Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Dua Sisi


__ADS_3

Harris tengah berada di perjalanan ke rumah Papanya bersama Johan. Entah mengapa Papanya kali ini sangat hati -hati saat bertindak. Anak buahnya yang mengikuti Papanya secara diam-diam tak menemukan apapun yang mencurigakan.


Papanya hanya bertemu dengan seorang wanita 2 kali berturut-turut. Harris tak begitu mempedulikan itu, di sela kemarahannya, dia masih menunggu Viona. Keributan di antara mereka kali ini, terasa sangat menyakitkan.


Harris kali ini bertekad tidak akan mudah kembali kepada Viona. Kemarahan akan penolakan yang berulang membuat Harris sakit hati. Harris tidak bisa memahami jalan pikiran wanita, apa yang tampak belum tentu sesuai dengan isi hati dan keinginannya.


Hari hampir gelap ketika Harris tiba di rumah Papanya yang berada di pinggiran kota. Rumah yang tak banyak berubah sejak dia mulai mengingat siapa dirinya hingga dia memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.


“Dimana Papa?” Tanyanya kepada Asisten Toni yang tengah sibuk memberi instruksi kepada beberapa pekerja.


“Beliau ada di ruang belajar, Tuan Muda" Asisten Toni membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Tatapan tajam Harris, menghujam ke arah Asisten Toni. Harris sejak dulu tidak menyukai Asisten Toni karena dialah Papanya bisa tahu semuanya. Meskipun Asisten Toni banyak memberinya bantuan.


Harris mengayunkan langkahnya ke ruang kerja milik Papanya. Ruang kerja sekaligus perpustakaan ini sering digunakan Harris bermain saat kecil. Sehingga banyak berkas Papanya yang hilang.


“Pa, ini sebenarnya ada apa? Acara apa yang hanya di hadiri 2 orang saja Pa?" Tanyanya pada Sang Papa yang tengah memperhatikan sesuatu.


“Lihat ini” Alih-alih menjawab pertanyaan Harris, Tuan Dirga meletakkan beberapa foto di meja depan Harris.


Harris meraih lembaran berupa foto. Gadis kecil di rumahnya beberapa waktu lalu. Harris tak begitu mempedulikan semua ini. Harris sudah tau siapa gadis kecil itu. Lagipula mereka sudah tidak tinggal di rumahnya lagi.


“Apa ini Pa?" Tanya Harris keheranan.


“Kau tau, jika seorang wanita ambisius akan melakukan apapun agar tujuanya tercapai?" Harris tahu siapa wanita ambisius yang di maksud. Meski dia dan Papanya sering berbeda pendapat kali ini, dia setuju dengan pendapat Papanya.


“Apa Papa mencoba memisahkan kami dengan cara ini? Anak ini tidak ada hubungannya denganku Pa" Jawab Harris. Dia mencoba menebak apa yang akan di lakukan Papanya.


“Kau ini bodoh sekali, jika Papa mau, sudah dari dulu Papa memisahkan kalian. Sekarang tanpa Papa ikut campur, kalian berpisah dengan sendirinya” Tuan Dirga menjawab dengan nada mengejek.


“Kami belum berpisah, kami hanya mengambil waktu untuk berpikir Pa” Kilah Harris.


“Itu menurutmu, tapi tidak untuk dia kan? Ris, jangan bodoh, dia hanya memanfaatkan kamu dan uangmu. Dia tidak mencintaimu. Bagi seorang wanita, mengorbankan dirinya demi orang yang dia cintai adalah sebuah kebahagiaan. Tapi apa yang dia lakukan? Mengeruk uangmu, membuatmu tergila gila padanya, tapi dia tidak mau meninggalkan karir yang dia bangun dengan campur tanganmu. Huh, prestasi macam apa itu? Dia hanya mencari kesenangannya sendiri”


“Mamamu dulu juga berkarir, dari nol malah. Tapi demi Papa, dia meninggalkan semuanya dan ikut kemana Papa pergi. Meninggalkan semuanya, demi Papa yang hanya seorang karyawan biasa” lanjut Tuan Dirga penuh keseriusan.


“Bukankah kalian di jodohkan?”


