
Entah sudah berapa lama atau seberapa singkat Kira mengistirahatkan tubuhnya yang seakan terkoyak-koyak. Dia merasa seperti hanya mengedipkan mata. Meski begitu, kebiasaan bangun pagi, membuat mata Kira terbuka saat jam di ponselnya menunjukkan pukul 5 pagi.
Kira mengusap keningnya sedikit memijit, kepalanya yang seakan berputar. Dengan mata yang setengah terpejam, Kira beranjak ke kamar mandi, dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Segar, saat air terpercik ke wajahnya.
Kira bergegas menyelesaikan segala urusannya, mengabaikan Harris yang masih terlelap. Kira merapatkan kimono satin berwarna hitam, dan mengaitkan pita membentuk simpul di pinggangnya. Sebelum dirinya keluar dari kabin, dimana langit masih gelap, tetapi, bias-bias jingga mulai nampak. Kira mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi yang mampu di jangkau olehnya. Selain yacht yang di tumpanginya, ada beberapa kapal lain yang bersandar tak jauh dari tempatnya kini. Mereka bersandar di pulau yang menghamparkan pasir putih.
Kira meregangkan badannya, yang seperti di tekuk-tekuk usai pergulatan semalam. Kilas-kilas tayangan ulang berkelebatan di dalam angannya, yang mau tak mau membuatnya memaparkan senyum hingga dia tanpa sadar menarik bibirnya kedalam.
Kapan lagi bisa menikmati waktu, sekedar melihat sang surya menetas dari cangkang peraduan dewi malam? Kira setengah berlari kembali ke dalam kabin, mengambil ponsel dan kaca mata hitam. Harris memang tidak tanggung-tanggung menyiapkan liburan mereka kali ini. Apa saja yang dibutuhkan Kira sudah tersedia dalam sebuah koper. Kira berasumsi bahwa semua keperluannya, di persiapkan oleh Harris sendiri. Jika tidak, selain dirinya dan Harris, siapa lagi yang tahu dengan pasti ukuran underwearnya?.
Kira menyelipkan tangkai kacamata hitam di antara daun telinganya, dan berdiri menghadap matahari terbit. Sesekali rambutnya yang masih sedikit basah, berkibar memenuhi wajahnya saat angin berhembus sedikit kencang. Sehingga memaksa tangannya menyibak rambutnya ke belakang.
Dari belakang, sepasang mata, tengah mengawasi siluet indah tertimpa sinar matahari pagi. Tubuhnya memblokir sinar matahari yang sedianya tampak olehnya. Membuat tubuh itu seakan melukis cahaya matahari. Harris mengulum senyum, seolah merasakan kebahagiaan memenuhi tubuhnya.
Perlahan, dia menghampiri istrinya yang masih asyik mandi sinar matahari. Menyelipkan tangannya di antara lengan, menelusup ke perut dan mengusapnya pelan dari luar kimono yang membalut tubuhnya.
Kira berbalik memutar kepalanya karena sedikit terkejut. "Sudah bangun?"
Harris mengecup pelipis istrinya, "Heem, tidurlah lagi, kau pasti belum cukup tidur!."
"Kalau lapar aku tidak bisa tidur," Celetuk Kira. Dan itu benar, dia sangat lapar. Terlebih, dia sudah menguras habis tenaganya.
"Sapi," Gumam Harris. "Kau tidak takut gendut, tidur setelah makan?"
"Takut sih, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin makan lalu tidur lagi," Jawab Kira yang masih bersandar pada suaminya yang bertelanjang dada. "Badanku terasa lemas."
Harris mengecup singkat bibir Kira, "Siapa yang memintaku untuk tidak berhenti?."
Kira mencebik. "Pasti bukan aku."
"Iya, memang bukan kamu, tapi mulutmu yang mengandung MSG ini yang bilang. Dasar munafik."
"Tunggu sebentar, kita akan turun lalu sarapan di resort," Harris mendorong kedepan tubuh istrinya yang menyandar padanya.
Ekor mata Kira mengikuti kemana suaminya melangkah. Punggung lebar itu berkilat keemasan tertimpa sinar matahari. Kira setengah berlari merangkul suaminya dari belakang. Mengaitkan kakinya di pinggang suaminya. Seperti Jen yang suka di gendong di punggung saat Kira memasak. Membuat Harris terkejut dan nyaris terjatuh.
