
Seorang wanita duduk di ujung bangku sambil mendekap erat tas yang menyilang di dadanya. Meski terlihat aneh, dia tidak peduli. Berulang kali dia menatap sekeliling dengan perasaan curiga. Sesekali, dia menarik outer yang di kenakannya lebih rapat agar bagian depan tubuhnya tertutup sempurna.
Orang-orang dalam bus itu, melayangkan tatapan penuh penilaian. Wanita itu seperti ketakutan, tangannya yang bergerak diluar kendali memegang erat besi di sebelahnya. Tubuhnya sedikit miring menekan besi pembatas bangku. Sedikit menyeramkan dengan pipi yang membiru dan sudut bibir yang seperti ada bekas luka sobek. Lingkaran hitam membingkai kedua matanya yang bergerak liar menatap ke seluruh penumpang bus. Seakan takut akan di telan bulat-bulat.
Bus berhenti di halte tak jauh dari sebuah pusat penjualan barang-barang berharga. Melisa yang masih gemetaran dan berkeringat dingin, perlahan turun dari bus yang di tumpanginya. Mengabaikan tatapan aneh yang tertuju padanya, dia segera melangkah tertatih menuju sebuah toko perhiasan di mana batu mulianya di perjualbelikan.
Melisa merapatkan lagi outer panjang hingga di bawah lutut berwarna cokelat susu, menelan seluruh tubuhnya, rambutnya yang sedikit berkibar beberapa helai akibat tertiup angin membuat penampakannya semakin aneh. Untuk ukuran kawasan elite ini, penampilan Melisa mengundang kecurigaan, dan sedikit merusak mata.
Bahkan hingga dirinya masuk ke salah satu toko perhiasan dimana sertifikat batu mulianya berasal, dia masih di pandang sebelah mata. Beberapa orang mulai memasang gestur waspada. Namun tidak mengurangi kualitas pelayanan mereka.
Setelah menunjukkan setifikat dan beberapa perhiasan miliknya yang hendak di jualnya, Melisa menunggu sebentar. Mereka masih memeriksa keaslian berlian tersebut.
"Maaf, Nona. Sebenarnya toko kami tidak memakai jasa perantara untuk memperjual belikan berlian. Dan saya dengan sangat menyesal mengatakan bahwa semua berlian ini palsu," pegawai wanita itu mendorong beberapa kotak perhiasan itu ke arah Melisa.
Melisa gemetar, dia tidak mampu berkata-kata. Semua uangnya? Jumlah yang sangat tidak sedikit? Melisa mengambil salah satu kotak dengan batu-batu berkilauan di dalamnya. Matanya menatap nanar satu set perhiasan yang di belinya dengan harga fantastis.
"Bagaimana bisa? Ini ada sertifikatnya, Nona! Bagaimana mungkin bisa palsu?" Protes Melisa tidak terima. Meski dia sangat marah, tapi dia masih menahan diri. Jika tidak ingin di usir sebelum mendapatkan penjelasan.
"Nona, seperti yang anda tahu, kami menjual perhiasan kami secara eksklusif dan dengan jumlah terbatas. Bahkan kami menerapkan sistem pre order. Dan saya rasa, anda kurang memahami batu mulia, Nona, bahkan hanya dalam sekali lihat, terlihat sekali bahwa perhiasan ini palsu. Kami tidak menjual model seperti ini. Kami tidak menjual satu set perhiasan, tanpa memesan terlebih dahulu. Anda bisa melihat sendiri tentunya," wanita itu menunjuk beberapa set perhiasan yang terlihat simpel namun sangat elegan. Berbeda sekali dengan perhiasan yang di bawa Melisa tadi. Sangat mencolok.
Belum habis keterkejutan dan kekaguman Melisa akan perhiasan yang sangat menyilaukan mata. Beberapa orang terlihat memasuki toko dengan sambutan berbeda dengannya.
Wanita dengan rambut di gelung cepol dengan beberapa helai rambut hitamnya menjuntai bebas di sisi kiri dan kanan kepalanya. Tubuh rampingnya terlihat semakin indah dengan balutan dress polos berwarna lembut. Wanita itu sangat berkelas, meski bukan barang branded yang melekat di badannya.
