
Gerimis mewarnai pagi yang masih gelap. Mendung menutup sinar matahari yang seharusnya menebar jingga di ufuk. Burung yang sedianya bernyanyi, seperti enggan meninggalkan sarangnya. Hanya udara dingin menusuk yang mampu menggugah Kira dari tidurnya yang nyenyak.
Kira memeluk erat gulingnya yang terasa hangat. Menelusup lebih dalam, mencari kenyamanan.
Tunggu. Guling?
Kira memicingkan sebelah mata, mendapati bahu lebar berbalut kaus merah bata. Kira menjerit tertahan, tangan tidak tahu diri miliknya melingkar di pinggang Harris. Dan kepalanya bertumpu pada lengan Harris.
Kira menahan nafas, menahan debaran jantungnya yang berdetak tak normal. Perlahan, dia menarik tangannya, matanya mengawasi Harris yang masih tertidur. Kira mundur perlahan agar tidak membangunkan Harris. Dan berjalan berjingkat ke kamar mandi.
Kira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana bisa tangannya menjadi lacur, apa sebegitu inginnya tangan ini menyentuh tubuh sempurna itu? Kira bergegas mengguyur kepalanya yang mulai terasa panas. Kesal, dengan tubuhnya yang menghianati hatinya, tunggu hatinya pun mulai menghianati pikirannya.
“Bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa, Kira. Harris tidak tahu ini”
Mantra ampuh yang bisa menegangkan hati Kira. Kira menghembuskan napas berulang untuk menata perasaan sebelum keluar kamar mandi.
Kira bisa bernapas lega, melihat Harris masih tidur. Dia melakukan semua keperluannya dan Harris dengan cepat namun masih berhati-hati. Dia takut membangunkan singa yang tengah bergelung dengan selimut.
Kira menajamkan telinga saat samar-samar mendengar suara anaknya. Kira berbalik menuju kamar di mana suara itu berasal. Kira menyangka anak-anak ikut ke rumah Utinya, karena semalam Kira langsung tidur setelah makan malam. Di tambah ponselnya tertinggal di kafe.
Kira menghambur memeluk Jen, yang paling dekat dengan pintu.
“Sayang-sayangku, Mama kangen” Jerit Kira diceruk leher Jenny.
“Mama sudah sembuh?” Tanya Excel yang sudah rapi memakai seragam sekolahnya.
“Iya, Mama sudah sembuh, kalian tahu, Mama sakit?” Kira menarik Excel ke dalam rangkulannya.
“Tahu, Kakek yang membawa kita melihat Mama” Jawab Jen.
“Kakek?”
“Iya, Kakek. Waktu itu, Mama masih tidur, jadi tidak tahu kami datang” Jenny bercerita dengan mata yang berbinar. Jenny sangat bahagia.
“Oh, begitu? Maaf, ya, Sayang. Mama tidak tahu kalian datang” Kira mengusap satu per satu rambut lebat anaknya. Merengkuh mereka sekali lagi, seiring permintaan maaf yang terus menggema di hati Kira.
Anak-anak harus berangkat lebih awal mengingat jarak sekolah dan rumahnya kini lebih jauh. Sarapan pagi, bahkan dimulai lebih awal. Sehingga Harris turun saat anak-anak sudah berangkat ke sekolah bersama Agus.
Harris turun dengan setelah hitam yang telah di persiapkan oleh Kira. Kira tidak menyangka jika hasilnya seperti ini. Sempurna. Kira menatap Harris menuruni tangga dengan ponsel menempel di telinganya. Kira nyaris tidak berkedip, bahkan semua seperti melambat. Di sana hanya ada dia dan Harris. Kira menggigit bibir menahan gejolak di dalam dadanya.
“Andai saja, dia tidak memiliki wanita lain, andai saja, kami bertemu lebih awal, andai saja, kami bertemu dengan cara yang lebih baik”
Dan masih banyak andai-andai yang lain, berjubel di dalam hati Kira. Memandangi pria yang di peluknya, pria dengan kenyamanan yang di carinya.
“Nyonya” Johan menyentuh lengan Kira pelan.
“Iya” Kira tergagap. Dia kembali menjejak bumi. Harris sudah duduk di kursi, dan memandangnya dengan heran.
“Apa anda melihat hantu?” Tanya Johan. Dia juga menilas tempat Kira memaku pandangannya.
__ADS_1
Kira mengerjap berulang, wajahnya sudah semerah tomat, ketahuan mengagumi suaminya sendiri.
“Ah, itu, bukan. Aku rasa, aku melupakan sesuatu” Kira tidak membalas tatapan Johan dan Harris. Kira memilih menghabiskan sarapannya yang sudah tidak berbentuk.
“Ya Tuhan, aku benci diriku”
Harris dan Johan saling pandang, melihat keanehan Kira. Mereka berpikir Kira belum benar-benar pulih dari sakitnya.
.
.
Kira tiba di kafe Ivy, diantar Agus. Harris tak mengizinkan Kira mengendarai motor, setelah kejadian tadi pagi.
