
Terinspirasi dari lagu Keris Patih dengan judul Bila rasaku ini rasamu.
•
•
Ragu, namun dia sangat penasaran, apa yang terjadi pada istrinya di dalam. Takut, hingga tangannya bergetar memegang handle pintu. Rian menunduk memejamkan mata, seraya mendorong pintu itu, tak kuasa melihat dua wanita yang membuatnya tercekik.
"Kau salah tempat jika mencari istrimu di sini," Suara dingin terkesan angkuh menggema di sudut ruangan.
Rian membuka mata, dan menaikkan wajahnya. Tampak olehnya, wanita yang akan membunuhnya secara perlahan itu, tengah berdiri dengan angkuh dan tinggi. Sama, nyaris sama dengan gadis yang di lihatnya 12 tahun lalu. Jika dulu wanita ini malu-malu untuk sekedar menatapnya, kini dia dengan berani menatapnya. Penuh dendam dan kebencian. Dan, dia tidak menemukan Melisa di sana. Hanya Kira seorang diri.
"Maaf, Nona," Rian membungkuk dengan sopan, namun dia menangis pilu dalam hati. Memanggil wanita yang pernah mengisi hatinya, dengan panggilan formal. Saat mereka pernah saling menyebut nama penuh kasih sayang. Menghormati dia, yang dulu selalu menghormatinya, tunduk akan perintahnya. Kini mereka seperti orang yang tak pernah mengenal sebelumnya.
"Silakan keluar jika tidak ada keperluan lain," Sahut Kira dingin. Kira yang sejak tadi berdiri bersandar pada meja kerjanya, kini berdiri tegak. Tatapannya semakin tajam dan mematikan saat menyuruh Rian keluar dari ruangannya.
Rian meremas ujung kertas yang dibawanya. Hatinya sakit, "Saya hanya akan menyerahkan ini, Nona!"
Rian maju beberapa langkah, dan berdiri tepat di depan Kira. Dia mengulurkan selembar kertas yang kusut di salah satu ujungnya. Sedikit terkejut, Kira menerima kertas itu, dan membacanya perlahan.
"Aku tidak berhak memutuskan ini. Bukan aku yang akan menyetujui pengunduran dirimu," Ucap Kira datar, lalu meletakkan lembaran rapuh itu di meja.
"Haruskah kau menyiksaku hingga seperti ini, Ra?" Ucap Rian sendu, hatinya sangat tersiksa. Perlakuan Kira bagai lelehan baja yang di teteskan ke hatinya. Sedikit demi sedikit tapi menyisakan lubang menganga.
Kira meradang, "Aku bahkan tidak melakukan apapun padamu, Mas! Kau tersiksa karena perasaanmu sendiri!"
Dinginnya ucapan Kira membuat Rian semakin sesak. Bahkan Rian tak mampu bertatapan dengan mantan istrinya. Batinnya sungguh terluka.
"Iya, perasaanku terluka jika kau terus muncul di depanku seperti ini! Aku tahu kau sedang membalas sakit hatimu padaku! Tapi apa perlu sampai sejauh ini?" Raut wajah Rian menyurut, alisnya nyaris bersentuhan. Suaranya lemah, menghiba.
__ADS_1
"Kau terlalu percaya diri, Mas! Apa kau tahu, kau sudah tidak ada artinya buatku, kau hanya masa laluku yang pahit! Aku di sini karena suamiku, bukan karenamu!" Suara Kira menggelegar, bagai kilatan petir yang menyambar. Membelah perasaan yang sudah rapuh.
"Tapi Mas, berada di sini membuatku yakin untuk tetap membencimu! Secuilpun aku tak pernah bisa memaafkanmu lagi! Karena apa? Kau mendapat fasilitas yang bagus dari kantormu! Mobil dan rumah! Rumah yang aku minta! Bahkan kau tidak perlu mengeluarkan uang lebih jika kau perhitungan pada wanita yang melahirkan anak-anakmu!" Kira menarik napas sebentar. Menunggu reaksi Rian yang masih membisu. Rian menyusun kata untuk mengurangi kebencian mantannya itu, meski dia sudah tak bisa lagi mendapat pengampunan.
