
Laut yang tenang, bukan tidak mungkin akan menghadirkan badai.
Hidup yang sudah terasa nyaman ini, membuat Kira melupakan sakit hatinya. Sejak memaafkan semua orang di masa lalu, Kira bisa hidup dengan tenang. Hanya fokus pada dirinya dan keluarga barunya.
Namun, bukan berarti, tidak ada masalah atau bayangan dari masa lalu yang senantiasa mengikuti. Hari-hari terakhir, Harris semakin sibuk, berangkat pagi-pagi dan pulang larut. Kira sering khawatir dengan kesehatan suaminya. Bukan sekali dua kali Harris tidur tanpa melepas sepatunya. Ia terlihat sangat lelah.
Seperti malam ini, dia tidur tengkurap di belakang Kira. Dengan dasi masih melilit dan sepatu masih terpasang rapi. Hari sudah pagi, Kira segera bangun, melepas sepatu dan membenarkan posisi kepala Harris agar tidurnya lebih nyaman. Memandangi sebentar wajah yang selalu membuatnya, kehilangan akal.
Kira mulai sibuk di dapur bersama Rina dan Sari. Menyiapkan sarapan untuk keluarga besar mereka. Sari, yang lebih santai sering melontarkan candaan, sedangkan Rina selalu memasang wajah serius sepanjang waktu. Tapi, tidak berarti Sari akan takut mencadai Rina.
Anak-anak juga semakin mandiri, Kira tak perlu lagi ke sana kemari membantu mereka bersiap. Santi, yang sekarang menjadi pengasuh mereka bertiga, hanya membantu seperlunya.
Harris belum bergerak dari tidurnya, Kira ingin membangunkannya tapi dia ragu, melihat suaminya masih mendengkur halus. Akhirnya, dia memutuskan untuk membiarkannya tidur sebentar lagi, dan segera mandi.
Meja makan riuh tanpa kehadiran si empunya rumah, meski sedikit kecewa, tetapi saat melihat Papa sambung mereka masih tidur, dan sedikit penjelasan dari Mamanya, anak-anakpun akhirnya mengerti. Mereka segera sarapan dan berangkat, mengingat, beberapa hari ini ujian sekolah tengah berlangsung dan akan berakhir dua hari lagi.
Kira masih mengawasi mobil yang mengangkut ketiga anaknya ke sekolah, tangannya melambai, hingga mereka tidak tampak lagi. Kira terkejut saat tangan besar melingkar di perutnya, mengusap usap pelan, dan sesuatu yang berat menimpa pundaknya. Hembusan nafas hangat menerpa ceruk lehernya, membuatnya menggigit bibir bagian dalam. Terasa hangat saat perut dan dada suaminya, menyentuh punggungnya.
"Kau sudah mandi?," Kira memutar sedikit kepalanya, pipinya langsung mengenai kening suaminya.
Harris menggeleng pelan dan malas. Namun semakin mengeratkan pelukan di perut Kira.
"Mandi sana, biar segar badannya," Kira mengusap tangan di perutnya.
Harris hanya diam, namun mulai menjauhkan wajahnya dari leher Kira. Membiarkan dingin kembali menerpa punggung istrinya. Kira mengikuti langkah gontai suaminya. Takut akan terjatuh, Kira langsung meraih tangan suaminya dan meletakkan di pundak. Membantunya untuk berjalan menaiki tangga.
"Apa kau tidur sambil berjalan?," Kira bermaksud menggoda suaminya seperti biasa, namun karena tidak ada jawaban, Kira memutar sedikit kepalanya, dan menaikkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.
Harris mengangguk pelan, matanya terpejam. Kira heran sekali dengan Harris pagi ini, dia bukan dia seperti biasanya. Karena cemas, Kira menghentikan langkahnya, meraba dahi Harris.
"Kau tidak sakit, tapi kenapa kau lemas sekali? Apa kau terlalu lelah bekerja?," Seru Kira. Dia mengomel sendiri, seperti emak memarahi anaknya yang bandel.
