Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Beda Aliran


__ADS_3

Benar apa yang di perkirakan oleh Kira. Selama tiga hari di rawat, Viona pulang dengan wajah yang lebih segar. Kira meminta Dokter Vivian merawat Viona dengan intensif, setidaknya, dia harus bisa mengubah pikirannya tentang makan.


Kira memasang wajah tidak peduli, setelah senyumnya terkembang barusan. Dia harus kembali menjadi wanita jahat, di depan Viona. Meski dia akan merasa lelah nantinya, karena harus berpura-pura. Tapi, hasil dari aktingnya, sangat bagus.


Viona masuk ke dalam rumah, hendak menaiki tangga. Namun, dengan cepat, Kira meneriakinya.


"Kau mau kemana?," Hardik Kira dengan tangan bersedekap dan tubuh bersandar di sebuah lemari.


"Bukan urusanmu, tidak usah sok peduli, kau membuatku mual," Jawab Viona sengit.


"Kamarmu bukan di sana lagi, tapi di sana," Kira menunjuk kamar tamu yang berada di ujung kiri rumah.


"Kau benar-benar menunjukkan tajimu," Viona memdengus kesal karena Kira mulai berani menyuruh-suruh dirinya. Namun, dia meneruskan langkahnya menuju lantai atas.


"Kau tuli? Barang-barangmu sudah tidak ada di sana. Sudah di pindah ke kamar tamu," Kira buru-buru mencegah Viona ke atas. " Kamar itu sudah di kunci. Menurutlah, atau kau mau Harris memdepakmu bahkan sebelum kau bisa merebutnya dariku."


"Kau sungguh menyebalkan," Viona merapatkan giginya, hingga terdengar bunyi gemeletuk yang mengerikan.


Viona berjalan turun dari anak tangga yang di pijakinya. Manik matanya tak terputus dari wajah datar Kira. Mereka berdua beradu pandang, seperti kucing dan tikus.


Kira tersenyum, dalam keadaanya yang ringkih, akan sangat riskan membiarkan Viona naik turun tangga. Terkadang wanita itu suka sekali tergesa-gesa, jadi demi keselamatan semuanya, Kira menempatkan Viona di kamar tamu.


"Rina, pastikan semuanya aman ya, jangan sampai lantai licin. Juga, pastikan Viona makan dengan benar. Jika dia menolak makan, kamu bilang saja, Harris akan memarahinya. Oke," Kira menemui Rina yang sedang membereskan dapur.


"Baik, Nona. Saya akan melakukan semua perintah Nona," Rina mengangguk. Dia paham benar apa yang di maksud Nona nya.


"Oke, dan tolong perhatikan Kristal dengan baik, Rin. Pastikan dia makan dengan benar, dan sering-sering ajak di ngobrol," Kira segera berbalik sebelum Rina menjawab. Rina sedikit ragu. Dia? Harus mengajak seorang anak ngobrol? Rina tidak yakin akan bisa.


Entah dari mana datangnya, yang pasti ini perintah Papa mertuanya. Dua orang ART lagi datang, sejak pagi tadi. Kira hanya mengangkat bahu, dan buru-buru mencegah ketika Harris hendak menelpon Papanya, untuk protes. Harris memang tidak suka rumahnya terlalu banyak orang asing. Tetapi, menolaknya akan menyinggung perasaan Papanya. Setelah perdebatan beberapa waktu lalu. Kali ini, sebaiknya, menurut saja, toh mereka akan sangat membantu, terlebih saat nanti Viona sudah kembali ke dirinya yang, angkuh.


Kira sedang melakukan panggilan Video dengan keluarganya yang masih di kampung. Entah anak-anak yang memang suka suasana pedesaan atau karena mereka mengerti bahwa Mamanya kali ini akan kerepotan dengan pertanyaan nyinyir Jen soal Viona, Excel memaksa Jen untuk tetap tinggal. Menghabiskan sisa liburan semester yang bahkan belum di mulai. Dan, Harris, meminta Santi mengurus anak-anak selama di sana, juga meninggalkan 4 orang yang akan mengurus semua keperluan mereka di sana.

__ADS_1


Di luar, tiba-tiba, terdengar keributan kecil, dan bisa di pastikan itu akan menjadi keributan yang besar nantinya.


"Ada apa ini?," Kira keluar rumah, melihat empat orang yang berbeda aliran sepertinya. Yang dua sangat rapi khas pegawai kantoran, yang dua lagi, beraliran punk atau metal atau preman. Entahlah, yang pasti wajah mereka seram, meski jika di bayangkan, kepala plontos licin itu mirip seperti, tuyul.


"Kau Viona? ," Sergah tuyul satu yang badannya tinggi dengan lengan kekar. Doni yang siaga di samping Kira, menghalangi orang itu, dengan memasang badan di depan Kira.


"Bukan, memangnya, kenapa dengannya?," Kira sedikit menggeser badannya sedikit kesamping agar bisa dengan jelas merekam 4 wajah asing di depannya.


"Hutang-hutangnya sudah menumpuk, beserta bunganya. Kemana dia bersembunyi sekarang?," Tuyul dua yang bertubuh lebih pendek tetapi otot tangannya menyembul bahkan ketika tangannya sedang dalam mode santai. Kira bergidik ngeri, saat membayangkan lengan itu mengenai wajah atau tubuh seseorang, remuk jika lebam akan meninggalkan bekas.


