Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Hanya Sebuah Dongeng


__ADS_3

Johan telah menunggu kedatangan mereka di pelabuhan. Matanya awas menatap kedua manusia yang berjalan dengan tangan saling mengait di pinggang. Mengukir senyum bahagia.


"Aku bahagia untuk kalian," Batin Johan menangis pilu.


"Hai, Jo," Sapa Kira saat mereka dalam jarak yang tak terlampau jauh. Senyum merekah di bibir Nyonya Bos nya itu seperti belati yang mengoyak perasaannya. Tapi, sebisa mungkin, Johan menyembunyikan perasaannya, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Malam, Nyonya. Apa anda menikmati liburan anda?," Johan membungkuk memberi hormat. Dan itu membuat Kira menarik manik matanya ke atas, sebal.


"Iya," Jawab Kira malas.


"Kau hanya menyapa dia saja? Aku bosmu, bukan dia!," Seru Harris. Mereka lupa, jika Harris tidak suka di abaikan. Mata hitam setajam elang itu, sudah melebar sempurna, menghujam ke arah Johan.


"Maaf Tuan, saya hanya membalas sapaan Nyonya saja," Johan segera membela diri.


"Sudahlah, aku yang menyapanya, Yang, kau ini seperti Jen saja, lama-lama." Kira segera menarik lengan suaminya menjauh menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari posisi mereka berdiri.


Memang Harris melangkah mengikuti istrinya, tapi matanya masih menatap Johan penuh ancaman. Namun, Johan tidak begitu takut, dia sudah terbiasa dengan tatapan membunuh dari Harris, bahkan pernah lebih parah dari ini.


Mobil melaju membelah jalanan, menembus malam. Hingga setelah hampir satu jam perjalanan sampailah mereka di rumah.


Harris membantu istrinya turun dari mobil, "Naiklah dulu, kau tampak sangat lelah," Harris menanamkan kecupan singkat di bibir merah alami itu.


Johan yang sudah berdiri di samping mobil, mengalihkan perhatiannya ke arah sepatunya. Dan menendang kecil roda kendaraan itu.


"Lama-lama, aku mau pakai kacamata kuda," Gumam Johan dalam hati.


Tanpa banyak bicara, Kira segera menuju ke kamar, dia ingin segera tidur, meninggalkan Harris yang sepertinya masih ada urusan dengan Johan.


Harris dan Johan masuk ke kamar di mana Viona berada. Tampak olehnya, wanita itu, tengah memandang Kristal yang tertidur di sampingnya. Begitu mendengar suara handel pintu, dia menyeka air mata yang menggenang di wajahnya.


"Harris," Viona mendesis.

__ADS_1


"Kau kuat berjalan?," Tanya Harris, melihatnya lemah, dia juga tidak tega untuk mengusirnya.


"Iya, aku kuat berjalan," Viona merosot turun dari ranjang, mendekati Harris. Namun, Harris berbalik dan meninggalkan Viona saat mereka nyaris beradu pandang. Tanpa aba-aba, Viona mengikuti Harris menuju ruang tengah, tak lupa dia menutup pintu kamar.


"Apa yang ingin kau katakan?," Tanya Harris yang berdiri dengan tangan terlipat di dada.


"Mana Kira?," Viona megedarkan padangannya ke seluruh ruangan, mencari-cari keberadaan Kira.


"Dia sudah ke kamar," Jawab Harris datar. Tatapannya semakin tajam menghujam ke arah Viona.


Viona menarik napas sebelum dia duduk di sofa dan membalas tatapan Harris.


"Aku tahu kau akan memindahkan aku dan Kristal ke apartemen, dan sebenarnya tidak baik juga aku mengajukan penawaran kepadamu."


"Tapi, ku mohon Ris, biarkan aku tetap di sini, setidaknya di sini aku merasa seperti punya keluarga, dan Kristal pasti akan senang punya teman yang seusia dengannya."


Harris belum menyahuti, dia masih meneliti wajah Viona, nyaris tanpa berkedip. Dia hanya berharap tidak keliru membaca ekspresi Viona yang seperti sudah menyerah.


"Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian berdua, aku tahu kau sangat mencintai dia, dan, dan aku bukan siapa-siapa lagi, aku hanya orang lain, sekarang," Sambung Viona, saat Harris hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"I-iya, aku, kau bisa pegang ucapanku," Jawab Viona dengan bibir bergetar. Hati Viona mencelos ke dasar, dia berharap Harris akan iba padanya saat tahu keadaannya yang lemah. Tapi, kenyataannya, dia malah mendapat tatapan tajam setajam pedang yang baru di asah. Belum pernah, selama bersamanya, Harris bersikap dingin seperti ini. Sekalipun marah, dia akan segera luluh oleh bujuk rayunya.


