Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sisakan satu yang seperti itu


__ADS_3

Ruang rawat khusus


Seorang wanita mengerjap, menyesuaikan penglihatannya dengan ruangan yang terang benderang. Bulu mata lentik, berkibar di kelopak matanya. Hidung mancungnya membaui aroma obat-obatan. Cantik, tanpa polesan riasan tebal memenuhi wajahnya. Kesempurnaan yang diinginkan sebagian besar kaum hawa, melekat padanya. Tetapi sayang, dia terjerumus oleh bayangannya sendiri.


Nyeri tak tertahankan terasa di perut bagian bawah, merayap hingga ke ulu hatinya, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk bangun. Memandang sekeliling, sembari mengingat lagi, apa yang menimpanya sebelum sampai di sini.


"Kau sudah bangun?."


Suara seorang wanita yang di bencinya, kenapa dia yang datang? Kekasihku? Kenapa bukan kamu? Dengung pertanyaan menggema di kepalanya. Enggan, dia enggan menjawab, seolah menjawabnya adalah kekalahan.


Kira mendekat, menatap angkuh, kepada wanita di hadapannya kini. Terbaring lemah, dan tidak berdaya. Bodoh. Dia egois dengan tidak memberi makan janinnya. Dia bodoh, membiarkan tubuhnya lemah. Singa selalu memangsa rusa yang lemah. Senyum sinis terkembang di bibir Kira.


"Apa kau yakin masih mau bersaing denganku?," Kira memainkan lidah di pipi bagian dalam. Matanya menatap malas. Menjentikkan kuku jemarinya yang tidak panjang.


"Dasar wanita jahat." Desis Viona. Dia hanya mampu mendesis. Geram dan kesal, tetapi tidak berdaya untuk membalas gertakannya.


"Ya, aku memang wanita jahat," Kira menyeringai, jahat dan mengerikan.


"Kembalikan dia padaku, kau hanya akan membuatnya sakit, dasar licik," Erang Viona, sayang dia kembali merasakan nyeri.


"Tidak, aku tidak suka apa yang menjadi milikku, di ambil orang," Kira meniti tangan kanan Viona yang selembut sutra. "Sepertinya, aku ketahuan olehmu, aku telah membuka tabirku di depanmu. Tetapi, tidak masalah, kau tidak berdaya sekarang. Kau bisa apa? Lemah, menyedihkan," Bisik Kira di telinga Viona. Tangan Viona mengejang, mengepal kaku.


"Kau," Desisnya tertahan. Selang infus berubah merah, karena urat nadinya tegang, membuat aliran darah berbalik.


"Rebut dia dariku jika kau bisa, Viona. Ambil! Menangkan dia! Aku bisa mencari yang lebih baik dari pria itu. Seribu kali," Kira tertawa. Menghayati kemenangannya.


"Bangun, jika kau terus berbaring, ini tidak akan menarik. Aku bukan pecundang yang melawan musuh dalam keadaan lemah, ayo bangun," Raung Kira di depan wajah Viona yang sudah merah padam.


"Rebut priamu dari cengkeramanku. Selamatkan dia, dari iblis wanita sepertiku. Buktikan padanya, bahwa aku adalah angsa hitam yang meminjam bulu angsa putih sepertimu," Viona menangis, menangisi kelemahannya.


Dulu, saat dia memiliki segalanya, dia mengabaikan Harris yang tulus kepadanya. Sekarang, saat Harris berada dalam masalah, dia malah terbaring lemah. Dalam titik terendah hidupnya, dia merasa bahwa dialah yang jahat. Dialah yang patut di salahkan. Dia pantas mati sekarang.


"Kau mau menyerah? Kau ingin mengakhiri semuanya? Akan aku kabulkan," Kira mendekati Viona, mengambil sesuatu yang berkilau di terpa cahaya lampu. "Kau yakin? Jangan harap aku akan segera mengirim pria mu menyusulmu jika kau pergi. Aku akan menikmatinya lebih lama, menghisap tetes demi tetes darahnya. Meneguk setiap manis yang kuperas sarinya," Kira menyeringai lagi, seperti vampir yang haus darah. Mengerikan.


