendong bayinya yang menggerakkan kepalanya ke ke kanan dan kiri. Sepertinya dia haus. Rian tersenyum bahagia melihat putrinya.
"Kau merindukan Mamanya, bukan?," Melisa berdiri, menatap Rian dengan tajam.
"Aku merindukan anak-anakku, Mel. Dari mana kau dapat pemikiran seperti itu?," Rian meletakkan kembali bayinya. Dan menghadapi Melisa. Raut wajah yang di penuhi amarah itu, menatap tajam ke arah Melisa.
"Aku tau semuanya, Mas. Aku bisa merasakan Mas, dia lebih cantik sekarang, apalagi tatapanmu padanya masih sama seperti dulu. Bahkan aku tak pernah kau perlakukan seperti itu," Teriak Melisa. Bak sebuah bendungan yang jebol, Melisa menumpahkan semua yang mengganggunya. Melisa menangis, hatinya sakit.
"Iya, kau benar. Aku masih mencintainya, sama seperti dulu, tidak pernah berubah. Aku tidak menyadari itu, hingga dia meninggalkanku. Dan semua karena kamu, kamu yang sangat ingin kami berpisah. Apa aku benar?," Rian tidak meninggikan suaranya, tetapi itu sangat menyakitkan bagi Melisa.
"Semua ku lakukan karena aku mencintaimu, Mas. Aku ingin hanya aku yang memilikimu. Aku ingin pandanganmu hanya tertuju padaku. Aku benci, saat kau memujaku tetapi mata dan hatimu ada padanya. Aku sangat membenci dia, dengan segenap hatiku." Suara Melisa di penuhi dengan emosi yang berlebihan. Kebencian menguasai dirinya, sehingga membuat tubuhnya bergetar.
"Kau serakah, Mel. Kau egois,"
"Iya, Mas. Aku serakah dan egois karena kamu dan karena dia. Kau tidak melihat besarnya cinta yang ku berikan padamu, apa yang ku korbankan untukmu. Kau dan cinta yang tak pernah kudapatkan yang membuatku seperti ini," Melisa menunjuk wajah Rian, dengan segenap kemarahan dan kebencian terkumpul.
Rian tidak mampu berkata-kata. Benar, dialah yang berengsek di sini. Mempermainkan dua wanita. Wanita yang di cintainya dan wanita yang memuaskan nafsunya.
Rian memandang wanita di yang tengah berdiri, di balik meja. Apa benar, wanita yang bukan milikmu selalu lebih indah? Rian tersenyum, seolah dia memandangi kekasih hatinya. Perasaan yang tak pernah meninggalkan hatinya, selama ini. Dan dia baru menyadari, setelah dia bukan miliknya lagi.
Pandangan Kira tertuju pada Rian yang tengah berdiri di samping mobilnya. Tak menghiraukan air hujan yang membasahi tubuhnya. Kira mendesah, hampir setiap hari, Kira melihat Rian berdiri di sana. Itu juga yang membuatnya menerima hukuman dari suaminya. Apa bisa dirinya menghalangi pandangan seseorang padanya? Di hukum karena seseorang menatapnya terlalu lama. Walaupun hukumannya hanya menatap punggung mulus tanpa noda dan mengusap sesuka hatinya. Hukuman yang manis, bahkan Kira ingin berbuat kesalahan setiap hari.
Kini mereka sedang duduk di bangku depan kafe, walaupun tidak banyak pengunjung saat hujan begini, tetapi, Kira tidak ingin menjadi pusat perhatian karena keributan yang di buatnya. Kira tahu, semua akan berakhir dengan ketidak sepakatan di antara mereka berdua.
"Apa lagi sekarang?," Kira selalu menjadi pembuka diskusi rumit ini.
"Ra, kau ingat kapan kita berpisah?," Rian menerawang jauh, kosong, dan lemah.
"Kenapa? Aku tidak ingin mengingatnya," Jawab Kira ketus.
"Selama itu, aku sangat tersiksa karena merindukanmu dan anak-anak."
"Kau sudah punya Melisa, dan sekarang kau punya anakmu," Ucap Kira datar. Lelah jika harus mengatakan itu dalam luapan emosi.
