
Siapa mereka Vy?” Tanyaku ketika 3 orang anak muda memasuki kafe.
“Oh, itu. Mereka band yang akan mengisi panggung itu” Ivy menunjuk panggung kecil di tengah ruangan.
“Sejak kapan itu ada di sana?” Gumamku. Namun sepertinya Ivy mendengar.
“Makanya, kerja itu masuk yang bener, kerja 2 hari bolos seminggu” Sindirnya.
Aku hanya mencibir. Memang benar, aku baru masuk 2 hari dan langsung libur tanpa izin.
“Jadi, itu seperti live music gitu?” Aku memperjelas pernyataan Ivy.
“Ya, kurang lebih begitu” Ivy menyambut mereka bertiga, dan sedikit berbincang-bincang.
Aku memakai apron dan mulai berbenah. Sebentar lagi kafe akan di buka. Semua karyawan lain juga mulai sibuk dengan tugas masing-masing.
Kafe ini hanya menyediakan berbagai es krim, kue-kue, kopi, dan aneka makanan dan minuman ringan lainnya. Nuansa ceria yang dihadirkan di sini sangat cocok untuk muda mudi yang sedang berbunga-bunga.
“Vy, ponakanmu mana?” Sedari tadi dia belum melihat batang hidung saudara Ivy.
“Di kafe hijau. Aku pilih kerja sama kamu, Ra. Biar seru” Jawab Ivy enteng.
“Bos mah bebas, mau taruh di mana atau mau ada dimana, ngga ada yang protes” aku mencibir. Ivy hendak menyahuti, tetapi lambaian tangan seorang pengunjung, menginterupsi obrolan kami.
Akhir pekan, selalu menjadi saat yang dinanti. Waktu yang tepat untuk memanjakan diri setelah sibuk beraktivitas sepanjang minggu.
Suasana semakin meriah dengan adanya penampilan live music, beberapa pengunjung pun meminta lagu kesukaan mereka di mainkan.
Hingga sore hari, pengunjung masih memenuhi kafe. Bahkan Dinda juga datang dengan teman kantornya.
“Mbak Kira” Dinda berlari dengan heboh ke arahku.
“Hai, Din. Apa kabar?” aku memeluknya. Rindu sekali aku dengan gadis ceria ini.
“Kabar baik Mbak, tau belum, Andi sudah di tahan sekarang. Nina sebentar lagi bebas” Dinda melompat lompat kecil usai melepas pelukannya dariku.
“Tahu dong, orang aku sudah di sini” Nina yang baru saja masuk menimpali obrolan kami.
“Nina” lagi-lagi teriakannya membuat telingaku berdengung.
Mereka berdua heboh sendiri. Aku memilih pergi melanjutkan pekerjaanku. Mendengarkan lagu nostalgia sewaktu SMA, yang di cover ulang oleh si penyanyi, membuatku terhibur. Sesekali aku ikut bersenandung lirih.
Di antara kesibukanku, sesekali aku memandang barisan kursi yang di penuhi pengunjung. Sebagian mereka beramai-ramai dengan teman mereka, tak sedikit pula yang berpasangan. Mereka menikmati malam minggu yang panjang.
Namun, mataku terkunci pada dua orang di ambang pintu. Aku selalu berkata sudah melupakan semua, merelakan semua. Tapi apa itu benar? Sakit itu masih menusuk-nusuk, saat mereka bergandengan mesra di depanku. Cukupkah satu tahun menghapus kebahagiaan ataupun luka? Rasanya, setiap detik selalu membawa ingatan ke masa lalu.
Aku memejamkan mata dan berbalik, berhenti mengikuti kemana mereka berjalan. Sakit! Bolehkah aku bersandar sebentar? Dimana? Menumpahkan semua sakit yang memang tidak ku sembuhkan. Sakit yang hanya ku biarkan menganga. Kepada siapa aku berbagi air mata?
Aku mencengkeram ujung meja tempatku bersandar. Mencoba untuk tetap tegak, walau kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku
“Kak, Nona itu meminta Kakak datang ke mejanya” seorang karyawan memanggilku.
“Oh iya, aku akan segera kesana” Aku tahu meja siapa itu. Aku tahu dia pasti sengaja melakukan itu.
Baiklah, sepertinya ini tidak akan baik buatnya, sekalipun dia merasa dialah pemenangnya. Tak akan kubiarkan 2 kali dia menindas ku.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Jika ada lomba bernapas panjang terbanyak, maka akulah pemenangnya.