Viona merepet ketakutan, tubuhnya beringsut menjauh dari tempat Kira berdiri. Kira adalah ancaman, sekarang dan nanti. Viona tidak menyangka Kira adalah wanita yang kejam.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu, cepatlah bangun," Kira menjauhkan benda berkilat itu, meletakan kembali di meja dekat buah-buahan. "Peraturannya, jangan bermain curang, jika kau curang, aku tidak akan segan padamu," Kira melempar senyum sinis sebelum meninggalkan Viona.


Viona bernapas lega. Seolah maut menjauh. Dalam hati dia menyumpah serapah, berikrar untuk membuka topeng wanita bermuka dua itu.


Seorang perawat, masuk saat Kira membuka pintu. Perawat tersebut membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan. Dia tidak keluar sampai Viona menghabiskan makanannya.


.


.


.


.


Dini hari, sebelumnya


"Kenapa kamu memilih jalan yang sulit?," Kira sedang berhadapan dengan Tuan Dirga di kantor Rio. Tuan Dirga tidak mengerti jalan pikiran menantunya. Wanita yang susah payah di singkirkannya, malah di biarkan menduduki kursi tinggi di dalam biduk rumah tangganya.


"Pa, ini bukan salah Kira sepenuhnya, ini keputusan kami berdua," Kini pandangan Rio dan Tuan Dirga beralih kepada Harris. Tuan Dirga mengakui, Harris banyak berubah sejak bersama Kira, tetapi, membawa kembali masalah ke dalam rumah tangganya, juga bukan bentuk tanggung jawab yang di inginkan Tuan Dirga.


Kira menelan ludah, seolah langkahnya yang terang kembali gelap. Ragu, apa benar apa yang di katakan Papa mertuanya? Benarkah dia sedang bermain dengan bahaya? Tetapi, dia merasa, menghadapi Viona bukanlah hal yang sulit dengan Harris di sampingnya. Tidak sulit jika mereka tetap saling menguatkan.


"Beri alasan yang bisa membuat Papa mengerti. Jika hanya akan membuat kalian dalam kesulitan, Papa tidak bisa tinggal diam," Sambung Tuan Dirga saat keduanya tak mengucap sepatah katapun.


"Pa, biarkan semua seperti ini, kami hanya tidak ingin Viona membuat kekacauan di luar sana. Ku rasa, mengamati musuh dari dekat akan memudahkan kita untuk menangkapnya," Jawab Kira.


"Kekacauan apa yang tidak bisa Papa selesaikan?," Tanya Tuan Dirga memotong ucapan Kira dengan tidak sabar.


"Kira tahu, Papa bisa menyelesaikan semua, dengan kuasa yang Papa punya, tetapi, apa Papa yakin tidak akan membuat seseorang memendam dendam? Dan akan menyulitkan kami yang tidak punya kuasa sebesar Papa. Kami hanya ingin menyudahi apa yang kami mulai dengan cara kami. Harris dan Viona berpisah dengan anggapan mereka sendiri. Dan Papa, menyudahi hubungan mereka dengan menghadirkan aku."


"Bagi Viona, aku adalah penghalang baginya untuk bersama Harris, sekarang. Dan, bagi Papa, aku adalah tembok pelindung bagi Harris, tembok yang berlubang dan rapuh. Bagi aku dan Harris, Viona adalah perekat hubungan kami. Walau ini tidak masuk akal bagi Papa, tapi bagi kami, menggandeng Viona sama artinya meredam badai di masa datang, meski tidak bisa menghentikan, tetapi membuat badai lebih tenang, maka kerusakan yang di timbulkan, lebih sedikit,"


Kira menarik nafas, dia tidak berharap Papa mertuanya mengerti, tapi dia mengerti, situasi apa yang sedang di alami sekarang. Jika sebatang rokok, sudah terselip diantara bibir, tetapi api tidak di nyalakan, rokok itu, hanya sebatang rokok yang tidak berbahaya. Ungkapan yang Kira kutip di dalam hatinya.


Harris, melongo, dia tidak pernah membicarakan ini sebelumnya denga Kira. Dia begitu terkejut dengan isi otak istrinya itu. Otak yang selama ini di pikirnya, dangkal. Dia bahkan sudah memikirkan sejauh ini, sesuatu yang bahkan tak terpikirkan olehnya.