"Aku tidak benar-benar menginginkannya, aku hanya ingin kamu," Rian memutar kepalanya sehingga kini matanya tertuju pada wanita cantik dan menggoda di sebelahnya.
"Kau sangat egois, Mas. Kau menyakitiku dan Melisa. Berhentilah merengek padaku. Aku tidak akan kembali padamu. Aku mencintai orang lain, Mas."
__ADS_1
"Aku tahu kamu, Ra. Kamu masih mencintaiku. Kau hanya ingin aku menyerah, kau ingin aku menjauh darimu, bukan?,"
"Kau terlalu percaya diri, Mas. Aku sudah lama membuang perasaanku padamu. Aku sudah menutup kisah denganmu," Dengan mantap mengucapkan kalimat itu. Tidak ada keraguan setitikpun di sana.
Rian menatap sendu air yang menggenang di depannya. Dia menyadari satu hal lagi, wanita di sebelahnya ini, bukan wanita lemah yang dulu di kenalnya.
"Benarkah tidak ada tempat buatku lagi?," Gumam Rian.
"Benar, tidak ada lagi. Dan tidak akan pernah ada lagi," Ucap Kira tegas.
"Baiklah. Tetapi Ra, di hatiku kau selalu memiliki tempat, tidak akan pernah terganti," Rian tersenyum, senyum bodoh, senyum kekalahan. Tetapi, ucapannya bukan sebuah kekalahan, bukan pula sebuah kebodohan, itu sebuah ketulusan. Dia harus merasakan sakit yang di rasakan Kira. Ketulusan dan pengorbanan yang di lakukan Kira, tak sebanding dengan sakit yang di rasakan Rian sekarang.
Kira menarik sudut bibirnya, setidaknya, Rian tahu kata berhenti atau menyerah.
"Ra, hiduplah dengan baik, aku akan mendukung hidupmu dan anak-anak, nafkah yang tak pernah sampai kepadamu, akan ku ganti semuanya. Maaf, aku telah membuatmu menderita."
"Tidak perlu, Mas. Aku akan mengupayakan hidupku sendiri. Kaulah yang harus hidup dengan baik, kita sudah punya garis sendiri-sendiri, sebaiknya jangan mengubah jalur hidup semaumu. Biarkan semua seperti ini, kami sudah bahagia,"
"Satu hal lagi," Ucapan Rian menghentikan Kira yang hendak meninggalkan Rian.
"Biarkan aku bertemu anak-anak, bagaimanapun mereka anakku juga. Jangan mengacaukan pikiran mereka, Ra."
"Mengacau? Kurasa, kau yang kacau, Mas," Kira berbalik lagi.
"Rupanya, waktu belum bisa membuatmu berpikir, apa kau sadar berapa lama mereka tanpamu? Sejak mereka tahu dunia, mereka sudah terbiasa tanpamu. Hitung saja, umur Excel, atau umur Kembar. Selama itu pula, kau hanya bayangan semu seorang Ayah. Kau ada, tapi mereka tidak bisa menyentuhmu."
"Aku bukan ibu yang kejam, meracuni pikiran anakku dengan kebencian, tapi kau sendiri yang menabur benih kebencian di hati mereka, aku tidak pernah menyuruh mereka melupakanmu, tapi kau yang membiarkan mereka lupa jika masih punya seorang ayah."
Kira menghela nafas, bebannya sudah terangkat, jerat itu sudah mengendur. Hanya bekas jeratan itu masih ada, dan sakit.
Rian semakin terpuruk, dan Kira semakin tegak menatap masa depan. Menanggalkan masa lalu kelam, di penuhi awan hitam. Kini, langitnya kembali cerah dan tenang. Tetapi, bukan berarti langit tenang, tidak akan memicu badai. Hanya waktu yang tahu, kapan badai menghantam.
•
•
•
Karma di mulai ya gais😘
Btw, ini masih awal-awalnya ya,!🥰
Dukung terus author dengan like, komen dan vote jika berkenan 😍. Selamat membaca😘
__ADS_1
Salam manis dari Author 😘