Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Alasan Itu Menyakitkan, Tapi Mereka Tetap Berbahagia Pada Akhirnya


__ADS_3

Malam telah larut saat kencan ganda itu berakhir. Ya ... Asisten Tony dengan Amanda, dan anggap saja Ranu berkencan dengan Riko. Bahkan mereka terlihat mirip keluarga bahagia.


"Hari dan liburan yang paling menyenangkan yang pernah saya rasakan, Nyonya." Riko tidak tahan untuk tersenyum. Senang rasanya mengganggu pria tua itu hari ini. Ranu sudah tidur digendongan Riko sejak tadi.


Amanda tersenyum ke arah Riko, matanya dengan jelas melirik Tony. "Semua itu menjadi kesenangan tersendiri buat saya, Nak. Tapi boleh lah, ya, nanti kita liburan kembali bareng-bareng."


Asisten Tony bergerak tidak setuju di antara kegusaran yang ditunjukkan wajahnya. Dia tidak butuh liburan bersama-sama, apalagi dengan Riko. Dia ingin liburan berdua. Siapa tahu, diujung usianya, dia bisa menjadi seorang suami.


"Oh, kalau saya mau-mau saja, Nyonya. Entah dengan bapak-bapak itu, sepertinya dia tidak suka. Mungkin Maldives bukan tujuan untuk liburan keluarga." Riko mengerling jenaka.


"Tapi saya bisa membantu mempersiapkan pernikahan secara cuma-cuma jika ingin menikah sesampainya di Indonesia." Riko menambahkan, senyumnya yang begitu manis menghiasi wajah keras seorang Riko.


Tidak biasanya dia begitu ramah, tapi mungkin hari ini spesial baginya. Bertemu calon ibu angkatnya.


"Tapi jika dia tidak mau, saya juga mau menikah dengan anda, Nyonya. Anda masih—astaga!"


Asisten Tony memukul kepala Riko keras-keras. Tatapan tidak suka seketika menghiasi wajahnya.


Amanda tertawa. "Sudah-sudah."


"Ucapan Riko bisa kamu pertimbangkan." Asisten Tony akhirnya bersuara setelah berhasil menguasai diri dan membuat Riko meringis hingga wajahnya memerah.


"Walau terlambat sekali, tapi ... kurasa tidak ada salahnya." Pria tua itu menunduk saat berkata. Wajahnya rasanya sangat panas.


"Maksudnya, mempertimbangkan nikah sama saya?" Riko menyela. Tampangnya berlagak polos.


Asisten Tony memutar tubuh seraya mengangkat tangannya. Sebuah tamparan mendarat kembali di kepala Riko, membuat pria itu meringis dan mengaduh.


Sekalipun gesit, dengan gadis kecil gemuk digendongannya, Riko bisa apa?

__ADS_1


Bibir asisten Tony langsung mengeluarkan ejekan tanpa suara. "Payah!"


Amanda tertawa kecil, yang langsung ditutup dengan punggung tangan kirinya. "Diusia saya, menikah bukan urusan yang mendesak, Tony. Saya sudah punya anak dan segala yang saya inginkan. Jadi kalau menikah hanya akan membuat hubungan kita jadi tidak baik, buat apa?"


Asisten Tony masih mengejek Riko saat Amanda berkata. Seketika wajah pria itu pias. Namun, dia tetap berbalik untuk memandang Amanda. Ini ceritanya dia ditolak kah?


"Saya menikah karena saya ingin, bukan karena tudingan orang-orang atau bahkan desakan salah satu pihak." Amanda dengan tenang melanjutkan. Raut wajah wanita itu sama sekali tidak menunjukkan kebohongan bahkan kesombongan. Hanya prinsip kuat yang membuatnya terlihat istimewa.


Riko penasaran. Basic dan backingan model apa yang membuat wanita cantik dan tampaknya most wanted itu menolak lamaran pria mapan dan yah, cukup rupawan juga? Sudah berkecukupan kah? Punya pria lain—tapi tampaknya tidak?


Jadi apa?


Riko melirik Asisten Tony. Menunggu reaksi pria itu dengan tekun dan sabar, walau rasanya pundak dan dada sudah terasa ingin patah karena Ranu.


"Apapun keputusanmu, aku menerima." Asisten Tony tanpa ragu meraih tangan Amanda dan menggenggamnya. "Jika tidak, kita tidak akan berdiri di sini dan bercanda."


Alis Riko terangkat seraya kepalanya patah ke samping. Bibirnya mengatakan 'wew' sebab sangat terkejut juga terpesona.


"Aku harus pulang, mungkin kita bisa bertemu di liburan musim panas nanti." Amanda begitu berharap dengan tatapannya.


"Jika ada umur, aku pasti ke sana. Aku rindu Claudia kita." Tony tersenyum lalu mengulurkan tangan ke belakang punggung Amanda tanpa menyentuhnya. Secara kasat mata, Tony hanya menggiring Amanda menuju mobil.


