
Kira memilih pergi, selain karena sudah terlalu lama meninggalkan kafe, juga karena ucapan Melisa mengganggu dirinya. Sekali lagi di ingatkan tentang menarik dan menyenangkan suami. Kira selalu berpikir, menyenangkan suami adalah melayani semua kebutuhannya. Tentu saja dia sudah melakukan itu selama bersama Rian. Tetapi, tetap saja, masih kurang bagi Rian.
Kira terlalu malu untuk mengungkapkan urusan ranjang dengan siapapun, bahkan Ivy sekalipun. Ah, Ivy. Melihat kehidupan rumah tangga Ivy, lalu melihat hidupnya, jauh berbeda. Keluarga Ivy sangat kompak dan santai, hari-hari mereka di penuhi tawa dan canda. Sedangkan, kehidupan Kira, walaupun masih tetap harus di syukuri tetapi dirinya selalu dalam dilema.
Kira menghela nafas, mungkin kali ini dia harus berdiskusi dengan Harris. Selain aturan yang mulai banyak di langgar olehnya, Kira merasa, dia harus mengenal suaminya lebih dalam. Jika Harris tau apa yang di inginkan olehnya tanpa berucap, dia juga ingin tau apa yang Harris inginkan darinya. Selama ini, Harris bersikap biasa saja, ekspresinya selalu sama setiap harinya.
Taksi berhenti tepat di depan kafe. Tampak olehnya, mobil Ivy terparkir di area parkir kafe yang cukup luas. Kira turun dengan tidak sabaran, selain merindukan sahabatnya, dia juga ingin tahu rahasia keluarganya yang adem ayem itu.
"Kau sakit?," Tanya Ivy saat Kira mendorong pintu.
"Tidak, kenapa sih? Tidak kamu, dan Melisa mengatakan aku sakit?," Kira melepaskan tasnya dan beberapa tas berisi barang belanjaan Kira di bawah kursi.
"Kau memakai sweater seperti ini, menutupi leher, itu seperti orang demam. Dan wajahmu yang lesu seperti orang kurang tidur saja," Ivy meneliti wajah dan penampilan Kira. Walaupun hujan, tapi terlalu ekstrim memakai sweater seperti saat musim dingin saja.
"Kau pasti tidak rindu padaku, sehingga kau mengataiku aneh-aneh?," Kira mengalihkan pembicaraan. Karena pernyataan Ivy, benar, sudah beberapa hari, dia tidur tidak terlalu nyenyak, terlalu banyak gangguan.
"Ku rasa kau baik-baik saja, Ra. Melihatmu masih sanggup berbicara seperti itu," Ivy yang semula duduk di seberang meja, kini menghampiri Kira dan saling berpelukan. Melepas rindu yang sudah beberapa hari menumpuk.
"Senang kau kembali, bolehkah aku pulang sekarang, kurasa aku benar-benar sakit," Kira memelas, dia sangat letih dan ingin tidur.
"Kau ini kenapa? Jangan membuatku kuatir, bisa-bisa aku di bunuh suamimu karena memaksamu bekerja," Ivy menepuk pipi Kira, meraba dahinya, dia tidak demam tapi memang terlihat lesu.
"Kau tidak mungkin hamil kan? Kalian belum sebulan menikah," Ivy terbelalak. Dia takut di curangi sahabatnya.
Kira membungkam mulut sahabatnya," Kau sudah gila?,"
Ivy melepas tangan sahabatnya dengan paksa, lalu tertawa melihat Kira yang seperti ketahuan mencuri. "Tidak apa-apa, Ra, kau hamil juga ada suami,"
"Sembarangan," Kira menatap sebal Ivy. Meraih semua barang miliknya dan mendorong pintu dengan kasar. Ivy tertawa melihat sahabatnya kesal saat di goda.
.
.
.
__ADS_1
Melisa bersiul penuh kemenangan. Melihat Kira mundur saat berdebat dengannya, dia merasa diatas angin. Tidak mungkin, milik Kira melebihi miliknya.
Di rumah, banyak mobil terparkir di halaman. Itu pasti teman-teman arisan Ibu mertuanya. Suara mereka riuh memenuhi ruang tamu hingga terdengar sampai depan. Sepertinya, pesta belum usai.
"Lihat, lihat, siapa yang datang? Menantu kesayangan Jeng Atmaja," Salah seorang wanita seumuran Ibu berdiri menyambut Melisa. Membuat Melisa berdecih pelan, di balik senyum merekah di bibirnya.
"Sore semuanya, maaf, saya terlambat," Melisa menunduk untuk menghormati selusin teman Mertuanya. Tampaknya, Ibu masih sibuk di dapur, tanpa bantuan orang lain, pasti sangat ribut di dapur.
"Wah, cantik dan sopan sekali, tidak seperti yang dulu, ya Jeng," Sahut salah seorang yang lain.
"Iya, yang dulu kan, kelas ****, sedangkan yang ini ratu," Pujian yang saling bersambut, membuat Melisa besar kepala.
"Kira, dengar itu? Aku selalu lebih baik dari pada kamu," batin Melisa.
Melisa menikmati pujian yang di tujukan kepadanya. Tetapi, tidak terlalu lama, Ibu masuk ke dalam ruang tamu dengan ekspresi dingin membunuh.
"Em, Nyonya sekalian, maaf, saya sangat lelah setelah berbelanja, dan saya rasa anak saya sudah terlalu lama saya tinggal, jadi saya undur diri terlebih dahulu," Melisa menunduk lagi sebelum meninggalkan ruang tamu. Dan melewati Ibu dengan acuh. Sama sekali tak menganggap Ibu ada.
