Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Dia yang lain


__ADS_3

Paginya, tiba tiba ada panggilan dari kepolisian yang meminta Kira untuk datang ke kantor polisi. Setelah sarapan, Kira langsung menuju kantor polisi menaiki bus.


Kira sama sekali tidak mau mengingat jika dia harus menikah sore hari ini. Hampir sepanjang pagi Kira di buat pusing dengan pertanyaan penyidik. Semua pertanyaan itu intinya mengarah ke keterlibatan Nina. Meski jengkel Kira berusaha sabar menjawab satu demi satu pertanyaan penyidik. Entahlah ini hanya perasaan Kira atau memang seperti itu prosedurnya, Kira merasa ini hanya akan membuang buang waktu.


Menjelang jam makan siang, Kira akhirnya bisa menemui Nina yang sudah beberapa hari ini tidak boleh di kunjungi siapapun. Meski merasa aneh, Kira tidak bisa melawan peraturan yang di tetapkan.


Kira nyaris tidak mengenali adiknya, Nina sangat kurus dan wajahnya sangat kusut. Kantung mata terlihat menghitam, dan matanya bengkak karena sering menangis. Rambutnya berantakan dan hanya di ikat sekenanya.


“Nina....” Lirih Kira. Kira menatap adiknya dengan iba.


“Mbak Kira....” Nina memandang kakaknya. Bibirnya yang pucat bergetar menahan kesedihan. Nina menghambur memeluk kakaknya, melepas rindu, membagi beban.


Hening, hanya ada isak tangis dari kedua saudara itu.


“Na, boleh mbak mengatakan sesuatu?” Kira melepaskan pelukanya.


Nina mengangguk, mengusap air mata yang membanjiri wajah ayunya.


“Na, jika kamu sudah bebas nanti, jaga diri kamu baik baik. Jangan bertindak bodoh. Kamu boleh menyukai siapapun, tapi kamu tidak boleh jatuh cinta pada orang yang salah. Berkacalah pada apa yang terjadi padaku”


“Mbak tahu semuanya?” Tanya Nina di sela isakannya yang belum berhenti.


“Tentu Mbak tahu, Na. Tapi bukan maksud mbak menyalahkanmu, tidak. Guru yang baik adalah pengalaman. Kesalahan bukan sesuatu yang buruk asal kamu bisa mengambil pelajaran dari kesalahan itu. Jadi mbak harap selepas ini, kamu bisa hidup dengan baik. Jangan menghakimi dirimu terlalu kejam Na” Kira menggenggam erat kedua belah tangan Nina.


“Iya Mbak, Nina ngerti. Maafin Nina yang sudah merepotkan Mbak Kira. Menyusahkan Ayah dan Ibu” Nina tak kuasa menahan air matanya.


“Sudahlah, semua akan baik baik saja setelah ini” Kira tersenyum. Nina tidak boleh tahu apa yang dia lakukan untuk membebaskannya. Masa depan Nina masih panjang, dia masih muda dan belum berpengalaman. Setidaknya Kira sudah pernah merasakan cinta meski harus tersakiti pada akhirnya. Cinta hanyalah sebuah lelucon bagi Kira.


Nina di bawa kembali ke dalam selnya. Tak bisa di bayangkan bagaimana berada di dalam sana. Kira masih memandang Nina hingga Nina tak terlihat lagi.


“Sebentar lagi Na, bersabarlah” batin Kira.


Kira melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan tampak sebuah mobil berwarna hitam dengan seseorang berdiri di sampingnya. Kira langsung mengenali sosok itu. Dialah Asisten Toni. Sepertinya waktuku sudah habis, begitu pikir Kira saat Asisten Toni melangkah ke arahnya.


“Tuan, saya bisa ke sana sendiri, tak perlu repot repot kemari” Ucap Kira dengan nada dingin.


“Apa anda sudah tahu harus kemana Nona?” Asisten Toni berhenti selangkah di hadapan Kira. Tatapan tajam nan dingin yang tak pernah dia tinggalkan itu menatap Kira tanpa berkedip.


Kira terkesiap, ya, dia tidak tahu harus kemana bukan? Tak ada informasi ataupun perintah dia harus kemana. Bukan kah seseorang akan menjemput? Memiliki perundingan dengan Tuan berkuasa harus mencermati dengan detil apa yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Baik, anda benar kali ini, tapi saya harus membawa anak anak saya Tuan, mereka masih kecil jika harus di tinggal sendirian” Kira mengaku kalah, tetapi dia masih berusaha mencari alasan agar bisa menikmati waktu bersama anak anaknya. Asisten Toni yang masih setia dengan tatapan tak bersahabatnya, menarik salah satu sudut bibirnya. Sungguh menyebalkan sekali.