"Iya, aku menyelesaikan semuanya, karena harus ke luar negeri, lusa," Jawab Harris lemah. Tak ada urat yang menyembul di balik kulit lehernya, seperti saat mereka berdua berdebat.
"Masih dua hari, kenapa di kebut semalam?," Kira membawa Harris ke meja makan, lalu mendudukannya di kursi. Kira menyeduhkan kopi untuk suaminya, namun sekarang di beri gula sedikit lebih banyak.
"Aku ingin di rumah bersama kalian," Jawabnya datar. Membuat Kira tersenyum lebar.
"Jadi hanya karena itu?," Kira menahan senyumnya saat berbalik, memasang wajah datar.
Harris mengangguk, di ikuti "O" yang panjang dari Kira tanpa suara. Kira meletakkan kopi yang masih mengepul mengeluarkan asap, yang langsung di sambar oleh Harris. Kira duduk di sebelah kanan Harris, menopang dagunya, netranya tak melepaskan pandangan dari suaminya.
Harris menghirup aroma kopi yang menguar melalui asapnya, sebelum menyesap kopi buatan istrinya. Nikmat. Harris mencecap rasa yang memenuhi indra perasa. Meletakkan kembali cangkir kopi dan beralih ke istrinya yang sudah segar. Harris menepuk pahanya, mengisyaratkan Kira agar duduk di pangkuannya.
Kira mendelik, menoleh ke kanan dan kiri. Malu jika sampai di lihat oleh orang lain. Namun, Harris menarik Kira dengan paksa.
Harris meletakkan kepalanya di punggung istrinya. Memeluk erat seakan takut berpisah.
"Kau ini kenapa? Sikapmu aneh sekali."
"Sebentar saja, jangan banyak tanya."
Kirapun diam, membiarkan Harris melakukan apapun yang di inginkannya, jika itu membuat perasaannya lebih baik.
Johan yang sedianya akan menemui Tuannya, terurung tatkala melihat kemesraan kedua majikannya. Dia memilih menunggu di ruang tamu, sembari menyusun lagi jadwal Harris. Hingga keributan di luar, mengganggu ketenangan pagi di rumah ini.
Johan membuka pintu, terbelalak melihat siapa yang sedang beradu pendapat dengan Doni. Dan ketika melihat Johan membuka pintu, Viona langsung menyerbu pintu dengan menyeret seorang gadis kecil dan sebuah koper.
__ADS_1
"Selir datang," Gumam Johan, dia mulai gelisah, membayangkan perang yang akan segera terjadi. Selir datang untuk mengambil tempat ratu, sepertinya.
"Mana Harris?," Bentak Viona kepada Johan yang masih mematung. Viona meletakkan koper dengan kasar, serta meninggalkan anak kecil yang merepet ketakutan di depan pintu.
Viona merangsek masuk dengan kasar. Mendorong Johan yang masih di pintu.
Harris dan Kira masih terhanyut dalam kehangatan, tidak menyadari ada sepasang mata marah mengawasi mereka. Namun, sebagai seorang pelaku peran, dia mengatur emosinya, kembali menjadi Viona yang lemah dan rapuh.
"Sayang," Panggilnya lembut.
Kira menoleh, sedangkan Harris membuka matanya lebar-lebar, mengangkat kepala dari punggung hangat istrinya, sebelum menoleh. Keduanya saling pandang, lalu, Kira bangkit dari pangkuan Harris. Kira merasa tidak enak, terpergok bermesraan dengan suaminya.
Namun, Harris menahan pergelangan tangan Kira saat Kira hendak meninggalkan Harris.
"Sayang, aku pulang," Viona tersenyum sumringah sembari merentangkan tangannya, seolah dia habis bepergian dan dengan rindu menumpuk, dia menemui kekasih yang amat di rindukannya.