"Maaf kalau Claudia sangat dingin padamu. Aku sudah berusaha membuatnya menerimamu." Amanda menyesal untuk satu hal itu. Selama ini, dia selalu mengatakan kalau Tony adalah ayah biologisnya, mereka hanya tidak menikah karena beberapa hal yang sangat sulit di usahakan. Tetapi bukan berarti mereka berdua tidak mencurahkan kasih sayang penuh untuk Claudia.


"Kau sudah melakukan yang terbaik, Manda ... jangan terlalu dipikirkan." Tony mencoba memahami. Disini dialah yang paling bersalah sebagai seorang pria. Seharusnya, kejadian malam itu tidak pernah terjadi. Hanya karena mereka saling terpikat dan tidak bisa menahan diri. Pikirnya, segalanya bisa diatasi dengan mudah, tapi ternyata baik Amanda dan dirinya tidak bisa sepakat untuk beberapa hal.


Pekerjaan salah satunya. Lalu kebutuhan hidup masing-masing pihak sungguh menuntut. Amanda tidak bisa serta merta menikah ditengah kebutuhan hidup keluarganya yang begitu tinggi. Dia tidak bisa mengorbankan Tony yang baik hati untuk menjadi tumbal keluarganya yang rakus.


Dia harus memilih. Jadi ketika Claudia lahir, Amanda membiarkan Tony mengurus semua kebutuhan Claudia. Dirinya tetap berdiri sebagai wanita pekerja dan tulang punggung keluarga. Amanda benar-benar mengorbankan percintaannya dan membuat kesepakatan dengan Tony. Beruntung Tony cukup mengerti dan bertanggung jawab. Juga setia.

__ADS_1


Riko menghela napas lalu meninggalkan dua orang itu berduaan. Mungkin romansa mereka belum usai.


***


Riko kembali ke kamar dan mandi. Ketika dia keluar kamar mandi, lelaki yang dipanggilnya 'Pak' itu duduk dan termenung memandang jendela. Beban pikiran pria itu terlihat sangay berat.


Riko merasa bersalah mengganggu kencan pria itu tadi.


"Amanda adalah SQ analyst di perusahaan berlian." Asisten Tony mendadak bicara yang membuat Riko mendekat ke sebelah Asisten Tony. Dia berniat menebus kesalahannya tadi siang.


"Amanda sangat cakap dan memiliki insting kuat. Teliti dan jeli. Perusahaan itu begitu bergantung pada Amanda, sampai rela menaikkan gaji berkali-kali lipat agar Amanda bertahan." Tony mengenang.


"Awalnya aku sudah siap hengkang demi mengurus Claudia. Tapi Amanda melarang. Claudia akan aman bersamanya. Dia tidak mau membuatku kehilangan masa depan hanya karena seorang bayi."


Riko masih tekun mendengarkan.


"Sewaktu kecil, Claudia dan aku sangat dekat. Dia memanggilku ayah. Tapi lama kelamaan, Claudia membuat jarak. Tetapi tidak menolakku juga."


Riko paham alasan Claudia bersikap seperti itu. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun.


"Amanda selalu menangis setiap kali menceritakan Claudia. Dia menyesal menolak tawaranku menikah. Tapi lama kelamaan, Amanda mulai bisa menerima sikap membangkan Claudia. Dia menerimanya sebagai hukuman dan pengingat betapa bodohnya dia waktu itu. Tapi aku mengerti sekali tekanan dan bebam di pundaknya. Dia hanya tidak mau aku menjadi objek pemerasan keluarganya."


Riko menghela napas. Mereka saling berkorban demi yang lain. Sebenarnya, ini menyedihkan tapi Riko merasa mereka memiliki perasaan yang terikat kuat. Ini manis sekali. Jadi dia mulai membayangkan Claudia dan anaknya. Salah satu keturuan dari bibit yang unggul. Karakter kuat biasanya melekat pada anak cucu.


"Maaf aku tadi mengganggu kencan kalian, Pak." Riko menunduk menyembunyikan sesal, tapi suaranya tidak bisa berbohong sama sekali.


"Jangan bodoh!" Asisten Tony menoleh dan tertawa tanpa suara. "Kalau tidak ada kalian, aku bahkan tidak bisa bicara sama sekali. Dan kehadiran kalian membuat suasana menjadi cair. Jujur saja, kami jarang bertemu langsung. Terakhir saat hari pernikahan Claudia. Selebihnya kita hanya bertukar pesan. Aku terlalu malu menghadapi Amanda."


Riko menoleh dengan cepat, sebab dia tidak yakin dengan ucapan pria itu. Benarkah dia tidak kena marah? Oh, syukurlah. Padahal dia berpikir semua kejahilan yang terjadi, sungguh keterlaluan.

__ADS_1


"Aku ingin melihat cucuku secara langsung, jika sampai musim panas tahun depan aku masih diberikan umur." Tony merayap dengan senyum yang sendu.


"Keinginan Bapak akan terwujud. Aku yakin Claudia juga akan ada di sana sama Bapak." Riko entah mengapa merasa sangat sedih dan ingin menangis. Singkat kisah ini membuatnya bertekat mewujudkan mimpi-mimpi sang ayah angkat.


__ADS_2