Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sejujurnya...Iya


__ADS_3

Hendra memarkirkan mobilnya di dalam garasi yang terhubung langsung dengan lorong belakang dapur. Rumah yang baru ditempatinya sejak kelahiran Almeer. Dan sejak dia mengundurkan diri sebagai abdi negara.


Ya, sejak ketahuan dia tinggal terpisah dengan Vivian, sejak itu pula, Hendra harus melepaskan profesi yang sangat dia citakan sejak SD. Menggantikan sang ayah yang telah sabar menunggu hingga Hendra siap menjabat sebagai pimpinan perusahaannya.


Rumah dua lantai yang cukup besar ini adalah bukti kerja kerasnya selama ini. Hendra menapaki tangga menuju kamarnya, setelah meletakkan kunci kendaraannya di dalam laci. Tetapi, langkahnya terurung saat melewati kamar Vivian. Samar-samar di dengarnya suara tangisan Almeer.


Hendra mendesak pintu hingga terbuka, tampaklah Almeer yang mendengus kasar, hendak menangis. Di dengarnya suara gemericik air dari kamar mandi. Hendra menghela napas, diangkatnya bayi lelaki yang belum genap dua bulan itu.


"Kenapa jagoan Papa? Haus ya?" ditimangnya Almeer kedalam lengannya.


Badan Almeer terasa lengket dan lembab. Gerah, pikir Hendra. Dia berjalan ke lemari baju anaknya, mengambil handuk dan beberapa lembar baju dan diapers berbentuk celana. Pikirnya, terlalu lama jika menunggu Vivian. Sehingga Hendra membawa Almeer ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Hendra menyiapkan air hangat dengan Almeer di dalam dekapannya. Sedikit kesulitan, sebab Almeer terus saja bergerak. Hendra membayangkan betapa susahnya Vivian mengurus Almeer tanpa batuan siapapun. Terutama darinya, suaminya, ayahnya Almeer. Rasa bersalah menelusup kian dalam di hati Hendra.


Almeer merengek lagi saat di letakkan di atas ranjang, dia menggosok matanya dengan kedua tangannya.


"Hei, kau bisa melukai matamu. Tunggulah sebentar, Papa akan melepas baju mu, oke!"


Perlahan dan hati-hati, Hendra membuka baju Almeer. "Ya Tuhan, susah sekali ternyata." Hendra menyeka keningnya yang berpeluh.


Dengan handuk kecil basah, Hendra mengusap seluruh tubuh putranya. Almeer menendang-nendang kegirangan.


"Apa kau suka?" Hendra menoel pipi yang memantul milik Almeer, bayi itu mengeluarkan suara lucu. Tangannya menggapai, ingin meraih tangan Papanya.


"Meski kau senang, kau harus segera pakai baju. Kalau tidak nenek sihir akan memarahi Papa. Kau mengerti?"


"Siapa nenek sihir?" Vivian sudah di ambang pintu dengan wajah galaknya. Kaca mata sudah bertengger lagi di pangkal hidungnya. Hendra yang akan memakaikan popok pada Almeer membeku di tempat.


"Em, ya...nenek sihir! Nenek sihir akan marah dan menyihir siapa saja yang nakal. Iya kan, Al?!"


"Kau sedang mengataiku kan?" Vivian melangkah ke arah ranjang Hendra. Mendaratkan tubuhnya di sana. Dia memperhatikan Hendra yang sedang memakaikan baju di badan Almeer. Diakuinya, Hendra cukup lihai melakukannya.


"Mamamu suka berprasangka buruk ya, Al. Atau Mama terlalu percaya diri?" Vivian berdecak.

__ADS_1


Hendra merasa Vivian sedang memperhatikan gerak geriknya. Diliriknya wanita itu sekilas, sebelum menyudahi gerakannya pada kancing dibahu anaknya. Hendra tersenyum tipis saat Vivian terlihat manyun.


"Kurasa dia siap tidur lagi sekarang," Ucap Hendra lembut.


"Terimakasih!" Vivian tersenyum sambil meraih tubuh Almeer, dia segera beranjak dari ranjang Hendra dan melangkah keluar.


Hendra terpaku di tempat, kelu. Ingin rasanya dia mencegah Vivian keluar dari kamarnya, tetapi, dirinya terlalu malu untuk mendekati Vivian setelah apa yang dilakukannya selama ini.


Dia mencari alasan yang tepat untuk bersama mereka lagi. Diliriknya baju Almeer yang berserakan di atas ranjangnya. Itu dia, pikirnya.


