Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sekeping teka teki


__ADS_3

Aku mengerjapkan mata berulang-ulang. Mencoba menyesuaikan pandanganku dengan cahaya sekitar yang menyilaukan. Pemandangan asing, membuatku bergegas bangun. Aku heran kenapa setiap bangun tidur, aku selalu berada di tempat berbeda.


Badanku terasa lemas dan kepalaku terasa berat. Menoleh kanan kiri, tidak ada siapapun di sini. Aku berpikir, berada di kamar hotel, namun melihat jarum menancap di tanganku, kurasa aku berada di rumah sakit.


Mengingat kembali, beberapa waktu lalu, dimana aku sedang berada. Oh, tidak. Aku ingat semuanya, ya semuanya. Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Malu. Bagaimana bisa, aku melakukan sesuatu yang sangat memalukan di depannya? Bagaimana bisa aku menikmati pelukannya. Ya Tuhan, aku seperti wanita murahan saja. Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Berharap itu hanya terjadi di mimpiku, itu tidak nyata.


“Apa kau baik-baik saja?” Suara itu kembali mengusikku. Aku tidak ingin membuka mata, aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak sanggup berhadapan dengannya.


“Hei, jangan membuatku takut, buka matamu” Perintahnya. Dia mengguncang bahuku pelan, kurasakan dia berada tepat di depanku.


“Hei, apa ada yang sakit? Akan kupanggilkan dokter dulu” Aku membuka mataku lebar.


“Tidak, jangan. Aku sudah baikan” Aku meraih tangannya. Uh, tangan yang mmemelukku. Tangan yang menenangkanku. Tapi, bukan milikku. Tangan yang juga di harapkan oleh kekasih hatinya.


“Maaf” Aku melepasnya tergesa-gesa. Melepas apa yang tak bisa ku miliki, sebelum semuanya terlambat.


“Apa kau yakin?” Dia menurunkan pandangannya kepadaku. Tak ada tatapan tajam yang menakutkan di sana. Apa aku salah menafsirkan, aku melihat kekhawatiran di sana. Bersama suaranya yang melembut.


“Ya, aku yakin” Aku sendiri tidak tau, tapi mendapat perlakuan seperti itu, membuatku seakan mempunyai suami yang sebenarnya.


“Makanlah, tadi dokter mengatakan kau harus makan saat kau bangun” Dia menyodorkan semangkuk bubur. Aku tak yakin aku bisa memakannya. Pasti ini tidak ada rasanya. Kenapa tidak mengajakku makan mi kuah yang panas dan pedas. Pasti enak.


“Apa pingsan membuatmu lupa cara makan?” Harris menyambar mangkuk bubur itu, mengambil sesendok penuh bubur polos itu, dan dengan kasar menyodorkan ke mulutku. Dia mulai kembali ke wujud aslinya.


“Bukan, tapi aku tidak suka bubur” Aku mengambil kembali mangkuk itu, dan mulai makan. Biarlah, walau tidak enak, setidaknya aku tidak membuat makhluk itu murka


“Orang sakit tidak boleh pilih-pilih, habiskan dan minum ini" Harris mengambil beberapa obat yang sudah tersedia di meja. "Jika sudah tidak pusing, kita bisa pulang” Harris masih berdiri tegak menghadapku yang sama sekali tak berani menatapnya lama-lama. Tangannya yang menyilang di antara diafragma perut dan dada, seperti guru yang mengawasi muridnya.


“Terima kasih” Ucapku lirih. Sebenarnya, aku ragu mengatakannya, tapi, karenanya aku merasa lebih lega sekarang.


“Kau seharusnya minta maaf, bukan berterimakasih”


“Maaf”


“Kau belum kumaafkan, kau harus mencuci bajuku dulu, dan karena kau sudah membuatku malu di depan umum, maka akan kupikirkan cara agar kau bisa ku maafkan”


Aku mengangguk mengerti. Keadaanku yang lemah, membuatku tak bisa mendebatnya. Jika di pikir lagi, aku memang salah, tapi bukan salahku sepenuhnya kan? Bukankah dia yang memelukku terlebih dahulu, menawarkan tubuhnya padaku. Kenapa jadi aku yang salah? Sekali lagi, aku tak berdaya.