"Ada, dia ada, berapa jumlah hutangnya?," Kira memilih segera menyelesaikan urusan Viona. Ia enggan jika harus berurusan dengan orang-orang yang menyeramkan ini.


Salah seorang menyodorkan kertas, melihat tulisan yang hanya tertulis tangan, jelas ini lintah darat, dan jumlahnya bukan main. Bahkan Kira bisa membuat sebuah rumah yang amat sangat layak huni dengan uang sebanyak itu.


"Oke, akan saya lunasi segera," Kira menangkat wajahnya dari kertas itu. "Dan, anda berdua?,"


"Sama, Nyonya. Kami juga menagih hutang kepada Nyonya Viona, sudah 3 bulan, Nyonya tidak membayar kreditnya pada kami," Jawab salah seorang pria berbaju biru muda. Sembari menyodorkan lembaran kertas. Melihat angka itu, bola mata Kira nyaris keluar dari tempatnya. Fantastis.


"Baik, Tuan. Saya akan membayar tunggakannya, dan membayarnya tiap bulan. Saya tidak punya uang sebanyak itu untuk melunasinya," Kira tersenyum. Ada uang. Tinggal minta, tapi dia akan meminta terlalu banyak dalam sekali waktu. Itu tidak etis sama sekali, sekalipun, kepada suaminya sendiri.


"Baik, Nyonya. Itu lebih baik," Jawab pria tadi.


Kira mulai melakukan transfer ke pada debt collector itu, sebagian, dan berjanji akan melunasinya esok. Penarikan uang berlebihan, di khawatirkan akan menimbulkan masalah untuknya.


Mereka setuju, dan mempercayai Kira. Namun, Kira mengajukan syarat yang sedikit membingungkan mereka. Tetapi mereka mengiyakan, di tambah iming-iming uang lelah yang cukup untuk sekedar jajan cilok.


Mereka berempat meninggalkan halaman, Kira menghela nafas, semoga Viona mengerti akan pengorbanan Harris yang tidak sedikit ini. Kira melangkah masuk ke dalam rumah sembari mencoba menelpon Harris. Tetapi entahlah, Harris belum menjawab panggilannya. Akhir-akhir ini dia kembali sibuk.


"Kau melihatnya?," Tanya Kira kepada Viona yang hilir mudik di ruang depan. Tangannya saling meremas, wajahnya yang masih pucat semakin pucat.


"Apa katanya?," Viona balas bertanya. Dia sangat gugup dan ketakutan.

__ADS_1


"Hutangmu menumpuk, dan aku heran untuk apa uang sebanyak itu? Apa kau tidak punya penghasilan hingga harus berhutang?," Kira sedikit meninggikan suaranya. Kesal.


"Iya, selama beberapa bulan aku tidak bekerja, dan aku tidak bisa lagi membayarnya," Balas Viona. Dia juga sedikit berteriak. Menyamai suara Kira.


"Jadi kau kesini untuk sembunyi?," Kira mencoba menebak, jika itu benar, dan jika Harris tahu, Viona akan angkat kaki dari rumah ini selamanya.


"Iya, bisa di bilang seperti itu," Jawab Viona lemah. Dia semakin ketakutan. Takut karena modus lainnya terungkap lagi.


"Tabungan dan semua aset milikku di bawa Della, dan dia kabur sekarang. Jadi aku tidak punya apa-apa lagi," Sambungnya.


Kira menghela nafas, "Tidak ada yang bisa kau jual sama sekali?."


Viona menggeleng, "Ada, barang-barang yang bisa di jual lagi, tapi itu tidak akan mampu menutup semua hutangku."


Kira menggeleng, heran dengan wanita satu ini, dia juga terlalu naif. Mudah percaya kepada orang lain, sama seperti dia.


" Begini saja, kau jual apa yang bisa kamu jual, nanti aku akan bilang sama Harris, siapa tahu dia mau membayar hutangmu. Tapi, kau juga harus patuh padanya, jangan berbuat ulah yang bisa membuatnya merugi, kau mengerti?."


Viona menunduk, ragu, tetapi apa dia punya pilihan selain menuruti saran Kira?. Dengan berat, akhirnya dia mengangguk. Pasrah. Dia seperti kalah sebelum berperang, dan dia sudah kehilangan muka untuk sekedar bermanis-manis di depan Harris. Ah, adakah kekalahan yang lebih menyedihkan dari ini?


Lebih baik seperti ini, membuatnya merasa berhutang budi kepada Harris. Jika anak itu bukan milik Harris, cepat atau lambat dia akan mengakui, sebab sungkan pada kebaikan Harris. Tetapi, jika dia tetap bersikukuh, Kira berharap, setidaknya, Viona tidak membuat masalah yang akan merugikan Harris.


β€’


β€’


β€’


β€’


Mohon maaf ya readers, sejak kemarin, author lagi batuk pilek, jadi up nya agak terganggu. Semoga hari ini, Author bisa up 2 bab.πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š

__ADS_1


Salam sehat dari Author


__ADS_2