
Ya, Tuhan. Kenapa dia sangat menyedihkan sih? Aku mendengar semua yang di perdebatkan mereka berdua karena sengaja aku duduk tak jauh dari mereka. Memakai kacamata hitam dan topi untuk menutupi kepalaku. Bukan karena panas, tetapi agar dia tidak menyadari aku mengikutinya sejak tadi.
Aku dalam perjalanan bertemu dengan salah seorang rekan kerjaku, ketika aku melihat wanita itu berjalan dengan Rian. Karena penasaran, akhirnya mengikuti mereka berdua. Aku masih menyebut si mata sedih itu, sebagai wanita penggoda hingga beberapa saat lalu. Bagaimana aku tidak menyebutnya penggoda, setelah kejadian di rumah sakit, dan bagaimana dia membuat Papa menikahkanku dengannya? Entah berapa banyak uang yang di berikan Papa untuknya atau apa yang dia tukar untuk mencapai tujuannya.
Tetapi, kini aku mengerti hubungan Rian dengan Mata Sedih itu. Ternyata dia korban perselingkuhan suami dan sahabatnya. Aku iba melihatnya menangis dengan langkah yang goyah. Aku langsung melesat ke arahnya, ketika dia nyaris terjatuh. Dan, akhirnya aku berhasil menangkapnya dalam dekapanku.
Ketika laki-laki itu melewati kami, aku menyembunyikan dia di dalam pelukanku dan aku menunduk lebih dalam, adegan ini sudah seperti sepasang kekasih yang saling merindukan. Tidak lucu juga, jika Rian mengenaliku, dan aku sedang memeluk mantan istrinya. Aku akan menjelaskan apa? Aku tidak siap dengan keadaan darurat seperti itu. Beruntung, Rian tidak begitu memperhatikan keadaan sekelilingnya, jadi dia tidak menyadari keberadaanku. Mungkin Si Mata Sedih telah membuatnya menyesali keputusannya.
Si Mata Sedih terisak sambil memelukku erat. Membuat bajuku basah oleh air matanya dan mungkin juga cairan dari hidungnya. Aku heran dengan wanita, dalam keadaan sedih ataupun senang mereka selalu menangis. Bahkan, Si Mata Sedih ini menangis hanya mendengar sebuah lagu. Itulah sebabnya aku memanggilnya Si Mata Sedih.
“Apa kau akan menangis seperti ini sepanjang waktu?” Aku sudah lelah berdiri, apalagi dia menumpu tubuhnya padaku.
“Tuan Perhitungan?” Gumamnya, tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas. Kulihat matanya terpejam, tapi bibirnya bergumam.
“Apa aku sudah merindukanmu, Tuan Tarzan?” Lagi-lagi dia bergumam. Aku semakin kesal saja. Siapa lagi Tuan Tarzan itu?.
Aku melihat mobil Rian sudah menjauh, kurasa sudah aman melepaskannya sekarang.
“Cuci bajuku hingga bersih nanti” Aku membentaknya, dan dia terkejut saat melihatku.
“Maaf, Maaf. Aku tidak tahu itu kamu” Buru-buru dia mengelap air mata di pipinya dengan punggung tangannya. Dia juga menyapukan telapak tangannya, untuk membersihkan bekas air matanya di bajuku.
“Kenapa kau ada di sini?” Dia menghentikan tangannya, seraut wajah menyedihkan itu menatapku.
__ADS_1
“Kebetulan saja aku sedang berada di sini, memangnya tidak boleh?” Aku menunduk menatap wajah sedih itu. Sesaat, kedua pasang mata kami bertemu. Mata coklat itu menghipnotisku. Segera, aku memutus kontak mata di antara kami. Tubuh kami saling menjauh tanpa aba-aba.
Aku salah tingkah di buatnya. Namun sepertinya dia biasa saja. Hanya saja wajahnya kembali memerah. Apa dia mau menangis lagi?
“Berhentilah menangis seperti bayi, kau harusnya senang bisa lepas dari laki-laki seperti itu” Dia menoleh secepat kilat. Sepertinya dia marah karena ucapanku barusan.
“Kau menguping ya?” Teriaknya. Wah, selain sedih, juga sangat galak. Aku mundur selangkah, menjauh dari jangkauannya. Selanjutnya, bisa jadi dia akan membabi buta memukuliku.
“Apa aku salah merawat anak dari suamiku? Apa aku salah lebih mementingkan anakku? Aku berusaha memenuhi semua kewajibanku, aku berusaha menghindari masalah demi dia. Aku tahu, aku membuatnya malu karena tidak bisa berdandan tapi apa harus sampai dia selingkuh karena itu? Katakan, apa salahku?” Tangisnya kembali pecah. Dengan mata merah yang di penuhi air mata, dia menatapku sambil berteriak. Aku bingung harus berkata apa. Astaga, aku pasti banyak berbuat salah selama ini. Setelah Viona yang keras kepala, kini aku malah menikahi wanita bar-bar, galak dan bodoh. Beberapa orang yang lewat mulai berbisik, mereka memandang kami dengan sinis. Dengan keadaan seperti ini, mereka menyangka kami sepasang suami istri yang tengah ribut. Eh, kami memang suami istri.
