Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Geludd


__ADS_3

Kira hendak kembali setelah menyusuri setengah dari area parkir yang cukup luas ini. Kakinya terasa pegal, keringatnya bercucuran mengalir di seluruh badannya. Dalam hati dia mengumpat, menyumpah serapah kepada Harris. Tidak sebentar dia menunggu Harris, satu jam lebih.


Dengan langkah gontai, Kira menyeret kakinya keluar area parkir yang panas dan pengap. Namun, saat dia berjalan menuju pintu keluar, dia melihat ibu mertuanya bersama Riana baru turun dari mobil.


Kira memperlambat jalannya, berharap mereka tidak sampai melihatnya berada di sini. Tetapi, harapan tinggal harapan, Riana bahkan dengan lantang memanggilnya.


“Hei, mantan! Ngapain di sini?” Teriak Riana. Gema suaranya bergaung di penjuru tempat parkir.


Kira awalnya mau mengabaikan saja, bukan tidak berani, tapi dia sedang malas menghadapi orang yang tidak penting seperti Riana. Tubuhnya yang lemas, di tambah kesal mencari Harris, membuat emosinya membara. Seperti api di siram bensin.


“Hei, apa kau tuli?” Riana menghampiri Kira dengan angkuhnya. Ibunya mengikuti dibelakang Riana.


Kira memandang ibu mertuanya, wanita itu terlihat lebih tua sekarang, guratan di wajahnya kini tak mampu lagi di tutupi oleh bedak tebal yang biasa dia gunakan.


“Hai, Ri. Ibu...apa kabar?” Kira maju selangkah untuk mencium tangan mantan ibu mertuanya. Tetapi, Ibu Atmaja menepis kasar tangan Kira.


Kira tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Namun, dia sama sekali tak terkejut atau kesal, sudah biasa di perlakukan seperti itu.


“Mau cari sumbangan?” Cibir Riana. Dia memandang Kira dari atas sampai bawah. Melihat penampilan Kira yang berkeringat dan pucat itu membuat Riana tertawa sinis, dan mengejek.


“Huuh, orang miskin memang susah di ajak bicara, kau ini bisu?” Riana semakin kesal karena Kira hanya diam saja. Kira malah menatap Riana dengan wajah datar.


“Ri, aku tidak mau cari keributan, dan aku sedang buru-buru. Sebaiknya kau jangan menghalangi jalanku” Kira menatap Riana, walaupun tidak meluapkan amarahnya tapi ucapan Kira sangat mengganggu Riana.


“Wah, sudah berani memerintah sekarang ya? Sekarang kau tidak punya pembela, dulu aku menahan diri karena kakak dan Ayah, tapi kali ini, tidak lagi” Riana melangkah hendak menjambak rambut Kira. Namun, Kira sudah siap dengan apa yang akan dilakukan Riana. Jadi, dia dengan mudah menangkap tangan Riana dan mencengkeram erat tangan Riana.


“Aku juga Ri, dulu aku menahan diri karena kamu adik iparku, tapi kini kamu bukan siapa-siapaku, jadi jangan salahkan aku jika aku membalas apapun yang kau lakukan padaku” Kira menghempas tangan Riana hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Tatapan Kira tak melunak meskipun Ibu mertuanya menjerit melihat anaknya di sakiti.


“Kau kurang ajar, beraninya menyakiti putriku” Teriak Ibu.


“Bu, putri kesayanganmu ini yang memulainya terlebih dahulu, aku cuma membela diri" Kira menatap mereka berdua bergantian.


“Kau” Riana mengangkat tangannya lagi, namun lagi-lagi Kira menangkap dan memelintirnya kebelakang. Menariknya kuat-kuat, membuat Riana berteriak lagi.


“Kurang ajar, lepasin” Riana menarik tangannya yang berada dalam cengekraman Kira.


“Sesuai permintaanmu, Nona” Riana semakin kuat menarik tangannya, dan, Kira melepas pegangannya tepat saat Riana akan menarik lagi tangannya.


Riana nyaris terjatuh lagi, namun Ibu Atmaja menangkapnya.


“Dasar wanita kasar. Awas kau ya, aku akan membalasmu” Teriak Riana lagi. Dia sangat kesal karena gagal membuat Kira terluka. Malah sebaliknya, dia yang kesakitan karena dipelintir Kira. Riana dan Ibunya berbalik menuju pintu keluar dengan penampilan berantakan.


“Aku akan menunggumu” Jawab Kira pelan, dia menyandarkan tubuhnya yang lemah di sebuah mobil. Memejamkan matanya yang terasa panas. Mendapat tekanan dari berbagai arah membuat Kira semakin sesak. Permasalahan datang setiap hari, membuat semua rencana hidupnya berantakan. Dia kehilangan fokus untuk menata masa depannya bersama anak-anak.


“Nyonya, kenapa anda di sini?” Johan menghampiri Kira.


Kira yang mendengar suara Johan segera membuka matanya dan menoleh ke sumber suara.


“Aku mencarimu tadi” Kira menatap galak ke arah Johan. Kira kesal karena mendapat pertanyaan bodoh dari Johan.


“Maaf ,Nyonya, membuat anda menunggu lama” Johan menunduk sebagai tanda permintaan maaf.

__ADS_1


Kira tidak menjawab, dia masih terbawa emosi karena lelah dan sedikit terprovokasi omongan Riana.


“Mari, Nyonya” Johan mengarahkan Kira menuju mobil hitam milik Harris yang berada tak jauh dari pintu keluar parkiran bawah tanah. Di dalam mobil, Harris tengah duduk sembari memainkan ponselnya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.


“Dari mana saja kau?” Tanya Harris, meneliti penampilan Kira yang terlihat lelah dan berantakan.


