
Malam sudah larut, namun, kota tak pernah tidur. Bahkan sebagian orang baru saja akan memulai geliat kehidupannya. Melisa bingung hendak kemana. Beberapa nomor orang yang di kenalnya, menolak panggilan darinya. Hingga membuat Melisa kesal setengah mati. Berulang kali dia mengumpat, menyumpah serapah, dan memukul kursi memanjang yang di dudukinya. Bahkan sopir taksi itu sampai menoleh ke arah Melisa, saat Melisa berteriak frustrasi.
"Fokus saja ke jalan! Gue ngga mau mati sekarang!" Sembur Melisa. Sopir taksi itupun segera fokus lagi ke jalan. Namun hatinya sangat kesal mendapat perlakuan kasar dari Melisa.
"Wanita sialan," Batin sopir taksi itu.
Hingga di tempat sepi, dia menghentikan laju mobilnya. Melisa yang masih bingung akan tujuannya, di buat terkejut saat melihat sekeliling.
"Gue bisa bayar lo, b******! Lo kira gue miskin? Hingga tak bisa bayar ongkos taksi lo yang jelek dan kampungan ini?" Bentak Melisa pada sopir itu.
"Mulut lo tajam juga, J*****! Mulut lo kayaknya butuh pelajaran deh!" Sopir yang tampak masih muda itu turun, dan memaksa Melisa keluar dari taksinya.
"Lepasin gue, B******!" Melisa menahan tubuhnya dengan berpegangan ke sandaran kursi depan. Namun, pria bertubuh besar itu menyentaknya dengan kasar. Hingga Melisa melesat dengan cepat, menyisakan sejengkal jarak dari pria itu.
"Jika lo mau selamat, turun dan ikut gue! Atau, lo mau ini?" Pria itu menunjukkan benda berkilat dari sarung yang mengait di pinggangnya.
Melisa ketakutan, "Gue bakal bayar lo, sumpah! Gue ngga bohong!"
"Itu urusan gampang! Sekarang, kau harus mengobati luka akibat bibirmu yang tajam ini, B****!" Bisik Pria itu sambil mengusap bibir Melisa dengan ibu jarinya. " Jika tidak, mungkin besok kau tinggal nama!"
Melisa menelan ludah, dia gemetar ketakutan, dia tidak punya pilihan selain mengikuti pria itu. Melisa semakin menggigil saat melihat bangunan tua yang sudah tidak terawat, suram dan gelap. Tangannya mengepal dalam cekalan erat pria itu. Rumput tinggi nyaris sama tingginya dengannya menggores lengannya yang terluka. Tak ada cahaya yang bisa membantunya melihat dengan jelas keadaan sekeliling atau setidaknya dia tahu dimana dia berada sekarang.
"Aku tahu kau kaya, Nona! Tapi mengapa kau meninggalkan rumah, jika kau tidak menginginkan sebuah petualangan!" Bisik pria itu, yang semakin membuat Melisa mengigil ketakutan.
***
Melisa masih berurai air mata saat pria sopir taksi itu menurunkannya di depan sebuah kos-kosan sederhana milik salah satu teman Melisa yang belum lama di kenalnya. Dia memang wanita malam, tapi belum pernah dia mendapat perlakuan kasar dan menyakitkan seperti ini. Tubuhnya kini banyak bekas cambukan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah dan pipinya terasa ngilu. Belum lagi bajunya yang sobek di beberapa bagian. Membuatnya mirip orang yang kurang waras. Tak heran rasanya jika orang meliriknya dengan sinis dan mencemooh.
"Mel," Sapa teman Melisa yang kaget melihat penampilan Melisa. Dia nyaris tidak mengenali wanita di depannya ini. "Kau kenapa, Mel?"
Melisa menangis sesenggukan, dia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Ayo, masuk! Ngga enak di lihat tetangga!" Wanita yang masih memakai seragam khas sebuah minimarket itu segera menuntun Melisa ke dalam kamar kosnya. Tanpa bertanya lagi, wanita itu memberi Melisa minum dan membantunya mengobati lukanya.
Melisa terjaga sepanjang malam, selain merasakan seluruh tubuhnya yang remuk redam juga meratapi nasibnya yang selalu sial. Semua uang di tas diambil pria tadi, meski masih ada perhiasan yang berada di dasar tas, sengaja di balut baju.
"Hidup memang selalu tidak adil padaku" Batin Melisa kesal. "AAARRRGGHH!"
****
"Bik, Bik Sumi!" Teriak Ayah Atmaja dari dalam kamar. Ayah baru saja pulang dari Klinik, menjaga istrinya yang belum di izinkan pulang. Sedangkan Nisa, sudah pulang sejak kemarin sore.
"Iya, Pak! Ada apa memanggil saya?" Bi Sumi berlari tergopoh-gopoh menyambut panggilan majikannya. Tangannya masih memegang serbet.
"Setelah kami ke klinik, siapa yang berada di rumah?" Tanya Ayah Atmaja yang terlihat gusar.
__ADS_1
Bi Sumi yang sedikit bingung dengan pertanyaan Ayah dan melihat mimik wajah Ayah yang sangat tidak tenang.
"Hanya saya, suami saya, dan juga Bu Mel, Pak! Tapi Bu Mel keluar sebentar, dan kembali lagi, Pak! Ada apa ya, Pak?" Bi Sumi menggulung kain lap itu di tangannya.
"Bibi yakin? Tidak ada orang lain lagi?" Tanya Ayah, kali ini lebih tinggi dan penuh penekanan.
"Yakin, Pak! Bahkan saya dan Mang Kusno tidak meninggalkan rumah sama sekali!" Ucap Bi Sumi penuh keyakinan. Memangnya mau kemana? Rumah aja kaya habis pertunjukan kuda lumping, batin Bi Sumi.