“Ya, memang. Sulit sekali di awal karena kami tidak mengenal satu sama lain. Tapi seiring berjalannya waktu, Papa sadar, sebagai seorang lelaki harus bisa mengendalikan keadaan. Apalagi Mamamu sangat keras kepala. Namun bukan berarti tidak mungkin. Perjodohan tidak buruk juga”


“Jadi apa Papa mau menjodohkan ku juga?” Harris akhirnya mengerti arah pembicaraan Papanya.


“Papa hanya ingin menyelamatkanmu dari wanita itu. Memang Papa sedikit egois saat ini, tapi kau tahu kan semua milik Papa akan jadi milikmu. Tapi jika berada di tangan yang salah, kau akan kehilangan segalanya. Apa kau mengerti?”


“Tapi Pa,” Sejujurnya Harris sangat keberatan. Saat ini suasana hatinya sedang buruk, ditambah menghadapi perjodohan.


“Tolonglah sekali ini saja” Tuan Dirga memandang anaknya penuh permohonan. "Papa tidak pernah meminta apapun Ris, hanya ini"

__ADS_1


Harris menghela nafas dalam dan menghembuskan perlahan untuk melegakan sesak di dadanya. "Siapa dia?”


“Bukan siapa siapa, yang pasti dia sangat tangguh dan berani. Setidaknya dia wanita tidak mudah tergoda dengan uang" Tuan Dirga tersenyum misterius.


“Papa tega sekali melibatkan wanita untuk menyelamatkan harta Papa. Berapa banyak Papa memberinya imbalan?” Harris pun tersenyum penuh ejekan.


“Tidak banyak untuk saat ini. Hanya memberi dia sedikit kebahagiaan”


Harris berdecih, mana ada wanita yang mau hanya di beri sedikit uang. Wanita tak akan pernah cukup dengan sedikit uang, semua yang melekat padanya bahkan untuk sehelai bulu mata mereka bernilai uang. Viona misalnya....


“Kapan itu?”


“Sekarang, jadi bersiaplah”


“Apa?” Harris mendongakkan kepalanya, tidak mempercayai ucapan Papanya.


“Papa sudah mengatur semuanya"


“Pa, apa ini tidak terlalu kejam? Mempermainkan pernikahan? Tidak Pa, Harris tidak mau”


“Papa tidak main main, ini semua legal dan setelah ini, kau pemilik grup WD, semuanya”


“Pa, aku sudah cukup puas dengan apa yang aku miliki sekarang. Star sudah sangat berkembang beberapa tahun ini”


“Tidak, Star bagian dari WD, jika kamu tidak mau menututi Papa, Star akan ku ambil alih lagi”


“Sudah cukup bicaranya, kau di tunggu di kamarmu” Tuan Dirga mengangkat tangannya sebagai tanda dia tidak ingin berdebat lagi.


Haris beranjak pergi dari ruang kerja Papanya dengan perasaan kesal. Johan masih setia menunggu Harris di depan pintu. Melihat wajah masam atasannya Johan meyakini bahwa keduanya terlibat sebuah perdebatan yang akhirnya di menangkan Tuan Dirga. Tanpa di beri aba-aba, Johan mengikuti Harris. Keduanya berjalan beriringan menuju kamar Harris di lantai 2.


Harris dan Johan berpapasan dengan beberapa orang yang hilir mudik dari kamar yang seharusnya menjadi kamar adiknya. Namun, adik Harris yang seorang perempuan meninggal sesaat setelah di lahirkan.


Harris di kejutkan oleh kehadiran 2 orang wanita ketika dia masuk kamar. Wanita itu sepertinya orang orang dari jasa rias. Mereka berdua juga tak kalah terkejut ketika melihat Harris yang tak bersahabat.


Kedua orang itu segera mendandani Harris. Meski pada akhirnya Harris hanya berganti pakaian saja, karena menolak segala bentuk sentuhan dari kedua wanita itu. Harris merasa risih wajahnya di tepuk tepuk dengan bubuk padat itu.


Awalnya kedua wanita itu takjub dengan ketampanan Harris namun di akhir pekerjaannya, mereka ingin segera menghilang dari pandangan Harris. Setiap pertanyaan jawabannya adalah tatapan tajam yang membunuh.


"Jo, bagaimana menurutmu?" Tanya Harris pada Johan setelah kedua wanita itu meninggalkan kamar.


