
Ibu dan Nisa di rawat di ruang yang sama, guna lebih mudah menjaga keduanya. Kondisi Ibu lebih mengkhawatirkan mengingat beliau sudah lanjut usia, di tambah hipertensi yang di deritanya, juga, luka akibat lemparan vas kaca itu, cukup dalam. Sepertinya kulit kepala Ibu terkena salah satu sudut vas yang berbentuk kotak. Tetapi, masih lebih baik sebab tidak menyebabkan gegar otak.
Sedangkan Nisa, dia mendapat beberapa jahitan, akibat robekan di pelipisnya. Keduanya sedang beristirahat saat ini, jika sudah membaik keduanya hari ini juga di perbolehkan pulang.
Nasib manusia berubah secepat cuaca berganti. Sore yang tenang dengan sinar mentari yang lembut menyentuh kulit, tiba-tiba berganti dengan hujan yang lebat dan angin yang bergulat dengan pepohonan. Mungkin benar, pilihan menentukan takdir. Setidaknya itulah yang di pikirkan Rian. Andai saja, andai dia tidak memilih menyakiti Kira, mungkin takdirnya tidak akan seperti ini. Pembalasan yang manis, Ra! Pikir Rian.
Lelaki itu, berdiri di depan kaca, melihat Ibunya yang terbaring lemah. Pandangannya sayu, seakan kehilangan cahaya. Tangannya mengait di belakang punggungnya, dengan tangan kiri sebagai tumpuan. Kemeja biru muda dengan garis putih itu terlihat kusut dengan beberapa bercak darah yang mengering. Dia tidak sempat berganti baju saat kemari.
"Apa yang kau pikirkan, Yan?" Ayah Atmaja berdiri sedikit di belakang putranya. Kedua lelaki itu di gelayuti mendung pekat, namun masih menunjukkan ketegaran.
Rian tersenyum, menertawakan hidupnya yang sungguh lucu dan layak menjadi bahan olokan.
"Jangan meratapi yang sudah terjadi! Bijaklah melangkah, Nak! Ayah rasa, pelajaran hidup yang kau pelajari sudah lebih dari cukup untuk di jadikan guru. Mungkin Ayah yang paling bersalah di sini, tapi, Ayah harap, kau tidak mengikuti jejak Ayah!" Ayah menatap kosong kaca tembus pandang yang sengaja tidak di tutup tirainya.
"Kau adalah Ayah terbaik untukku, Yah! Hanya aku saja yang bodoh!" Rian membalik badannya dan meraih pundak Ayahnya, membawanya ke kursi panjang tak jauh dari posisi mereka saat ini.
Ayah tertawa, memperlihatkan lipatan kulit di sudut bibirnya. "Sudah berapa lama kita tidak berbicara seperti ini?"
"Saat aku berkelahi, setelah ujian akhir SMA, ku rasa!" Rian melirik Ayahnya yang terlihat berseri-seri.
"Itu sudah lama sekali, tapi rasanya baru kemarin!" Ayah membungkukkan badan, mengadu siku dengan lututnya. Ujung tangannya saling mengait. "Harusnya jadi sore yang penuh kenangan jika tidak ada hujan yang turun."
"Yah, sayang sekali. Padahal tadi cerah," Rian mengendikkan bahu. "Tidak ada seorangpun yang tahu."
"Apa yang akan kau lakukan?" Ayah menoleh putranya, mengamati wajah yang sangat mirip dengannya. Jadi begini rasanya, melihat diri kita saat muda? Pikir Ayah Atmaja.
"Entahlah, Yah. Ku pikir, setelah hampir mencelakai Sia dan Ibu, aku tidak akan bisa memaafkannya! Aku bahkan serasa hampir mati saat melihat Melisa mendorong Nisa! Padahal jika Sia tidak di pindah ke sebelah kanan Nisa, sudah pasti Sia tidak akan selamat!" Raut wajah Rian surut, suram. Rian bergidik membayangkan Sia yang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Nisa memang anak baik, sabar, dan selalu melindungi Sia. Dia sangat menyayangi Sia! Jadi wajar jika Sia nyaman saat bersamanya!" Tutur Ayah lembut. "Jadi?"
