
"Aku ambilkan kursi roda, ya, Je ...."
Jeje mengangguk, membiarkan Darren turun sebab ia tahu kalau Darren sangat tidak nyaman akibat ucapan Jen tadi.
Darren turun mendahului Agus, "Mas Agus bantu Jeje turun, ya."
Mendengar itu, Jen mencibir dengan sinis. "Dasar penjilat! Sok ngeboss!"
Jeje mendengar itu, lalu berbalik menatap kembarannya. Dia tidak suka sikap Jen yang seperti itu. "Sebenarnya, apa sih salah Darren ke kamu, sampai kamu benci dia sebegitunya?"
Jen membuang mukanya malas. "Bukan urusan kamu juga, kan, Je? Kalau kamu mau temenan sama dia, ya, temenan aja, kalau aku nggak suka ya, biarkan saja! Nggak usah ikut campur urusan orang!"
"Ya, memang aku nggak maksa kamu temenan sama Darren, tapi sikap kamu ini seolah Darren udah bikin kamu sakit hati aja! Kamu ditolak sama dia?"
Jen membeliak dan membentak Jeje. "Apa? Ditolak?"
Jen mendekatkan wajahnya ke Jeje. "Yang benar saja, kalau aku sampai suka sama tukang bully kayak dia!"
"Tukang bully gimana?" Jeje bingung, bahkan dia sampai menatap Excel untuk mendukung kebingungannya. Ya, dan Excel juga memikirkan hal yang sama.
Ucapan Jen sangat tidak masuk akal.
Jen menatap kedua saudaranya tidak senang. "Aku yakin kalian lebih percaya dia ketimbang aku!"
"Bukan gitu, tapi lihatlah Darren ... dia sama sekali tidak pernah ngobrol sama kamu, jadi gimana bisa ngebully? Sekolah saja beda, kapan kalian ketemunya?" selidik Jeje.
"Atau kau ketemu diam-diam dan pacaran?" tuduh Excel.
Jeje mengangguk, membenarkan tuduhan Excel.
"Kau pacaran sama Darren?" Jeje mendesak seraya memajukan wajahnya.
Jen saat ini wajahnya sangat merah dan panas. "Amit-amit! Kalian berdua otaknya sudah tidak waras, jelas aku benci dia ... bukan suka!"
Siapa yang tidak marah dituduh begitu? Lagian dia tidak akan sudi memiliki hubungan dengan pria yang membuatnya malu dan sakit hati.
"Otak kalian berdua kacau, ya! Mata kalian berdua rabun ... makanya nggak bisa bedain benci dan menyukai!"
"Ya karena dua hal itu bedanya tipis!" tukas Excel seraya merebahkan tubuhnya kembali—sampai merosot dan tak terlihat—di posisi semula. Berdebat dengan Jen pasti tidak berakhir baik, gadis itu memang sangat ngeyel dan susah mengalah, apalagi mengakui.
__ADS_1
"Itu benar." Jeje menyeringai. Dalam hati mengutuk adik kembarnya. Biar dia tau rasa yang namanya menampar diri sendiri. Dia memilih keluar dan meminta Agus membantunya ke IGD.
"Kalian berdua, sungguh—hiiih!" Jen mengepalkan tangannya kuat-kuat karena gemas dan tidak bisa membalas kakaknya yang kini bahkan tidak mau sekadar mendengarkannya. Sial!
Ketika Darren kembali, dia hanya melihat Jen di kursi belakang. Gadis itu menoleh dan menatapnya membuat Darren gugup dan berkeringat dingin, tapi dia berusaha tetap tenang.
"Jeje sudah keluar, ya?" tanya Darren lembut.
Excel memicingkan mata melihat ke pintu ke arah Darren, kemudian melirik Jen diam-diam. Adiknya tersebut tampak makin kesal. Ada apa dengan Jen sebenarnya?
Jen melengos dan mengenyakkan tubuhnya di kursi, tanpa mengatakan apa-apa dan itu membuat Excel menyesal seumur-umur. Harusnya dia keluar saja tadi kan? Mengintip atau mencuri dengar, dengan begitu dia bisa mengetahui rahasia dibalik sikap Jen ini.
Jen tidak mungkin bilang ada Excel di sini pada Darren, atau dia akan dituduh beneran ada hubungan dengan Darren.
"Jen ...." Darren menunduk, "aku—"
"Pergilah, jangan bicara apapun sama aku!" tukas Jen ketus. Matanya melirik ke arah Excel sebagai kode. Dia takut Darren berkata yang tidak-tidak, dan dia tidak mau menjawab Darren apapun pertanyaannya. Pokoknya dia tidak mau berbicara pada Darren apapun alasannya.
"Aku—baiklah, aku nyusul Jeje." Darren tersenyum "jadi tidak jadi" ragu-ragu. Tapi Jen berbicara langsung padanya sangatlah langka. Biasanya berupa sindiran atau bahkan tidak pernah menjawabnya sama sekali. Jadi bisakah Darren senang sekarang?
Darren siap menutup pintu, tetapi dia segera muncul lagi dan tersenyum lebar membuat Jen ngeri. "Makasih ya, udah mau bicara langsung sama aku."
"Kamu pikir, apa yang kamu lakukan ke aku dulu bisa kumaafkan dengan mudah? Kamu buat aku diolok-olok teman satu sekolah! Kamu bikin aku seperti lelucon tidak berguna dan aku akan ingat seumur hidup, apa yang kamu lakukan ke aku! Kamu jahat banget jadi orang!"