Hendra segera melesat ke kamar Vivian yang bersebelahan dengan kamarnya. Hendra mendorong pintu tanpa ragu. Vivian begitu terkejut melihat Hendra berdiri diambang pintu. Buru-buru di tutupnya lagi dadanya.


"Aku...mengantarkan baju Almeer," Hendra terlihat gugup saat melihat sekilas gundukan mulus itu. "Apa dia tidak mau tidur lagi?"


Hendra meletakkan baju kotor milik Almeer di keranjang khusus baju kotor. Kecanggungan menyelimuti keduanya.


"Begitulah, kantuknya mungkin hilang setelah badannya segar," Vivian membenarkan lagi posisi duduk dan bajunya, saat Hendra duduk di depannya. Almeer tampak ceria bergerak diranjang, mata besarnya melihat kesegala arah, menggapai udara kosong didepannya.


"Vi...," Vivian menoleh ke arah Hendra. Sedekat ini, dia baru menyadari Hendra memiliki tatapan sendu yang mematikan.


"Aku tahu kau tidak akan mudah memaafkan aku, sebagai gantinya, aku tidak akan memintamu berhenti kerja. Dan...dan aku tidak akan memintamu memasak lagi. Aku akan mencari Art agar kau tidak lagi membersihkan rumah!" sahut Hendra saat Vivian hendak membuka mulutnya. Dia tidak mau mendengar penolakan permintaan maafnya. Dia sadar, dirinya terlalu kejam memperlakukan istrinya selama ini.


Vivian mencebik, "Apa masakanku tidak enak?"


Hendra membasahi bibirnya, sejujurnya iya. Tapi Hendra tak berani mengatakannya sekarang.


"Aku sudah menduganya," Vivian mencibir.


"Bukan, Vi. Bukan itu," Hendra menggoyangkan telapak tangannya di depan Vivian.


"Jangan bohong, aku tahu kok, rasanya mengerikan!" Vivian menatap tajam suaminya. Dari balik kaca mata, tatapan Vivian terlihat galak.


Hendra mendesah pasrah, "Sejujurnya...iya!"

__ADS_1


Hening.


Hening.


Keduanya saling melirik, dan kemudian tertawa.


"Baiklah, aku akan belajar memasak mulai sekarang!" ucap Vivian setelah tawanya reda.


"Tidak usah. Lakukan saja sesukamu! Kita akan memulai semua dari awal, kuharap kau mau menerima semua kekurangan ku. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian," Hendra menatap Vivian penuh harap.


"Baiklah, aku juga berharap kau mau menuntunku menjadi lebih baik lagi," Vivian mengulas senyum tipis, membuat lekukan di pipinya tampak.


Hendra mengangguk, diberanikannya menggenggam tangan Vivian. Dia lega sebab Vivian tak menolaknya.


"Tidurlah, biar aku menjaga Almeer!" ucap Hendra lembut.


"Aku tidak mengantuk, Almeer akan tidur jika sudah dini hari, jadi aku terbiasa begadang dengannya," Hendra terhenyak mendengar penuturan Vivian. Selama ini dia tidak tahu hal ini. Dia semakin merasa bersalah pada Vivian.


"Pejamkan saja matamu! Pura-puralah tidur! Sekarang aku yang akan menggantikanmu menjaganya," Vivian mengerutkan keningnya.


"Kita jaga bersama-sama saja," putus Vivian, Hendra belum tahu saja bagaimana bayi saat begadang.


Hendra menghela napas, dia harus mengalah. Dia ingin menjadi suami yang pengertian dan penyabar. Menyesuaikan diri dengan Vivian yang memiliki sifat tertutup. Dia yang harus banyak bertanya dan terbuka, sepertinya.


Almeer seperti tahu kedua orang tuanya berbaikan. Dia berceloteh riang dalam bahasa yang hanya dimengerti olehnya. Kehadirannya menyatukan dua hati yang saling memunggungi.


Vivian merasa dirinya menghangat, melihat tawa suami dan anaknya. Sakit hatinya perlahan memudar, sabarnya kini terbayar, air matanya berganti bahagia. Entah keberuntungan apa yang menaunginya, saat dia memaksa Hendra mengantarnya ke rumah Kira hari ini.


Ah, cinta selalu menemukan cara, tak terduga dan terkadang di luar jangkauan nalar manusia. Sejatinya, cinta itu sederhana, sangat sederhana dan ada. Ada di setiap raga yang bernyawa.



__ADS_1



__ADS_2