“Anda tak perlu mencemaskan putra anda Nona, mereka sudah berada di tangan yang tepat” Asisten Toni berbalik menuju mobil meninggalkan Kira yang masih di penuhi kebingungan.


“Jangan sakiti mereka Tuan, mereka masih anak anak yang tidak mengerti apa apa” Kira berasumsi bahwa di tangan yang tepat artinya dia sedang di sekap. Setengah berlari Kira mengejar Asisten Toni. Kira nyaris menabrak Asisten Toni yang tiba tiba berhenti.


“Anda seharusnya lebih pintar Nona”


Kira membeku, secara tidak langsung dia mengataiku bodoh, batin Kira. Menyebalkan sekali.


“Lalu dimana anak anak berada? Bagaimana dengan orang tuaku?” Kira maju selangkah semakin dekat dengan Asisten Toni. Seolah dari jarak tadi, Asisten Toni tak bisa mendengar ucapan Kira.


“Sebaiknya anda bergegas, Nona. Semakin anda banyak bicara, semakin banyak waktu anda terbuang Nona, hargai waktu yang anda miliki sekarang” Asisten Toni melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Kira terdiam, benar sekali. Percuma saja berbicara dengan makhluk asing ýang baru belajar bahasa bumi. Mungkin Asisten Toni dulu bercita cita menjadi seorang pujangga. Kata katanya sulit sekali di terima oleh otak kacau seperti milik Kira.


Kira segera masuk ke mobil yang telah di bukakan oleh Asisten Toni. Ingin sekali dia memukul kepala plontos yang tengah duduk di depannya, mengemudikan mobil.


Kira terkantuk kantuk di dalam mobil yang sangat nyaman. Entah akan di bawa kemana, Kira sudah tak memikirkannya lagi. Kira memang tak bisa tidur nyenyak sejak mendapat tawaran menikah dari Tuan Dirga. Sehingga berada di mobil senyaman ini, membuatnya seperti berada dalam ayunan.


Kira terbangun ketika mobil yang di tumpanginya berhenti. Seketika dia duduk tegak mengamati lingkungan sekitarnya. Butuh waktu lama, Kira menyadari dimana dia berada.


Lokasi ini memang berada di pinggiran kota, dimana para bos bos besar mendirikan rumahnya. Tempatnya yang masih asri dan sejuk menjadikan tempat ini lokasi hunian yang mahal dan elit.


Pernah sekali waktu Kira mengantar orderan makanan dari salah satu gerai terkenal ke lokasi ini. Kira di buat kapok kesini lagi, hampir setengah jam Kira menunggu dipersilahkan masuk. Belum lagi pemeriksaan dan juga konfirmasi kepada si empunya pemesan. Di tambah menunggu di depan gerbang rumah si pemesan yang hampir membuat Kira berakar. Jarak rumah ke gerbang sekira 15 menit berjalan kaki.


Namun kali ini bukan di persulit, tetapi Asisten Toni tengah bercakap cakap dengan petugas keamanan. Entah apa yang bicarakan dengan pos penjaga “Forest City" ini.


Asisten Toni kembali ke mobil, para penjaga memberi hormat bak seorang prajurit siap melaksanakan tugas. Kira bergidik ngeri melihat aksi lebay sekuriti kalangan elit.


Menelusuri jalan yang di penuhi pohon pohon berukuran sedang di kiri kanan jalan. Kira tak sekalipun mengedipkan matanya, takut akan ada yang terlewat. Kira hanya antisipasi kemungkinan terburuk. Jika dia mendapat perlakuan buruk, maka dia akan melarikan diri.


15 menit kemudian, mobil berhenti di gerbang tinggi berwarna hitam. Tanaman rambat memenuhi pagar yang melindungi rumah. Gerbang itu terbuka, sehingga mobil bisa masuk kedalam halaman rumah.


Kira di buat takjub dengan pemandangan hijau yang menghampar memenuhi halaman. Pohon palem berjajar di kiri kanan jalan, pot beraneka bentuk berisi pohon pohon kerdil yang sengaja di buat meliuk membentuk pola aneh. Bunga aneka jenis dan warna, tertata apik tak jauh dari lokasi parkir.


Lagi, sebuah mobil yang biasa di pakai untuk bermain golf menyambut Kira yang baru turun dari mobil. Kira naik setelah di persilakan oleh Asisten Toni. Melewati jajaran tanaman hias dan bunga bunga lagi, lalu air mancur dengan sepertinya teratai mengapung dipermukaan air, tibalah mereka di sebuah rumah yang bernuansa klasik.


Tuan Dirga sudah menyambut di depan pintu. Dia tersenyum sumringah, menghampiri Kira.

