
Johan menghela napas, di raihnya tubuh kecil wanita itu ke dalam pelukannya. "Apa pendapatmu jika aku menikahimu?"
Viona menjauhkan tubuhnya. Ditatapnya wajah Johan yang tampak membendung luka.
"Aku tak pantas untukmu, Jo!" Viona menunduk, dia selalu merasa buruk dengan masa lalunya. Apalagi Johan sudah mengetahui secara jelas bagaimana hidupnya dahulu.
Johan berdecih, "lalu siapa yang pantas untukku? Apa kau yang berhak menentukan siapa yang pantas untukku?!"
"Aku yang berhak memilih, Vi!" Sambung Johan. "Jika kau belum memiliki perasaan apapun padaku, setidaknya pikirkan siapa yang akan melindungimu dan anakmu!"
Viona mengangkat wajahnya. Keduanya beradu pandang, saling menyelami. "Aku..."
"Jangan menolakku, Vi!" Johan mengulurkan tangannya ke bahu Viona. "Demi keselamatan Nicky, hanya itu yang bisa kulakukan agar kalian tetap aman!"
"Aku akan memikirkannya, Jo!"
"Tak ada waktu lagi, Vi! Sebaiknya bergegas, semakin lama kau berpikir, semakin banyak kesempatan bagi Martin untuk menyakitimu!"
Viona membasahi tenggorokannya. Otaknya tak mampu berpikir, baginya ini terlalu mendesak dan mendadak. Tapi Johan benar, tak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan. Sekalipun itu penting.
Viona membuang napas kasar, "setidaknya, aku harus memberitahu Ibu dan Ayah! Merekalah orang tuaku, sekarang!"
Johan menahan napas saat Viona mengatakan itu. Apa ini artinya, iya? Batin Johan.
"Baiklah, aku tunggu sampai besok! Sekarang kau tidur di rumah Ibu saja! Aku akan berjaga untuk kalian!"
Viona mengangguk, "aku akan aman di rumah Ibu, kau juga pasti lelah! Sebaiknya kau juga istirahat, Jo!"
"Aku akan tidur di mobil!" Jawab Johan sambil mendorong tubuh Viona. Mereka beriringan meninggalkan halaman. Keduanya membisu, sibuk dengan pikiran sendiri. Merenungi keputusan yang mereka ambil.
Keduanya berjalan kaki hingga ke rumah Ibu, yang memang jaraknya cukup dekat. Viona mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu. Hingga beberapa saat, tak ada sahutan. Viona hendak mengetuk lagi, namun, pintu terbuka perlahan. Menampakkan sosok Nina yang memakai piyama berwarna biru. Dia tampak malas dan sinis melihat Viona.
"Maaf, Nina! Sudah mengganggu tidurmu!" Lirih Viona, dia tampak sungkan karena mengganggu waktu istirahat wanita muda ini.
Nina menatap Viona dan Johan bergantian. "Baguslah jika kau sadar diri! Seenaknya saja menitipkan anakmu di rumahku! Kau pikir mengasuh anak itu mudah?"
Johan terperangah melihat sikap Nina yang tampak acuh dan terkesan kejam pada Viona. Bukannya dia memperlakukan Nicky dengan baik tadi? Pikir Johan.
"Maaf Nina, aku tidak akan melakukannya lagi!" Viona tersenyum getir mendapat perlakuan buruk dari Nina. Dia cukup mengerti kenapa Nina bersikap seperti itu padanya, benar apa yang di katakan Nina. Mengasuh anak tidak mudah dan melelahkan.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu!" Nina menggeser tubuhnya dari pintu, membiarkan Viona masuk. "Nicky tidur di kamarku. Kau pulang saja, biar di tidur di sini denganku!"
Johan semakin ternganga mendengar penuturan Nina. Mana ada benci sama ibunya tapi sayang sama anaknya? Benar-benar sikap yang aneh, menurut Johan.
"Malam ini aku tidur di sini saja, Nin!" Jawab Viona lirih. "Biar Nicky ku pindah ke kamar belakang saja, agar tidak menyulitkanmu!"
Viona melirik mainan yang masih teronggok di sudut ruangan. Pasti mereka kewalahan dengan kenakalan Nicky, pikirnya. Ah, sepertinya dia harus setuju dengan usulan Johan. Sembari terus memantaskan diri.
"Sudahlah, kau tidur saja sana! Aku tidak akan menyelakai anakmu! Lagipula ini sudah malam, jika Nicky terganggu tidurnya, dia tak akan bisa tidur lagi!" Nina menaikkan dagunya, nada suaranya sangat ketus dan menjengkelkan. Tetapi benar adanya, Nicky selalu begitu. Nina melangkah meninggalkan ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti saat dia hampir sampai di ujung ruangan. Dia berbalik membawa tatapan penuh peringatan ke arah Johan yang masih berada di luar pintu.
"Pak Jo segera pulang, tidak baik malam-malam masih berada di rumah seorang gadis. Apa kata orang nanti!" Nina beralih kepada Viona yang merepet dengan perasaan sungkan pada Johan. "Kunci pintunya, segeralah tidur. Tidak baik lama-lama berduaan dengan pria yang bukan siapa-siapamu!"
