Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sang Pengganti


__ADS_3

Senja yang hangat berganti petang yang dingin. Bias mentari yang mulai surut berganti dengan cahaya lampu yang tak kalah terang. Meski tak mampu menghangatkan.


Mobil abu metalik yang terkesan manly berbelok ke sebuah halaman. Berhenti tepat di depan garasi. Wajah lelah pria yang tengah turun dari mobil tak bisa lagi disembunyikan. Sebelah tangannya meraih tas hitam yang diseret paksa dari kursi penumpang di sebelah kursi kemudi. Meski bukan tas jinjing, dia membiarkan tas hitam yang tak begitu berat itu menggantung di tangan kirinya.


Pintu bercat putih itu masih belum sepenuhnya tertutup, sehingga kedatangannya tidak disadari penghuni rumah. Namun, derap sepatu yang beradu dengan lantai membuat gadis kecil yang tengah asyik mengunyah kudapan di sofa depan televisi memekik nyaring.


"Ayah..." melempar begitu saja wadah kudapan di pangkuannya, lalu berhambur secepat kilat menghampiri sang ayah yang melebarkan senyuman. Merendahkan tubuh dan merentangkan kedua belah tangannya.


"Anak gadis Ayah..." gerakan cepatnya menangkap punggung dan kepala belakang gadisnya. Menarik rapat ke dalam pelukannya. Kelopak matanya terpejam, menikmati aroma wangi rambut ikal yang begitu pekat mendatangi penciumannya. Kecupan diiringi suara khas terlantun setelahnya.


"Mana dedek dan mama?" Tangan kokoh itu membawa putri kecilnya dalam gendongan. Meski berat tapi itu tak berarti untuk tubuh kekarnya.


"Mama sama dedek masih di kamar, kaki dedek luka dan mama memberinya obat merah." Tangan kecil itu melingkar di leher si ayah, bibir mungilnya mendaratkan kecupan di pipi penuh parut ayahnya. "Ayah, apa iya jika luka ngga diberi obat merah itu meninggalkan bekas?"


Johan menarik wajahnya ke samping agar jelas melihat putrinya. Kerutan di keningnya sudah beranak pinak, sehingga membuat Kristal terkikik geli. "Siapa yang bilang? Dan dedek kenapa bisa sampai luka?"


"Aem, itu...tadi dedek jatuh dan lututnya berdarah sedikiit banget," jemari mungil itu mengisyaratkan sesuatu yang tampak sangat kecil pun dengan suaranya yang mengecil seakan luka adiknya tak berarti. "Tapi Nicky mengeluh terus dan tak mau diobati. Jadi Mama bilang kalau ngga diobati akan berbekas."


"Lalu kenapa Kris tiba-tiba tanya sama Ayah soal itu?" Johan mendudukkan Kristal di tempat sebelumnya. Dan dengan keras, dia juga melempar dirinya di sebelah Kristal. Tangannya merogoh wadah berbentuk tabung dengan warna merah dan putih berselang-seling, ikut menikmati kudapan manis milik Kristal.


"Karena ada bekas luka di pipi Ayah...apa dulu luka itu ngga diobati?" Cetus Kristal tanpa dosa. Dia bergantian kadang bertabrakan dengan tangan ayahnya, mengambil makanan terbuat dari biji jagung.


"Luka Ayah bahkan sampai dijahit, Kris. Artinya lukanya sangat serius dan dalam juga membutuhkan perawatan hingga berbulan-bulan. Tapi meski ada bekas luka, Ayah masih tetap tampan kan?" Johan menarik dasi yang melingkar di lehernya seolah lilitan itu kini terasa mengganggunya. Berondong jagung yang lengket ditangan itu akhirnya sampai juga di lidah Johan yang sejak tadi urung masuk sebab dia tak tahan untuk menjawab pertanyaan Kristal.


"Memangnya Ayah dulu kenapa bisa sampai luka? Apa Ayah nakal atau tidak mendengarkan Mamanya Ayah Jo?" Manik mata Kristal bergerak dari wadah ke wajah Johan bergantian. Dan masih berucap tanpa ada rasa bersalah atau rasa takut.


Johan mendelik saat dikatakan oleh anak sekecil Kristal bahwa dia nakal dan abai akan ucapan ibunya.


"Ni anak kalau ngomong suka bener," gerutu Johan dalam hati.

__ADS_1


"Wajah ganteng seperti Ayah mana mungkin nakal dan mengabaikan kata-kata Ibunya Ayah? Yang ada Ayah mendapat luka karena kecelakaan lalu lintas yang hampir membuat Ayah kehilangan nyawa."