Dan, pria itu, terlihat sangat berpuas diri dengan wanitanya. Bahkan di hadapan manager toko ini, dia tak segan menunjukkan perhatiannya pada wanitanya. Beberapa karyawan wanita terlihat merona dan mengumpulkan kedua belah telapak tangannya di bawah dagu. Lupa sikap profesional mereka untuk sesaat.
"Nona, saya mohon maaf sebelumnya, tapi, anda harus segera pergi. Sebenarnya pemalsuan ini tidak di benarkan, tetapi, saya rasa anda juga korban. Saya turut prihatin dengan semua ini. Saya harap anda bisa lebih berhati-hati lain kali," Ucapan karyawan wanita itu membuyarkan lamunan Melisa. Membawanya kembali pada kenyataan bahwa dia telah tertipu. Bahkan selama bertahun-tahun dia memamerkan perhiasannya pada seluruh teman dan memakainya saat mengikuti acara resmi suaminya. Ingin rasanya aku mati saja sekarang, batin Melisa.
Wajah Melisa memutih, kakinya seakan tak mampu menopang tubuhnya. Dia sangat shock, "Bolehkah saya beristirahat sebentar di sini, Nona?"
"Tentu, Nona. Tetapi, maafkan saya, anda tidak boleh terlalu lama di sini, saya takut akan membuat atasan saya curiga pada anda. Anda mengerti maksud saya kan, Nona?" Wanita itu iba melihat Melisa yang semakin pucat. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain menaati aturan yang ada.
Si pegawai wanita tadi berlalu dari hadapan Melisa, tetapi, tak lama kemudian dia kembali membawa sebotol air mineral yang masih tersegel, dan mengulurkan kepada Melisa.
__ADS_1
"Minumlah, Nona!" Pegawai itu tersenyum. Melisa bukan satu-satunya orang yang tertipu dengan perhiasan bernama berlian. Kurangnya pengetahuan dan gaya hidup yang sarat dengan prestis, membuat Melisa dan wanita lain, mudah di perdayai oknum tertentu.
Melisa menangis pilu. Dia ingat bagaimana dia melindungi hartanya. Dan dengan harapan tinggi dia akan mendapat uang dari penjualan berlian ini. Tetapi, kenyataan menampar dirinya lebih keras. Sakitnya tidak terkira. Setelah semalam, kini bahkan matahari belum sempat meninggi, dia sudah harus terluka lagi. Marah? Dia bahkan tak punya tenaga untuk menggeser kakinya, apalagi untuk sekedar melampiaskan amarah. Huft.
Di lihatnya, beberapa orang itu hilir mudik dari ruangan khusus, sepertinya suami istri tadi adalah tamu VIP. Melisa meneguk air dalam botol itu. Seakan ada puluhan batu memenuhi kerongkongannya. Sesak. Tangan Melisa mendobrak dadanya berulang kali. Merontokkan batu, agar dadanya tak lagi sesak.
Nasibnya sungguh sial, dia yang menginginkan kehormatan malah orang lain yang mulia. Dia yang menginginkan kekayaan tapi orang lain yang bergelimang harta. Dia yang menginginkan tahta tapi wanita lain yang menjadi ratu. Apa yang salah denganku? Batin Melisa tidak terima.
Melisa benar-benar pergi setelah salah seorang petugas keamanan menggiringnya keluar. Bukan lagi sakit badan yang membuat langkahnya terseok tetapi kenyataan bahwa dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Melisa menatap hampa jalanan di depannya, pandangannya mulai kabur, kepalanya pusing dan berat. Terhuyung, sebelum terduduk. Tetapi, dia masih sadar, susah payah dia bangkit lagi, lalu mencari tempat untuk berteduh. Nafsu akan harta membuatnya menjadi lemah dan gila.
Hingga beberpa saat berlalu, dilihatnya dua orang tadi keluar dari toko perhiasan. Entahlah, tiba-tiba saja hatinya merasa terbakar melihat raut wajah penuh kebahagiaan yang terpancar dari wanita itu.
Entah dapat energi dari mana, Melisa setengah berlari menghampiri wanita itu. Tangannya sudah mekar siap untuk mencakar mangsa yang di intainya.
Saat suaminya sedang menerima telepon dan asistennya sedang membuka pintu, serta merta dia menarik kuncir cepol wanita itu yang tak lain adalah Kira.
