
Kira berhenti di ujung tangga, tawanya sirna berganti takjub. Sebuah foto berbingkai, berukuran jumbo terpampang di dinding yang bisa di lihat dari atas tangga.
Foto pernikahan Harris dan Kira, kini menghiasi dinding rumah mereka. Johan terlihat sedang memberi instruksi kepada beberapa orang yang sedang memasang foto itu. Kira sendiri tidak tahu kapan Harris merencanakan ini, tapi bagi Kira ini adalah sebuah pengakuan.
"Ekhem," Suara Johan mengagetkan Kira. " Anda menyukainya, Nyonya?."
Kira menarik sudut bibirnya yang masih terkatup rapat. Jelas sekali dia sangat bahagia, bukan lagi menyukainya. Kira menggangguk mantap, tanpa setitikpun keraguan. Sehingga Johan pun ikut tersenyum sampai barisan giginya menyembul di balik bibir.
"Sekarang, mereka akan memasang satu lagi di kamar Anda," Ucap Johan tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah istri Bos nya. Yang menurut dia, semakin menarik. Terlebih lagi, rona merah yang menghiasi pipinya, menambah kadar ayu wajah ini.
"Eum, di dalam, ada Viona, Jo," Kira menunjuk kamar dengan ibu jarinya. Kira mengatupkan bibirnya ke dalam, ragu, dan tidak enak hati.
"Tidak apa, Anda adalah pemilik kamar ini, jadi tidak perlu takut," Johan menyakinkan Kira. Dengan isyarat tangannya, Johan meminta Kira untuk segera membuka pintu kamarnya.
Kira membuang nafas dengan cepat, mengusir ketidak nyamanan dalam hatinya. Benar kata Johan, dialah pemilik kamar ini.
Kira memutar kenop pintu, dan mendorongnya, menampakkan seisi kamar yang masih kosong di bagian dinding.
"Kapan semua ini di persiapkan?," Tanya Kira saat mereka berdua masuk ke kamar, dan berdiri di belakang sofa, menepuk pelan sandaran sofa yang empuk.
"Baru hari ini," Johan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, seakan sedang meneliti dan mengira-ira. "Tapi, foto itu sudah ada beberapa hari setelah pernikahan," sambung Johan, setelah melihat sekilas wajah menciut di sampingnya.
Si pemilik kamar hanya membulatkan bibirnya, sembari menganggukan kepalanya berulang-ulang. Rikma hitam berkilau itu bergerak seirama gerakan kepalanya. Sederhana, tapi indah.
Johan selalu mengagumi wanita di hadapannya ini, sejak pertemuan pertama mereka. Namun, suratan jodoh berkata lain, dia hanya bisa di kagumi, tanpa bisa di miliki. Bahkan, jauh di sudut hatinya, terpatri janji, akan memberikan apapun, demi wanita yang selamanya tak akan bisa dia miliki. Johan menarik sudut bibirnya, dia sudah gila.
Beberapa orang mulai meramaikan suasana kamar yang semula hening. Sebuah foto berukuran besar dan satu lagi foto yang mirip dengan sebuah lukisan.
Kira terperanjat ketika netranya melihat foto itu. Manik matanya melebar sempurna, itu sangat memalukan.
"Jo, yang itu jangan di pasang!," Seru Kira yang setengah berlari menghampiri foto yang telah keluar dari pembungkusnya.
"Kenapa?," Suara berat si pemilik peraduan membuat Kira membatu. Dia mengigit bibir bawahnya, sebelum berbalik.
"Ah, itu kan-," Kira tak mampu menyelesaikan ucapannya. Jemarinya saling bertaut di depan dada.
"Memang, kau tidak mau mengingat waktu itu?," Tanya Harris sembari meraih istrinya dalam pelukannya. Menghadapkan Kira ke ranjang, dan memeluknya dari belakang. Harris mengecup pucuk kepala istrinya. Meletakkan dagunya yang runcing tepat di puncaknya.