Bibir Kristal yang awalnya mencibir tiba-tiba terlipat kedalam. Netra bening itu memindai wajah Johan dengan sendu. Tanpa diduga sama sekali oleh Johan, Kristal melemparkan diri ke arahnya. Memeluknya ketat.


"Terimakasih Ayah tetap bertahan hingga bertemu Kris, Mama dan Nicky," bisik Kristal terbata. Johan menghembuskan napas pelan, mendengar ucapan tulus seorang anak yang masih polos. Kedua lengannya mengusap punggung Kristal dengan lembut.


"Terimakasih juga karena Kristal mau menerima Ayah yang tidak sempurna sepertiku sebagai Ayahmu." Ambang mata Johan terasa panas, haru melingkupi dirinya. Belum pernah dia merasakan kebahagiaan menjalari sekujur tubuh.


"Wah, ada apa ini? Tumben peluk-pelukan sampai sebegitunya?" Viona berjalan mendekati Ayah dan putri sambung yang mengurai pelukan dengan pelan. Johan harus mengeringkan paksa rintik haru yang urung membasahi pipi dengan menepiskan kelopak matanya.


"Bukan apa-apa, Ma!" Kristal menyandarkan tubuhnya kembali setelah mengerling Johan. Seakan meminta kejadian barusan menjadi rahasia mereka berdua.


Johan mengiyakan dengan menaikkan kedua alisnya bersamaan, kemudian bangkit dan menumbuk ujung hidung ke pipi istrinya yang bersedekap penuh kecurigaan.


"Bagianmu nanti malam, jangan cemburu dong," bisik Johan sensual dan parau. Viona menjauh dengan decakan lirih.


"Mana Nicky?" Sambung Johan sambil menahan senyum di sebelah bibirnya. Masih menggoda Viona yang tampak merengut.


"Kopi saja, Ma!" Johan melepaskan jasnya, "aku mandi dulu...biar lelahku ilang."


"Memangnya Harris kemana hari ini?" Viona urung melangkah ke dapur, dia memilih mengekori suaminya ke kamar. Sebenarnya Viona penasaran sebab sepanjang hari ini, Johan hanya mengirimi pesan bahwa dia sibuk sekali.


"Dia kesiangan bangun karena menginap di apartemen. Mengambil waktu berdua tanpa gangguan anak-anaknya." Napas Johan mengembus kasar. Langkahnya terhenti untuk meraih bahu Viona agar mereka berjalan bersama.


"Beruntung anak-anak kita pengertian dan hanya dua!" Johan memburu Viona dengan ujung hidungnya. "Aku ngga bisa bayangin bagaimana kacaunya malam Harris dan Kira."


Viona membisu sambil terus berjalan, tampak pikiran wanita itu sedang memikirkan sesuatu.


"Maaf aku membuatmu ingat mantan kekasihmu."

__ADS_1


Viona terkesiap, "bukan itu yang meresahkanku, tapi...bagaimana jika anakmu bertambah satu?"


Bibir Viona menipis saat Johan mengerutkan kening. "Kau hamil?"


"Aku belum pasti tapi aku menghubungimu tadi pagi karena merasa pusing dan mual. Dan alat test kehamilan yang aku pakai tidak menunjukan garis yang jelas, tapi ada dua garis," ucap Viona cepat. Terlihat dia ragu tapi berusaha membuat Johan mengerti dengan kegelisahan hatinya.


Johan menatap wajah Viona dengan serius. "Apa kau tidak trauma jika hamil lagi?" Bayangan suram saat Viona mengandung membuatnya khawatir.


Viona menggeleng pelan. "Malah aku ingin merasakan hamil normal seperti wanita lain, dengan dampingan suami dan mendapatkan kasih sayang penuh."


Kedua netra mereka berpadu, saling menyelami. Viona begitu yakin dan Johan tak kuasa menyurutkan binar di ambang iris Viona.


"Aku akan berusaha menjadi suami yang siaga dan mencurahimu kasih sayang, Vi. Selama kau yakin, aku akan mendukungmu penuh. Asal...kau tetap mengutamakan kesehatan dan dirimu sendiri!" Peringatan Johan tampaknya membuat Viona lega. Setidaknya ada tautan yang mengikat mereka agar cinta diantara keduanya semakin mengakar kuat.


Johan meraih istrinya dalam pelukan, hatinya menggemakan syukur yang tak pernah putus. Di usianya yang tak lagi muda, anugerah masih mengucur deras untuknya. Hujan ciuman kembali melanda, mengurungkan niat membersihkan diri. Membiarkan dirinya hanyut dalam pusaran indah penyatuan raga.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2