Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sweet Husband 2


__ADS_3

Suasana kamar kini meremang, lampu utama sudah dimatikan. Kira tengah duduk di sofa, sekedar berbincang dengan suaminya. Quality time yang sebenarnya sering mereka lakukan, namun, belum pernah sepanjang dan selonggar ini.


Pendulum jam menunjukkan sembilan malam lewat beberapa menit. Sofa yang bisa diatur sebagai kursi atau kasur ini terasa nyaman. Membuat Kira seakan terbuai menuju alam mimpi. Bukan hanya sekali Kira menguap dan  menggosok matanya agar tetap terjaga.


Tiba-tiba saja, Harris mengubah posisi tubuh istrinya berbaring dengan nyaman, menaikkan kakinya keatas pahanya. Memberi pijatan pelan namun tetap penuh tekanan.


Sleepy eyes wanita yang telah memberinya 3 bocah menggemaskan itu membuatnya melengkungkan bibirnya. "Tidurlah, aku akan memijat kakimu!"


"Gratis kan?" Bibir polos alami itu bergerak pelan dan tidak begitu jelas. Namun Harris tahu apa yang dipikirkan istrinya. Ya, tak ada yang gratis dari servis Tuan Perhitungan ini.


"Khusus malam ini, untuk istriku yang paling cantik ada promo khusus! Free all service!" Tangan Harris masih bergerak lembut diatas betis istrinya, hingga ke telapak kaki. "Enak ngga, Yang?!"


Hanya gumaman tak jelas yang terdengar, disertai anggukan lemah. Memaksa Harris menarik lagi kedua sudut bibirnya.


Meski Harris sendiri sebenarnya lelah, tapi dia tak tega melihat keletihan yang tampak begitu jelas di raut wajah Kira. Sekalipun ada bantuan, hanya Kira yang bisa membuat anak-anaknya takluk.


Hingga hembusan napas terdengar begitu lembut teratur. Harris menghentikan gerakannya. Merebahkan diri di sebelah Kira setelah menghujani istrinya dengan kecupan selamat malam. Tak lupa, dia menyisipkan lengannya di bawah kepala Kira, menjadikannya tumpuan.


Memandangi wajah yang cukup ayu baginya, sebelum berenang menuju alam mimpi.


***


Seperti biasa, Kira membantu menyiapkan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga. Aneka menu yang digemari anak-anaknya diutamakan. Sedangkan untuk Papa mertuanya yang memang menghindari beberapa makanan, Kira menyiapkannya secara khusus.


Dengan membawa Azziel dalam gendongannya, Kira mulai menata meja makan. Meletakkan putranya itu diatas kursi tinggi, Agiel selalu menjadi tanggungan Papanya. Anak itu terlalu aktif, sehingga Kira tak bisa mengawasinya sendiri.


"Pagi Ma!" Sapa Jen yang sudah rapi dengan seragamnya, menenteng tas sekolah ditangannya. Sedikit berlari gadis itu menghambur mencium pipi Mamanya.


"Pagi juga, Sayang! Jaga adikmu dulu, Mama mau mandi!" Senyuman Kira selalu terkembang saat melihat putrinya ceria dan bersemangat.


"Iya Ma!" Jen mendudukkan tubuhnya disisi Azziel yang sedang memegangi mainan di atas meja kursi tingginya. "Pagi Azziel, Cayang!" Sapa Jen pada adiknya. Celotehan tak jelaslah jawabannya, namun, Jen tetap mengajak adiknya berbicara layaknya saling memahami bahasa masing-masing.


Kira segera melangkah meninggalkan ruang makan yang sebentar lagi akan riuh dengan suara bocah-bocah kecil.


Kamar Kira memang masih dibawah, berada diujung lorong, terlalu beresiko jika membawa anak-anak kembali ke kamar atas. Tangan Kira mendorong pintu hingga terbuka lebar.


"Lho, Papa kok belum siap?" Suguhan pemandangan petakan di perut suaminya menyambutnya. Ah, sekarang bukan waktunya membelai pahatan indah itu, pikir Kira. Dibuangnya napas dengan kasar, mengusir pikiran kotor yang melintas begitu saja.


Harris bangkit sambil meraih kemeja berwarna kuning pucat, yang diulurkan Kira padanya. Sedikit kesusahan sebab kedua bocah itu mengikuti gerakan tubuh papanya. "Lihatlah anakmu yang asyik gelayutan di tubuhku!"

__ADS_1


Ya Kira melihatnya, Agiel dan Ranu menempel di lengan kanan dan kiri papanya.


"Nak Papa bisa kesiangan berangkat kerjanya!" Kira meraih Agiel, sedikit memaksa. Meski sedikit merengek, Kira berhasil membawa Agiel ke kamar mandi bersamanya. "Agiel mandi dulu sama Mama, biar ganteng dan ngga bau acem!"


Kira mendorong gemas dengan hidungnya. Mendesak pipi hingga ke leher bocah lelaki itu hingga membuatnya tertawa.