"Dasar, kekanak-kanakan." Batin Harris.
Selagi menanti suaminya bersiap, Kira mengganti bajunya, dengan pakaian yang layak, sedianya. Tapi, semua baju ini tidak layak sama sekali. Kira mendesah, karena tidak ingin menarik perhatian orang, Kira memilih mengenakan kembali kimono tadi, sebagai outer. Dan penampilan Kira membuat Harris tertawa.
"Apa ada yang lucu?," Kira mendelik sebal, karena merasa di permainkan.
__ADS_1
"Kenapa memakai baju tidur? Kau tidak mau keluar kamar?," Harris tersenyum jahil, mulai memainkan simpul tali di pinggang Kira.
"Kau mau aku jadi perhatian orang?."
"Di sini tidak ada siapa-siapa selain kita," Bisik Harris di telinga Kira. Membuatnya bergidik, merinding.
"Maksudnya?."
"Sudah, katanya lapar, mau makan tidak?," Harris menarik Kira keluar dari kabin. Kira merengut, tetapi dia tetap mengikuti Harris keluar kabin.
Harris dan Kira berjalan bergandengan menuju resort yang telah di pesan Harris sebelumnya. Menyusuri jembatan yang terbuat dari kayu, yang membentang hingga ke daratan berpasir. Air laut yang jernih menunjukkan dasarnya. Riak-riak berlarian, seakan berlomba mencapai pantai, pecah hingga menjadi buih, lalu hilang.
Usai sarapan yang sengaja mereka pesan untuk di nikmati di dalam kamar, Kira benar-benar tertidur. Sehingga membuat Harris menggelengkan kepala, tak lupa, menanamkan kecupan di puncak kepala dan kening istrinya.
Harris melenggang ke luar kamar, mencari tempat yang sedikit jauh. Ada sedikit masalah yang sebenarnya tidak penting, tapi, mau tidak mau dia harus turun tangan. Rahang kokoh Harris menegang saat ponselnya menyentuh telinga.
"Bagaimana?" Tanyanya saat telepon terhubung dengan Johan di seberang sana.
"Maaf Tuan, Nona Viona mengurung diri di kamar, jadi kami terpaksa mendobrak pintu," Jawab Johan.
"Apa dia masih muntah?" Harris memijit pelipisnya, pusing.
"Bawa ke Vivian, secepatnya. Pastikan Vivian merawatnya dengan baik," Perintah Harris. Kelihatan sekali dia khawatir akan keadaan genting di sana.
"Satu lagi Tuan, Nona Viona memohon agar tetap di izinkan tinggal di rumah anda, untuk alasannya, dia bilang akan mengatakan semua kepada anda, saat anda kembali."
"Pastikan saja, wanita itu tidak mendapat masalah yang membuat istriku cemas. Terlebih, keadaan bayinya," Seru Harris yang tidak peduli jika Viona tak mau meninggalkan rumahnya. Dia bisa beli rumah yang baru atau ke rumah Papanya. Yang di khawatirkan adalah bayi itu, meski Harris tidak yakin, tetapi, benar kata Kira, dia tidak berdosa. Menelantarkannya, juga bukan pilihan yang baik. Apalagi, kata Johan, Viona tidak lagi bekerja, dan seluruh penghasilannya, di bawa kabur Della.
Harris berjalan menyerak pasir putih yang mulai membakar punggung kakinya. Memandang lautan luas, mendengar debur ombak, merasakan semilir angin, membuat hatinya tenang. Membiarkan air asin yang terasa lengket membasahi kakinya, menyatu sejenak dengan alam, melupakan hiruk pikuk pekerjaan yang menumpuk. Hari yang indah untuk menikmati suasana pantai, namun sayangnya, istrinya memilih menghabiskan waktu di alam mimpi.
Matahari tepat di atas kepala saat Harris kembali ke kamar, melihat Kira yang masih terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba terlintas ide jahil untuk membangunkan istrinya.
"Bangun tukang tidur, apa kau tidur seharian?" Harris menggigit telinga Kira, yang biasanya ampuh untuk membuat mata istrinya terbuka.
