
~Maaf, aku bukan lelaki yang kau inginkan~
Jujur saja, Kira bingung saat Harris menyeretnya kembali ke bawah, ke ruang tamu di mana tamu mereka berada.
Harris merangkul pinggang Kira saat mereka melangkah bersama menuruni tangga. Seakan menegaskan siapa nyonya di rumah ini. Harris sudah kembali tegas, dan mengerikan. Tidak ada yang tahu, bahwa mereka berdua, usai menangis, menangisi keterbatasan mereka.
Harris memandang Kira, seolah meyakinkan, bahwa dia harus bertahan di sisinya. Menemaninya melewati kerikil kecil di perjalanan hidupnya. Jari jemari mereka saling bertaut, menunjukkan kuatnya jalinan batin di antara keduanya.
Setelah Kira mengakui perasaannya, Harris lega sekaligus sedih. Lega, karena tak ada lagi keraguan di dalam hati keduanya, sedih karena dia bukan lelaki yang di inginkan Kira. Jika dia menjadi laki-laki yang di inginkan Kira, dia akan menyakiti Kira. Jika Harris mengabaikan Viona, dia juga bukan lelaki yang di inginkan Kira.
"Berjanjilah satu hal padaku, seperti apapun diriku, jangan pernah meninggalkan aku," Ucap Harris di anak tangga terakhir, kedua mata mereka saling beradu, menyelami dalamnya perasaan. Kira tersenyum, dan mengangguk pasti. Tentu tidak, keinginan Harris, sesuai dengan isi hatinya.
Harris memeluk Kira, mendekap kekuatan dan kelemahannya. Dalam dirinya, dia bisa menemukan apa yang kurang dalam hidupnya.
.
.
.
"Sayang, dia tidak memperbolehkan aku ke kamar," Viona merajuk, menunjuk Johan yang memang menghalanginya meninggalkan tempat ini. Menghentakkan kaki kecilnya dengan manja. Kira ngilu melihatnya. Sedangkan Johan, mendesah, seakan jengah dan malas menanggapi.
"Apa yang kau inginkan?," Harris menatap Viona dengan tajam. Sama sekali tidak ramah. Kira tidak tahu, bagaimana mereka berpisah, Kira belum menanyakan.
"Aku ingin kita kembali bersama, anak kita membutuhkanmu," Jawab Viona manja. Penuh rayuan.
"Apa kau yakin dia milikku?," Harris mengeratkan pelukan pada pinggang Kira. Mendekatkan semakin rapat.
"Iya, aku yakin, kau meragukanku?," Viona mendadak cemberut, kesal.
"Kau butuh uang?,"
"Tidak, aku butuh kamu, Sayang," Viona berkilat, seolah marah. Sedikit berteriak, menguatkan jawabannya. "Aku mau kembali ke rumah ini, kembali bersamamu, bersama anak kita,"
Harris merapatkan giginya, dia tidak yakin itu miliknya, tapi bagaimana jika iya? Harris kembali menatap Kira, meminta persetujuan. Namun, Kira menyangka, Harris memastikan bahwa dia baik-baik saja. Kira tersenyum, senyum yang berarti berbeda bagi Harris.
"Baiklah, kau boleh tinggal di sini sampai anak itu lahir, tapi, jangan melampaui batasmu," Ucap Harris tegas. Dia menganggap keputusan ini yang terbaik.
"Jo, ikut aku," Harris berbalik, " Masuklah ke kamar, aku akan menemuimu nanti," Harris mengecup kilas bibir istrinya.
Viona terkejut bukan main. Walaupun dia menolak percaya, perlakuan Harris kepada istrinya menunjukkan seberapa besar cinta Harris untuk istrinya. Jika Viona pintar, dia akan menyerah, bahkan sebelum bendera perang berkibar, sebelum genderang perang di tabuh.
Harris dan Johan berlalu, menuju ruang kerja, yang berada di samping kamar Harris.