__ADS_1


Kekaguman Rio semakin bertambah kepada wanita yang sempat membuatnya merasa tidak waras. Dia berpikir menyukai wanita bersuami, tetapi, sempat juga dia benci saat menikah dengan kakak sepupunya. Rio mengira, Kira sama dengan wanita lain, yang menyukai harta. Sampai fakta yang membuatnya menyerah, yaitu dialah yang bertaruh dengan keselamatannya untuk menyelamatkan kakak sepupunya. Rio menyerah untuk kebahagiaan mereka berdua.


"Sisakan satu yang seperti itu, untukku, Tuhan," Do'a Rio dalam hati.


Tuan Dirga membisu, tertegun mendengar penuturan menantunya, wanita yang di sangkanya lemah. Melihat bagaimana dia memohon agar adiknya di bebaskan, dan melihat dia sekarang, Tuan Dirga seperti melihat dua orang yang berbeda.


Kira menoleh ke arah Harris yang masih membeku, menatap kosong ke lantai. Kira menyangka Harris tidak sepakat dengannya.


"Aku menyerahkan semua keputusan kepada Papa dan kamu, Mas," Kira meraih tangan suaminya. Menggenggamnya erat. "Aku sadar, aku hanya bisa menyelesaikan masalah dengan apa yang ada di otak dan hatiku. Tidak semua orang bisa menerima materi sebagai kompensasi. Tetapi, bagiku, Viona membutuhkan uluran tangan, dia hanya sedang bingung."


Kedua ayah dan anak itu saling pandang, setuju, tapi ini bukan cara mereka menyelesaikan masalah. Sesuatu yang belum pernah mereka lakukan, merangkul musuh menjadi kawan. Membalik busur yang mengarah ke padanya.


Tuan Dirga bukan orang yang kaku, yang bersikukuh pada prinsip "orang tua selalu benar" tetapi fakta bahwa Kira bisa mengalah dengan pendapatnya, benar-benar membuatnya, kalah. Dia kalah dengan wanita muda yang di anggapnya minim pengalaman, dan tidak memiliki kekuasaan.


"Papa harap, kalian berhati-hati, jangan sungkan menghubungi Papa jika kalian dalam masalah," Ya, pada akhirnya, membiarkan yang muda menentukan adalah keputusan yang sarat dengan risiko, tetapi, mendukungnya untuk tetap melangkah adalah kebijaksanaan.


Baik Kira maupun Harris saling pandang, seakan tidak mempercayai pendengaran mereka.


"Papa serius?," Harris sampai berdiri saking terkejutnya.


"Belum pernah Papa setakut ini, tetapi, belum pernah juga Papa seyakin ini pada keputusan Papa. Terlebih yang menyangkut masa depanmu," Jawab Tuan Dirga. Beliau mengulas senyum, meyakinkan putranya, bahwa beliau mendukung keputusan keduanya.


Kira menarik napas panjang. Dia lega sekaligus takut, tetapi keputusan sudah diambil, dan apapun resikonya, Kira akan menanggungnya. Bukankah dia sudah pernah mengalami masa paling buruk dalam hidupnya? Lalu, penderitaan apa lagi yang bisa membuatnya terpuruk lebih dalam?


Harris dan Kira saling berpegangan tangan, menguatkan, meyakinkan. Bukan Kira yang harus menyelaraskan, tetapi Harris yang harus menyamakan langkah. Pengalaman hidup Kira yang terlihat hanya sebatas rumah tinggalnya, nyatanya lebih luas dari Harris yang sudah menjelajah negara, kerasnya hidup menempa keteguhan hatinya. Dari dalam rumah dia belajar bersabar dan menahan, ketika keluar, dia menjelma menjadi teman perjalanan yang terjal, berliku dan curam. Menantang dirinya untuk bangkit dari setiap jatuh yang di alaminya.


Harris, pria sempurna, tetapi cacat hatinya. Berhadapan dengan Kira, dia menjadi pria yang tidak percaya diri. Malu dengan dirinya yang sering mengeluh dengan hidupnya yang tidak pernah kekurangan. Mengeluh dengan penghianatan kecil. Jika di banding Kira, sakit hati Harris, hanya seujung kuku. Jika di banding pengorbanan Kira, Viona hanyalah kerikil. Beruntung, karena Harris memiliki Kira. Wanita yang menyelamatkan hidupnya berkali-kali. Bersama Kira, mereka akan saling membalut luka, menutup luka dengan gerakan seirama, menjadi obat bagi masing-masing sakit, yang mereka derita.





__ADS_1


__ADS_2