"Sebaiknya anda menuruti permintaan Papa anda, Tuan. Tidak seharusnya anda meragukan penilaian beliau" Jawab Johan yang diikuti tatapan tidak suka dari Harris.


"Aku salah bicara kayanya" Batin Johan.


Buru-buru Johan meralat ucapannya.

__ADS_1


"Maksud saya begini Tuan, Tuan Dirga pasti memiliki alasan kuat untuk melakukan ini. Tidak mungkin kan, tiba-tiba menyuruh anda menikah" Johan menjeda ucapannya sejenak. " Dan semoga kabar pernikahan anda segera sampai ke telinga Nona Viona"


Harris melempar tatapan membunuh ke arah Johan. "Kau senang Viona selamanya meninggalkanku?"


"Jangan marah dulu Tuan, begini Tuan, anda juga bisa memanfaatkan wanita ini untuk kepentingan anda sendiri. Jika Nona Viona tahu anda menikah, anda lihat reaksinya, bila dia mencintai anda dia akan datang pada anda dan memohon agar kalian bisa kembali"


"Lagipula Tuan, saya yakin anda tidak apa apa jika Nona Viona tidak kembali, malah lebih baik" batin Johan.


.


.


.


Sesuatu yang hampir sama terjadi di kamar yang ditempati Kira. Setelah melihat anaknya dari balkon, Kira bermaksud menghampiri mereka, tetapi 2 orang yang berada di depan pintu kamar menghalanginya. Sehingga membuat Kira kesal.


Hingga ketika ada dua orang dari jasa rias, di acuhkannya saja. Kira malah asyik memperhatikan anaknya dari balkon. Jarak balkon dan kolam renang memang jauh, tapi Kira masih bisa melihat jelas apa yang di lakukan ke tiga anaknya. Ingin rasanya Kira berteriak memanggil Excel, Jen dan Jeje, tapi melihat banyaknya orang, Kira takut akan menarik perhatian mereka. Yang penting mereka baik baik saja.


“Nona, kami harus memulainya sekarang” ucap salah seorang perias.


Huh, Kira mendengus kesal. Masih beberapa jam lagi kenapa mereka terburu buru sekali, begitu pikir Kira. Kira menatap wanita itu, mereka sepertinya sangat berharap Kira segera mau di rias. Sudah satu jam lebih mereka hanya duduk dan menatap Kira yang tertawa melihat tingkah anak anaknya dari kejauhan.


“Baiklah, mari kita mulai sekarang” Kedua wanita itu bernafas lega. Mereka segera mempersiapkan peralatan yang mereka butuhkan. Kira mengikuti instruksi mereka berdua.


“Nona, apa anda punya keinginan?” Tanya salah seorang perias.


“Keinginan?” Kira sedikit bingung menatap kedua wanita itu melalui cermin. Dalam pikirannya, apa seperti akan di eksekusi mati, sehingga di tanyai perihal keinginan terakhir?. Andai dia boleh memiliki keinginan, hanya satu, menghindari pernikahan ini.


“Ya, Nona. Anda ingin di rias seperti apa?” Lanjut perias tadi. Dia masih belum memulai, tetapi sudah memakaikan kip make up dan juga bandana. Sementara seorang lagi mengeluarkan peralatan untuk merias.


“Tidak ada” Jawab Kira singkat. Kira tidak peduli mau di make up seperti apa, tidak di make up juga lebih baik, menurutnya.


“Baiklah Nona, kami akan segera memulainya”


Kira memejamkan matanya. Enggan melihat perubahan wajahnya sebelum ataupun nanti usai di rias. Si perias memulai pekerjaanya, setelah mengambil beberapa foto.


Entah sudah berapa lama, Kira sendiri tidak tahu, akhirnya selesai sudah acara corat coret wajah dan menata rambut. Perias itu meminta Kira berganti baju, mengingat acara akad nikah akan segera di mulai.


Kira mengenakan kebaya berwarna abu-abu muda dengan kain bercorak batik berwarna senada. Kebaya dengan motif simpel sesuai dengan selera Kira. Kira kini telah siap menjadi pengantin untuk kedua kalinya.


"Anda sangat cantik, Nona" Puji si perias.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2