Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Misi Yang Gagal


__ADS_3

Jeje hilir mudik di depan kamar Papa dan Mamanya sejak subuh hari. Matanya yang semula enggan terbuka, terbelalak sempurna, begitu melihat Jen tidur sendiri.


Bagai saudagar emas kehilangan separuh hartanya, Jeje kalang kabut membangunkan Kakak dan kembarannya.


"Kau ini ribut sekali, hanya kerena Mama tidak ada. Paling juga ke kamarnya, bukan di culik," Jen bangun seraya menendang-nendang selimutnya dengan kasar. Dia menggerutu sebal, Jeje membuyarkan tidurnya yang nyenyak. Suaranya yang sudah tinggi itu semakin meninggi. Memekakkan telinga. Di hadapannya ada Jeje yang sudah meletakkan tangannya di kedua sisi pinggangnya, siap menghakimi Jen. Sorot matanya menajam, sarat akan kemarahan sekaligus kekecewaan.


"Tapi bagaimana bisa? Kuncinya ada di sakuku, apa iya Mama menembus dinding?" Balas Jeje sengit, napasnya naik turun saking kesalnya.


Jen menghela napas, "Jangan bodoh, Je. Pakai otakmu, di sini ada telepon, ada Bibi Mai, ada Kakek, mungkin saja Mama memanggil mereka, atau Mama menemukan kunci di sakumu, dan mengembalikannya lagi!"


Excel menutup telinga mendengar teriakan Jen. Gendang telinganya seakan mau pecah. Dalam mode senyap, dia menyaksikan perdebatan sengit kedua saudara kembarnya yang tidak satupun mau mengalah, tanpa ada niat untuk melerai.


"Kenapa kau bisa tidak merasa saat Mama meninggalkanmu? Kau pasti tidak menjaga Mama dengan benar, iya kan?" Jeje maju selangkah, mendekati Jen yang masih bersila di atas kasur, rambut panjangnya tergerai bebas sebagian menutupi sisi wajahnya.


"Kau menyalahkan aku? Kalau kau pintar mengapa tidak kau jaga sendiri saja?" Dagu Jen terangkat-angkat saat berucap, matanya menatap Jeje dengan berani.


"Lalu aku menyalahkan siapa? Tuan Beruang? Princess? Kak Excel? Jelas-jelas di sini kau yang salah! Kau tidur seperti orang pingsan!" Teriak Jeje. Excel yang samar-samar mendengar namanya tercatut, menurunkan tangannya dari telinga. Excel mendelik, melayangkan keberatan yang sama sekali tidak di gubris Jeje.


Jen melebarkan bola matanya, marah, "Kau sendiri tidur seperti kerbau! Masih menyalahkan aku! Aku tidak mau membantumu lagi! Lakukan semuanya sendiri!" Jen beranjak dari kasur dengan kasar. Bahkan dia menabrak tubuh Jeje hingga terhuyung.


"Berani kau denganku?" Teriak Jeje lagi saat dia sudah berdiri.


"Berani! Apa yang ku takutkan darimu?" Jawab Jen yang sudah mencapai pintu kamar mandi. Dengan tangan di pinggang dia berbalik seakan menantang Jeje.


Jeje membisu saat melihat tatapan galak dari saudara kembarnya. Jika sudah seperti itu, bahkan Excelpun memilih mengalah. Meskipun menang melawan adiknya, tapi dia akan kalah dengan trik kotor Jen. Di depan Mamanya, Jen selalu manja dan lemah, sehingga Mama lebih membelanya.


Jen menurunkan tangannya dengan hentakan kasar, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Jeje salah tingkah saat Excel tertawa tertahan, seakan mengejek dirinya. Tangannya menyisir rambut di belakang kepalanya. "Aku hanya tidak mau ribut pagi-pagi, Kak!"


"Kakak melihatnya tadi! Kau memang tidak suka ribut, hanya membuat gaduh!" Ucap Excel datar, namun senyum penuh ejekan terbit di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


"Aku hanya mengalah, Kak! Jangan melihatku seperti itu!" Ujar Jeje dongkol, suranya tertahan di tenggorokan. Seakan ragu untuk keluar.


Excel tertawa, ia kembali merebahkan badannya, sembari menunggu Jen keluar kamar mandi. "Kau memang kakak yang baik, Je!"


Jeje hampir menangis mendengar ucapan Excel, dia merasa kalah, dan sendirian. Tak punya koalisi lagi untuk mendukung rencananya. Membujuk Jen? Setelah apa yang terjadi pagi ini? Itu sama artinya dengan menggenggam asap. Mustahil.


***


"Je, kau tidak ikut bersama kami?" Tanya Excel yang sudah rapi, di belakangnya ada Jen yang sudah memakai tas kecil, dan juga kamera polaroid menggantung di lehernya. Rambutnya di ikat menyerupai ekor kuda, rok denim selutut yang melebar, serta kaos lengan panjang berwarna baby pink, membuat Jen tampak penuh energi. Dengan acuh dia melewati Jeje tanpa menyapanya.


Mereka akan pergi ke beberapa tempat di luar kota. Selain berwisata, Kakeknya akan mengunjungi perkebunan teh miliknya.


"Mama bagaimana, Kak?" Tanya Jeje lemah, hatinya bimbang, memilih Mama atau ikut Kakaknya.