Empat orang pekerja dan seorang Johan di buat ternganga melihat kemesraan pasangan ini. Mereka menelan ludah, dan salah seorang dari mereka mengambil foto. Dia berpikir, akan menjadi keuntungan besar jika di jadikan sarana promosi. Terlebih mereka berdua terlihat begitu alami, kesan yang sangat ingin orang kebanyakan lihat.
Jari telunjuk panjang itu mulai menunjuk dimana mereka harus memaku potret lukisan dirinya dan wanita yang paling di kasihinya. Kira tersipu melihat foto itu, dia tahu seperti apa situasi saat itu, persisnya seperti apa, tapi dia tidak tahu, kapan Harris mengambil foto mereka dalam balutan selimut. Kira tidak pernah menyangka sedikitpun, suaminya yang terlihat mengerikan dan acuh bisa memikirkan hal semanis ini.
Harris tersenyum puas, kinerja tim fotografi pernikahannya sangat profesional meskipun terbilang baru. Mengingat bagaimana perasaan mereka saat menikah, Harris mengakui, foto-foto itu malah terkesan malu-malu, kaku dan lucu. Berkesan. Bukankah setiap pernikahan harus meninggalkan kesan tersendiri? Ya, itulah kesan pernikahan mereka. Absurd, tapi layak untuk di kenang.
Mereka berdua pasangan yang tidak sempurna, hati mereka cacat, namun Tuhan selalu memberi jalan kepada siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya. Biarlah masa lalu mereka menjadi kenangan, meskipun pahit, namun karena masa lalu yang buruk, mereka bisa bersama. Saling mengisi dan melengkapi. Saling bergandengan meniti jembatan rapuh masa.
__ADS_1
Namun, semuanya berubah, saat masa lalu kembali menyapa. Bukan masalah, karena mereka akan menghadapinya bersama.
"Apa-apaan ini?," Cuping hidung mancung wanita di ambang pintu ruang ganti itu, kembang kempis, menandakan dadanya bergemuruh penuh emosi.
"Kau yang apa-apaan? Ini bukan kamarmu lagi," Gelegar Harris yang merasa kemesraannya terganggu. Mata itu kembali menggelap, berkilat marah. Memang dia tidak lagi ingat luka yang di goreskan wanita itu, tapi, melihat wajahnya menyulut api amarah dalam dirinya.
Wanita itu bergeming, rahang lembutnya menegang, tampak sekali dari pipi tirusnya yang menonjol.
"Jangan berulah jika kau ingin tetap di sini, ikuti saja apa yang aku katakan, mengertilah, kita sudah berbeda sekarang," Raut wajah tegas itu belum menyurutkan emosinya sama sekali. Jika saja itu Kira, dia sudah lari tunggang langgang.
"Tidak, aku mau tetap di sini," Balas Viona tak mau kalah, ke dua belah telapak tangannya mengepal, melekat di sisi tubuh rampingnya.
Harris sudah membuka mulut, tapi Kira mendahului.
"Baiklah, kau tetap di sini," Ucap Kira kalem.
"Ayo," Kira menarik tangan besar Harris. Meski Harris tidak suka, tapi dia mengikuti kemana Kira membawanya.
Di rumah ini, masih ada kamar lagi di sebelah kamar anak-anak. Cukup besar juga, meski tak semewah kamar utama. Kira membawa Harris ke sana. Pertama kali yang masuk ke dalam indra mereka adalah aroma khas ruangan yang lama tidak di pakai. Semua rapi, dan bersih. Saking bersihnya, tembok di sini polos bahkan jam dinding saja enggan menggantung.
"Ra, kenapa kau memberikan kamarmu?," Harris menutup daun pintu di belakangnya.
