
Hari beranjak siang, saat Harris berangkat ke kantor. Hal yang membuat semua orang menganga adalah Harris bertingkah manis, bukan pemarah seperti dulu. Hal ini membuat Johan senang, untuk keduanya, walau hatinya menangis.
Harris mengecup kening Kira sebelum berangkat ke kantor, dan sekilas di bibir manis menggoda itu. Pipi yang mengulas rona merah dan senyum malu-malu dari istrinya yang membuat Harris bersemangat.
Belum lama Harris meninggalkan halaman, mobil Agus memasuki halaman, rupanya anak-anak sudah pulang dari sekolah. Kira yang hendak menutup pintu, mengurungkan niatnya. Kira sedikit khawatir bagaimana reaksi anak-anak melihat ada orang baru di rumah ini.
"Mama," Suara melengking Jen selalu terdengar paling awal. Kira tersenyum melihat pipi Jen yang melompat-lompat mengikuti kakinya yang berlari, menghambur ke pelukan Mamanya.
"Kok sudah pulang, Nak?," Kira menyambut anaknya dengan pelukan. Menghujani pipi bulat itu dengan ciuman.
"Kan ujian, Ma. Mama lupa?," Jen menjauhkan wajahnya dari hidung Mamanya.
Kira menepuk jidatnya," Oh iya, Mama lupa."
"Mama, pasti pura-pura lupa," Jen mencebik, sehingga membuat Kira tertawa.
Excel dan Jeje mencium punggung tangan Mamanya, sebelum masuk ke dalam rumah. Mengabaikan Jen yang masih memeluk Mamanya. Namun baru selangkah, mereka berdua berhenti,
"Ma, itu siapa?," Jeje mencolek pundak Mamanya, bagian tubuh Kira yang bisa di jangkau oleh Jeje.
Kira menoleh, menghentikan ciumannya di pipi Jen. "Oh, itu, saudara Tante Viona, Kristal namanya, Tante Viona itu, temannya Papa Harris."
"Oh," Jawab Jeje.
Excel yang mendengarkan penjelasan Mamanya, mengabaikan Kristal yang memperhatikan mereka. Segera mereka berdua,meninggalkan ketiganya di depan.
"Jen, kenalan dulu sama Kristal," Kira mendekatkan keduanya, berhadapan. Kristal memandang Jen di liputi keraguan.
"Hai, aku Jenny, panggil saja Jen," Jen mengulurkan tangannya, dan Kristal menyambutnya.
"Kristal," Kristal menarik lagi tangannya, tersenyum sekilas. Dia sedang menilai Jen, dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Entah apa yang di pikirkan bocah kecil itu.
Jen, tersenyum, memperlihatkan barisan giginya yang putih. Namun, karena ada yang tanggal, jadilah rongah di samping gigi kelincinya.
"Ma, Jen masuk dulu," Jen memandang Mamanya, dia merasa aneh di perhatikan oleh Kristal sedemikian rupa, sehingga dia memilih pergi.
Kira mnggiring Kristal ke dalam rumah, sesekali dia memandang ke arah Kira selama berjalan, jemarinya bergerak kecil di depan dada. Seperti hendak mengutarakan sesuatu.
"Kristal, apa ada yang mengganggumu?," Kira mencoba menebak, namun hal itu membuat Kristal mengerjap berulang, mata hitam itu tiba-tiba mengembun.
"Hei, tidak apa-apa, Tante, hanya bertanya, jika ada yang Kristal inginkan, katakan saja," Kira menghadang langkah Kiristal dan berjongkok di depannya. Tangannya memegang bahu Kristal.
"Em, Tante, bolehkah aku ikut Jen main?," Tanyanya ragu-ragu.
"Boleh, kita ke kamar Jen dulu, yuk," Kira berdiri dan menggandeng tangan kecil Kristal. Kira benar-benar prihatin dengan kondisi bocah ini. Seperti kurang gizi.
Mereka berdua menaiki tangga, melintasi kamar Viona dan kamar Kira, dan sampai lah mereka di kamar Jen dan kakak-kakaknya.