Sekali lagi, mantra ku rapalkan dalam hati. Kuat, kuat, kuat, senyum, senyum, senyum. Aku pasti bisa.
__ADS_1
Setelah aku meneguk segelas air, aku berjalan mantap ke meja mereka. Sahabat, apa yang akan kau lakukan padaku kali ini? Aku sudah siap.
“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu, Nona?” Aku menyapanya, sebagai pelayan dan pelanggan.
“Hai, Ra. Kamu kerja di sini?” Dia meneliti diriku dari atas sampai bawah. Aku tahu dia mengejekku. Bukankah dia yang memintaku datang? Lalu kenapa bertanya sekarang?
“Seperti yang anda lihat, Nona” Aku masih bersikap formal. Aku sama sekali tak melirik mantan suamiku itu.
“Hei, kita kan sahabat, masa harus bersikap kaku begini? Ayolah, Ra. Kita bisa ngobrol santai ‘kan?” Inilah wajah sahabatku sesungguhnya. Kemenangan tersirat pada raut wajahnya saat ini. Dia sangat merendahkanku. Baiklah, lakukan sesukamu, Mel.
“Baiklah, aku akan bersikap santai sekarang, kalian mau pesan apa?” Aku tersenyum sangat manis, senyum terbaik yang mampu aku tampilkan. Luka, kau harus segera sembuh. Lihatlah dia, bukankah menghadapi akan terasa lebih baik daripada terus bersembunyi?.
“Aku mau ice cream jumbo, dan vanilla cake. Kamu mau apa, Mas?” Melisa membelai lembut tangan Mas Rian. Memandangnya penuh cinta. Nikmati saja, Mel. Nikmati, selagi kau bisa.
“Aku capucino saja” Jawab Mas Rian. Kami bertatapan sekilas. Aku tak mau memandangnya lagi lebih lama. Lukaku lebih berdarah lagi saat melihatnya.
“Itu saja dulu, Ra. Nanti, kamu sendiri ya yang mengantar ke sini” Permintaan yang aneh.
“Itu bukan tugasku, Mel, maaf” aku acuh saja, sembari berlalu.
Sepertinya dia kesal. Selama ini, aku menurut saja, percaya saja apa katanya. Tapi kini, maaf saja, aku tidak bisa tunduk lagi padamu.
“Kau baik-baik saja Ra?” Tanya Ivy. Tentu saja, Ivy melihat semuanya.
“Iya, aku baik, tapi masih sakit, Vy. Apa itu wajar?” Aku mencoba mencari pembenaran atas perasaanku.
“Wajar, Ra. Sangat wajar. Kalau kau tak sanggup, kau boleh istirahat. Biar yang lain menggantikanmu” Ivy mengusap-usap bahuku.
“Aku tak apa-apa, Vy. Aku masih bisa melanjutkan” Jawabku. Aku harus kuat, jangan sampai aku terlihat lemah di depan mereka.
Aku kembali bekerja, sesekali aku mencuri pandang ke meja mereka. Kulihat Mas Rian menghampiri musisi di panggung, dia membisikkan sesuatu. Sudahlah, untuk apa memperhatikan mereka.
*Lama Sudah Tak Kulihat
Kau Yang Dulu Kumau
Kadang Ingat Kadang Tidak
Bagaimana Dirimu
Kau Cantik Hari Ini
Dan Aku Suka
Kau Lain Sekali
Dan Aku Suka
Entah Ada Angin Apa
Kau Berdiri Disana
Berhenti Aliran Darahku
Kau Menatap Mataku*
Mau tak mau aku juga ikut mendengarkan, tidak ada mode pembatas suara di sini. Itu buat Melisa, bukan aku. Tak heran jika wanita itu berbunga-bunga.
“Kak, Nona itu maunya Kakak yang mengantar pesanannya” Aku mendongak melihat siapa Nona yang di maksud.
__ADS_1
“Jangan Ra, dia tidak boleh bertindak semaunya sendiri di sini” Ivy mencegat tanganku yang hendak meraih nampan berisi pesanan Melisa.
“Tidak apa-apa, Vy. Aku bisa menghadapi Melisa” Jawabku yakin. Sepertinya aku harus memberi pelajaran pada Melisa.
Aku segera ke meja Melisa lagi.
“Ini, Mel pesananmu” aku meletakkan es krim di depan Melisa. Dan coffee art cappucino di depan Mas Rian.
“Oh, terimakasih sahabatku. Kita ngobrol sebentar yuk, Ra. Kangen nih” Dia meraih tanganku. Menatapku penuh permohonan. Apa yang akan dia lakukan, sebenarnya. Tidak akan tahu jika tidak mengikuti permainannya, bukan.