Kira tersenyum sekilas, " Kita hanya perlu mengalah, lihatlah tubuh ringkihnya, apa kau tega membiarkan dia mengeluarkan tenaga untuk mendebatmu? Paling-paling nanti kau akan menyeretnya, dan dia terluka," Jawab Kira santai. Kira tahu betul, kilatan amarah yang menumpuk di mata suaminya akan membuatnya gelap mata. Dan Kira tidak ingin membuat suasana panas ini semakin rumit.
"Aku heran denganmu, dia jelas-jelas menginginkan kamar itu dan kau memberinya dengan mudah, sekarang kamar, besok apa lagi? Lalu, lusa kau akan memberikanku padanya," Harris mengangkat tangannya, lalu menjatuhkan pelan di samping tubuhnya. Dia benar-benar tak bisa mengerti wanita. Dan istrinya ini aneh. Aneh sekali.
"Alasannya?," Harris meraih tangan istrinya, membawanya ke pintu yang terbuat dari kaca, bertirai tebal, sehingga memblokir cahaya masuk ke dalam kamar.
"Tidak ada, hanya saja aku ini orang serakah, tidak mau berbagi," Kira mengangkat bahunya.
Harris tertawa terbahak, "Apa yang membuatmu mencintaiku?."
"Apa semua perlu alasan?," Kira melirik Harris yang membuka tirai di depannya.
"Ya, tentu saja. Semua yang ada di bumi selalu memiliki alasan," Harris membuka kunci pintu, sebelum mendorongnya hingga terbuka lebar.
"Tidak, apa ada alasan kenapa seseorang bernapas?," Kira mengikuti langkah suaminya ke balkon yang langsung menghadap halaman belakang rumah yang luas dan rindang. Pohon-pohon perdu tumbuh subur mengelilingi halaman.
"Ada, tentu saja kita bernapas untuk hidup, tanda kita masih hidup," Harris menatap Kira dengan serius. Seolah sedang membicarakan bisnis yang sangat menguntungkan.
"Apa itu alasan? Bukan, ku rasa. Kita bernapas karena tubuh kita butuh udara, butuh oksigen untuk kelangsungan kinerja tubuh kita. Jantung, paru-paru dan darah saling membutuhkan untuk menyuplai kebutuhan otak," Kira menerawang jauh, sangat jauh. Namun, jawabannya hanya satu, karena mencintai seseorang tidak butuh alasan.
Harris terdiam, tidak mengerti. Menurutnya mencintai seseorang harus butuh alasan yang kuat. Dulu dia mencintai Viona karena, karena,. Harris bingung sendiri, dia mencintai Viona karena mereka dianggap pasangan serasi oleh sebagian orang. Karena desakan sekitar, mereka akhirnya bersama. Bukan karena mereka saling mencintai. Viona membutuhkan dia untuk dirinya sendiri. Dan Harris membutuhkan Viona demi harga diri seorang lelaki mapan. Demi julukan "Sang Penakluk" dari segelintir orang. Benar kata Papanya dan benar kata Rio. Mereka bersama karena obsesi.
Harris mengela nafas, tahun-tahun yang sia-sia. Menghabiskan waktu dengan orang yang tidak ingin melangkah bersama, dalam suka dan duka. Harris mendekap Kira dari samping, Kira lah wanita yang dia butuhkan, membuka matanya yang semula gelap. Namun, Harris ragu, Kira adalah wanita baik-baik yang menjadi korban laki-laki egois seperti Rian, Harris takut akan menyakitinya sekali lagi. Harris bukan laki-laki baik, dia laki-laki penuh dosa, cacat batinnya, bagaimana kalau Kira tahu dan membencinya? Harris takut, takut sekali kehilangan wanita ini, wanita dengan hati penuh luka. Sama sepertinya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?," Kira menoleh ke arah Harris, nafas Harris yang berat, seolah mengisyaratkan dia dalam tekanan yang hebat.
"Ya, aku baik, selama kau bersedia seperti ini selamanya denganku," Harris tersenyum, senyum yang tulus, tidak di buat-buat.