__ADS_1
"Setelah dari sini, aku akan memberinya pelajaran! Dia terlalu lama semaunya sendiri, Yah!" Rian mengusap janggutnya. "Bukan tidak mungkin aku akan menceraikannya."
Melisa yang sejak tadi berdiri tak jauh dari posisi Ayah dan Rian berada, mengambil langkah mundur perlahan. Sebelum berbalik dan mengambil langkah cepat, setengah berlari. Hingga di rasa aman, dia baru memelankan langkahnya.
Dia tidak menangis meski kesal, air mata hanya untuk orang lemah, dan itu bukan dia. Tetapi, hatinya sangat geram, kedua tangannya meremas masing-masing sisi dress yang dikenakannya. Manik matanya itu berkilat-kilat tertimpa lampu kendaraan yang melintas.
Entah, dia tidak tahu lagi akan kemana. Belum sempat terpikir olehnya, apa yang akan di lakukannya jika harus pergi dari rumah suaminya. Malah dia terlalu percaya diri, karena dia berpikir Rian akan tetap mempertahankannya meski semua keburukannya terungkap. Pikiran wanita ini kacau, ketakutan yang paling di takutinya, benar-benar menyongsongnya di depan mata.
Rian menoleh sekilas ke ujung lorong klinik yang minim pencahayaan, dia merasa seperti melihat bayangan istrinya. Namun, buru-buru di tepisnya. Tidak mungkin dia sampai kemari setelah apa yang di lakukannya, pikir Rian. Biasanya, jika sedang marah, dia akan mengurung diri di kamar, dan setelah di bujuk dengan uang, dia akan segera melunak.
"Mungkinkah dia bisa berubah, Yah?" Tanya Rian saat Ayahnya termangu, sepertinya pikiran Ayah sedang memikul banyak beban.
"Bukan tidak mungkin, Yan! Tetapi, Ayah rasa ini sama sulitnya dengan melubangi batu dengan ujung pena! Jika kau mau, kau bisa mencobanya!" Ucap Ayah tanpa menoleh ke arah putranya.
Rian menbuang nafas kasar. Sejujurnya, dia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Melisa. Dia hanya ingin memperbaiki kesalahan yang dilakukannya pada Kira, dengan mencoba menerima Melisa apa adanya. Tetapi, Melisa dan Kira adalah dua wanita yang mempunyai tabiat bertolak belakang. Artinya, jika menerima Melisa apa adanya, Rian akan menderita seumur hidupnya.
"Pulanglah, jangan khawatirkan Ayah dan Ibu!" Ayah tersenyum, dia tau apa yang akan di lakukan oleh putranya. Semoga apapun keputusan Rian, akan menjadi awal yang baik untuk mereka.
***
Melisa memasukkan beberapa barang berharga dan uang tunai ke dalam tas jinjing berukuran sedang. Meski dia tidak tahu akan kemana tetapi, dia punya uang yang cukup untuk menyewa kontrakan.
"Apa yang kau lakukan, Mel? Kau mau kemana?" Rian sangat terkejut melihat Melisa mengepak barang dalam sebuah tas.
Melisa membuang nafas, "Kau jangan pura-pura lagi, Mas! Aku tahu kau akan menceraikan aku, setelah semua kejadian ini!"
"Mel, jika kau mau berubah, aku mau memaafkan dan melupakan semuanya! Kita akan mulai dari awal lagi!" Rian mencoba menangkap tangan Melisa yang hendak meraih tasnya. Tetapi, Melisa menampiknya dengan kasar.
"Mas, aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi! Aku bukan bayi yang mudah kau bujuk pakai permen! Memaafkan kau bilang? Aku sudah memohon maaf padamu tadi! Tapi apa? Kau mengacuhkanku Mas! Kau malah sibuk dengan pengasuh itu!" Ucap Melisa. Meski tidak berteriak, tapi jelas, Melisa sedang emosi saat ini.
