
Riko memainkan korek api di tangannya. Mati nyala, mati nyala, mati nyala. Sudah lebih dari setengah jam seperti itu. Dia memang tidak punya apa-apa untuk dipikirkan selain pekerjaan, tidak punya hal lain untuk dikerjakan. Segabut itu dirinya jika tidak bekerja.
Jadi, sejak dia lulus SMA ... Asisten Tony membawanya untuk mengabdi kepada keluarga Dirgantara. Tony butuh penerus yang terpercaya. Riko sejauh yang Asisten Tony lihat, dinilai mampu mengemban tugas itu. Dengan sebuah jaminan, bahwa semua milik Tony akan dimiliki Riko, setelah diberikan sebagian kepada anak kandungnya.
Riko menghela napas. Dia menarik badannya berdiri, lalu menatap luar jendela yang cukup ramai. Lalu lalang orang di bawah sana tampak begitu lepas dan ceria, sementara disini terasa sepi. Bahkan liburan ini sama sekali tidak menarik baginya. Lebih baik jika dia bertugas saja hari ini. Riko hidupnya selalu datar.
"Uncle ...."
Riko tersentak. Seketika dia memutar tubuhnya, dan mendapati Ranu berdiri dengan wajah sendunya.
"Oh, hai Ranu." Riko berdiri menghampiri Ranu yang menatapnya dari depan pintu. Gadis kecil yang begitu gembul itu mungkin tidak punya teman.
Riko berjongkok di depan Ranu. "Anak cantik kenapa merengut begini?"
Ranu menjatuhkan kepalanya menunduk. "Nanu pengen makan es krim."
"Tapi sama Mama kan nggak boleh?" Riko mengusap pipi Ranu lembut. Mata jernih itu selalu mengingatkan Riko pada tatapan galak seorang Harris, tetapi di saat yang sama gadis ini selalu bersikap lembut.
"Tapi Nanu lagi pengen, Uncle."
Riko menghela napas, melihat Ranu merengek. Entah kenapa, Riko selalu tidak tega melihat Ranu sedih begini.
"Uncle telpon Mama dulu, ya, cuaca sedang dingin, nanti kalau Nanu batuk dan pilek saat pulang, kan bikin Mama repot." Riko menengahi. Segera dia merogoh ponsel di saku celananya.
Ketika Riko menekan kontak Kira, Ranu menahannya. Mata gadis itu tampak begitu memelas. Riko membuang napas.
"Nanu, dengerin Uncle! Kalau Kamu sakit, nanti yang diomeli siapa? Yang kena masalah siapa? Nanu mau Mama mengomel dan marahin Nanu?" Riko mencoba memberi penjelasan. Ranu memang tidak terlalu tahan dingin. Di Indonesia saja yang cuacanya panas, Ranu kerap pilek dan batuk. Apalagi di sini, yang cuacanya cukup dingin walau masih musim gugur.
"Nanu janji, nggak akan sakit."
"Ha?!" Riko baru kali ini dibuat bingung dengan kata-kata anak kecil. Ya maksudnya, sakit itu bisa dinego kapan datang dan perginya?
"Nanu Sayang, Uncle bukan nggak mau nurutin Nanu, tapi—"
"Plis Uncle ... Nanu pengen makan es krim." Puppy eyes di bola mata hitam itu menyihir Riko. Tubuh kecil yang begitu montok itu mendekat dan menggenggam tangan Riko.
Entah apa yang membuat gadis itu teramat ingin menikmati es krim, bahkan mengabaikan peringatan larangan dari sang Mama.
"Oke, baiklah. Tapi janji Nanu nggak akan sakit, ya!" Riko tidak punya pilihan lain lagi ternyata.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Riko mengambil sweater dan esensial oil yang biasanya ampuh meredakan pilek yang dialami Riko.
Ranu tersenyum cerah saat menggandeng tangan Riko meninggalkan kamar, menuju gerai es krim terdekat.
Ternyata Ranu menyukai nuansa pastel di gerai eskrim tersebut. Gadis kecil itu terpesona melihat interior dan suasana kedai yang hangat dan lembut. Riko bahkan tersihir beberapa saat menyaksikan interior di sini. Terasa sedang berada di dalam buaian permen kapas yang lembut, harum gula yang memabukkan, dan hanyut dalam lelehan es krim yang lumer.
"Uncle suka tempat ini kan?" Ranu telah mendapatkan satu mangkuk es krim aneka rasa dengan toping penuh.
Riko terbelalak, saking asyiknya larut dalam suasana yang lembut ini, Riko tidak melihat Ranu memesan. Bagaimana gadis ini mengatakan keinginannya pada si penjaga gerai?
"Uncle pesan sendiri, ya ... Nanu mau makan ini dulu. Kalau udah leleh nggak enak lagi." Ranu duduk dan mulai menikmati es krim nya tanpa memedulikan Riko. Kaki gadis kecil itu mengayun, kepalanya bergeoyang-goyang. Manis sekali.
