Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Tragical Love


__ADS_3

Riko menaikkan alis menanggapi ocehan melantur pria yang selama ini dihormatinya ini. Kapan memangnya seorang Tony berkencan ... kalau iya, tentu Riko mengetahuinya pertama kali. Setidaknya, sejak lahir Riko selalu melihat pria botak ini, kemanapun dan dimanapun dia berada, Riko selalu tahu.


"Ini serius, kelak dia akan menjadi istrimu kalau perempuan." Asisten Tony terkekeh, lantas segera beralih tatap kepada Agiel. Anak kecil itu kesusahan membenarkan roda mobil yang sepertinya menjadi masalah sehingga mobil mainannya tidak mau berjalan.


"Hei, Boy ... sini biar kakek yang membenarkan!" Agiel menyerahkan mobil mainan kepada Asisten Tony beserta remote nya. Pria itu tersenyum lalu mengusap rambut Agiel.


"Anak lelaki tidak boleh menangis hanya karena mainannya rusak."


Agiel masih menatapnya dengan mata bulat yang jernih dan basah. Asisten Tony mengusapnya, "sudah jangan nangis, ini hanya kehabisan daya."


Perlahan diangkatnya Agiel ke dalam gendongan lalu membawanya ke meja kecil dekat ranjang Riko. Dengan telaten, Asisten Tony men-charger mobil tersebut.


"Kalau mobil sudah habis baterainya, artinya dia harus istirahat, biar besok bisa main lagi sampai puas. Jadi bosnya juga di charger dengan cara tidur, biar besok bisa main lagi ke tempat-tempat baru sama mobil-mobilanmu."


Agiel menatap mobil dan Asisten Tony bergantian. Anak itu keberatan untuk berhenti bermain sekarang, sementara Azziel masih berteriak-teriak kesenangan dengan mobilnya.


Asisten Tony mengerti akan keengganan pria kecil ini mengikuti nasehatnya, jadi dia memutuskan untuk menggendong Agiel dan membawanya ke jendela. "Lihat bintang di langit sana! Banyak, kan? Agiel mau nggak hitung bintang bareng Kakek?"


Agiel ragu, sebab dirinya belum bisa menghitung. Tetapi Asisten Tony mendesak, dia segera menunjuk bintang dan menghitungnya, memaksa Agiel yang terlalu lama berpikir ikut terhanyut dalam jebakan sang Asisten.


"One, two, three, four, five ...."


Agiel akhirnya menguap setelah ikut menghitung dalam bahasa sederhana yang dia bisa. Matanya juga mulai merah dan pedas. Tangan kecil itu mengucek mata kemudian merebah tanpa sadar di pundak Asisten Tony. Membuat senyum Tony melebar, dan tanpa tindakan memaksa, Tony terus menghitung sampai pundaknya terasa berat.


Riko sejak tadi memperhatikan sang panutan, dan dia sedikit percaya akan kata-katanya. Dan itu berhasil membuat kepala Riko penuh dengan pikiran yang aneg-aneh. Jika ucapan Asisten Tony benar, dia sekarang seperti sedang mengasuh calon istrinya sendiri.


Tatapan Riko jatuh pada Azziel, lalu merubah perlahan bentukan Azziel menjadi mirip wanita. Memegang boneka dan tersenyum ke arahnya. Riko berjengit mundur. Dia begitu ngeri hanya dengan membayangkan saja.

__ADS_1


Bisa jadi dia akan berusia 40 tahunan saat anak yang dibicarakan Asisten Tony mendatanginya. Duh, amit-amit.


Riko mengusap wajahnya, lalu membujuk Azziel agar sedikit tenang karena Agiel akan ditidurkan di ranjang Asisten Tony.


"Bapak bercanda kan soal anak tadi?" Riko ingin memastikan. Setidaknya sisa umurnya tidak dihabiskan dengan perasaan khawatir menggerogoti.


"Aku tidak suka berbohong." Asisten Tony memicingkan matanya, entah itu benar atau tidak, biar waktu yang menjawabnya. Dia juga masih menduga-duga. Sejauh ini, mereka hanya berkomunikasi lewat pesan, untuk bertemu sepertinya sesuatu yang mustahil.


Bagaimanapun, mereka sama-sama orang penting, dan agak tabu jika ketahuan menghabiskan waktu bersama-sama pada suatu malam yang indah.