Excel mengerucutkan bibir seraya mengangguk tanda mengerti, tetapi tidak melerai juga. Baginya, Jen punya hak untuk marah dan dia tidak akan menghentikan itu, pasti sangat menyakitkan kalau Jen sampai sebegitunya pada Darren.
Darren malah tersenyum. "Setidaknya, aku tau perasaan kamu ke aku kaya apa, dan aku tidak akan berhenti dekat sama kamu hanya karena perasaan kamu yang seperti itu, Jen."
Excel bingung. Bagaimana bisa Darren punya sisi yang bahkan Excel tidak mampu bayangkan? Darren dewasa lebih dari dirinya dan usianya sendiri. Luar biasa sekali.
Jen tidak senang, lalu kembali ke posisinya. Mulutnya terkunci dan dia lebih memilih membuang muka. Menanggapi Darren artinya dia membuka jalan damai dengan cowok itu. Jen tidak mau itu terjadi.
Darren masih tersenyum dan segera mundur, dia menutup pintu dan memandang Jen dari luar dengan tatapan penuh rasa bahagia.
Excel memperhatikannya dan sungguh dia tak habis pikir dengan mode permusuhan mereka. Aneh.
Tetapi Excel diam saja, memperhatikan dan menyimpannya sendiri. Lagian tidak ada untungnya ikut campur kan?
Jeje kembali dengan wajah tertekuk sempurna. Dia harus menerima kenyataan bahwa cedera ini membuatnya harus libur memainkan si kulit bundar setidaknya sebulan, bergerak terbatas dan fokus penyembuhan setidaknya dua bulan. Artinya hingga akhir musim Liga 1 Jepang, dia tidak bisa melihat kesana.
__ADS_1
Tidak ada yang bertanya, bahkan Excel sudah tertidur. Mereka punya beban sendiri-sendiri di balik kening masing-masing.
Mereka pulang tanpa orang tuanya yang memaksa mengantarkan Reno sampai ke bandara. Ketika sampai di rumah, mereka melihat sang Kakek tengah bersiap dengan Asisten Tony untuk bepergian.
"Jaga adik-adik, ya ... Kakek tidak bisa nunggu Mama kalian datang. Ada urusan yang harus Kakek selesaikan di luar."
Dirga berpamitan pada ketiga cucunya yang telah remaja. Lantas setelah memberi ciuman, dia segera pergi terburu-buru. Si asisten robot juga hanya tersenyum sekadarnya.
Ketika mereka bergabung dengan bocah-bocah kecil yang bermain itu, seseorang datang dan menyapa.
"Masih di sini juga?" Jeje cemberut ketika Rian mengusap kepalanya.
Suasana menjadi sangat canggung. Bahkan Rian hanya tersenyum ketika duduk di depan kaki Jeje untuk memeriksa kaki anaknya tersebut.
"Nggak usah sok perhatian, deh!" Jeje mengalihkan kakinya dari hadapan Rian. Pria itu tersenyum.
"Jangan ngarep aku bisa lupa pada masa dimana Papa nyakitin Mama dan kami!" Jeje berdiri susah payah, sehingga Jen membantunya. Jen sebenarnya sudah memaafkan, tapi dia tahu, Jeje butuh seseorang untuk mendukungnya, jadi dia lakukan itu untuk kembarannya.
Sungguh, Jen mengerti dengan jelas pikiran saudaranya itu seperti apa. Ikatan mereka sebenarnya kuat, tetapi mereka berdua menutupinya.
Sepeninggalan kedua adiknya, Excel segera meminta Papanya duduk dengan benar di sofa. "Maafkan mereka ya, Pa."
Rian tersenyum. "Tidak apa-apa, Sayang."
Rian merengkuh Excel dalam rangkulannya. "Papa kangen sama kamu, Nak ...."
Mata Rian basah. Sungguh dia merindukan anak-anaknya, sekuat hati dia menahan perasaan bersalah dan rindunya selama ini. Tetapi sulit sekali, sampai dia memikirkan banyak cara untuk melihat anaknya di sini. Beruntungnya, ada Harris yang selalu terbuka untuk memberinya ruang untuk menemui ketiga anaknya.
Excel tahu ayahnya kecewa dan sedih, jadi dia berinisiatif. "Aku kangen sama Sia, Pa, boleh nggak aku ke rumah Papa?"
Excel pikir, Sia juga adiknya. Jadi tidak ada salahnya, kan, kalau mereka dekat?
Rian tersenyum di sela tangis yang berusaha dia redakan sebelum menghadap Excel. "Ya, tentu saja boleh, Nak ... Sia pasti senang kalau tau kakaknya mau main sama dia."
Excel beranjak. "Sebentar ya, Pa ... aku akan berkemas. Aku mau belikan Sia mainan kesukaannya."
Rian menatap anaknya penuh haru. Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup. Dia tahu, Excel sedang menghiburnya karena sikap menolak Jeje yang begitu keras.
Rian menghela napas banyak-banyak sebelum kembali hanyut dalam perasaan terluka yang sama sekali tidak boleh dia tunjukkan. Dia menyesal dengan sikapnya yang dulu, tetapi dia tetap berusaha memperbaiki melalui Sia. Dan, dia juga senang akan kehidupan baru Kira yang sungguh pantas mantan istrinya itu dapatkan.
__ADS_1
Rian sadar benar, Kira wanita baik yang dia sia-siakan.