Namun, suara menggelegar dari belakang mereka menyurutkan langkah keduanya.
__ADS_1
"Kristal, kau mau kemana? Kembali ke tempatmu!," Suara yang sangat keras tak sebanding dengan tubuhnya yang kurus dan rapuh. Ditambah perutnya yang buncit, membuat Kira ngilu di buatnya.
"Viona, jangan menghardik anakmu, biarkan dia bermain sesukanya," Balas Kira tak kalah keras. Namun, karena suara Kira selalu kalem, jadi bentakannya tidak menimbulkan kesan apapun bagi Viona. Kristal mulai merepet ketakutan, tubuhnya mulai beringsut ke belakang Kira. Tangannya semakin erat memegang jemari Kira.
Viona mendelik, Kira tahu, bahkan tanpa Viona berdalih macam-macam. " Dia bukan anakku."
Kira mengembangkan senyuman, hanya senyuman." Kau boleh berkeliling dan membohongi semua orang, tapi tidak padaku. Meski aku tidak tahu, tapi kemiripan kalian tidak bisa berbohong,"
"Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok tahu. Ayo, Kris," Viona melangkah mendekati Kira, menatap Kira lekat-lekat. Lalu merampas tangan rapuh Kristal. Ingin rasanya Kira menahan Kristal, tapi dia tidak berhak. Dan selama Viona tidak menyakiti Kristal, Kira belum akan melakukan apa-apa.
Kira menghembuskan napas, tekanan lagi, namun kali ini, Kira berjanji pada dirinya, untuk tidak menyerah, untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Sepanjang hari, Kira hanya memperhatikan tingkah laku Viona. Kira benar-benar melongo, Viona tidak makan siang, tidak ngemil atau menginginkan sesuatu. Entah menahan atau memang tidak suka, Kira tidak tahu.
Malamnya, seperti biasa, Kira menemani anaknya tidur, Kristal tidak tampak bahkan sampai makan malam tiba. Kira sedikit cemas dan meminta Sari mengantar makanan ke kamar Viona. Apa mereka tidak lapar?, pikir Kira.
••••••
Harris tiba di rumah saat sudah larut, dia tampak kesal karena esok harus bertolak ke luar negeri selama satu minggu. Sedianya, masih esok lusa, namun menjelang akhir tahun semua menjadi sibuk dan Harris mau tidak mau harus mengikuti jadwal yang sudah di tetapkan sebelumnya.
Rumah sudah sepi, Johan mengikuti Harris ke dalam rumah, untuk mempersiapkan barang bawaan yang hendak di bawa besok. Namun, Harris harus memendam kekesalan sebab pakaiannya sebagian besar masih di kamar yang di tempati Viona.
Harris melangkah menuju kamar barunya, berharap wanita yang di rinduinya tengah menunggunya. Tetapi, sebelum sempat Harris membuka pintu, di lihatnya gadis kecil yang bersama Viona itu tengah mengintip ke dalam kamar anak-anak. Entah apa yang dia lakukan di sana.
"Sedang apa?," Tanya Harris membuat Kristal berjingkat kaget dan hampir menangis.
Kristal hanya menggeleng kuat, dia sangat takut, terlebih terakhir kali dia ingat, Harris sangat menyeramkan. Harris sedikit mencuri pandang ke dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka. Cahaya yang masih terang benderang, membuat netra Harris leluasa memandangi bagian dalam kamar.
Kristal ragu, dia ingin mengangguk tapi takut, akhirnya, dia memilih menggeleng pelan. Manik mata gadis kecil itu berkilau tertimpa cahaya di depan kamar. Dia mencuri-curi pandang kepada Harris yang memandangnya dengan keheranan.
Harris bangkit, dan membuka pintu kamar lebar-lebar. Sehingga Kristal bisa melihat ke dalam kamar dengan leluasa.
Harris mengecup ujung telinga Kira, yang sedang berbaring memeluk Jen dari belakang. Lagi, Harris mengulangi hingga dua, tiga kali, baru mendapat respon dari Kira.
"Eh, ya, kenapa?," Kira menoleh malas, lalu sedetik kemudian, dia terlonjak begitu melihat Harris di ufuk matanya.