Excel membuang nafas, ingin rasanya dia menggucang kepala adiknya itu. Bagaimana bisa ada orang yang sangat gigih dengan prinsipnya? Yang nyata-nyata itu sangat konyol. Bagaimana jika Papa atau Mamanya tahu, bisa-bisa Jeje kehilangan muka. Excel sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, dia memilih diam dan masa bodoh. Yang penting dirinya tidak ikut-ikutan.


"Jika kau mau, tunggu saja Mama di sini, aku akan mengirimkan video kami saat bersenang-senang! Cuaca di luar sangat bagus, sepertinya!"


Jeje memandang lagi pintu kamar Mamanya, di ketuknya lagi berulang. Namun, tak ada sahutan dari dalam, bahkan pintu itu semakin bertindak menyebalkan, tidak bergeming sama sekali. Seakan menantang dengan tinggi dan kokohnya. Jeje menghela napas, sambil melangkah mundur. Hingga sedikit jauh dari pintu itu dia berbalik, dan berjalan dengan benar. Namun, tetap saja, bukan hanya sekali dua kali dia menoleh, memastikan pintu itu tidak terbuka sama sekali.


Jeje berkemas dalam waktu yang sangat singkat, setengah berlari dia menuju pintu kamar Mamanya lagi. Dia sangat terkejut dan bahagia, melihat pintu kamar Mamanya terbuka sedikit.


"Ma, Mama," Jeje memanggil Mamanya, usai mendorong pintu hingga sebatas lebar tubuhnya. Matanya tertuju pada onggokan selimut di ranjang. Jeje menelan ludah, sedikit takut. Bagaimana jika ketahuan Papanya? Dia pasti akan di marahi habis-habisan karena ulahnya yang lancang, masuk kamar tanpa permisi.


Dengan napas lebih cepat, Jeje melangkah ragu ke ranjang. Sudah sampai di sini, mundurpun percuma. Setelah memastikan Mama aman, akan segera ku tinggalkan, pikir jeje.


Pelan, sangat pelan, Jeje mengulurkan kepalanya ke atas ranjang. Berdebar-debar, dan gemetar.


"Ah, rupanya Papa," gumam Jeje, setelah napasnya seakan berhenti beberapa saat. Tegang. Dia mundur beberapa langkah. Membayangkan Papanya membuka mata, mendapatinya sedang berada di atasnya. Jeje terus mundur, dia lebih suka melihat langsung ekspresi kemarahan Papanya. Daripada dia terkejut dengan jantung berlompatan, saat suara dingin Papanya menghardiknya.


"Sedang apa, Je?" Jeje melompat, benar-benar terlonjak, hingga nyaris jatuh.

__ADS_1


"Mama," Jeje berbalik dengan napas ngos-ngosan. Wajahnya seakan kehilangan warna, pucat dan pias.


"Ada apa? Kau di tunggu Kakak dan Adikmu! Semua sudah siap tinggal menunggu kamu," Kira melangkah mendekati putranya, lalu membenarkan posisi kerah kemeja yang sengaja tidak di kancingkan, memperlihatkan kaus putih di dalamnya.


Jeje mengerjap, dia merasa bersalah pada Mamanya, yang sama sekali tidak terlihat marah. "Jeje nyari Mama," cicitnya lirih.


"Mama tadi kebawah, melihat kalian mau berangkat, eh, kamunya malah tidak ada. Mau ikut engga? Udah ganteng gini masa mau dirumah aja?" Kira menyamakan tingginya dengan Jeje, dengan senyum sumringah Kira menoel hidung anaknya dengan telunjuknya.


"Mama ngga ikut?" Bibir tipis Jeje melengkungkan senyum ragu-ragu.


"Lihat nanti ya, Sayang. Mama saja belum mandi! Jika Papa mau, Mama akan menyusul! Bagaimana?" Kira memohon pengertian putranya. Entah dia setuju atau tidak.


Jeje menatap mata Mamanya bergantian, seakan mencari kebohongan di sana. Namun, Jeje tidak mengerti bagaimana mata yang menyembunyikan dusta.


"Baik, Ma. Jeje akan menunggu Mama di sana! Mama hati-hati ya!" Jeje memeluk Mamanya. Sesuatu yang mencurigakan, Jeje tak pernah melakukan ini jika dia dalam keadaan baik.


"Kamu kenapa, Sayang?" Kira melepas pelukannya dan menangkap kepala Jeje tepat berhadapan dengannya.


"Tidak apa-apa, Ma! Maksud Jeje, hati-hati di jalan nanti," Jeje berusaha tersenyum tulus. Kelopak matanya mengerjap, dan langsung memeluk Mamanya lagi.


Kira tertawa tanpa suara di balik punggung Jeje. Dia mengerti maksud putranya.


"Kamu tenang saja, Sayang. Selama ada Papa, Mama tidak akan terluka!" Kira beranjak, meraih pergelangan tangan Jeje, "Ayo, Mama antar turun! Mama sudah siapkan sarapan kamu juga! Nanti kamu makan di mobil, ngga keburu kalau nunggu kamu sarapan dulu! Hati-hati dengan barang bawaan kamu, Je! Jangan lupa awasi Jen, jangan sampai jajan sembarangan, dia bisa sakit lagi. Kamu dan Kak Excel juga....!"


Suara Mamanya tenggelam. Jeje menulikan telinga. Khotbah musiman jika hendak bepergian. Mulai lagi, batin Jeje.


"Hati-hati di jalan!" Teriak Kira saat mobil meninggalkan halaman. Tangannya melambai, hingga mobil-mobil itu lenyap dari pandangan.



__ADS_1



__ADS_2