Aku tidak suka di pandang penuh kebencian. Oleh karena itu, buru-buru ku raih tubuhnya dengan lembut, dan memelankan suaraku.
“Iya, kau tidak salah. Dia yang salah, sudah jangan menangis”
Aku menuntunnya ke mobil, menghindari pandangan orang-orang yang sarat akan cibiran terhadap kami. Bagaimana jika mereka ada yang mengenaliku? Aku mendudukkannya di bangku belakang. Merengkuhnya lagi, agar hatinya lebih tenang, sepertinya dia butuh seseorang untuk bersandar. Membagi keluh kesahnya, membagi beban yang menumpuk di hatinya.
Aku membiarkannya menangis, membiarkannya bersandar, bila semua itu bisa mengurangi beban pikirannya. Aku menepuk pelan punggungnya. Aku sendiri tidak tahu, bagaimana rasanya di campakkan, karena akulah yang membuang wanita yang mulai banyak tingkah. Viona? Aku bahkan sudah lupa padanya sejak? Sejak Mata Sedih tidur di kamarku. Perasaanku pada Viona lenyap begitu saja, bahkan aku tidak merasa sakit hati, atau kehilangan. Aku baru menyadari sekarang, malah, aku sendiri tidak yakin, apa aku benar-benar mencintai Viona?
Mata Sedih, sepertinya sudah mulai tenang, tak terdengar lagi isakanya. Hanya saja semakin berat saja tubuhnya, kini.
“Ra?” Aku memanggilnya pelan. Tak ada sahutan darinya.
“Kira?” Aku mengguncang tubuhnya, tetapi dia hanya diam saja. Berkali-kali aku mencoba tapi dia hanya diam saja. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku, wajahnya pucat dan berkeringat. Tubuhnya lemas dan dingin.
__ADS_1
"Hei, ini tidak lucu" Aku menangkup rahangnya, mengguncangnya pelan. Namun, dia tak bergeming sama sekali.
Karena panik, aku segera membawanya ke Rumah Sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya saat bersamaku? Bisa-bisa aku di bunuh oleh Papa. Aku melaju secepat yang ku bisa. Semoga dia tidak kenapa-napa.
Begitu sampai di Rumah Sakit, dokter langsung memeriksanya.
“Tuan Muda, Nona mengalami tekanan emosi yang cukup berat, kelelahan, dehidrasi dan kurang asupan nutrisi. Tekanan darahnya rendah, sepertinya Nona belum makan sejak pagi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja jangan membuatnya terlalu lelah. " Dokter itu tersenyum memaklumi kepanikanku.
“Tuan, selamat atas pernikahan Anda. Semoga anda berbahagia” Dokter itu menyalami tanganku. Pasti Papa yang memberi pengumuman kepada semua karyawan dan staffnya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Entahlah, aku sendiri tidak tahu, apa pernikahan ini layak di beri ucapan selamat.
Kira di pindahkan ke kamar tempatku di rawat beberapa waktu lalu, sesuai permintaanku. Dia masih memejamkan matanya, menyuguhkan wajah sendu nan damai di mataku. Wajah yang tiba-tiba selalu ingin ku pandangi.
Pada awalnya, aku merasa kasihan melihat keluarganya menghadiri pernikahan yang di atur Papa. Mereka pasti di tidak tahu apa yang terjadi di balik pernikahan ini. Sama sepertiku.
Begitu melihat wanita ini, hal pertama yang ku ingat adalah wanita di atas motor itu. Lalu, wanita di rumah sakit yang menangis saat hujan. Dan, wanita dengan 2 anak laki-laki yang ku antar kerumahnya bersama Johan.
Menatap dua anak laki-laki itu, lalu beralih ke wanita itu. Dia adalah wanita yang sama. Sungguh aku tak menyalahkan statusnya, hanya saja, dia wanita penggoda. Jujur saja, aku ingin lari waktu itu, tapi Papa sepertinya sudah mengantisipasi, Papa berbisik di telingaku, mengatakan bahwa di luar, sudah ada puluhan orang sewaan untuk mencegahku kabur.
Aku kesal dengan Papa, tapi melihat anak-anak itu, Ayah dan Ibunya, aku berpikir lagi. Sepertinya aku tidak punya pilihan. Pasrah, tapi aku tidak menyerah. Aku akan membuat perhitungan dengan wanita ini. Aku akan memberinya pelajaran nanti.
.
.
__ADS_1
.