"Mas, apa yang ada di otakmu dulu? Apa yang kau pikirkan? Menduakan aku? Apa itu tidak cukup untuk menyakitiku? Membiarkan aku mendapat hinaan dan kata-kata tajam dari mulut pedas ibumu? Memaksaku untuk berhemat, saat uangmu berlimpah ruah? Tidak kah kau sangat kejam padaku dan anak-anakmu? Dan, sekarang saat aku hanya muncul di hadapanmu, kau bilang aku menyiksamu?" Kira menatap nanar wajah yang menunduk, entah apa yang di pikirkan pria itu. Menyesal kah? Menyadari kalau dia salah kah?
"Bagian mana aku menyiksamu, Mas?" Tanya Kira dengan sinis. Keduanya belum mengubah posisinya sejak tadi, masih pada pendirian masing-masing.
"Ku rasa kau tidak tahu apa itu derita dan siksaan, Mas! Kau harus banyak belajar dariku! Kau harus kuat, Mas! Dan selama aku di sini kau harus tetap melihatku, jangan pernah berpikir untuk menghindariku! Atau aku akan terus mengusikmu! Hingga kalian benar-benar hancur!" Nada suara Kira di penuhi amarah. Dadanya naik turun. Matanya berkilat-kilat laksana api yang menyala. Seakan tak cukup, Kira meraih kertas tadi dan merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Sama seperti perasaannya dulu. Mencampakkannya di hadapan mantan suaminya.
Rian terkesiap, seakan napasnya baru saja di renggut. Dia tak lagi mengenali wanita di depannya ini. Wanita yang selalu lembut dan penuh kesabaran. Dan wanita yang pernah di sia-siakan. Menjadi wanita yang sangat kejam dan menakutkan.
"Ra, jangan menjadi wanita kejam yang tak berperasaan! Biarkan aku yang menjauh darimu, Ra! Aku tidak akan menyentuhmu lagi!" Rian memohon, lebih baik begini. Dia tidak mau menjadi gila melihat wanita itu di puja setiap lelaki dan di cintai sepenuh hati oleh suaminya kini. Satu hal yang di lewatkannya saat mereka bersama dulu.
"Kau bilang aku tidak berperasaan, Mas? Kau lupa kau yang membuat aku seperti ini! Kau yang membuat aku menjadi wanita kejam! Sekarang kau akan menjauh? Tidak, Mas! Itu terlalu mudah bagimu!" Airmata Kira meleleh, dia sangat kesal dan marah. Setelah semua ini? Tidak.
"Kau harus melihat aku dan anak-anakmu bahagia! Kau harus melihat mereka tumbuh besar bersama Papa sambungnya! Kau harus mengganti penderitaan anak-anakmu! Kau harus mengganti setiap airmata yang keluar untuk meratapi Papa kandungnya!"
"Kenapa kau diam, Mas? Apa aku benar?" Kira menyeka pipinya dengan kasar. Airmata membuatnya lemah.
"Maaf, Ra! Maafkan aku, Ra!" Lirih Rian. Rian ambruk. Dia berlutut di hadapan Kira. Ya, benar, semua itu benar. Dia lah lelaki pengecut yang tidak berani mengambil keputusan. Dia menyakiti empat hati sekaligus, hati yang seharusnya dijaganya. Membayangkan ketiga anaknya mengharap kedatangan Papanya. Mengingat bagaimana dia menghardik Jeje sebab tangisannya. Atau membiarkan mereka melihat, saat Papanya membentak Mamanya yang menanyakan kenapa pulang terlambat.
"Andai kamu tahu bagaimana perasaanku, apa sekarang aku berlebihan jika tidak memaafkanmu? Bahkan anakmu tidak mau menemuimu! Sekalipun aku mengancamnya dengan hukuman!" Ucap Kira kembali dingin. Dia harus kuat, bukan untuknya tapi untuk sakit hati dan penderitaan anak-anaknya.
"Aku mengerti, Ra!" Rian tertunduk dalam, sepertinya dia menangis. Tentu saja, maaf tidak berguna sekarang. Hanya dengan menggantikan sakit hati yang mereka derita, akan mengurangi dendam. Bukan menghilangkan.