Usai mengatakan itu, Nina langsung meninggalkan keduanya. Membiarkan Viona menarik napas panjang.
"Setiap hari seperti ini?" Celetuk Johan tanpa bisa dicegah. Dia sungguh heran dengan sikap Nina yang berbanding terbalik dengan apa yang di saksikannya tadi.
Viona mengangkat bahu, "Dia sangat menyayangi Nicky, aku tahu itu!"
Johan mengangkat tangan, tidak mengerti. Sikap yang aneh menurutnya. "Aku akan membawa mobilmu kemari! Kau istirahatlah!"
Johan melayangkan senyuman singkat sebelum berbalik meninggalkan muka pintu.
"Jo," Viona mengejar Johan keluar rumah.
Viona menatap Johan sejenak, lalu menunduk sambil meremas kedua belah telapak tangannya. "Aku bersedia menikah denganmu."
Viona memantapkan hati seiring ucapan yang terlontar dari mulutnya. Semoga ini pilihan terbaik, pikirnya.
Johan merasakan tubuhnya menegang beberapa waktu, tiba-tiba saja, tubuhnya berdesir pelan. Getaran hangat menggelitik hingga ke ujung-ujung sarafnya.
"Apa kau berubah pikiran?" Viona terlihat sangat cemas melihat Johan yang menatap hampa kepadanya.
Johan terkejut, "Tidak, bukan begitu, aku hanya sedikit terkejut! Baiklah, aku akan mengurus semuanya!"
Johan terbata saking gugupnya. Ada rasa bahagia memenuhi dirinya. Entah karena akhirnya akan ada seseorang yang menyambutnya, atau karena terlalu lama menyendiri hingga lupa bagaimana rasanya bahagia.
"Baiklah," Viona menarik kedua sudut bibirnya. Beban di dadanya seakan terangkat setelah menyetujui permintaan Johan.
Viona membuka mulut, namun tak ada yang keluar dari sana. Sebagai gantinya dia melebarkan senyuman, hingga nampak barisan giginya.
__ADS_1
"Apa?" Johan mengerutkan keningnya. "Ada yang aneh? Atau kau ingin sesuatu?"
"Tidak ada," Viona tersenyum sambil meletakkan tangannya di saku bagian belakang. Keduanya kini diliputi kecanggungan. Terasa aneh bagi keduanya saat terbiasa akrab karena saling membatasi diri, kini mereka harus membuka batas untuk saling mendekat.
"Apa kau ingin aku melamarmu terlebih dahulu?" Tanya Johan setelah beberapa saat keduanya berada dalam keheningan.
"Ah, tidak perlu! Lagipula, aku tidak punya orang dekat pengganti orang tuaku! Hanya Ayah, Ibu, Mami dan Papi saja, kurasa mereka tidak akan keberatan!"
Johan mengulum senyum, "Baiklah, pergilah ke kamarmu! Aku akan mengambil mobilmu!"
Viona mengangguk, sambil mundur meraih gagang pintu. "Selamat malam, Jo!"
Senyuman manis Viona tertelan daun pintu yang nyaris tertutup. Tetapi Johan masih mampu melihatnya dengan jelas. "Selamat malam calon istri!"
Johan menahan senyum saat pintu berhenti sejenak sebelum tertutup sempurna, dan suara kunci pintu terdengar menceklak. Johan yakin Viona mendengarnya.
Di balik pintu, Viona memegang dadanya yang seakan isinya berlompatan saat Johan mengucapkan sebaris kalimat yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Disandarkan tubuhnya pada daun pintu di belakangnya.
Viona menggigit bibirnya, menahan senyum bahagia yang tiba-tiba memenuhi dirinya. "Semoga aku tidak salah langkah lagi!" Batin Viona.
Sekali lagi di tatapnya daun pintu yang seakan melukis bayangan Johan disana. Sebelum dia berlalu menuju kamarnya di bagian belakang rumah. Viona membaringkan tubuhnya telentang di kasur yang cukup nyaman, tidurnya pasti akan nyenyak setelah satu minggu dicekam ketakutan. Dia meruntuki kebodohannya, karena tidak mengatakan ini sejak awal pada Johan.
"Seharusnya aku sadar diri, aku wanita lemah yang mudah di tindas!" Viona membuang napasnya kasar, dia memiringkan posisi tubuhnya, dengan tangan sebagai tumpuan. Memaksa matanya untuk terpejam, membunuh ragu yang masih menyelimuti hatinya.
Sementara, Johan sudah memarkirkan mobil Viona di depan rumah, sedangkan mobilnya berada di luar pagar. Johan memasuki mobilnya, di sinilah dia akan menghabiskan sisa malam ini. Semoga tak ada nyamuk nakal yang mengganggu.
Seakan teringat sesuatu, Johan segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel untuk menghubungi Doni.
Berulang kali dia menghubungi Doni, namun belum mendapat jawaban. Johan menarik rambutnya kasar, dan memukul kemudi dengan frustrasi. Melemparkan tubuhnya di sandaran jok mobil dengan kasar. Matanya terpejam. Tetapi, pikirannya melayang membayangkan bagaimana hidupnya nanti. Dia hanya mampu berjanji dalam hati, yakin bahwa dia bisa mengganti posisi Nyonya Bos, meski perlahan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.