
Ketika Giza sampai di ruang kerja, salah seorang teman memberitahukan bahwa tadi Harris mencarinya, sehingga Giza langsung menemui Harris di ruangan Rio.
Masih ada Dirga di sana, tetapi Johan sudah tidak ada. Giza menghela napas, sebelum melangkah lebih dekat ke arah dua orang yang tampak tegang itu.
"Giza—"
"Saya ingin semuanya berhenti di sini, Tuan," sela Giza dengan tegas.
Hal itu membuat Harris dan Dirga saling pandang. Giza sudah tahu? Dari mana? Dan ... apa yang berhenti?
"Saya tidak ingin lagi semua ini diperpanjang. Ini akan sangat melelahkan, bagi saya, anda, maupun pihak lain. Akan banyak tenaga terbuang, akan ada banyak waktu tersia-siakan. Biar saya seperti ini dengan semua perasaan saya, dan pihak lain dengan rasa yang dimilikinya." Giza membuang napas, menatap lekat dua orang yang sepertinya tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi Giza.
"Artinya, kau akan terus membenci Viona?" Dirga memperjelas maksud ucapan Giza.
"Ya, sampai hati saya puas!" Giza membara. "Garis batas saya sudah jelas, saya ingin anda menyampaikan kepada pihak lain, untuk tidak menyinggung garis yang saya buat. Lebih baik jauh-jauh, agar saya tidak perlu berteriak dan marah!"
Harris menahan napas. Beginikah wanita yang begitu lembut jika sudah mendendam. Tidak ada lagi kelembutan di mata Giza, hanya ada ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Astaga!" Dirga meraup wajahnya seraya berpaling. Dia merasa lebih baik Viona di penjara saja daripada begini. Dirga paham betul sorot mata dingin itu menginginkan apa.
"Setelah ini, tidak ada yang perlu dibicarakan, Tuan. Terutama soal ini. Saya sudah tidak punya permintaan maupun penawaran lagi." Giza membungkukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Dirga, lalu segera undur diri kembali ke meja kerjanya.
Giza melangkah dengan ringan. Tidak peduli pihak sana mau bagaimana menanggapi. Dia sudah memutuskan.
Johan sedang memandang bentuk orange muda yang bergerak kecil di layar. Hidungnya sudah terbentuk dan tampak mancung. Mata Johan basah, tidak menyangka hasil karyanya sungguh menakjubkan. Tampan dan terlihat kuat.
Detak jantung bayinya sangat kencang, dan membuat jantung Johan sendiri seperti tersentak-sentak. Johan sangat bahagia.
"Tolong jangan banyak bepergian, ya ... jangan banyak berjalan dan buat diri anda bahagia. Jarak kehamilan yang terbilang dekat memang sering memicu kontraksi palsu bahkan akan intens ketika kehamilan sudah masuk trimester ketiga. Tolong ayah bunda selalu waspada." Dokter tersebut berpesan setelah selesai dengan pemeriksaan USG.
"Kami mengerti, Dokter." Viona mengangguk, kemudian dengan bantuan perawat, Viona turun dari ranjang.
Dokter itu tersenyum, lalu berkata, "Saya tidak meresepkan apa-apa untuk kali ini, Bunda ... konsumsi saja obat dari dokter sebelumnya. Saya rasa itu sudah cukup."
Dokter itu mempersilakan Viona keluar, setelah tidak ada lagi yang dikeluhkan.
Johan memeluk Viona saat tiba di luar ruangan. "Dia tampan sepertiku, pastinya."
__ADS_1
Viona tersenyum. "Apa yang diputuskan olehmu dan Papanya Harris tadi?"
Johan tercekat, lalu melepaskan pelukannya. "Tidak ada ...," jawabnya seraya menunduk, memandang wajah Viona yang sedikit pucat.
"Kau berbohong," sahut Viona seraya tersenyum kecil. "Katakan saja, aku yakin, aku bisa menerimanya."
Johan memalingkan wajahnya, tak sampai hati mengatakan keputusan itu sekarang. Setidaknya, sampai Viona sedikit lebih tenang.
"Ayo lah, aku memaksa." Viona menarik lengan Johan dan memaksa suaminya itu membalas tatapannya.
"Keputusannya akan diambil setelah bayi kita lahir. Sekarang kamu hanya perlu tenang sampai lahiran, semua akan baik-baik saja." Johan mengatakan pada akhirnya. Dia tidak mau membuat istrinya terus kepikiran.
"Benarkah? Baik hati sekali, ya." Viona membuang napas. Dia teringat dulu, saat Nicky hadir, dia juga akan dipenjarakan. Jika saja waktu itu Harris tidak membatalkan niatnya, pasti dia tidak ada disini untuk menerima vonis mengerikan itu lagi.
"Baiklah, sebaiknya kita nikmati momen-momen kebersamaan kita." Viona menoleh seraya tersenyum, tangannya menggenggam tangan Johan. "Kita tidak tahu berapa lama aku ada di dalam sana."