__ADS_1
"Mel, kau tentu tau keadaannya tadi seperti apa! Ayolah, Mel! Jangan kekanak-kanakan, kau sudah punya Sia sekarang! Apa kau mau meninggalkan dia begitu saja?" Bujuk Rian. Rian sendiri bingung, apa ini keputusan yang tepat?
"Mas, aku mendengar sendiri kau mengatakan akan menceraikan aku, dan setelah Ayah juga menginginkan aku pergi. Apa aku masih pantas tinggal di sini? Mas, Ayah benar, Nisa memang baik dan perhatian. Nikahi saja dia, ceraikan aku! Ayah lebih menyukai dia dari pada aku!" Ujar Melisa sambil terus melanjutkan berkemas.
Rian terkesiap, jadi benar jika yang dilihatnya tadi adalah Melisa. Rian tak bisa lagi menyangkal semua itu, tapi dia tidak suka Melisa menuduhnya menyukai Nisa.
"Kenapa kau terus saja mengatakan itu, Mel? Aku tidak menyukai Nisa! Aku hanya bertanggung jawab saja padanya!" Nada suara Rian meninggi. Kesal selalu di sudutkan oleh Melisa. Bukankah semua ini akibat ulahnya?
Melisa menarik retsleting tas, lalu melangkah mendekati Rian, "Aku tidak bodoh seperti Kira, Mas! Aku tahu, kau terobsesi dengan wanita penurut dan sabar seperti Nisa dan Kira! Aku bahkan tidak heran jika kau sudah tidur dengan Nisa!"
Rian terkejut mendengar ucapan Melisa, "MELISA! jaga ucapanmu pada suamimu! Itu tuduhan yang sangat serius, Mel!"
Melisa menarik sudut bibirnya, "Jika dengan Kira saja kau masih bisa bersamaku, bukan hal yang mustahil juga jika kau tidur dengan Nisa, saat aku masih bersamamu, Mas!"
Sebenarnya, Melisa pernah beberapa kali melihat Rian berdiri di depan kamar Nisa. Apalagi, beberapa waktu kebelakang, Rian tidak menyentuhnya sama sekali. Sehingga membuat Melisa cemburu dan curiga dengan perhatian Rian pada Nisa.
"Mel, di sini harusnya kau memohon padaku agar aku memaafkanmu! Bukan aku yang memohon padamu! Dan omong kosongmu itu terlalu menyakitkan untukku! Selama ini aku cukup sabar dan mengalah padamu, tapi kau selalu bertindak semaumu, bahkan sampai membahayakan anakmu! Awalnya aku berharap kau mau berubah, tapi jika terus seperti ini aku menyerah padamu! Pergilah, aku akan mengurus Sia!" Rian meradang saat mendengar tuduhan Melisa. Dia sangat marah, tetapi, dia ingin mengakhiri ini cara yang baik. Bukan untuk Melisa, tapi untuknya sendiri. Pernah dia salah, satu kali, tapi dia tidak mau terulang lagi. Dia sudah berusaha membujuk Melisa, satu hal yang tidak di lakukannya dulu pada Kira. Padahal waktu itu, dia yang salah. Namun, kini, setidaknya dia sadar dan yakin bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Melisa.
"Baik, Mas! Aku pergi, aku tidak mempermasalahkan Sia! Aku juga tidak yakin bisa menjaga Sia saat aku sendiri tidak yakin bagaimana hidupku nanti! Setidaknya Sia adalah penghiburan bagimu, saat anakmu yang lain tak bisa kau miliki lagi!" Melisa memegang erat tas jinjingnya, lalu tanpa menoleh lagi, dia keluar dari kamar, dan juga rumah yang beberapa tahun ini menjadi tempatnya berteduh.
"Aku bersumpah, Mas! Aku akan hidup lebih baik dan membalas sakit hatiku padamu!" Batin Melisa saat akan masuk ke sebuah taksi yang di pesannya.
Melisa masih sangat mencintai Rian. Namun, saat Rian mengatakan akan menceraikannya dia merasa sakit hati. Dia di campakkan begitu saja, bahkan Rian masih berusaha membohonginya. Mungkin saja kecurigaan nya benar selama ini.
•
•
•
__ADS_1