"Kembalilah, aku akan memikirkannya lagi, tapi jika kau sedikit saja berbuat ulah, akan kupastikan, kau tidak akan punya tempat, bahkan untuk sekedar berteduh," Ancam Harris dengan sorot mata yang semakin menajam.


Viona mengangguk pelan, tapi pasti, dia benar sangat takut dengan ancaman Harris, yang awamnya, selalu menjadi kenyataan. Orang yang paling menepati janji adalah Harris. Viona menelan ludah membasahi kerongkongannya yang terasa tandus, ketika memikirkan fakta itu. Dan, dengan perlahan, sangat pelan, dia berdiri dan melangkah ke kamarnya lagi.


Melalui ekor matanya, Harris mengantar Viona ke kamarnya. Tatapan Harris tak mengendur sama sekali, bahkan semakin ketat menajam, hingga Viona lenyap dari pandangannya. Harris menunduk, menekan dahinya pelan, berulang kali dia menghembuskan napasnya, kadang pelan, kadang kasar. Seakan bebannya tidak berkurang sama sekali.


"Tuan," Suara Johan membuat Harris menoleh.


"Aku akan ke kamar, Jo. Kau istirahatlah, kau juga pasti lelah. Untuk berjaga-jaga, agar wanita itu tidak bertindak bodoh, tambah beberapa orang lagi untuk bergantian jaga," Perintah Harris pada Johan yang langsung bisa di pahami oleh Johan.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Johan segera meninggalkan tempatnya berdiri, pun dengan Harris, dia juga beranjak ke kamar. Tubuhnya sudah tak sabar ingin di istirahatkan. Sesekali, Harris menghentakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Lelah.


Kamar yang baru di tempatinya beberapa waktu ini, kini menjadi tempat yang hangat. Setidaknya sampai kontaminasi Viona menguap, baru mereka akan pindah ke kamar utama. Harris segera membersihkan diri, yang sebenarnya masih bersih. Berganti dengan piama, lalu menyusul singa betina yang tengah menggulung tubuhnya di dalam selimut.


Harris hanya berharap, Viona akan menepati janjinya, sehingga akan membuat semuanya lebih mudah. Harris sebenarnya tidak tega melihat Viona menderita, di tambah perutnya yang semakin besar, dan tubuhnya yang lemah. Bagaimanapun, Viona pernah menjadi seseorang yang sangat berarti baginya. Tetapi, sekarang tidak lagi.


Wanita rakus yang tengah tertidur inilah yang paling berharga dalam hidupnya. Mewujudkan mimpinya akan sebuah keluarga yang utuh dan lengkap. Menghadirkan kehangatan di setiap sudut rumahnya yang seakan membeku sebelum kedatangannya.


Sementara, Viona masih tergugu, dia sudah tidak bisa lagi merengkuh pria yang pernah bersedia mati untuknya. Menyesal, karena mempermainkan Harris demi cinta butanya pada pria lain, yang pada akhirnya malah meninggalkannya. Memberinya setumpuk masalah dan berjuta luka.


Dialah wanita yang angkuh, meremehkan cinta tulus, yang dianggapnya hanya sebuah dongeng. Cinta yang murni itu hanya mitos baginya. Jika benar, cinta itu ada, kemana perginya cinta pertamanya? Cinta tulus seorang gadis lugu, pada seseorang yang mengaku sebagai taipan muda.


Karena pria itu, dia tidak percaya cinta. Bukan sehari dua hari dia mencari lelaki itu, tapi, setiap kali dia bertanya, tidak ada yang tahu di mana dia. Siapa pria itu saja, mereka tidak ada yang tahu. Evan, nama yang umum, tapi, hingga detik dia menyerah, secuil informasipun tak di dapat sama sekali. Hilang di telan bumi. Lenyap tanpa meninggalkan bekas. Hanya goresan luka yang menyisakan dendam.


โ€ข


โ€ข


โ€ข


โ€ข


Kan? Author ngga jadi malming nya? malah asyik ngutak atik naskah. Hingga akhirnya bisa up 2 kali, yeey๐Ÿฅณ๐Ÿฅณ๐Ÿฅณ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Apasi Author ini, ngga jelas banget. Btw, terimakasih buanyak, banyak banget, yang udah Vote, komen dan Like๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Sungguh, Author itu nol tanpa kalian semua para pembaca๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Okeyh, Author sudah melek merem ini, so, happy satnite everibadih, gudnit, selamat malam, selamat beristirahat, mimpi indah semuanya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jan lupa baca doa sebelum tidur๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Lov yu ol๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Author๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿฆฐ


__ADS_2