“Ada ya, karyawan kafe di antar mobil mewah?” celetuk Ivy.
“Apa sih?”
“Jangan bikin malu laki lu deh, masa iya, istrinya bos kerja di kafe. Kan ngga lucu.”
“Ya, terus dapat uangnya dari mana?”
“Ya elah, ni bocah. Masih pingsan? Laki lu kaya say, masa ngga di kasih kartu limited-nya?”
“Apaan tuh?”
“Laki lu ngga ngasih uang belanja buatmu?”
Kira menggeleng,
“Masa sih?”
“Bener, buat apa aku bohong sama kamu, Vy.” Jawab Kira. Kira memang tak pernah menyembunyikan apapun dari Ivy. Sehingga Ivy tak mampu lagi berkata-kata.
"Kenapa kamu bisa pingsan?" Tanya Ivy mengganti topik obrolan.
"Kelelahan, dehidrasi dan belum makan" Jawab Kira santai. Dia melenggang ke meja panjang tempatnya menghabiskan jam kerjanya.
"Emang nyangkul? pake kelelahan segala?" Sahut Ivy.
Kira hanya mengangkat bahu. Dia sendiri tidak tahu apa yang di maksud kelelahan oleh dokter.
"Emang semalam berapa ronde?" Ivy menyenggol lengan Kira.
"Apa sih? Mikir dong, Vy. Mana mungkin itu terjadi, kita ngga saling kenal, ngga saling cinta. Itu ngga mungkin terjadi" Kira menimpuk Ivy dengan tas yang hendak di taruhnya.
"Mungkin, Ra. Laki ngga butuh perasaan untuk itu. Percaya deh, hanya tinggal nunggu waktu yang tepat dan romantis untuk menghanyutkan kalian kesana" Ucap Ivy centil. Ivy menumpu badannya di meja. Matanya mengawasi Kira yang menolak membalas tatapannya. Ivy merasa Kira menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tidak mungkin, Vy. Bagaimana kalau dia masih mengharapkan kekasihnya kembali?" Mengucapkan ini, Kira merasa sakit. Hatinya mulai tak rela. Hatinya mulai serakah. Andai boleh.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu?"
"Dia bilang sendiri. Dan aku hanya pengacau dalam hubungan mereka."
Baik Ivy maupun Kira, membisu. Jika ini yang jadi masalahnya, Ivy pun tak tahu harus berbuat apa.
.
.
Sekitar menjelang waktu makan siang, kafe mulai ramai di kunjungi pelanggan. Kira dan Ivy mulai sibuk melayani pelanggannya.
“Wah, wah. Mantan iparku kerja di sini rupanya?” Kira mendongak melihat siapa yang bersuara.
Kira menghembuskan nafas, ketika melihat siapa yang berbicara.
“Say, lihat tuh mantan iparku yang sok-sokan minta cerai, jadi apa dia sekarang?” Riana mencolek sahabatnya. Menunjuk Kira dengan dagunya.
Teman-teman Riana mulai riuh mengejek Kira.
“Gini nih, orang miskin yang tiba-tiba jadi kaya karena nikahin kakak ku, dan sekarang kembali lagi ke asalnya. Kasihan”
Mereka tertawa riuh mengejek Kira dan berjalan menuju meja tak jauh dari tempat Kira berdiri.
Kira mencoba bersabar. Di tengah kafe yang ramai pengunjung, Kira tak mungkin membuat keributan.
“Kenapa dia?” bisik Ivy.
“Biasa, kemarin ke pelintir” Balas Kira berbisik pula. Ivy dan Kira tertawa lirih.
Riana dan 4 orang temannya mendominasi kafe dengan suaranya yang heboh. Dia seperti pemenang, saat mengintimidasi Kira dengan membawa rombongan.
Kira sama sekali tak gentar, dia hanya tau di mana tempat untuk ribut. Dan di sini bukan tempat yang tepat. Di sini tempatnya dan Ivy mengais rezeki. Dan, apa yang di dapat dengan menunjukkan kedigdayaan yang bukan miliknya?
Kira tahu siapa yang di bawa Riana kesini. Mereka keluarga orang-orang penting dan terpandang. Dulu, Kiralah yang menyuguhkan mereka makanan dan minuman ketika mereka berkunjung ke rumah.
Kira memang tidak berbangga diri karena menikah dengan Rian. Penindasan yang di lakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dirasakan Kira selama 10 tahun tinggal bersama mereka. Menoleh ke masa itu, kini Kira bisa tersenyum, lepas dari perbudakan berkedok rumah tangga.
Kira dan Ivy memandang Riana dengan pandangan mencemooh. Namun, itu tak membuat mereka sadar diri. Bertindak menyebalkan dan angkuh adalah ciri khas Riana dan Ibunya.
.
.
.
Hayooo....yang sudah sampai sini, tapi belum kasih jempol, sekrol ke atas lagi, dan beri author dukungan like, syukur mau komen🤭.... jempol para reader adalah semangat author. Komen readers, motivasi author untuk lebih baik lagi.
Terima kasih🥰🥰
__ADS_1