Kira sekali lagi, meyakinkan dirinya. Harris hanya tidak ingin membuat keadaan semakin sulit. Citranya sebagai orang besar dan wanita itu sebagai pesohor. Akan sulit bagi mereka kedepannya jika sampai aib ini tersiar.
Kira tersenyum kikuk, saat kedua matanya bertemu dengan Viona. Wanita itu terlihat putus asa, tapi dia berusaha tetap tegak.
"Maaf atas semua ketidaknyamanan ini, biarkan saya tunjukkan kamarmu, Viona,"
"Tidak perlu, aku tahu di mana kamarku," Viona menampik tangan Kira yang hendak mengambil alih kopernya.
Kira tersenyum, memperhatikan Viona yang melangkah menuju kamarnya, kamar Kira dan Harris. Kira membiarkan saja, toh dia tidak akan punya tempat di sana. Kira mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil di sofa. Wajahnya sendu, dan terlihat lemah, tertekan.
__ADS_1
"Hai, Gadis manis, apa kau sudah makan?," Kira menunduk di depan gadis kecil yang menurut Kira mirip dengan Viona.
Kristal menggeleng, dan itu membuat Kira tersenyum lagi. Mendekati anak yang pemalu, memang sedikit sulit, terlebih, ketiga anaknya tidak ada yang memiliki sifat pemalu.
"Sayang, siapa namamu?," Kira berjongkok di depan gadis berambut keriting yang beringsut mundur saat di dekati Kira.
"Kristal,"
"Nama yang bagus, ayo kita makan, Sayang," Kira mengulurkan tangannya ke depan Kristal, ia dengan ragu meraih tangan Kira.
Tangan ini sangat kecil dan lemah, Kira merasa hatinya teriris, membayangkan apa yang terjadi pada gadis kecil ini.
Kira mengambil beberapa tumpuk roti berisi selai coklat, Kira tidak tahu apa yang di sukai Kristal, jadi dia memilih rasa yang umumnya di sukai anak-anak.
Kira tersenyum memperhatikan Kristal yang tengah duduk sambil mengayunkan kakinya.
"Ayo, makan!," Kira menyodorkan sepiring roti isi selai coklat dan segelas susu di depan Kristal.
Kristal sedikit malu-malu untuk mengambilnya. Dia melihat antara Kira dan tumpukan roti itu bergantian.
"Sayang, sarapan pagi itu penting, jadi karena ini sudah hampir lewat waktu sarapan, Kristal jangan menundanya lagi, oke!," Kira tersenyum, mengusap kepala Kristal dengan lembut.
Kristal mengangguk pelan, lalu mulai mengambil roti isi tersebut dan mulai makan dengan lahap. Kira merasa iba melihat gadis ini, Mamanya berpenampilan sempurna sedangkan anaknya, sedikit tidak terawat.
"Sayang, boleh Tante bertanya?," Pelan-pelan Kira medekati Kristal, mengusap pelan rikma hitam bergeombang itu dengan lembut. Kristal mengangguk pelan, tanpa menghentikan suapannya.
"Papa Kristal kemana?," Kira sedikit ragu, namun rasa penasaran di hatinya, meronta-ronta ingin segera di ungkapkan.
"Memangnya, Kristal hanya tinggal sama Mama?."
"Bukan, Tante. Itu bukan Mama Kristal, Tante Viona itu hanya mengasuh Kristal sementara, karena orang tua Kristal sudah meninggal," Kristal mengatakan hal seperti ini dengan santai, tak ada tekanan ataupun kesedihan di dalam nada suaranya.
Kira terhenyak, sedikit tidak percaya ucapan Kristal. Tidak mungkin anak sekecil dia di ajari berbohong. Sejak melihatnya pertama kali, Kira yakin Kristal adalah anak dari Viona. Terlihat sekali kemiripan keduanya, hanya rambutnya yang berbeda.
"Ya sudah, Kristal lanjutkan sarapannya, nanti Tante panggil Mbak Rina untuk menemani Kristal sarapan," Kira tersenyum. Anak kecil yang malang.