Yang di rindukan bergeming di tempat, malah merapatkan tubuhnya dengan wanita lain. Johan melihat ini ingin tertawa. Bosnya tahu, tidak ada tempat untuk barang bekas dirumah ini.
Kira memperhatikan wanita di depannya ini, wanita yang hanya bisa di lihatnya di layar kaca, kini berdiri di hadapannya. Tubuhnya kecil, ramping dan lembut. Dialah sutra. Kira menggigit bibir saat melihat perut wanita itu, lalu menatap Harris. Pria yang selalu teduh itu, kini sangat dingin dan tatapannya menajam. Aura gelap seakan mengintarnya.
Kira hanya diam, seperti janjinya, apapun yang di minta oleh suaminya, itulah yang akan dia lakukan. Jadi kerena tangannya masih dalam cekalan Harris, Kira tidak akan kemana-mana.
Viona kecewa, tangannya tidak bersambut, kekasihnya tidak lagi menghambur memeluknya. Viona merengut masam, melihat Kira dengan pandangan meremehkan. Viona dengan lenggang santai dan penuh percaya diri, menghampiri Harris. Bergelayut manja di lengan kesukaannya.
"Sayang, kau tidak merindukanku?," Suara mendayu penuh rayuan terucap dari bibir manis itu.
"Kenapa kau kembali?," Suara Harris menggelegar, Harris yang garang kembali lagi. Ekspresinya tidak melunak sama sekali. Bahkan, mengcengkeram Kira lebih kuat. Seakan dia butuh pegangan untuk menghadapi masa lalunya. Kira meringis, menahan sakit. Hatinya pun sama sakitnya sebenarnya, serakah, tidak rela ketika miliknya akan di ambil oleh wanita lain.
"Apa ini sambutan untuk kekasihmu yang baru kembali, hem?," Bukan Viona jika dia tidak bisa merayu. Tangannya membelai lembut pipi Harris, memaksanya menoleh ke arahnya. Namun, meski dia dan Harris saling beradu pandang, mata Harris sama sekali tidak membalas tatapannya.
"Milik siapa dia?,"
"Tentu milikmu, Sayang, aku tidak menyadari kalau dia sudah ada, saat aku meninggalkan rumah. Aku berharap kamu datang menjemputku, tapi aku terlalu banyak berharap, jadi aku putuskan untuk kembali sendiri," Viona membelai bahu Harris, merambat hingga tengkuknya, dan turun ke punggung, mencoba merayu. Meski memakai hak tinggi, untuk mencapai telinga Harris, Viona harus berjinjit.
Kira semakin meringis, sakit, Harris mencengkeram semakin kuat. Hingga tangannya tidak merasakan apa-apa. Namun, Kira bertahan, menunggu perintah suaminya.
Apa mata Kira yang keliru? Atau memang Kira mengharapkan ini yang seharusnya terjadi? Ekspresi Harris mengatakan bahwa dia tidak menginginkan lagi kekasihnya. Gelapnya tatapan Harris dan enggannya dia menatap Viona, memberi makna lain bagi Kira. Benarkah, kini hanya dia di hati Harris? Kira terlonjak kegirangan dalam hati, memikirkan ini.
Namun, dia tidak mau berbesar perasaan, meski wajahnya berbinar penuh kemenangan tapi dia harus tetap rendah hati.
Harris menyeret Kira menuju kamar mereka, di lantai dua. Meninggalkan Viona dan Johan di sana.
"Siapa dia?," Tanya Viona kepada Johan yang masih memperhatikan Tuannya.
"Istrinya," Jawab Johan acuh. "Kau meninggalkan anakmu diluar!."
Viona terperanjat, dia melupakan Kristal. "Kristal, masuk," Viona berteriak galak, menanggalkan topeng rapuh yang dia pakai saat merayu Harris.
Gadis kecil itu, masuk ke dalam rumah takut-takut. Matanya yang bening menatap Johan, bibirnya yang mungil berkeriut gemetar dalam ketakutan.