Riko memesan satu cone kecil es krim. Dia tidak yakin akan makan makanan yang kontras dengan dirinya yang begitu kasar dan kuat.
Selama menyiapkan pesanan Riko, pegawai kedai es krim tak henti mengerling dan mengirimkan sinyal bahwa mereka terpikat oleh Riko. Wanita jepang memang selalu ekspresif dalam mengungkapkan ketertarikan.
Riko menggaruk leher belakangnya saking salah tingkah dan malu.
"Ini pesanan anda, Tuan," ucap si pegawai dengan bahasa jepang. Pegawai kedai menyodorkan cone dengan tangan kiri. Masih dengan senyum yang begitu menawan, dia menatap Riko tanpa putus.
Ketika Riko menerima, tangan lain gadis itu menyusuli dengan menimpakan tisu sehingga mereka saling menggenggam.
"Call me please, Sir." Pegawai itu malu-malu, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sungkan berkenalan lebih dulu.
Wanita itu langsung kecewa, tetapi Riko tidak memberikan kesempatan wanita itu mendesaknya lebih jauh.
Astaga, Riko sudah berdebar-debar tak keruan saking takutnya. Entah kenapa, dia itu takut kalau wanita lebih agresif, walau dia tau wanita jepang memanglah tidak sungkan mengutarakan ketertarikannya.
Dalam perjalanan ke meja, Riko menatap sekeliling, dan matanya jatuh pada sepasang lansia yang tampak sedang jatuh cinta.
"Ya Tuhan, Pak ... ini kepentingan yang anda maksud?" Riko membuang napas dan berjalan mendekati Ranu.
"Ranu ... Uncle ke toilet sebentar, tolong jaga es krim Uncle ya!" Riko tidak bisa membiarkan pria tua itu tersenyum seperti ABG. Apalah itu puber kedua, Riko tidak percaya yang demikian ini.
Riko berjalan cepat menuju Asisten Tony yang—astaga, menggenggam tangan seorang wanita.
"Ehem!"
Deheman Riko membuat tautan tangan mereka langsung terpisah. Gerakannya begitu cepat, menunjukkan kalau mereka tidak pernah berharap ada yang mengenali. Si wanita bahkan langsung menggunakan tangannya untuk menutupi muka.
__ADS_1
"Jadi urusan lain anda itu dia?" Riko sebenarnya hanya berniat menggoda. Tapi melihat muka pria tua itu gugup sekali, dia menjadi kesenangan.
"Riko ... ini—"
"Oh, saya kawan lama Anthony." Wanita itu memutar badan dan menghadap Riko, tangannya terulur. "Oh, kamu?!"
"Senang bertemu anda lagi, Nyonya." Riko terkejut dua kali. Jadi tadi di resto hotel, Pak Tua Tony tersenyum pada wanita yang duduk di depannya.
Wanita itu tersenyum lalu berdiri, melanjutkan niatnya menjabat tangan Riko.
"Apa artinya ini?" Tony berdiri saking bingungnya.
"Kami sudah kenal, jadi kenapa anda menutupi dari saya, Pak?" Riko menyeringai penuh kemenangan saat menatap Asisten Tony.
"Oh! Begitu?!" Tony kebingungan dan jangan lupakan wajahnya yang pucat itu.
Riko tertawa puas dalam hati.
"Jadi bolehkah saya bergabung dengan kalian? Tampaknya ini tidak akan mengganggu kalian." Riko terkekeh lalu duduk. Dia lupa Ranu yang menunggunya sendirian.
Asisten Tony menghela napas berat, lalu dengan tidak berdaya, dirinya menjatuhkan diri di kursi dan membiarkan Riko bergabung.
"Jadi anda adalah—"
"Saya Amanda. Saya bekerja di seberang kantor Tuan Dirga, sebelum saya resign dan menikmati masa tua dengan anak dan cucu saya di Amerika." Wanita itu begitu elegan dengan anting mutiara kecil dan tatanan rambut yang sederhana. Amanda sebenarnya lebih terkesan sporty dan ceria dengan penampilannya, tetapi ada kesan dia sedang berusaha menggali memori dengan penampilannya ini.
Riko mengerling Asisten Tony. Bibirnya tak tahan untuk tidak tertawa.
"Saya memahami anda, Nyonya ... mungkin orang lain tidak." Riko memutar kepalanya dari assisten Tony ke Amanda. "Terkadang, ada lelaki yang hatinya sekeras baja. Yang seperti itu tentu tidak akan bisa memahami wanita yang bersedia menunggunya."
Amanda tertawa seraya menutupi mulutnya. "Terimakasih atas pengertiannya."
"Uncle ...!"
Riko membeliak, "Astaga ... Ranu!"
*
*
__ADS_1
*
Sorry kalau lama ya, aku masih ada novel lain yg dikerjakan. Ceki-ceki profil saya bila suka dengan cerita yang saya buat.😍