°°°°°°°°


Beberapa saat sebelumnya


“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Tuan Dirga kepada Harris. Mereka berbicara di luar ruangan.


“Dia belum makan sejak pagi, dan sepertinya kelelahan” Jawab Harris datar.


“Itulah sebabnya,Papa meminta kalian tinggal di rumah Papa. Agar ada yang mengurus kalian” Seru Tuan Dirga. Walaupun, Tuan Dirga tidak meninggikan suaranya, tapi Harris merasa Papanya sedang marah.


“Di rumahku juga ada yang mengurus, Pa, hanya saja tadi dia sedang tertekan karena masalah dengan mantan suaminya” Harris akhirnya jujur, tak ingin terus di sudutkan.


“Apa Rian menyakiti Kira?”


“Tidak, kurasa. Dia hanya mengungkapkan apa yang menjadi beban dalam hatinya”

__ADS_1


Tuan Dirga menghela nafas berat, sebenarnya bukan ini yang dia inginkan. Tapi, jika urusan dengan mantan suami Kira sudah selesai, maka akan lebih memudahkan semuanya. Setidaknya, bayangan masa lalu Kira tidak lagi menjadi hal yang perlu dikhawatirkan.


“Apa kau pernah bertemu Kira sebelum ini?” Tanya Tuan Dirga. Mengamati putranya dari dekat, dan selama beberapa tahun ini, beliau tak pernah sedekat ini dengan putranya.


“Ya, beberapa kali”


“Apa pendapatmu?”


“Tidak buruk”


“Wanita itu?”


“Aku sudah lupa”


“Secepat ini?”


“Apa Papa mau aku kembali padanya?” Seru Harris.


“Tidak, tentunya” Tuan Dirga terkekeh. “Papa tahu, ini akan terjadi, tapi tidak kusangka akan secepat ini. Setidaknya, dalam hitungan bulan. Papa semakin tidak yakin kau mencintai wanita itu. Hanya sebuah obsesi, kurasa”


"Obsesi? Benarkah setelah beberapa tahun, ini hanya obsesi?" Batin Harris.


Tuan Dirga menepuk pundak Harris, walau sebenarnya beliau sangat ingin memeluk putranya.


“Jaga dia dengan baik, suatu saat kau tidak akan mampu melepasnya, walau hanya sedetik” Tuan Dirga meninggalkan Harris yang masih mematung di tempat. Dia sendiri masih bingung dengan perasaanya. Tapi bagaimana Papanya bisa seyakin itu?. Lagipula, Harris masih mengharap wanita penolong itu.


"Dokter Vivian sepertinya sedang bertugas hari ini, kurasa dia tidak akan keberatan bila ada yang berkonsultasi dengannya" Langkah Tuan Dirga sepertinya sudah jauh, tetapi, suara Tuan Dirga masih dalam jangkauan pendengaran Harris.


"Ku rasa, aku tidak membutuhkannya"


Harris menghela nafas, dia tidak mau ambil pusing dengan sesuatu yang belum pasti. Dia hanya ingin, menjalani apa yang ada di hadapannya. Dia lelah berangan-angan, memiliki harapan yang tinggi akan sesuatu, tetapi, pada akhirnya, dia tidak mendapat apa-apa selain kekecewaan.


Tidak buruk juga, menikah dengan Mata Sedih. Walaupun tidak secantik Viona, tapi untuk seorang wanita yang sudah pernah menikah, Kira cukup menarik. Meski sulit di pahami.


••••••


Tuan, boleh saya bertanya?” Johan baru saja tiba. Mereka berdua sedang berdiskusi tentang si penolong waktu itu. Sementara Kira sedang di kamar mandi.


Harris yang matanya tak lepas mengamati ponsel berisi rekaman cctv waktu itu, hanya melirik sekilas. “Bicaralah!”


“Apa anda ikhlas menyuruhku libur kali ini?” Johan kesal sekali. Dia sedang tidur siang yang nyaman tetapi bosnya memintanya datang.


“Ikhlas, tapi hanya setengah hari. Ada masalah?” Jawab Harris datar.


“Tuan, kenapa anda kejam sekali, bahkan aya belum sempat makan siang, Tuan” Tutur Johan memelas.