"Kristal di luar," Bisik Harris, membuat Kira menoleh ke arah pintu, seketika.
"Kenapa dia luar sana, Yang?," Bisik Harris lagi.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Biar aku yang melihatnya ya," Kira mendorong Harris yang berada di atasnya, pelan. Kira membenarkan bajunya, menyisipkan rambut ke belakang telinganya, dan berjalan dengan lemas menghampiri Kristal yang masih menekan tubuhnya ke tembok kamar. Kira mengulas senyuman, meski tertelan oleh wajahnya yang mengantuk.
"Kristal sayang, kenapa di sini? Mau tidur sama Jen?," Belum sampai Kira menyelesaikan ucapannya, Kristal sudah mengangguk dengan cepat. Matanya terlihat sayu, dia sangat mengantuk.
"Baiklah, ayo masuk," Kira menarik tangan Kristal yang langsung bersembunyi di belakang Kira. Kira memberi isyarat kepada Harris untuk keluar dari kamar menggunakan mata. Namun, bukan Harris jika tidak membuat istrinya kesal. Dia bergeming, dan terus memperhatikan apa yang Kira lakukan.
Harris sengaja melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja panjang yang di gunakannya, sembari menunggu Kira menidurkan Kristal di dekat Jen. Gerah dan lengket. Kristal yang memang sudah mengantuk, langsung memejamkan mata saat kepalanya menyentuh bantal.
Kira menghela nafas, satu lagi yang akan menjadi tanggung jawabnya sekarang. Kira mematikan lampu, dan menggandeng kekasihnya yang sedang bersandar di sofa kamar.
__ADS_1
"Apa sih yang di lakukan Mamanya Kristal? Masa membiarkan anaknya berkeliaran, malam-malam," Gerutu Kira saat keduanya sudah jauh dari pintu kamar anak-anaknya. Tangannya menggandeng mesra pinggang suaminya, dan si suami, meletakkan ujung kepalanya di pelipis kanan sang istri. Mesra dan serasi.
"Anak?," Harris mengangkat kepala dengan tergesa-gesa. Langkahnya yang lelah seketika berhenti.
"Iya, kau tidak tahu, ya?," Kira mencebik, dia sudah menduganya.
Tiba-tiba terdengar teriakan di iringi benda-benda berjatuhan dari kamar Viona. Kira memijat pelan pangkal hidungnya, kedamaian rumah ini sudah terganggu, pikirnya. Harris yang merasa kesal langsung mengambil langkah panjang menuju pintu kamar Viona.
"Apa kau tidak bisa diam?," Sembur Harris saat pintu menjeblak terbuka. Menampakkan Viona yang sedang marah, melempar foto pernikahan Harris dan Kira yang tergantung di seberang ranjang dengan benda apapun dalam jangkauannya.
"Kau sedang mengujiku? Dia hanya pelarianmu, Ris. Kau sama sekali tidak mencintai dia, kau hanya menggunakan dia untuk membuatku cemburu, bukan?," Viona menatap nanar Harris yang masih bertolak pinggang di ambang pintu. Wajahnya yang lelah mulai mengeras dan kesal.
"Kau pikir, kau berharga, hingga aku melakukan suatu hal, sejauh ini untuk menarikmu kembali?," Cibir Harris.
"Ris, aku tahu kamu. Kamu tidak mungkin berpaling dariku secepat ini. Aku cemburu melihat itu, ya, aku sangat cemburu (menunjuk foto pernikahan di dinding). Ku mohon, Ris, kembalilah padaku, kita bisa bersama-sama lagi. Aku janji, aku akan meninggalkan semuanya, semuanya, asalkan kita bisa kembali bersama lagi. Kita akan membangun semuanya dari awal lagi, ya," Viona merengek, memohon, dia bersimpuh di kaki Harris. Menggenggam tangan yang pernah merengkuhnya, menciuminya berulang-ulang. Namun, si empunya tangan malah mengembangkan senyum sinis, mengejek.