"Kau tidak takut aku menghabiskan hartamu? Kau tidak malu karena beristri janda? Kau tidak takut ada wanita lain yang lebih cantik menginginkamu suatu hari nanti?," Kira memberondong Harris dengan rentetan pertanyaan yang bermuara pada satu jawaban. Tidak.
"Tidak, aku tidak pernah takut, aku hanya takut kau meninggalkanku," Harris menatap Kira penuh kesungguhan. Mereka berdua tertawa, dan saling memeluk.
"Apa yang harus ku lakukan padanya?," Tanya Harris saat tawa mereka mereda.
Kira menghela nafas, dia sendiri tidak tahu. Menurutnya, dia hanya perlu mengikuti apa yang di lakukan wanita itu pada mereka berdua. Meski dia harus tetap berhati-hati, wanita yang merasa tersakiti, biasanya lebih ganas, seperti dirinya.
"Biarkan saja, selama dia tidak berulah," Jawab Kira akhirnya.
"Kau tidak bertanya, apa dia benar-benar milikku?," Harris kembali memandang Kira dengan serius. Pikirannya terus terusik dengan kekhawatiran, jika Kira tahu kebenarannya. Jadi, dia memberanikan diri untuk bertanya sekarang.
"Tidak, apa kau meragukannya?," Kira masih setia memandang pohon yang tengah di goyang angin. Kosong. Dia tidak memikirkan apa-apa.
"Iya, aku ragu. Bagaimana jika dia bukan milikku. Dan ini hanya triknya saja?," Harris memikirkan tes DNA, bersama Johan tadi. Dan, Dokter Vivian bilang itu bisa dilakukan meski bayi belum lahir. Dan Harris menyetujuinya. Namun, kini, dia akan ikut keputusan wanita ini.
"Jika kau ragu seberapa dalam lautan, jangan berenang dan menyelam. Jika kau ragu, dalamnya jurang, jangan berjalan di atasnya," Kira masih terpaku pada pohon yang bergerak seirama angin menggoyangnya.
"Lalu?."
"Lebih baik kita tidak tahu dalamnya lautan, yang akan membuatmu takut berenang, nikmati saja indahnya lautan, bayangkan dalamnya hanya sejengkal. Saat kau sibuk memikirkan dalamnya lautan, orang lain sudah menyelam, berenang dengan mahkluk laut yang indah. Kau akan melewatkan arus yang menerpa kakimu."
"Hari sudah siang, kau tidak mau ke kantor?," Kira menatap pria yang tengah memandang lurus hamparan rumput hijau. Memikirkan ucapan Kira barusan.
Harris menghela nafas, "Bolehkah aku tetap tinggal?,"
"Tidak, kau harus mencari uang untuk istrimu yang tamak dan serakah ini!," Kira melabuhkan tubuhnya pada pria di depannya ini. Membelai punggungnya yang lebar. Mendengar degup jantungnya yang menenangkan. Kira memejamkan mata. Merasakan sentuhan yang bersambut. Menikmati kasih sayang yang mengalir dari setiap perlakuan suaminya. Harris hanya tertawa, mana ada wanita tamak mengaku? Walau harus jatuh miskin, dia rela, asal Kira tetap bersamanya, melangkah bersama. Bukan, melangkah beriringan melewati kerasnya kehidupan.
"Hei, waktu, bisakah kau berpihak kepadaku? Berhentilah sebentar saja,"
•
•
•
Wah, sudah episode 60 yak, gak nyangka bisa sampai sejauh ini. Maafkan author yang suka ngelantur, dan gaje. 🙏👉👈
Salam manis
Author
__ADS_1
Izin promo, ya Readers ... ini salah satu karya Author kece badai di Noveltoon. Tulisannya rapi dan bikin nagih bacanya. Ini salah satunya ya ... boleh cek langsung nama pena Eka Pradita di kolom pencarian. Jangan lupa mampir ya, temans😍 Terimakasih😍🙏