"Sejak hamil, aku suka yang manis-manis, Ra. Jadi melihat ada kafe dengan menu yang manis-manis, aku langsung minta Mas Rian mengantarkan aku ke sini" Melisa yang anggun menyuap sesendok penuh es krim ke dalam mulutnya. Kemudian meminta Mas Rian mengelap tangan atau bibirnya yang belepotan es krim. Aku seperti melihat adegan dalam sebuah sinetron saja.
"Kamu mau, Ra?" Tawar Melisa basa basi.
"Aku tidak suka makanan manis, takut gendut" Aku menirukan ucapan Melisa, saat aku menawarinya camilan atau makanan manis. Dan sepertinya itu membuatnya marah. Wajahnya tiba-tiba menjadi masam dan galak.
"Jadi, kami menikah sebulan setelah kalian bercerai. Maaf, Ra, aku ngga undang kamu dan anak-anak, aku takut kalian tidak bisa menerima” Ucapnya tanpa berhenti menikmati es krim dan cake secara bergantian. Vanilla cake penuh cream dan sprinkle warna warni, bukannya itu musuhnya?
“Lalu? Apa ini penting bagiku, Mel? Kau menikah dengan siapa, atau Mas Rian selingkuh dengan siapa, aku tak peduli. Bagiku, kalian adalah masa lalu” Aku mencoba kuat mengatakan ini. Aku baik-baik saja. Aku pasti bisa.
“Benarkah? Bagus kalau begitu, kau pintar, sekarang, Ra” Dia terkekeh penuh ejekan.
“Apa kau belum menikah lagi, Ra? Di lihat dari penampilanmu, kau tidak laku ya? Sudah usang?” Darahku mendidih rasanya. Aku tahu aku buruk, tapi ketika itu di ucapkan oleh Melisa, aku tidak terima.
“Terserah apa katamu Nyonya Arian Atmaja, asal kamu tahu, kau bisa bersamanya hanya karena aku telah membuangnya, atau singkatnya, kau memakai bekasku. Apa hebatnya barang bekas?” Aku berdiri untuk segera meninggalkan tempat itu. Badanku terasa panas, menahan amarah yang sudah lama ingin kuluapkan.
“Kau!”
“Apa? Kau mau semua orang di sini tahu, kalau kau merebut suami sahabatmu?”
“Plak” Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Cukup sakit juga.
“Beraninya kau mengancamku. Dasar wanita kampungan, bodoh” Raungnya. Beberapa pengunjung mulai melihat ke arah kami. Mas Rian tampak memegangi Melisa. Ya Tuhan, bukankah dia hampir melahirkan? Kenapa malah mencari keributan?
“Hei, jangan membuat onar di tempatku” Ivy sudah muncul saja di antara kami. Dia menyingsingkan lengan bajunya, seolah hendak berkelahi.
“Dia yang mulai, pecat saja dia” Teriak Melisa.
“Wow, santai Nyonya. Lihat perutmu, simpan tenagamu untuk melahirkan nanti” Ucap Ivy.
Melisa maju selangkah, menantang Ivy, namun dengan sigap, Mas Rian memeganginya.
“Sayang, kita pulang saja ya. Jangan begini, malu di lihat orang” Mas Rian berbisik di telinga Melisa namun masih bisa ku dengar dengan jelas.
“Awas, kau ya” Melisa mendelik ke arahku dan Ivy bergantian. Mereka pergi tanpa menyentuh makanan yang dipesannya.
"Kenapa kamu diam saja sih, bales dong" Kini Ivy memarahiku, setelah kami berdua duduk di pantri. Nina dan Dinda juga ikut bergabung bersama kami.
"Kamu ngga lihat, dia udah mau lahiran, Vy. Kamu mau terjadi apa-apa pada bayinya?" Akupun tak kalah keras membentak Ivy.
"Kamu masih mikirin dia?"
"Yang salah Melisa, Vy. Bukan bayinya, kamu kan juga seorang ibu. Apa kamu tega melihat bayi tak bersalah jadi korban?" Ivy terdiam. Aku tahu, Ivy tidak terima, aku diperlakukan seperti itu oleh Melisa. Tapi, aku tidak ingin kehilangan empati hanya karena sebuah tamparan.
"Kalian berdua, jangan sampai ada yang tahu kejadian ini, terutama Ayah dan Ibu" Aku menghadapi Nina dan Dinda. Mereka mengangguk mengerti.
.
.
__ADS_1
.