Kira bukan tidak tahu atau lupa siapa Viona, ada banyak hal yang harus di ungkap Kira di sini. Tapi entahlah, dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Rumah yang semula tenang, kini menjadi riuh. Tiba-tiba saja, banyak orang masuk membawa bingkai besar. Kira bingung, jadi setelah mempersilahkan mereka memulai pekerjaan, Kira menuju ruang kerja Harris.
Harris masih di ruang kerjanya saat Kira masuk. Perlahan Kira menutup pintu.
"Apa kau sudah baikan?," Kira tersenyum saat Harris menoleh kepadanya.
"Apa aku sakit?," Harris berdiri, menyambut istrinya.
"Saya permisi dulu, Tuan," Johan memilih menyingkir daripada matanya sakit.
Harris mengangguk, lalu menuntun Kira ke sofa. Mendudukan Kira di pangkuannya.
"Hei, aku berat lho," Kira sedikit menahan tubuhnya.
"Aku masih kuat menahan berat badanmu," Harris tersenyum. Harris sudah lembut kembali. Menarik paksa Kira ke dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi. Kau yang minta," Kira tidak lagi menahan bobot tubuhnya. Selagi dia yang minta, pikir Kira.
"Apa pendapatmu?," Harris menyisipkan rikma hitam milik Kira di belakang telinga.
Kira berpikir sejenak, "Ku rasa aku harus mempertahankan milikku."
"Kau memang pintar," Harris mengecup jemari panjang milik Kira. Menautkannya dengan jemari Harris, mereka adalah satu.
"Kau tahu, aku takut jika kau menilaiku buruk, karenanya, aku memilih membiarkan dia tinggal bersama kita. Aku bukan tidak mau mengakui kesalahanku, aku memang salah. Aku bukan mau lari dari tanggung jawab, tapi aku tidak yakin apa dia milikku," Harris mengusapkan punggung tangan Kira mulai dari pipi hingga ke bibirnya. Memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Kira.
"Lakukan saja apa yang menurutmu baik. Jangan pikirkan aku, apa kau lupa? Aku bersahabat dengan pelakor selama hampir 7 tahun," Kira menyandarkan tubuhnya di dada suaminya. Menarik tangan Harris melingkar di perutnya.
Harris tertawa lirih, "Aku tidak tahu, kau belum memberitahuku."
"Benarkah?," Kira menyipitkan mata, mencoba mengingat lagi, namun Kira tidak berhasil mengingatnya.
"Iya, tentu saja," Jawab Harris.
"Kau tahu, aku rasa akulah orang ketiga di antara kalian," Kira tersenyum miris.
"Kau orang ketiga yang menjadi istri pertama," Harris mengoreksi pernyataan Kira.
"Jadi, akulah Nyonya Harris, benar bukan?."
Harris menaikkan alisnya, "Bisa di bilang begitu."
Mereka berdua tertawa, lepas, tak ingin lagi berfikir macam-macam.
"Apa kau punya rencana?," Tanya Harris yang sudah tenang.
"Tidak, hanya saja, aku perlu melakukan sesuatu beberapa hari ini," Kira beringsut turun dari pangkuan Harris.
"Dengan wanita itu?."
"Oh, aku tidak tahu, tapi sampai dia bertindak culas, aku tidak segan padanya," Kira membusungkan dadanya, seolah dia tidak takut apapun.
Kira memilih diam, menyimpan semua terlebih dahulu, sebelum dia mengungkap tabir dalam diri Viona. Setidaknya, Harris tidak lagi menginginkan Viona. Itu sudah lebih dari cukup sekarang.
"Apa kau sudah selesai?," Tanya Harris tiba-tiba.
"Sudah, tapi tidak sekarang," Kira membuat mengerling manja. Namun, secepat kilat dia berlari ke pintu, agar Harris tidak mengejarnya. Harris tertawa di buatnya.
"Baiklah, sepertinya aku butuh nutrisi tambahan," Batin Harris.
.
.
.
.
Selamat malam semuanya, selamat membaca, dan selamat beristirahat. ❤❤❤
__ADS_1