Kira melengguh pelan, menggeliat seperti bayi, dengan mata terkatup rapat. "Jam berapa sekarang?"
"Jam lima," Jawab Harris asal.
"Apa?" Kira berteriak, bagaimana bisa tidur selama itu? pikirnya. Seperti mendapat peringatan kebakaran, Kira bangun dengan cepat. Tanpa tahu jika Harris sudah berada di atasnya. Sehingga, bibir mereka saling bersentuhan.
Kira segera menjauhkan wajahnya sembari menutup rapat mulutnya dengan tangan. Dengan cepat dia melesat ke kamar mandi.
__ADS_1
"Jangan mendekat, aku baru bangun," Ucapnya dari balik tangan sehingga terdengar seperti dengung kawanan lebah,
"Aku tidak dengar."
Kira tak menyahuti ucapan suaminya, dia memilih bergegas menggosok gigi dan mencuci muka, hingga membuat wajahnya segar.
"Setelah ini, kau ingin kemana?" Tanya Harris lembut saat Kira kembali dari kamar mandi dan menyisir rambutnya di depan cermin.
Kira menoleh, bola matanya mengelilingi bagian putih secara menyeluruh, seperti sedang berpikir.
"Tidak ada, matahari sangat terik, aku takut kulitku terbakar," Gurau Kira. Kira beralih meraih selimut dan merapikannya. Tiba-tiba saja dia ingat Melisa yang bercerita menghabiskan akhir tahun di pantai, dan dia bilang dia tidak keluar kamar, karena takut kulitnya terbakar.
"Sok cantik," Harris mencibir. "Apa kau sudah tidak lelah?" Harris yang bersandar di ranjang, mengamati istrinya yang tengah merapikan selimut. Dengan memakai mini dress dengan belahan dada yang sangat rendah, membuat gunung kembar Kira mengintip keluar.
"Begitulah, tidur membuatku segar, kenapa?" Kira tidak memperhatikan Harris yang menyimpan maksud lain dari pertanyaannya.
Harris bangkit, memeluk pinggang Kira yang sudah hampir selesai merapikan ranjang.
"Kau tidur setelah makan, dan ku rasa lemak sudah mulai menggunung di sini," Harris menjeda ucapannya, sehingga membuat Kira menoleh, penasaran bercampur takut. Masa iya? pikir Kira.
"Aku takut, perutmu buncit, jadi bagaimana kalau berolahraga sebentar? Selagi cuaca panas, lebih cepat membakar keringat."
"Masa sih?" Kira masih tidak percaya.
"Iya," Harris mulai mengecup leher Kira, mencari-cari titik di mana Kira mudah menyambut niatnya.
Kira mendesis, laki-laki ini tau bagaimana melumpuhkannya dalam sekali tembak. Dan lagi, dia terjebak pertanyaan bodoh suaminya, yang berakhir dengan dia di giring ke ranjang. Kira selalu terjebak oleh Harris. Lagi, pergumulan panasnya membelah desiran angin yang mencoba menyisip di antara mereka.
Kira merasakan kepalanya berputar saat dia berada di puncak tertinggi, berkali-kali, lagi dan lagi. Kira menarik rambutnya sendiri, mengacaknya, seakan frustrasi dengan permainan suaminya yang selalu meninggalkan kesan berbeda di setiap sesinya. Melahirkan pelajaran baru yang harus secepat kilat di ingat oleh otaknya yang kacau, menghafal diantara suara yang meracau. Menciptakan kebingungan, saat permintaan untuk berhenti di turuti, tapi sorot mata itu, menuntutnya lagi. Menit demi menit yang menyesatkan. Hingga ketika Harris tak mampu lagi, menyerah adalah pilihan terakhir. Menarik lagi selimut yang semula rapi, membalut tubuh berkilat-kilat. Senyum keduanya terukir, seiring jemari yang saling bertaut. Keduanya terlarut dalam kepayahan yang tak pernah membuatnya jera.
β’
β’
β’
β’
Selamat malam semuanya, selamat beristirahat.π₯°π₯°π₯°π₯°
Jan lupa berdoa sebelum tidur yakπππ
__ADS_1