“Kau keberatan dengan pekerjaan yang ku berikan?” Harris masih fokus ke ponselnya. Gambar yang buram itu memang sulit di kenali. Di tambah luka di wajahnya, membuat semuanya semakin sulit.


“Iya, Tuan. Semua orang libur di hari minggu” Johan semakin kesal karena bosnya itu tak mempedulikannya sama sekali.


“Baiklah, kau besok libur” Ucap Harris. Dia merenggangkan tubuhnya sebelum menatap Johan penuh makna.


“Benarkah, Tuan?” Johan sudah terlonjak kegirangan.

__ADS_1


“Benar, kau libur selamanya” Jawab Harris garang.


“Apa? Jangan, Tuan. Mau di kasih makan apa anak saya, jika saya tidak bekerja?” Senyum Johan sirna seketika.


“Makanya, kerja yang benar. Dan kau tidak punya anak" Harris menampar lengan Johan, pelan. Apa yang kau dapat dari Hendra?”


“Menurut Tuan Hendra, si penolong itu memberikan nomor yang salah, Tuan. Tetapi, Tuan Hendra berhasil mendapatkan nomor polisi motor milik wanita itu. Ini” Johan menunjukkan foto berisi nomor polisi motor itu.


“Namun, sayangnya, ketika di telusuri, sepertinya motor itu sudah 2 kali pindah tangan. Si pemilik motor menjual ke makelar mokas, dan sudah di jual lagi ke pemilik baru”


“Apa tidak bisa di lacak lagi?” Pikiran Harris semakin kusut, semakin rumit. Mencari seorang wanita tanpa petunjuk apapun, di kota sebesar ini, sama susahnya dengan mencari jerami di tumpukan jarum.


“Bisa, Tuan. Tapi, akan membutuhkan waktu lama"


"Hendra bodoh, kenapa tidak memotret orang itu? Malah memotret nomor kendaraan" Harris kesal.


"Mungkin orang itu hanya berniat menolong, tanpa mengharap imbalan apapun, Tuan"


Harris menghela napas. Susah sekali mencari satu orang saja. Rambutnya acak-acakan karena berulang kali terkoyak oleh tangannya sendiri.


"Nyonya, apa anda sudah baikan?" Johan menghampiri Kira yang keluar dari kamar mandi.


"Iya. Sudah baikan, Jo" Kira tersenyum manis ke arah Johan. Membuat Harris sebal, kepadanya saja tidak pernah tersenyum seperti itu, pikirnya.


"Syukurlah. Memangnya anda sakit apa, Nyonya?" Johan membantu Kira menuju ranjang. Harris melihat semua ini, hanya mengepalkan tangannya. Suaminya, aku apa Johan, sih?. Batin Harris.


"Hanya lelah saja, sudah, jangan seperti ini" Kira menyudahi obrolannya dengan Johan, ketika matanya tak sengaja melihat ekspresi gelap Harris.


"Lelah? Apa Tuan tidak membiarkanmu istirahat?" Seru Johan. Johan menatap tajam ke arah Harris.


"Jangan sembarangan, kau kira aku yang menyebabkan dia sakit?" Teriak Harris.


"Buktinya, Nyonya sampai pingsan?"


"Dia pingsan karena tidak makan"


"Itu karena Tuan tidak melepaskannya?"


"Memangnya aku memasungnya?"


"Memang tidak, tapi anda menyiksanya"


Kira yang tidak tahu arah perdebatan mereka berdua, merasa pusing. Teriakan mereka sudah seperti kucing berkelahi saja. Kepalanya menoleh bergantian, ke kiri dan ke kanan, mengikuti siapa yang berbicara. Johan di sebelah kiri depan, dan Harris di sebelah kanan.


"STOP, HENTIKAN" Teriak Kira. "Harris, Johan, kalian seperti anak kecil saja, malu tuh sama umur, malu sama rambut yang udah tumbuh uban"


Harris dan Johan diam seketika. Seperti terkena mantra "Langlock" milik Harry Potter.


Namun, ada yang membuat Harris lebih membisu. Apa yang membuatnya pusing sepanjang waktu, sepertinya mulai menunjukkan titik terang. Satu keping teka teki sudah terpecahkan.


.


.

__ADS_1


.


Q: Siapa sih Dokter Vivian? 💕🥰


__ADS_2