Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Dicurangi bocah


__ADS_3

Dentang jam berbunyi beberapa kali, namun, dua manusia itu masih belum beranjak dari mimpinya.


Di luar, beberapa orang menyandarkan tubuhnya di tembok yang dingin. Meratapi nasib. Ah, malangnya nasib mereka. Game online yang menemaninya tak mampu mengalihkan pikirannya dari bayangan aktifitas orang di dalam kamar.


"Ayolah, kapan kalian selesai?" Desahnya pelan. Menumbuk layar ponsel dengan keras menggunakan ibu jarinya, seakan kekesalannya ikut mengalir bersama pukulan itu.


Senyum bahagia dan kebanggaan terbit di kedua sudut bibir Harris, yang segera bangkit untuk menyegarkan diri. Seringai penuh kepuasan, tetapi tidak akan pernah ada kata cukup, ketika matanya terpaku pada wanitanya.


Harris menyangga tubuhnya pada dinding yang menjadi saksi mereka. Sebelah tangannya mengusap rambut hitam lebat yang mulai panjang. Tubuhnya seakan keriput saking seringnya terguyur air. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia membersihkan dirinya yang berkeringat.


Kali ini dia berniat untuk mengakhiri hari ini sampai di sini. Meski dia masih menginginkan lagi, tapi, tak kuasa rasanya membanting tubuh tinggi itu agar berlutut di kakinya lagi. Sekali lagi, senyum penuh kemenangan menghiasi sudut bibir penuh itu.


Perlahan, hidung minimalis itu bergerak, seperti mengendus, membaui campuran wangi segar dan khas. Bibir itu merangkak meninggikan senyum, senyum penuh arti diantara lelah.


"Kau bangun karena wangiku kan?" Semua perubahan di mimik wajah sendu itu, tak pernah lepas dari perhatian si mata tajam.


"Heem," Dengan malas, dia menggerakkan kedua tangannya ke atas, menyatukan jemarinya. Tetapi, dia sangat malas membuka mata. Enggan bayangan panas keduanya menguar melalui sorot matanya.


Harris menarik selimut lembut yang beradu dengan kulit kuning langsat khas wanita lokal. Mulus, dengan titik hitam di atas pusar.


Kira menahan selimut itu, menariknya lagi ke atas sebatas leher. "Tunggu sebentar, aku masih silau."


Suara serak, nyaris habis, meluncur ragu dari bibirnya. Di sambung deheman keras untuk menormalkan lagi suaranya, ke mode medium. Ah, dia terlalu lama bermain di nada tinggi dan rendah, sehingga dia harus menyetel ulang pita suaranya. Pun dengan matanya yang silau dengan sorot cahaya.


"Lima menit, jika tidak, ku pastikan kita tidak akan pulang malam ini," Suami berkacak pinggang, bukan marah, tapi mengancam. Sungguh menakutkan.


Tak ada gerakan, hanya nafas yang menghembus, perlahan. Tanda mengibarkan bendera putih.


Remuk redam tubuhnya terasa. Meski begitu, dengan langkah tersuruk, segera membersihkan diri. Segar, usai tubuh itu tersiram air. Pikirannya terasa kosong, hanya lelah.

__ADS_1


Dengan tak sabar, Kira melilitkan handuk hingga ke dada. Namun, ketika melangkah keluar kamar mandi, suaminya sudah menodongnya dengan paper bag, berisi pakaian. Dan, seakan kehabisan waktu, mereka segera meninggalkan presidential suite room, yang berkesan.


Sepanjang perjalanan pulang, Harris tak melepaskan istrinya dari dekapannya. Meski mata keduanya terpejam, tapi bibir itu tak meninggalkan kening istrinya, sekejap pun.


Membuat seseorang sesak, tapi dia tak mau lagi berlarut. Sudah semestinya mereka bahagia. Dan, bahagianya, mungkin bersama orang lain, bukan wanita itu. Meski semua tak akan lagi sama. Perasaannya pada wanita ini sungguh besar, pun dengan besar harapannya yang pupus sebelum bertunas.


***


Seluruh penghuni rumah, belum ada satupun yang merasa lega, sebelum melihat kedua nyawa itu ada di depan mereka.


Ketika pintu depan terbuka, berpasang-pasang mata itu menoleh nyaris serempak.


"Mama," Gadis berkucir dua itu berlari dengan rambut bergoyang, menyambut Mamanya.


Senyum bahagia terbit di sudut bibir Kira, senang sebab ada yang merindunya, "Sayangnya Mama, belum tidur?"


"Papa masih di luar, ada perlu dengan Paman Johan," Meski tak ada tenaga untuk sekedar membuka mata, tapi dia punya seribu kekuatan kuda untuk mengangkat putrinya dalam gendongannya.


