Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Suram


__ADS_3

Suram, begitulah hari-hari ini berlalu. Langit sepertinya masih enggan menampakkan tingginya. Keperkasaannya terhalang mendung pekat, di iringi kilatan marah sang petir.


Keluarga Atmaja, masih terlihat harmonis seperti biasa. Tenang dan adem. Tetapi, siapa yang menyangka, tenangnya permukaan sungai, dalamnya menyimpan arus. Dinginnya air menyimpan lava panas.


Ayah masih bekerja seperti biasa, Ibu masih jumawa dan berkuasa. Sejak pertemuan memanas terakhir kali, Rian menjaga jarak dengan Kira. Tetapi, bukan berarti dia tidak menaruh perhatian lagi pada mantan istrinya itu. Masih, bahkan lebih. Mengintai sebelum pulang ke rumahnya. Setidaknya, melihat senyum indah mantannya, akan menjadi semangat dan obat penenangnya sebelum menemui istrinya yang mulai kacau.


Ya, setelah melabrak Kira, Melisa sering marah-marah, bahkan mengamuk. Menangis hanya karena anaknya menangis, tertawa berlebihan saat anaknya merajuk. Terkadang dia menolak anaknya, tak jarang pula, dia berurai air mata saat anaknya jauh darinya.


Rian, yang awalnya berjanji dalam hati, untuk mendukung istrinya, kini seakan lupa. Sibuk dengan dunianya. Melihat Melisa yang kacau, bukannya tidak iba, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Bukan hanya sekali dua kali, Rian mendapat amukan Melisa.


"Mas, hari ini, aku mau jalan-jalan dengan Sia. Aku butuh penyegaran, Mas, kurasa otakku bermasalah akhir-akhir ini," Ucap Melisa yang sedang duduk di tepi ranjang. Memandang tubuh Rian yang membelakanginya.


Rian berbalik, menperhatikan istrinya yang masih berisi. Wajahnya yang kuyu itu terlihat mengerikan dengan senyum lemah yang menghiasi bibirnya.


Tetapi, bagi Rian ini sebuah kemajuan. Setidaknya, dia sudah berbicara normal, tidak ada lonjakan amarah lagi.


"Sia di rumah saja, kamu pergilah bersenang-senang. Nikmati waktumu sendiri," Rian menghampiri istrinya dan duduk di hadapan Melisa. Mengusap pipi bulat itu dengan lembut. Cantik, namun kehilangan sinarnya. Mengecup sekilas bibir pucat yang dulu menggoyahkan imannya.


"Benarkah?," Binar kebahagiaan muncul di manik mata Melisa. Senyum kegirangan yang jarang sekali muncul, kini merekah sempurna, menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Iya, Sayang. Pergilah, tapi jangan lama-lama, pompa ASI dulu sebelum pergi, ya!," Rian membelai lembut rambut Melisa yang kehilangan kilaunya.


"Terima kasih, Mas!," Melisa merangsek memeluk suaminya. Rian hampir terjungkal ke belakang, karena posisinya masih berjongkok di depan Melisa.


"Hei, hati-hati, Sayang. Kau bisa membunuhku," Rian tertawa, senang sekaligus sedih. Bayangan buruk masa lalu mengikuti kebahagiaannya sekarang. Rian masih saja merasa bersalah, setiap detiknya kini, di ikuti penyesalan.


Melisa tertawa, bahagia. Menciumi suaminya yang sudah terduduk di lantai, tak kuat menahan berat tubuh istrinya.

__ADS_1


Rian berangkat bekerja dengan wajah yang ceria. Melisa mengantar hingga mobil suaminya tak tampak lagi di matanya. Menggendong Sia yang beberapa waktu ini di abaikannya. Melisa terlarut dalam emosi. Kini, dia harus berdamai dengan keadaan. Menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kembali.


"Kau mau kemana?," Tanya Ibu dari arah dapur. Pandangan tidak bersahabat di layangkan wanita lanjut usia itu.


"Mau ke kamar, ada apa, Bu?," Melisa berbalik menghadapi Ibu mertuanya.


"Sana, bantu Sumi di dapur," Perintah Ibu. "Hari ini, teman Ibu mau arisan di sini."


"Ibu tahu bukan? Aku tidak suka berada di dapur, lagi pula hari ini aku sibuk," Jawab Melisa. Sia sepertinya mulai gelisah mendengar suara keras dari Nenek dan Mamanya.


"Kau hanya menumpang tinggal di sini. Kau harus tahu diri, jika bukan karena anakku yang memungutmu dari tempat hina itu, kau tidak akan mendapat kemuliaan seperti sekarang," Seru Ibu. Seumur hidupnya tidak ada yang berani membantah perintahnya. Ketika mendengar bantahan, Ibu seperti mendengar petir menyambar telinganya, membuat hatinya mendidih.


"Ibu lupa? Ah, ya, Ibu sudah tua pasti mulai pikun. Biar aku ingatkan lagi, Ibu lah yang membawaku kesini, mengacaukan rumah tangga putramu. Beruntung aku mencintai putramu, bayangkan jika dia hanya ku jadikan mainanku? Setelah hartanya habis, aku akan meninggalkannya, seperti yang sudah-sudah?," Sia mulai merengek, ketakutan. Mendengar Mamanya berbicara lirih mendesis, mendorong Nenek dengan langkah Melisa.