"Tolong antarkan Ranu ke kamar mandi, Bang!" Kira berbalik sebentar saat tangannya memegang kenop pintu kamar mandi, suaminya masih kesulitan memakai baju karena Ranu.


Harris meletakkan kembali kemejanya, "Ayo Ran, nanti Mama marah lho kalau Ranu ngga nurut!"


Gadis kecil bertubuh besar itu seketika bangkit, mengalungkan tangannya di leher Papanya. "Nanu mau mandi!" Ucapnya tak begitu jelas, namun Harris mengerti.


"Anak pintar!" Kekahan disertai hujan ciuman mendarat sempurna di pipi tembem Ranu. "Jangankan kamu Ran, Papa aja takut kalau Mama marah!"


Ranu tertawa di gendongan Papanya, menertawakan sikap penakut Papanya. Mungkin dalam pikiran Ranu, tubuh saja yang besar, tapi nyali sebesar toge.


"Sini Papa buka bajunya!" Kira menoleh saat suara suaminya terdengar jelas dari sisi bath up. Dimana Agiel sudah terendam sebagian tubuhnya, bermain bebek karet dan juga maian lainnya.


"Ya ampun Abang belum pakai baju juga?"


"Mana bisa pakai baju sih Yang, kalau dia masih nempel kaya cicak!" Decakan kesal meluncur begitu saja. Namun tak menghentikan tangannya untuk membantu Ranu bersiap mandi. "Rambutnya di ikat enggak?"


"Anak Papa yang paling cantik segera mandi ya, pakai sabun dan sampo banyak-banyak biar wangi dan cantik, kaya princess!" Harris menurunkan Ranu di dalam bath up. Senyumnya terkembang sempurna saat melihat Ranu menganggukan kepalanya.


"Nanu keramas ya, sini biar Mama bantu...." ocehan yang akrab didengar Harris saat Kira mandi bersama anak-anaknya, menggema di sela kecipak air yang di buat kedua anaknya.


Hampir pukul tujuh dan Harris belum bersiap sama sekali. Sedikit tergesa dia memakai kemejanya yang sedikit kusut. Mendengus kesal, namun dia malas mengacak lemari lagi. Juga tak mau menambah kesibukan istrinya pagi ini.


"Pa, Ma, kami berangkat dulu!" Excel dari balik pintu berpamitan pada orangtuanya. Remaja itu tau adab masuk kekamar orang dewasa meski mereka orangtuanya. Sekalipun pintunya tak tertutup sempurna.


"Iya Nak! Tunggu sebentar, Mama masih di kamar mandi!"


"Excel hampir telat Pa! Sampaikan ke Mama, Excel berangkat dulu!"


"Baiklah!" Harris muncul dibalik pintu sambil mengenakan jas nya. "Uang jajan masih aman?"


Bibir tipis Excel melengkung sempurna. "Aman Pa!"


"Ditambahin juga boleh!" Celetuk suara dari jauh memaksa mereka menoleh. Jeje berlarian ke arah mereka. Punggung tangannya mengusap bibir yang masih menyisakan bekas susu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" Pintu kamar dibukanya lebar-lebar, apalagi dua orang baby sitter juga berjalan ke arahnya. Harris mengambil dompetnya, menarik beberapa lembar uang dan diserahkan pada Excel.


"Pa, nanti dimarahin Mama lho!" Excel tampak ragu menerimanya.


"Selama ngga ketahuan kan aman! Dibagi bertiga ya! Dan sebaiknya kalian bergegas!" Harris mendesakkan uang itu ke tangan Excel. Kemudian mendorong bahu putra sambungnya membelakanginya.


Excel pasrah, "Kami berangkat Pa!"


Excel dan Jeje bergantian mencium punggung tangan Papanya. "Ingat pesan Mama kalian! Jangan sampai membuat Mama repot dengan tingkah kalian!"


Keduanya mengangguk, sebelum berlalu dari hadapan Papanya.


"Mereka tak akan berani menyakiti Mamanya!" Gumam Harris disertai senyuman.


Harris kembali ke dalam kamar mengambil beberapa barang sebelum meninggalkan kamar.


"Urus anak-anak selama Mamanya mandi ya mbak!" titah Harris pada dua pengasuh yang berdiri diluar pintu. Menunggu Tuannya meninggalkan kamar sebelum mereka menjalankan tugasnya.


"Baik, Tuan!" Keduanya menunduk sampai aroma parfum tuannya menghilang. Baru kemudian mereka masuk dan memulai menyiapkan keperluan majikan kecilnya. Juga merapikan kamar meski bukan tugas mereka, namun mereka sadar, gaji besar tak sebanding dengan pekerjaan. Apalagi Nyonya nya pandai mengurus anak-anak tanpa bantuan mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


maaf baru bisa update🙏

__ADS_1


-ngarep ada yang rindu-😋


__ADS_2