"Aku harap, ini tidak akan menyulitkan anda di masa depan, Pak!" Riko menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan Asisten Tony adalah benar. Dilihat dari ekspresi tak biasa sang Asisten. Tetapi, Riko kesal bukan main juga, sebab dia merasa kecolongan. Bagaimana bisa, setidaknya lima tahun terakhir dirinya selalu mengikuti kemanapun Asisten Tony pergi, kecuali ke kamar mandi.


Dan dia bahkan baru bertugas secara mendadak setelah Johan pergi. Yang sampai sekarang belum ada serah terima jabatan resmi. Ah, Riko mendongkol dalam hati dan mulai menggulir ingatan soal Tony beberapa waktu belakangan.


"Jangan dipikirkan, nanti kepalamu pecah." Asisten Tony merebahkan badannya lalu memejamkan mata.


"Itu pasti anak adopsi, sama sepertiku atau yang lain? Anak panti, atau sesuatu yang berkaitan dengan dinas sosial." Riko memutuskan, lalu meraih Azziel dalam gendongannya juga.


"Apa?!" Riko benar-benar tidak percaya, dirinya harus berdiri di sini dan mendengarkan cerita yang terkesan halu. Apa pria tua itu sedang mengatakan sebuah lelucon tentang impian terpendamnya yang tak pernah terwujud?


Asisten Tony menarik kepalanya turun, melihat ekspresi Riko yang benar-benar syok. Pria itu terkekeh. "Aku dan dia memang tidak menikah, mengingat itu juga kesalahan semasa muda. Aku hanya bertanggung jawab saja, dan suaminya menerima wanita itu apapun keadaanya, tanpa menyembunyikan aku sebagai Ayah biologis putrinya. Aku menafkahi, dan terakhir aku menikahkan anakku sekitar waktu yang sama saat kau bergabung di sini."


"Tuan Dirga tahu?" Riko menyela.


"Kurasa tahu ... tapi beliau tidak pernah bicara apapun. Dan kami tidak pernah membicarakannya." Asisten Tony menatap langit-langit.


Riko kehabisan kata. Asisten Tony yang seperti itu saja bisa melakukan kesalahan, bagaimana dia yang masih suka menggoda gadis-gadis?

__ADS_1


"Anda mencintainya?"


Asisten Tony terdiam. Dia sedang memikirkannya.


"Tidak ... kami hanya bekerja sama membesarkan anak kami." Asisten Tony bangkit, tapi wajahnya—untuk pertama kali tampak tidak semeyakinkan seperti biasanya.


"Begitu, ya?" Riko membuang napas. "Cucumu sudah sebesar apa sekarang?"


"Tidak tahu ... mereka tinggal di luar negeri. Sepertinya suami anakku tidak suka fakta bahwa anakku bukan anak yang lahir dari pernikahan yang sah."


Riko mengerang. "Anda tahu ... jika anda dibenci itu sangat wajar! Anda bisa saja menghindari kesalahan, tetapi anda melakukannya!"


Ini seperti seorang guru yang mengajari muridnya membaca, tetapi gurunya bahkan tidak tahu huruf alpabetnya.


"Aku sudah mengatur segala sesuatunya, dan aku berharap anakku pulang untuk menerima sebagian besar aset milikku." Asisten Tony kembali merebah. "Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku, dan menunjukkan pada dunia, kalau anak hasil hubungan tak sengaja itu tidak pernah salah."


Riko menguapkan udara dari mulutnya keras-keras. "Anda terlalu rumit menjalani hidup. Bagaimana anda bisa makan, sementara anak anda entah seperti apa keadaannya?"


"Tidak juga! Ibunya mengabariku secara berkala. Bahkan untuk beberapa hal, aku dan anakku berkomunikasi. Kita hanya orang tua yang terpisah, kasih sayang kami tetap utuh."


Riko membuang muka. "Tetap saja anda salah!"


"Aku tidak bisa memaksanya menerimaku."


"Jadi dia menolak anda?" Riko terbengong tidak percaya.


"Itu sedikit mengerikan untuk sebuah kisah asmara, ya?" Asisten Tony terkekeh. Sayangnya, begitulah keadaannya. Wanita itu tidak siap dengan latar belakangnya yang begitu rumit dan melelahkan.

__ADS_1


"Tidak juga ... tapi tragis." Riko kini fokus menidurkan Azziel. Anak bosnya itu mulai lelah dan mengantuk, sepertinya, obrolannya dengan Asisten Tony membuat Azziel mengantuk.


Pria botak itu tertawa tanpa suara, lalu memeluk Agiel yang sudah lelap dalam tidurnya. Yah, tidak semua asmara berakhir bahagia kan? Memangnya setiap harapan harus berakhir baik semua? Tidak kan?


__ADS_2