"Tabahkan hatimu, Mas! Jika kau saja dengan mudah bisa menyakitiku, tentu akan sama menyenangkan saat menerima balasan sakit hati yang kau torehkan! Nikmati rasa yang pernah kau berikan padaku dan anakmu! Nikmati buah dari pohon yang kau tanam!" Ucap Kira dengan senyum penuh kemenangan.
Rian masih membeku dengan posisi berlutut, dia kepalang malu di hadapan mantan istrinya. Malu akan kebodohannya, yang baru sekarang disadarinya.
__ADS_1
"Pergilah, Mas! Aku muak melihat airmatamu, kita sudah selesai! Kuharap jangan sampai istrimu datang lagi kemari untuk menggangguku, jika kalian masih ingin tertawa di sela-sela kesedihanmu!" Kira berbalik dan duduk di kursinya lagi. Tegak dan siaga. Bak singa betina yang mengawasi mangsanya.
Rian perlahan berdiri, tubuhnya terasa ringan, padahal pikirannya terasa berat. Sedikit terhuyung, usai membungkuk memberi hormat lagi pada mantan istrinya. Pusing, dan buntu.
Johan bergegas kembali ke atas usai membereskan wanita itu. Memerintah petugas keamanan untuk siaga dan waspada jika sewaktu-waktu wanita itu kembali.
Pintu yang terbuka, membuat kerumunan kecil yang penasaran dengan pertikaian di dalam. Mereka sangat ingin tahu saat mendengar teriakan Bos barunya. Meski sebagian ada yang khawatir, tapi yang hanya ingin tahu saja, juga tidak sedikit. Bukankah hidup selalu seperti itu? Bertanya bukan karena peduli tapi hanya sekedar ingin tahu, lalu di jadikan bahan gosip.
"Ekhem,"
Setengah lusin manusia yang tengah fokus itu, terkejut, mereka bahkan saling berbenturan saat berusaha bangun. Ada yang latah memanggil ayam. Ada juga yang langsung pingsan saat melihat Johan berdiri tegak di belakang mereka.
Mereka merasa hidup mereka tamat sampai di sini. Kebiasaan mereka bergosip dan saling membicarakan di belakang, seakan mendarah daging, hingga tidak tahu siapa yang mereka intip. Apalagi, saat Rian sering meninggalkan posnya. Mereka semakin bertindak semaunya.
"Jika kalian sudah bosan bekerja, ambillah formulir pengunduran diri, kalian tahu harus kemana tentunya!" Ucap Johan galak. Benar-benar suasana kantor yang buruk, mereka harus di beri pelajaran agar tidak bertindak seperti itu lagi.
Mereka serempak menggeleng, gemetar dan berkeringat dingin. Daripada harus mengundurkan diri dan langsung menjadi pengangguran, mereka memilih untuk terjun dari atap sekalian. Hidup akan suram jika mereka mengundurkan diri atau di pecat. Keduanya sama buruknya.
"Kembali bekerja! Serahkan ID card kalian! kalian harus di buat kapok agar mau bekerja keras!" Johan meneliti wajah-wajah pucat itu. "Menguping atasan kalian bukan hal yang bisa ditolerir sekarang!"
Wajah mereka semakin memutih. Benar kata seseorang, rasa ingin tahumu bisa membunuhmu. Dan kini mereka benar-benar tahu dan mengerti. Paham dan jelas. Mereka bubar tanpa aba-aba, dan menyeret yang pingsan. Lari kalang kabut bagai di kejar setan usai menyerahkan kartu tanda pengenal mereka pada Johan.
Johan mendorong pintu bersamaan dengan pintu itu di tarik, sehingga Johan ikut tertarik ke dalam. Melihat ekspresi Rian yang menyedihkan, sedikit banyak dia tahu apa yang terjadi.
"Yang kuat ya Bro. Lambaikan tangan ke arah kamera jika anda ingin menyerah!" Johan tertawa saat Rian sudah menjauh.
•
•
__ADS_1
•