Kira mendudukkan Jen di sofa empuk dan memantul. Dan, menciumi kedua kakaknya.


"Mama dari mana?" Selidik si tengah, dengan tatapan penuh keberanian melihat ke dalam manik mata Mamanya, bergantian. Dia tidak mau di bujuk.


"Mama tadi ada acara di sekolah Mama, dan Mama ada urusan sebentar bersama Papa," Dia tahu, putranya hanya khawatir, tapi tatapan itu membuatnya tidak nyaman. Seakan ketahuan mencuri.


"Mama minta maaf karena membuat kalian cemas. Maaf ya, Sayang," Kira buru-buru mengakui kesalahannya, dirasa Jeje masih melayangkan keberatan dengan alasan Mamanya.


Kira menghela nafas, ketika Jeje, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jeje memang susah di bujuk dan selektif, meski dia paling jahil. Dia memiliki sifat mirip seperti Papa sambungnya, padahal mereka tidak punya hubungan apapun sebelumnya.


"Ma, kita tidur yuk, Jen sudah mengantuk," Jen dan Jeje saling beradu pandang sejenak.

__ADS_1


"Ayo, Sayang," Seperti induk ayam dengan anak-anaknya, Kira melangkah ke lantai dua, menuju kamar anaknya. Tanpa menunggu suaminya.


Dengan senang hati, Kira segera merebahkan tubuhnya di kasur dengan Jen yang langsung memejamkan mata. Membelakangi Mamanya. Meski aneh, biasanya Jen memeluk Mamanya, tapi karena lelah, Kira enggan berpikir jauh, dia segera terlelap dengan cepat.


Harris melangkah ke kamar usai berdiskusi sebentar dengan Johan. Tetapi, lagi-lagi, kamarnya sepi dan dingin. Harris berdecih pelan, sebelum ke ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa pekerjaan.


Harris memasang alarm untuk mengingatkan dia, beberapa jam lagi. Dia sedang menyusun rencana, sepertinya dia di curangi kali ini. Bukan tanpa sebab, Harris mengunci alarm, jika dia sudah bekerja dia akan lupa waktu, hingga akhirnya dia lupa dengan hal lain yang menjadi rencananya.


Tangannya bergerak lincah di atas tuts keyboard sesekali dia menegakkan kacamata berbingkai hitam ke pangkal hidungnya. Atau sesekali bergumam, agar apa yang di lihatnya bisa di cerna dengan benar oleh otaknya. Dan, juga menegakkan tubuhnya di sandaran kursi dengan hembusan nafas yang panjang. Lelah, tapi kini dia punya alasan, mengapa harus bekerja lebih keras. Selain karena istrinya yang suka uang, juga untuk anak-anak sambungnya. Walaupun, tidak ada yang perlu di cemaskan tapi, setidaknya, hasil keringatnya ada yang menanti.


Harris segera menyudahi pekerjaannya, sesaat setelah alarm berbunyi. Tangannya, membuka laci di mana kunci duplikat berada. Dengan senyum penuh kemenangan, dia melangkah dengan pasti menuju kamar anak-anaknya.


Klak


"Got it," Gumamnya lirih, kedua alisnya terangkat seiring tawa lirih di bibirnya. Pintu terbuka perlahan, dan dengan gerakan lambat pula dia menutupnya. Awalnya, dia berpikir akan menculik Mamanya anak-anak. Tapi, dia berubah pikiran mengingat dia sudah melibas habis istrinya, dia memutuskan untuk memeluknya di sini.


"Sorry guys, kali ini, Papa yang menang," Harris tersenyum hingga barisan giginya terlihat. Ketika anak-anak ini, berusaha melindungi Mamanya, mereka memasang trik untuk menjauhkan dia dari Mama mereka.


Harris menelusupkan tangannya di pinggang hingga ke perut. Mengusapnya pelan, di sayatan melintang kurang lebih, berada. Dalam hatinya, memohon agar segera di tumbuhkan kehidupan di sana. Makhluk kecil yang akan menyempurnakan hidupnya. Menunjukkan pada dunia, he is a man.


Terakhir kali dia berdoa, adalah saat meminta kesembuhan Mamanya. Sudah lama sekali bukan? Yang benar, dia enggan bersimpuh memohon sejak kepergian Mamanya. Dia marah karena Mamanya harus pergi darinya yang lebih membutuhkan, untuk kembali ke peraduan Yang Maha Kuasa yang punya kuasa melebihi segalanya. Entahlah, kali ini dia menengadah, meski menahan malu. Dia datang karena membutuhkan, bukan karena Dialah sebaik-baiknya tempat bergantung. Lama sekali hatinya berbincang, hingga akhirnya dia ikut terlelap bersama harapan dan doa-doanya.





__ADS_1


__ADS_2