"Ibu tidak takut? Aku akan mengambil hartamu? Milikmu? Dan membiarkanmu menjadi gelandangan di luar sana? Tidak ada yang tidak bisa di lakukan seorang Melisa."


"Jadi, Bu, jangan meminta sesuatu yang tidak mungkin aku mau melakukannya. Berhenti memerintahku, aku bukan Kira yang bodoh itu," Melisa menjauhkan wajahnya dari Ibu mertuanya. Melanjutkan niatnya yang terurung sebelumnya. Meninggalkan wanita yang melahirkan suaminya dalam ketakutan. Tubuh renta itu gemetar, marah dan takut bercampur menjadi satu. Namun, bukan Ibu Atmaja jika tidak memiliki seribu rencana dalam kepalanya. Siapapun yang tidak tunduk akan perintahnya, dia harus enyah.


Melisa menyerahkan Sia kepada pengasuh yang mengikutinya hingga ke kamar. Memompa ASI untuk Sia, sebanyak yang dia butuhkan selama Melisa meninggalkannya.


Melisa meninggalkan rumah setelah mematut dirinya, membiarkan Ibu mertuanya sibuk sendiri mempersiapkan acaranya sendiri.


Bersenang-senang sendiri, menikmati jalanan yang mulai lengang. Sesuatu yang tidak dilakukannya beberapa waktu ini.


Di sebuah pusat perbelanjaan, Kira tengah memilih beberapa baju dengan kerah tinggi. Lelah jika harus memakai syal setiap hari. Dia tidak terbiasa, namun harus di biasakan sekarang. Bekas-bekas pertempuran panas yang di tinggalkan Harris di lehernya semakin bertambah setiap harinya. Walaupun mendapat protes dari Kira, Harris tak pernah menghiraukannya.


Kira merasa jengah melihat tatapan Johan yang menyebalkan atau senyum berpuas diri Harris. Atau senyum malu-malu dari rekan kerja dan ART nya. Setiap hari, mereka sering berbisik di belakang Kira. Bahkan Johan sering terbatuk mendadak bila Kira keluar kamar lebih siang dari hari biasanya.

__ADS_1


Sejak hari itu, hidupnya tidak tenang lagi, namun dia juga sangat menikmati. Mata Kira seolah terbuka, rumah tangganya dulu hanya berkedok cinta, bukan dengan cinta. Cinta hanya sebuah formalitas, bukan sebuah ikatan batin diantara keduanya. Tidak, bersama Rian, tidak pernah sebesar dan sederas ini perasaannya mengalir. Kira merasakan ketulusan, di balik perlakuan keras Harris. Merasa aman di antara kemarahan Harris. Merasa terlindungi di setiap  tindakan mengejutkan yang di lakukannya.


Kira adalah wanita sederhana. Walaupun kini dia mampu, tapi hanya membelanjakan uang secukupnya.


"Dunia sempit rupanya," Suara yang akrab menyapa pendengarannya. Kira menoleh ke belakang, tampak olehnya Melisa yang membawa selusin tas belanjaan di sebelah tangannya.


Kira tersenyum, "Hai, kau berbelanja?,"


"Seperti yang kau lihat, apa kau sakit?," Melisa meneliti penampilan Kira yang seperti sedang terkena demam. Memakai sweater berkerah tinggi menutupi lehernya.


"Kau perhatian sekali, Mel. Aku sangat baik saat ini. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Apa kau menyumpahiku?," Kira menyipit, Melisa masih tetap Melisa, wanita bertaring yang setiap saat akan merobek daging mangsanya.


"Penampilanmu seperti nenek-nenek yang baru pulang dari dokter," Melisa terkikik. Menertawakan lelucon yang baru saja di buatnya.


"Aku anggap itu peringatan, secantik apapun kita di masa muda, kita akan menjadi nenek-nenek suatu saat nanti," Kira melanjutkan langkahnya, tangannya asyik menyibak baju-baju yang tergantung berdekatan. Matanya melirik Melisa yang berdiri di sampingnya, melakukan hal yang sama.


"Setidaknya, waktuku masih lama, dan aku masih muda," Melisa memiringkan kepalanya sekilas, bibirnya mengerut, meremehkan.


" Dan siapa yang tahu, berapa lama waktu yang kita miliki. Kau pun akan menjadi tua seperti yang lain," Kira menepuk pundak Melisa. Menenangkan sekaligus mengancam, mengancam dengan takdir, dan misteri waktu.


"Oh ya? Aku tidak takut, Ra. Bahkan dengan apa yang kumiliki saat ini, aku bisa memiliki apa yang aku inginkan. Dengan uang yang di miliki suamiku, menolak tua, tetap cantik dan menyenangkan suamiku, bukan hal yang sulit kulakukan, tidak sepertimu, hanya karena urusan kasur, suamimu mendua, mencariku yang memiliki segalanya," Melisa tersenyum penuh kemenangan.


"Baiklah Nyonya Rian. Nikmati saja apa yang kau punya sekarang, sebelum ada yang lebih berhak merebutnya darimu. Kurasa, aku sudah terlalu lama di sini. Berbelanjalah yang banyak di sini. Bye," Kira menjauh dari Melisa yang tak menghiraukan ucapan terakhir Kira. Melisa merasa jika dia sudah menang.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2