"Kapan dia menikah?." Viona menatap Johan lagi. Tatapan yang tidak mereda sama sekali. Tajam dan di penuhi amarah.
"Hampir dua bulan," Jawab Johan, dia sama sekali tidak takut dengan tatapan mengerikan dari Viona. Baginya, Viona hanya mantan kekasih Bosnya, bukan siapa-siapa lagi.
"Jadi, dia menikah setelah aku meninggalkan dia?," Viona melirik tajam, sudut bibirnya mengembangkan senyum, menyeringai. Mengerikan.
"Ya,"
__ADS_1
Viona tersenyum penuh arti, masih ada harapan untuknya. Selama ada alasan untuknya tetap tinggal di samping Harris, dia akan memanfaatkanya. Viona mengusap pelan perutnya, jalannya akan terang dan mudah selama ada "dia".
•
•
•
Sementara di kamar atas,
"Harris, sakit, lepasin," Kira meringis karena cengkeraman Harris semakin kuat. Tetapi Harris tidak peduli, dia membuka pintu dengan kasar dan membantingnya kembali saat menutupnya. Seolah pintu itu berbuat dosa kepadanya. Kira terkejut bukan main, mendengar pintu yang berdentum keras.
Harris menghempaskan Kira hingga terhenyak di atas kasur. Tentu saja, ini membuat Kira sangat kesal. Dia tidak tahu menahu, malah kena amukan pula.
"Kau ini kenapa?," Kira memegangi pergelangan tangannya yang memerah, memandang heran ke arah Harris yang belum meredakan sorot tajam matanya. Seperti sebilah pedang yang siap menyayat daging segar di depannya.
"Apa kau suka dengan laki-laki yang bertanggung jawab?," Suara dingin seakan menghakimi terlontar dari bibir yang selalu terasa manis bagi Kira.
Kira membeku, mencerna apa yang di ucapkan Harris, bingung. Jika apa yang keluar dari mulutnya, salah sedikit saja, maka Kira harus siap meninggalkan semuanya, begitu pikir Kira.
"Ya," Jawab Kira jujur mengesampingkan kekhawatirannya. Kira tidak ingin membuat Harris kesulitan.
"Apa kau menyukai laki-laki yang mau mengakui kesalahannya?," Harris maju selangkah namun tak mengendurkan tatapan tajam membunuh dari manik mata hitam yang semakin gelap itu.
"Ya," Kira bergidik ngeri, belum pernah Harris semarah ini, selama mereka bersama.
Harris semakin dekat dengan Kira, semakin tak berjarak. Kira ketakutan sekarang, Harris mengepalkan tanganya, dan mata itu sudah menunjukkan urat merah kemarahan di sisinya yang putih. Dalam pikiran Kira, Harris akan menyeretnya keluar, dan dia kembali dengan kekasihnya. Kira sakit memikirkan ini, bohong jika dia akan pergi dengan ikhlas bila Harris kembali dengan kekasihnya. Itu semua bohong.
"Apa kau menyukai laki-laki yang berjiwa besar?."
"Ya."
"Kau menyukai laki-laki yang setia?,"
"Iya," Teriak Kira mulai sebal. Dia yang sedang ada masalah, kenapa aku yang di hakimi?, Batin Kira.
"Apa kau mencintaiku?,"
"Ya,"
Harris berhenti, sorot mata itu layu seketika.
Sedangkan Kira, menangkup mulutnya, mulut yang telah lancang, mengkhianati pemiliknya. Kira menelan ludah,
"Maaf, aku tidak bermaksud menyulitkanmu," Kira meraih tangan Harris yang sudah terurai dari kepalan yang mengeras.
Harris meraih Kira dalam pelukannya. Menangis, gemetar. Kira semakin merasa bersalah. Mereka berdua hanyut dalam perasaan masing-masing.
•
•
•
👋👋 Hai lagi, maafkan author yang baru bisa up, selamat membaca semuanya.
Author😘
__ADS_1