"Awh, sakit!" Kira yang tak siap dengan serangan musuh dari belakang, mengaduh kesakitan. Kira tertarik kebelakang dengan langkah mundur. Cengkraman itu semakin kuat, serasa kulit kepalanya ikut terlepas.
"Itu akibatnya jika kau terlalu sombong, Nona!" Ucap Melisa dengan gigi yang beradu. Geram.
Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan Johan dan Harris sudah mati langkah. Namun ketika mereka mendekat, Kira sudah memelintir tangan Melisa kebelakang punggungnya. Kini, Melisa lah yang menjerit kesakitan.
"Kenapa kau selalu muncul, Mel? Apa tidak cukup kau merebut suamiku? Kini kau masih ingin menyakitiku lagi?" Kira sangat kesal. Tetapi dia berniat mengakhiri segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya.
"Belum, sampai aku membawamu ikut hancur bersamaku!" Jerit Melisa. Wajahnya yang semula pucat, kini memerah menahan sakit.
"Kau salah Mel! Kau sudah menghancurkan aku sekali, dan kau tidak bisa menghancurkan abu bukan? Aku adalah abu yang akan terus berada di sekitarmu!" Kira menarik lebih kencang. Sehingga Melisa berteriak lagi.
Johan hendak melerai keduanya, karena kini mereka menjadi pusat perhatian. Namun. Harris mencegah langkah Johan.
"Tapi, Tuan-,"
"Biarkan dia menyelesaikan semuanya." Ucap Harris datar.
__ADS_1
"Baik, Tuan," Johan mengangguk, meski dia merasa tidak suka dengan keputusan bosnya.
"Aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak menyerangmu terlebih dahulu, tapi sekarang, aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi! Ku harap kau sadar dengan kelakuanmu! Jangan sampai ada Kira lain, yang lebih kejam padamu lebih dari pada aku," Kira merapatkan bibirnya, menarik Melisa lebih kencang lalu menghempaskan dengan sedikit dorongan.
Melisa terhuyung kedepan beberapa langkah dan ambruk ke tanah. Tangannya serasa hampir lepas dari sendinya. Meringis menahan sakit di lutut dan tangannya. Tak ada yang menolong, tak ada yang bersimpati padanya. Mereka hanya menonton lalu pergi. Melisa berdiri menahan malu dan sakit. Lalu berjalan menunduk melewati beberapa orang yang masih bertahan di sana. Cemoohan dan ejekan menghampiri telinga, sehingga membuat Melisa menutup telinganya.
Melisa berjalan cepat, hingga sampai di sebuah taman kecil dan kosong. Melisa berteriak, menangis. Berlutut. Hidupnya sudah hancur. Berakhir.
***
"Apa masih sakit?" Harris mengusap rambut yang sudah terbebas dari ikatannya. Kira menggeleng pelan dalam dekapan suaminya.
"Lebih baik sekarang?" Harris sedikit menundukkan wajahnya agar bisa melihat dengan jelas wajah istrinya.
Kira menarik dirinya, lalu duduk dengan tegak. Senyum terbit dari kedua sudut bibirnya, "Belum pernah sebaik ini!"
Harris tersenyum, "Ku harap setelah ini kita bisa hidup dengan tenang! Dan kau," Harris mencubit hidung istrinya. "Tidak menangis lagi!"
Kira merengut, "Ku harap dia jera, Yang! Jangan sampai aku benar-benar meremas mulutnya yang menyebalkan itu!"
"Kau sangat menyeramkan!" Harris menarik sedikit tubuhnya ke sisi mobil. Matanya menyipit takut.
Kira mendengus sebal. "Jangan dekat denganku kalau begitu," Mata Kira melirik tajam, sengit.
"Mana bisa, Yang?" Harris menarik istrinya ke dalam dekapannya lagi. "Bisa gila jika aku jauh darimu,"
Harris mengecup sekilas bibir berpulas warna soft pink itu. Awalnya. Tapi, yah, entahlah. Tiba-tiba saja, Johan merasa gerah mendengar suara menggelitik telinga.
"Kuatkan aku, Ya Tuhan," Batin Johan sambil memutar rear-view mirror dengan tangan kirinya, ke arah bawah.
•
•
__ADS_1
•