Johan ikut tersenyum, lalu meraih Viona dalam rangkulannya. "Jadi karena tidak boleh kemana-mana, kita akan menghabiskan waktu di kamar sampai bayinya lahir."
Viona menepuk dada Johan. Tertawa karena ucapan keterlaluan Johan barusan. Selama itu dan hanya berada di kamar? Pasti keluar Viona akan hamil di punggung juga.
Sore hari, Giza sudah pulang dari bekerja. Rega tampaknya juga sudah pulang sebab dari dalam rumah terdengar suara Rega dan beberapa suara lain.
Giza bergegas masuk dan sudah memasang senyum lebar untuk menyambut anak-anak sahabatnya tersebut.
"Halooo, semuanya—"
Wajah riang Giza, senyum ramah di bibirnya, dan sambutan hangat itu langsung lenyap saat mata Giza menangkap sosok Kristal di ruang tamunya.
Giza langsung menbuang muka dan mendengus. "Mama akan mandi, Ga ... kita akan makan di luar. Bersiap-siaplah!"
Giza menatap Kristal yang berdiri dan tersenyum itu begitu dingin.
"Sore Tante ...," sapa Kristal sopan. Tangannya terulur untuk menyalami ibu dari satu-satunya sahabat lelaki yang dimiliki Kristal.
Giza melirik tangan Kristal dan mengabaikannya. Tatapan Giza beralih pada Rega yang berdiri bagai patung.
"Kita harus cepat, Rega!" Giza segera menghindari Kristal, dan beranjak ke kamarnya.
__ADS_1
Rega mengekor kepergian mamanya dengan perasaan yang bercampur. Sedikit malu karena ketahuan Kristal berada di rumah. Padahal, dia sudah berjanji tidak akan berhubungan dengan gadis itu dalam bentuk apapun.
"Aku pulang saja, ya, Ga."
Rega menoleh, saat Kristal sedang mengambil tas sekolahnya yang berada di kursi. Gadis itu tersenyum, tidak tampak terluka atau sedih.
"Maafin Mama, ya, Kris. Harusnya mama belum pulang jam segini." Rega menatap Kristal penuh sesal. Dia tidak bisa membuat suasana jauh lebih baik, dan itu membuatnya merasa buruk.
Kristal tersenyum. "Bukan masalah, Ga ... aku yang maksa kamu ngebolehin aku kesini. Dan, tampaknya, mamamu pulang lebih awal agar bisa makan diluar sama kamu. Berdua saja."
Kristal tersenyum dan meraih tangan Rega. "Em ... ucapanmu waktu itu, apa bisa dikatakan kalau kita sudah lebih dari sekadar teman?"
Rega terhenyak. Kristal ini, kenapa punya pikiran sejauh itu? Dia masih anak-anak, baru remaja belum lama.
"Aku sudah anggap kamu sebagai cowokku, sekaligus calon suamiku. Tapi, kamu boleh Tetap anggap aku orang lain. Biar aku saja yang suka sama kamu sampai kita besar nanti." Kristal menjinjitkan ujung kakinya. Mengecup pipi Rega dengan lembut dan pelan.
"Kalau aku sudah dewasa nanti, tolong kamu pertimbangkan perasaanku ini," bisik Kristal. Lembut dan basah.
Bulu di tengkuk Rega tegak semua. Pria muda itu mematung dan dingin. Kaku dan seakan dia sedang terhipnotis.
"Rega! Kamu nggak dengar apa kata Mama?" seru Giza dari ambang pintu kamarnya. Wanita itu terlihat marah.
Kristal terkejut, tetapi tidak menunjukkannya. Dia menjauhi tubuh Rega perlahan. Matanya masih lekat menatap Rega yang gugup.
Ya, Rega terhuyung, tetapi tidak mendorong Kristal. Rega menikmati perasaan melambung karena dicintai gadis sebesar itu. Tapi dia belum bisa memutuskan. Bukan dia tidak punya perasaan yang sama dengan Kristal, melainkan belum menemukan bagaimana cara memenangkan hati dua wanita ini, tanpa membuat salah satunya terluka.
Kristal memutar badannya, tersenyum manis ke arah Giza yang masih membara penuh amarah. "Aku permisi kalau begitu, Tante."
Giza berpaling, senyum manis Kristal itu seperti mengajak dirinya untuk mengangkat bendera perang.
Kristal tidak boleh memiliki harta berharga satu-satunya milik Giza.
Giza sadar, Kristal masih kecil meski menyukai Rega. Waktu mereka masih panjang, dan dia yakin kesukaan mereka akan satu hal akan berubah seiring berjalannya waktu.
Jadi untuk apa Giza harus menghabiskan energi untuk menentang Kristal sekarang? Waktunya masih sangat banyak.
Yang sayangnya, pikiran itu akan dia sesali suatu saat nanti. Giza terlambat jauh dari peningkatan perasaan Kristal kepada Rega.
__ADS_1
Kristal bukan gadis yang mudah melupakan kata-kata yang keluar dari mulutnya.