"Kenapa baru sekarang? Kemana saja dulu? Heh, setelah semua penolakanmu, setelah sakit ini, setelah aku dengan yang lain, kau baru datang? Apa kau yakin tidak melewatkan sesuatu? Kau yakin aku masih Harris yang sama?," Harris memang tidak bergerak, membiarkan Viona duduk bersimpuh di kakinya, tetapi hatinya tidak akan menoleh kepadanya lagi.
Viona terisak mendengar penuturan Harris, dan itu benar, ketika yang di sakiti mengungkapkan kesakitannya, Vionalah yang menangis penuh sesal. Menyesal melewatkan ketulusan Harris yang selama ini dia abaikan. Memanfaatkan rasa cintanya yang besar, demi kepentingannya. Dan, bodohnya dia, kala dia menggenggam berlian, dengan angkuhnya dia, memilih mengais batu.
"Sayang, aku salah, tapi aku sadar sekarang, hanya kamu yang aku cintai, aku membutuhkanmu," Lirih Viona seraya mengusap telapak tangan Harris ke pipinya, namun segera di tarik oleh Harris, menjauh, kantong sakunya bahkan lebih pantas di sentuh dari pada dia.
"Setelah semua yang kulakukan padamu, namun kau hanya memandangku sebelah mata? Dan kau memintaku kembali? Kurasa aku belum segila itu atau paling tidak kewarasanku masih berada di tempatnya saat ini!," Harris kembali mengeras, emosinya kembali tersulut.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf," Viona menunduk membiarkan air matanya jatuh membasahi ujung celana Harris.
"Jangan begini, kau malah terlihat mengerikan saat menangis, berdirilah, mana Viona yang dengan angkuh menolakku? Menghardikku?," Harris menjauh dari Viona yang dengan enggan melepas pelukan di kaki Harris.
"Ayolah, bahkan sampai kering air matamu, aku tidak akan mudah padamu. Setidaknya, sampai aku kehilangan akalku, aku masih akan bersama dia. Jangan berharap lebih. Kau bisa di sini, karena dia," Harris berkata seolah mengejek, merendahkan Viona, berharap dia akan marah dan dengan mudah Harris menendangnya keluar dari sini. Harris melangkah ke pintu, meninggalkan Viona dan kamar yang berantakan. Namun, ketika berada di ambang pintu, Harris berhenti,
"Dan, jika kau tidak tahan dengan foto kami, keluarlah dari kamar ini, kamar ini, milik dia, bukan lagi milikmu," Tanpa menoleh lagi, Harris melangkah keluar kamar.
Seulas senyum yang terukir di sudut bibir wanita di luar kamar ini, menjadi penawar amarah yang bergemuruh. Tanpa pikir panjang, Harris menyambar senyuman itu dengan rakus, menumpahkan semuanya di sana. Keduanya tidak berhenti, sampai nafas mereka habis dan terengah-engah.
Ini bukan lagi malam, tapi dini hari, tak peduli lelah, tak peduli beberapa jam lagi dia harus berkemas, semua itu bisa menunggu, tapi yang satu ini tidak. Dini hari yang panas, dini hari yang sedianya hening, kini mulai riuh lagi, dengan semua nada rendah yang keluar dari keduanya. Melodi yang mengalun indah, seirama hembusan angin di luar kamar. Membiarkan bibir meracau dalam bahasa yang tak jelas, namun, bahasa itu dengan mudah di mengerti, bahkan oleh Johan yang terkantuk-kantuk menunggu bos nya kembali ke ruang kerja. Johan memilih menarik sebuah selimut yang berada di ruang kerja, saat mendengar bahasa dua orang itu. Memejamkan mata, menutup telinga, mengusir bayangan dua orang itu.
"Aku berharap buta, tuli dan gila saat ini, suara itu sangat mengganggu," Johan berdecak kesal. Padahal, Johan tidak mendengar, atau melihat, semua ada dalam bayangannya, dia hanya membayangkan suara yang di curi dengar olehnya, ketika telinganya merapat ke pintu kamar baru bosnya.
•
•
•
•
Maaf baru bisa up, authornya ngantuk😴😴
Happy reading semuanya,
__ADS_1
Author😘😘😘😘