
Harris dan Johan kini tengah berada di ruang kerja, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena kejadian beberapa hari terakhir. Johan memang tidak secerdas Reno, tapi dia cukup membantu.
Semenjak mengikuti kemauan Papanya, urusannya di dunia bisnis lebih mudah. Dan entah bagaimana, pesaing bisnis yang awalnya selalu mengacau di setiap proyek kerja samanya, kini, menyingkir dengan sendirinya. Harris menduga, ini adalah campur tangan Papanya dan Asisten Toni.
Dulu, walaupun Star bagian dari grup WD, dan Harris adalah pewaris grup WD, para rival bisnis itu tak segan menikung Harris dengan berbagai cara. Meskipun, pada akhirnya, berkat kemampuan mumpuni Harris, Reno dan Marsha, juga Johan sebagai pemimpin tim pengawal, mereka selalu berhasil mempertahankan eksistensi Star.
Dan, besok adalah, hari terakhirnya berada di Star karena secara resmi Tuan Dirga akan memperkenalkannya sebagai pengganti dirinya. Beban yang sangat besar tentunya, tetapi Harris tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Papanya.
Dua jam sudah mereka menyelesaikan tumpukan kertas di hadapan mereka. Harris merenggangkan tubuhnya, kedua jari tangannya saling mengait satu sama lain di atas kepalanya. Lelah, tentu saja di rasakan pria penuh pesona ini. Mata hitam setajam elang miliknya menatap jam yang tergantung di dinding.
"Apa rencana anda mengenai Star, Tuan?" Tanya Johan.
"Sementara Reno belum kembali, Marsha akan bertanggung jawab di Star" Jawab Harris. "Bagaimana menurutmu?"
"Marsha memang bisa di andalkan, Tuan. Saya yakin, dia mampu menjalankan perusahaan dengan baik," Jawab Johan.
“Jo, istirahatlah, ini sudah larut” Perintahnya kepada Johan yang masih menaruh perhatiannya pada lembaran kertas di depannya.
“Anda juga harus beristirahat Tuan, besok adalah hari yang sangat penting” Jawab Johan.
“Tentu saja, aku akan memeriksa anak-anak terlebih dahulu” Harris bangkit dari kursi putar miliknya, lalu melangkah menuju pintu. Johan melongo tak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya. Matanya mengekori Harris yang telah meninggalkan ruangan.
“Wah, perlu lapor Big Bos ini” Gumam Johan. Johan, sejak Harris menikah dengan Kira, adalah agen ganda. Sesuai dengan perintah Tuan Dirga, Johan di minta untuk mengawasi Harris. Tuan Dirga khawatir dengan temperamen buruk Harris, bisa saja Harris menyakiti Kira. Namun, kekhawatiran itu, sampai detik ini, tidak pernah terjadi.
Johan, di beri kesempatan bekerja di bawah Asisten Toni. Kesempatan yang sebenarnya sangat dia tunggu selama 10 tahun bekerja dengan Harris. Johan mendapat akses ke “markas” Asisten Toni dan rahasia di balik serba tahunya Asisten Toni. Namun, Johan harus menahannya, karena tidak ingin menyinggung Harris yang kurang menyukai Asisten Toni.
Harris membuka pintu kamar ketiga anak Kira, yang sekarang adalah anak Harris juga. Entah magnet apa yang di miliki Kira dan ketiga anaknya, Harris selalu tertarik dengan mereka. Setelah mengetahui, Kira lah yang menyelamatkannya, kini dia punya alasan untuk membuka hatinya untuk mereka.
__ADS_1
“Hanya orang bodoh yang menelantarkan malaikat manis seperti mereka” Gumam Harris sembari tersenyum. Dia hanya melihat tanpa menyentuh, khawatir akan membangunkan mereka. Bagaimanapun, mereka belum akrab dengan Harris. Harris sendiri takut jika mereka menolak ketika Harris mendekat. Melihat tatapan si sulung yang sangat dingin, Harris tidak yakin mereka menyukainya, walaupun melihat gadis kecil dengan pipi bulat itu, hatinya tergoda untuk mengigitnya. Dan ya, si pria kembaran gadis kecil ini, selalu mengingatkan Harris akan dirinya sewaktu dia seusianya.
Rian pria beruntung yang mempunyai dua wanita yang mampu memberinya kebahagiaan seperti yang Harris inginkan. Sedangkan Harris, memiliki segalanya, tetapi hidupnya hampa. Kosong, seperti tubuh tanpa nyawa, hanya kerangka berkulit.
Harris mendesah pelan, kini, dia akan memulai hidupnya yang baru, meskipun tidak ada cinta di antara keduanya, waktu yang akan berbicara. Seperti kata Papanya, tidak buruk menikah karena perjodohan. Dan itu benar, di usia Harris sekarang, bukan saatnya membicarakan cinta bak abg. Bagi pria dewasa, cinta adalah sesuatu yang rumit, semakin di cari, semakin bersembunyi. Semakin di kejar, semakin jauh. Tetapi, bila berdiri di tempat yang benar, dan memasang umpan yang tepat, cinta akan datang dengan sendirinya. Hanya soal waktu dan seberapa dewasa pemahaman seseorang akan cinta.
“Semua sudah saya bereskan, Tuan. Nyonya pasti sudah menunggu” Ucap Johan menahan senyum, saat menggoda Tuannya.
“Kau iri?” Harris berdiri tak jauh dari Johan. Tangannya di masukkan ke saku celana hitam yang dikenakannya, ditambah kaus berleher tinggi, yang menutupi lehernya, membuatnya semakin mempesona.