“Habis main bola. Ya, nyari kalian berdua! Kalian kemana saja sih?” Teriak Kira. Napasnya memburu seakan berebut udara di sekitar mereka.


“Aku tanya baik-baik kenapa malah marah? Aku bilang tunggu ya tunggu, jangan di cari” Teriak Harris tak kalah kencang.


“Kalau sebentar, aku masih sabar, aku menunggu kalian sudah lebih dari satu jam, gimana ngga marah?” Balas Kira. Mereka berdua masih adu pandang, dengan mata yang melotot.


“Tuan, Nyonya, kalian selesaikan di kamar saja, oke” Johan yang berada di balik kemudi menoleh ke belakang di mana mereka berdua duduk.


“Diam” Bentak Harris dan Kira bersamaan.


Johan menutup telinga, takut gendang telinganya pecah gara-gara teriakan mereka.


“Kalian memang berjodoh” Gumam Johan. Johan kembali menghadap ke depan. Membiarkan mereka melanjutkan perdebatan.


“Apa?” Harris menatap garang ke arah Kira.


Namun, Kira tak mempedulikan Harris . Dia memilih memalingkan wajah ke jendela kaca mobil.


“Jalan sekarang atau nanti, Tuan?” Tanya Johan hati-hati, takut kena semprot majikannya.


“Tahun depan” Jawab Harris ketus.


“Baiklah, kita turun saja kalau begitu” Johan berakting seolah hendak keluar mobil.


“Katanya tahun depan?”


“Mau ku pecat?,"


"Jangan,"


“Jadi pulang ngga sih? Bertengkar seperti anak kecil saja" Bentak Kira, dia semakin kesal, melihat dua orang ini berdebat hanya karena masalah sepele.


“Kalian juga bertengkar tadi”


“Diam” Seru Harris dan Kira berbarengan lagi.


“Jalan”


“Baik, Tuan”


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Johan bersenandung kecil sembari mengemudi. Lagu yang diputarnya hanya dibisa di dengarnya sendiri. Namun, suara fals Johan dengan jelas melantunkan lagu Risalah hati, Dewa 19. Baik Harris maupun Kira tak ada yang bersuara sama sekali. Masing-masing sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri.


“Krucuk” Suara perut Kira membuyarkan lamunan Harris.


“Kau lapar?” Tanya Harris lembut.

__ADS_1


“Kau dengar sendiri” gumam Kira.


“Mau makan apa?” Tanya Harris, sedikit tegas.


Kira melihat keluar jendela di mana para pedagang kali lima menggelar dagangannya. Melihat Kira yang sangat antusias saat melewati jajaran kedai itu, Harris segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan.


“Kau mau makan apa?”


“Nasi goreng, jika boleh" Jawab Kira tanpa menoleh.


“Kita makan di rumah saja” Ucap Harris sembari meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku.


“Kenapa?” Kira menatap Harris penuh tanya. Dia sudah sangat lapar, tetapi Harris malah menundanya sampai di rumah.


“Diam dan menurut saja, jangan banyak bicara.” Perintah Harris.


Kira mengunci mulutnya rapat-rapat. Bibir pucatnya terlihat maju beberapa mili, terlihat sekali dia sangat kesal.


“Untuk apa bertanya kalau tidak membeli?” batin Kira.


Mobil melesat menjauh, meninggalkan aroma masakan yang menggugah rasa lapar. Hingga mereka tiba di rumah, tak lama kemudian.


Harris melenggang meninggalkan Kira. Kira yang masih kesal, hanya diam saja. Dia tak punya tenaga untuk sekedar menggerutu.


Kira yang belum sempat melihat-lihat rumah ini, segera menuju lantai dua dimana kamar mereka berada. Namun, baru beberapa anak tangga di pijakinya, Harris berteriak di belakangnya.


"Mau kemana?"


"Ke Mol" Jawab Kira ketus.


"Katanya lapar, kenapa malah ke kamar?" Harris tersenyum melihat Kira yang sangat kesal. Harris tahu Kira akan ke kamar dan tidur, karena mengira tidak ada makanan di rumah. Namun, Kira keliru, Harris sudah memesan makanan di resto temannya, sejak Harris menuju area parkir. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang di inginkan Kira.


"Aku mau mandi dulu" Kira melanjutkan jalannya ke atas.


"Nanti dingin, tidak enak" Harris menangkap tangan Kira dan menuntunnya ke bawah. Namun, Kira menahan tangannya.


"Jalan sendiri atau ku gendong?" Harris menatap tajam Kira. Kira yang menyangka Harris hanya main-main menarik paksa tangannya. Antara lapar dan gengsi, Kira malu karena sudah berburuk sangka, tapi juga lapar karena perutnya hanya di isi air dan bubur, seharian ini.


"Lama sekali" Harris melangkah dengan cepat ke arah Kira yang memang hanya berjarak 2 anak tangga. Menarik pinggang Kira dan meletakkan di pundaknya.


"Hei, lepasin, aku bisa jalan sendiri" Kira memberontak dengan kuat sehingga Harris pun menurunkan Kira. Harris takut Kira akan terjatuh.


"Salah siapa kebanyakan mikir" Ucap Harris sinis, berjalan beberapa langkah di depan Kira. Kira mengekori Harris menuju meja makan.


"Dasar menyebalkan" batin Kira.


Meja makan sudah di penuhi aneka makanan, dan juga nasi goreng permintaan Kira. Melihat nasi goreng, membuat Kira nyaris meneteskan air liur.


"Kau tidak akan kenyang jika hanya melihatnya" Celetuk Harris. Kira segera duduk dan mulai makan dalam diam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2