Meski kesal, Ibu masih menahan diri, ada Ibu-ibu lain yang menyaksikan interaksi keduanya. Tidak ada yang bisa di lakukan Ibu selain berpura-pura. Membiarkan Melisa menang saat ini, dan menunggu Riana untuk membantunya membalas Melisa.
Hingga akhirnya mereka membubarkan diri saat hari benar hampir petang. Bersamaan dengan datangnya Riana.
"Kenapa lagi dia, Bu?," Tanya Riana. Dia duduk di kursi panjang dengan menyilangkan kakinya.
"Dia sudah kurang ajar sama Ibu," Ucap Ibu datar. Dia malu mengatakan jika Melisa mengancamnya. Riana pasti akan menertawakannya, menganggap Ibunya sudah tidak bertaring lagi.
"Mana dia, Bu?."
"Di kamarnya lah, dimana lagi?," Ibu menunjuk kamar Melisa di lantai atas dengan dagunya. "Dia belum lama pulang dari belanja."
"Wah, duit sudah cair kayanya. Lumayan lah, bisa buat jajan di luar," Riana berbinar ketika berurusan dengan uang. Baginya, seberapapun banyaknya uang, tidak akan pernah ada kata cukup. Terbiasa di manja sejak kecil oleh Ibunya dan selalu mendapat apapun yang di inginkannya, membuat Riana lupa diri. Dia hanya peduli dengan dirinya sendiri.
Riana bersiul menuju kamar Melisa. Membayangkan dia bisa membeli beberapa barang atau sekedar menraktir makan teman-temannya. Demi sebuah pengakuan, demi gaya hidup mewah, demi memuaskan dahaga akan pujian.
"Kakak ipar," Panggil Riana kepada Melisa. Riana masuk begitu saja, tanpa menunggu di persilakan masuk.
__ADS_1
"Ada apa, Ri?," Tanya Melisa yang baru saja selesai mandi.
"Kayanya ada yang habis belanja?," Riana melirik tas belanjaan yang masih berjajar di sofa kamar.
"Iya, kenapa? Kakakmu yang menyuruhku!," Melisa duduk di tepi ranjang, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Sama sekali mengacuhkan Riana
"Tidak ada, aku hanya meminta bagian Kira," Jawab Riana cuek.
"Mintalah sama Kakakmu, aku hanya memakai uang bulananku," Melisa mulai memakai krim perawatan kulit miliknya. Masih tidak peduli dengan Riana.
"Biasanya juga kamu yang kasih, ayolah, kita sama-sama mengerti, aku membantumu menjauhkan Kira darimu," Riana mulai kesal karena Melisa mengabaikannya.
"Oh ya? Aku malah sudah bertemu dengan Kira, dia sama sekali tidak peduli dengan Kakakmu," Melisa menghentikan semua aktifitasnya dan menatap Riana penuh selidik.
"Wah, bagus dong, sayang aku tidak melihatnya, pasti seru. Mantan istri dan sahabat yang merebut suami sahabatnya sendiri. Bagus buat judul film kayanya," Riana tersenyum miring. Dia sedikit ragu, mungkin saja mereka sudah tahu kebusukannya.
"Iya bagus di tambah lagi adik yang menipu kakaknya demi sepeser uang. Bagaimana menurutmu? Sepertinya, kisahmu lebih laku dari pada cerita picisan antar sahabat," Melisa mendekati Riana. Sorot mata yang menajam, menghujam dalam. Seperti menguliti Riana. Semua kebohongannya terungkap, oleh keserakahannya akan materi.
"Kau," Geram Riana tertahan,
"Diam kau, penipu kecil. Asal kau tau, aku sepertinya adalah korban kalian berdua, Ibu dan anak perempuannya. Aku kira, aku pintar tetapi, aku bodoh di hadapan kalian. Kalian memanfaatku untuk tujuan kalian. Tetapi, kini aku yang memegang kendali. Kalianlah yang harus tunduk padaku," Melisa tidak mengubah ekspresinya sama sekali. Membuat Riana semakin takut. Belum pernah dia melihat Melisa semarah ini. Ular sudah berganti kulit, dan lebih berbahaya sekarang.
"Aku tahu, uang yang ku berikan tidak pernah sampai kepada Kira dan anaknya. Dan, salahku karena aku percaya kepada kalian berdua. Karena aku, Kira dan anaknya terlantar dan menderita. Aku juga tahu, kau menghasut Ibu, jika uang itu hanya untuk Kira, dan kita semua tahu, Ibu sangat benci jika Kira ikut menikmati uang milik putranya, mantan suaminya, Ayah dari anak-anaknya," Melisa masih menghadapi Riana yang mulai bergetar ketakutan. Namun, Riana mengusahakan dirinya untuk berdiri tegak diantara keringat dingin yang mulai muncul di telapak tangannya.
"Kau salah jika menempatkanku sebagai umpan. Kira, sudah membuat mataku terbuka, dan aku sadar, kalian mempermainkan aku. Jadi, jika kalian ingin tetap nyaman, menurutlah padaku. Jangan membuatku marah," Melisa melangkah mundur tanpa memutus tatapannya.
"Kau wanita licik, kau juga memakai uang itu, kau tidak memberikan semuanya, bukan? Aku hanya menerima separuh dari jumlah semuanya," Raung Riana. Beruntung, Sia, di bawa pengasuhnya keluar. Jadi, dia tidak perlu mendengar raungan penuh amarah ini.
"Aku tahu, kau pasti tidak akan memberikan kepada Kira, oleh karenanya, aku hanya memberi separuh saja," Melisa tersenyum penuh kemenangan.
Di luar kamar, tiga orang saling pandang dalam diam. Amarah dan ketakutan saling terpancar dari raut wajah mereka bertiga. Mungkin inilah akhir keluarga ini.
*
*
__ADS_1
*
Selamat membaca 🥰