“Bolehkah saya iri, Tuan?” Johan melanjutkan membereskan meja. Bagaimana tidak iri dan kesal? Johan yang pertama menemukan Kira, saat mengantar anaknya ke rumah waktu itu, dan Johan menyangka Kira wanita bersuami. Kini, wanita yang telah membuatnya tertarik, menjadi istri Bosnya.
“Silakan, sebanyak yang kau mau” Jawab Harris santai.
“Saya tidak akan mampu, Tuan. Dan tidak mau,” Johan tersenyum kepada Harris. Dan Harris hanya tertawa lirih.
“Jadi, sekarang saya tidak perlu lagi, memesan sekotak balon untuk anda ‘kan?” Sambung Johan. Dia berusaha mengusir perasaan yang sejak awal mengganggunya.
“Apa kau sudah membuangnya?” Tanya Harris kesal karena Johan menggodanya.
“Sudah, Tuan. Laci anda kini telah bersih dari barang bukti kejahatan” Tawa Johan menggema di seluruh ruangan.
Harris berdecak kesal, apa itu juga kejahatan? Katanya, itu adalah cinta. Apa cinta sebuah kejahatan?
“Tidurlah, Tuan. Nyonya pasti kesepian,” Ucap Johan disela tawanya.
“Kau terlalu lama menduda, rupanya. Kau tidak lihat, betapa galaknya dia?” Harris meninggikan suaranya. Dia kesal karena Johan mengejeknya. Dia tahu semuanya bukan?
__ADS_1
“Wow, wow, ada yang tidak bisa di taklukkan Tuan Harris Dirgantara, rupanya?” Sindir Johan.
“Kau pikir bisa serta merta mencium wanita? Bisa-bisa kau di penggal saat itu juga. Bodoh” Harris berdecih. "Lagipula, kami tidak saling mencintai"
“Lelaki bisa melakukannya tanpa perasaan cinta. Apalagi, Nyonya adalah istri sah anda, halal, Bos. Apa mungkin anda masih berpikir, Nyonya orang lain? Sementara orang lain di perlakukan seperti istri?” Johan berlari keluar dari ruangan itu secepat kilat. Dia tau apa yang akan di lakukan Harris setelahnya.
“Awas kau, Jo. Akan ku beri kau pelajaran, besok” Harris yang sudah kalah langkah memilih berteriak. Yang pasti Johan mendengarnya.
Harris mengambil ponsel miliknya, dan tas kecil milik Kira yang tadi siang diambil Johan dari tempat kerjanya. Penasaran dengan isi tas dan ponsel milik Kira, Harris membukanya. Isinya hanya dompet dan ponsel juga beberapa buah plester dan sebuah pulpen. Harris mengernyit, heran dengan bawaan wanita satu itu. Tidak ada benda khas wanita di sana.
Dompet yang hanya berisi beberapa lembar uang, yang jumlahnya tak sampai sebelah jari tangan jika di hitung. Sebuah kartu ATM, SIM C, KTP dan sebuah kartu member arena permainan.
Ponsel, pertanyaan pertama yang muncul di pikirannya, ini ponsel keluaran tahun berapa? Ingin rasanya Harris tertawa, tapi mengingat kehidupan keras Kira, dia sepertinya paham kesulitan wanita itu. Jadi, dia tidak berbohong ketika mengatakan tidak di beri nafkah mantan suaminya, pikirnya.
Harris mendesah pelan, kasihan. Harris melangkah keluar pintu ruang kerjanya dan menuju kamarnya. Harris tak henti berpikir bagaimana cara memberi sesuatu kepada Kira tanpa menyinggungnya.
Harris menutup pintu pelan-pelan agar Kira tidak terbangun. Wanita ini benar-benar mengikuti apa yang di perintahkan Harris. Tanpa rengekan, tanpa banyak alasan. Harris memandangi lekat-lekat wanita yang tengah tidur di sofa, gurat kesedihan menghiasi wajahnya. Entahlah, cantik itu seperti apa, Harris terbiasa denga wanita yang memakai foundation tebal. Jadi dia merasa aneh melihat Kira yang tampil apa adanya. Menunjukkan pori-pori dan bekas jerawat di wajahnya tanpa malu. Bahkan Marsha yang kaku itu masih memakai bedak.
Harris merasakan benar kedalam hatinya. Membandingkan dengan saat bersama Viona. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada debaran, tidak ada rasa yang meluap-luap, dan tidak ada kebahagiaan yang membuncah. Tetapi, ketika Harris menyisihkan helaian rambut di wajah Kira, ada perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhya. Harris tersenyum, ada, ada bahagia di sana, tenggelam di manik mata coklat yang kini terpejam.
Harris memindahkan Kira ke ranjang, pasti tidak nyaman tidur di sana. Apalagi setelah sakit, Kira membutuhkan istirahat yang baik.
“Babi! Berat sekali” pikirnya.
Harris meletakkan Kira dengan hati-hati, agar tidak terbangun dan menyelimuti tubuhnya. Harris berbaring berhadapan dengan wanita yang telah menjadi istrinya. Dan Harris masih memandangnya berlama-lama. Wajah penuh kesedihan, wajah yang selalu butuh perlindungan dan kasih sayang. Wanita yang selalu bahagia dengan caranya sendiri, bahagia yang di ciptakan sendiri, bukan merebut kebahagiaan orang lain. Harris masih betah memandangi Kira hingga matanya terasa berat dan lelah. Tanpa di sadari, dia akhirnya tertidur. Tidur dalam selimut yang sama.
.
__ADS_1
.
.