__ADS_1


“Astaga, apa ini Tuan Dirga yang lain?” Batin Kira.


Tuan Dirga yang ini terlihat sangat ramah dan hangat. Senyum yang terukir di wajahnya membuatnya lebih muda 10 tahun, rambut yang biasanya tersisir rapi, kini di biarkan sedikit berantakan. Mengenakan kaos berkerah berwarna putih bersih, celana panjang abu tua, sepatu kets ala anak muda dan wajah berbinar bahagia membuatnya seperti Papa yang normal.


“Kemana wajah garang dan menakutkan itu?” batin Kira yang mau tidak mau terpesona dengan sisi lain Tuan Tahu Segalanya ini.


“Silakan Nona, silakan masuk, maaf rumah saya berantakan dengan adanya daun dan pohon pohon tinggi”Maklumlah Nona, saya hanya tinggal seorang diri, dan sering berada di luar rumah, jadi yaa, saya tidak sempat merapikan rumah”


“Ngomong apa sih dia? Ngga penting banget” batin Kira. Kira hanya tersenyum, karena tak tau harus menjawab apa. Andai dia bersikap seperti ini sebelumnya tentu saja ini tak akan menjadi sesuatu yang aneh bagi Kira.


Kira mengikuti langkah Tuan Dirga dan Asisten Toni di depannya. Andai saja dia saat ini sedang bekerja atau mengunjungi rekan, tentu Kira akan menikmati interior dalam rumah yang berkelas. Kira akan dengan senang hati memuji lukisan di dinding, Vas bunga yang di tata apik berisi bunga bunga mati aneka warna, guci besar yang di tempatkah di beberapa sudut, dan mungkin juga perabotan lain yang menurut Kira sangat antik dan unik.


Beberapa orang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Melewati ruang tamu, ruang tengah, dan ruangan yang kosong hanya berisi piano, sofa panjang, dan televisi besar yang menempel di dinding.


Kira hanya diam saja, karena kedua orang di depannya tidak melibatknya dalam percakapan mereka. Kira hanya menangkap kata ya, lalu, oh, bagus, ya ya, baiklah, selain itu, dia tidak begitu mendengarkan.


“Nona, mari ikut saya” Seorang wanita dengan tubuh berisi mendekati Kira.


Kira mengangguk mengikuti Bibi itu menaiki tangga menuju lantai di atasnya. Kira berlalu melewati Tuan Dirga yang memandangnya hingga menghilang di ujung tangga.


“Nona, silakan masuk, anda bisa mandi dan berganti pakaian disini. Jika perlu bantuan hubungi saya dengan telepon yang tersedia di kamar” Ucap Bibi itu ketika berhenti di sebuah pintu berwarna putih.


“Terimakasih Bi,” Kira melangkah masuk setelah Bibi itu membukakan pintu untuknya. Kamar bernuansa merah muda di padukan dengan dekorasi senada membuat kamar ini terasa girly. Jen akan senang menempati kamar ini. Puluhan boneka berbagai karakter di tata rapi, dari yang kecil hingga yang paling besar.


Kira berhenti mengagumi rumah yang seperti istana ini, dia segera melangkah ke kamar mandi yang tak kalah luas dan mewah. Kira menepuk dahinya, dia lupa tidak membawa satupun baju kerumah ini.


Ketika hendak menelpon Bibi tadi, Kira mendapati sebuah lemari. Di bukanya lemari itu, barangkali dia bisa menemukan baju yang muat untuk dirinya. Lagi lagi Kira di buat terpesona dengan isi lemari. Baju berbagai model tertata apik disana.


Setelah memilih milih sebentar, Kira menemukan piyama berwarna merah marun. Kemudian dia bergegas mandi, karena tiba tiba dia ingat ucapan Asisten Toni. Bahwa dia tidak boleh membuang buang waktu. Apalagi dia belum tahu keberadaan orang tua dan anak anaknya.


Kira hendak melangkah keluar kamar untuk mencari Asisten Toni, berharap dia bisa bertanya di mana anak anaknya. Namun samar samar Kira mendengar suara yang mirip suara Jeje. Kira berbalik arah, menuju balkon. Dari sana dia bisa melihat halaman belakang yang luas. Ada beberapa rumah rumah yang lebih kecil melingkari halaman.


Suara itu berasal dari kolam renang dan benar itu adalah anak anaknya yang tengah berenang di temani Ibu dan beberapa orang pria dan wanita. Kira ingin menangis rasanya merasakan kelegaan yang luar biasa ini. Anak dan orang tua mereka baik baik saja. Sepertinya dugaannya keliru mengenai Tuan Dirga.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2