Ayah Atmaja mengusap wajahnya dengan kasar. Sebelah tangannya di letakan di pinggang. Hilir mudik, dari kiri ke kanan, sesekali berputar. Bi Sumi jadi pusing melihatnya.
"Ada apa ya, Pak? Boleh saya tahu?" Bi Sumi mengulurkan kepalanya ke sisi kanan. Sangat penasaran.
"Uang saya di brankas hilang, Bi!" Jawab Ayah setelah berpikir sejenak. Ayah ragu mengatakannya, takut jika di sangka menuduh Bi Sumi. Ayah sendiri sangat yakin dengan kejujuran Bi Sumi dan Mang Kusno.
Bi Sumi terbelalak lebar, berulang kali dia menelan salivanya, keringat dingin tiba-tiba mengguyur tubuhnya, hingga tanpa sadar dia meremas kain lap itu dan membawanya ke depan dadanya, tangannya bergetar.
"Sumpah Pak, bukan saya! Sa-saya tidak mungkin melakukan itu, Pak!"
"Saya tidak bermaksud menuduh Bibi, saya yakin Bibi tidak melakukannya! Bibi tenang dulu!" Ayah Atmaja mengangkat tangannya di depan dada, seolah memberi tanda berhenti, agar Bi Sumi tenang. Ayah merasa bersalah saat Bi Sumi hampir menangis.
"Jika Bapak tidak percaya, Bapak boleh memeriksa kamar saya! Ayo, Pak!" Bi Sumi mengisyaratkan agar Ayah mengikutinya ke kamarnya.
"Tidak perlu, Bi! Saya percaya pada Bibi! Lagipula Bibi tidak bisa membuka brankas saya, orang Bibi ngga bisa baca!" Ayah terpaksa mencandai Bi Sumi, agar dia bisa lega dan tenang.
Bi Sumi berhenti, lalu menggaruk rambutnya yang di gelung membentuk kerucut tumpul di belakang kepalanya. "Brangkas itu apa pakai tulisan untuk membukanya, Pak?"
"Kalau angka saya tahu, Pak! Saya hanya ngga bisa baca," Kilah Bi Sumi membela diri.
"Kok bisa?" Ayah mengernyit heran. Aneh.
"Kalau saya ngga bisa ngitung, bagaimana saya bisa belanja, Pak! Saya ngga bisa nawar di pasar kalau ngga tahu hitungan. Uang kan juga angka, Pak!" Jawab Bi Sumi tanpa dosa dan agak ngegas.
"Oh, iya! Maaf, Bi, maaf! Ya sudah, Bibi kembali saja!" Ayah menyerah, enggan berdebat dengan Bi Sumi.
"Baik Pak," Bi Sumi segera undur diri dan segera menyelesaikan tugasnya. Apalagi sekarang pekerjaannya bertambah, yaitu mengasuh Sia, meski Nisa sudah bisa bekerja kembali.
Ayah kembali menerka-nerka. Ayah menduga ini ulah Melisa, tapi Ayah tidak bisa serta merta menuduh Melisa begitu saja.
"Ayah kenapa?" Tanya Rian yang melihat Ayahnya tampak gelisah. Keduanya berpapasan saat menuju meja makan.
"Kau juga kenapa?" Ayah terkejut melihat anaknya tampak kuyu dan kurang tidur. Bahkan lingkaran hitam itu terlihat sangat jelas.
"Sia gelisah dalam tidurnya, Yah! Berulang kali dia bangun dan mengajak bergadang! Aku sangat lelah dan ingin tidur saja seharian," Jawab Rian. Dia tidak terbiasa menjaga anaknya di malam hari, biasanya Sia ikut tidur dengan Nisa. Dan juga, memikirkan keputusan yang sebenarnya tidak terlalu di sesalinya.
"Makanya, sekali-sekali lihat Nisa, dia hampir tiap malam bangun untuk menemani Sia, mengganti popok atau menghangatkan susu untuk Sia," Ucap Ayah santai.
__ADS_1
Rian mematung, satu Sia saja membuat kepalanya pening, bagaimana Kira dengan 2 bayi yang sangat rewel? Ah, Kira. Sesaknya akan bertambah lagi hari ini, jika ingat nama itu. Ingin rasanya Rian menjadi buta saat melihat senyum bahagia, dan perlakuan suami baru Kira yang amat sangat mencintainya. Rian membuang muka saat Ayah menelisik lebih dekat padanya.
"Apa yang membuat Ayah gelisah tadi?" Tanya Rian mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang di katakan Melisa saat dia pergi dari rumah?" Ayah meraih pundak putranya, mereka menuju meja makan.
"Tidak ada! Dia tidak minta apa-apa! Hanya mengambil perhiasan, uang di rekeningku, dan semua uang tunai yang Nisa titipkan padaku! Ayah tahu sendiri kan, aku bahkan tidak punya tabungan sekarang!" Meski Rian harus kehilangan semua uangnya, tapi setidaknya, masih ada Sia yang akan menjadi cahaya hidupnya. Melisa menguras habis isi ATM milik Rian, dan juga perhiasan yang jumlahnya tidak sedikit. Juga uang tunai milik Nisa, yang sedianya akan di tabungnya di Bank. Nisa sengaja melakukan itu, karena Ayah tirinya terus meminta uang pada Nisa.
Ayah manggut-manggut. Mungkin benar jika Melisa yang mengambil uang miliknya. Jumlah yang sedikit tentunya, hampir setengah dari jumlah uang di brankas itu raib tanpa bekas. Tuyul? Ayah buru-buru menepis pikiran konyol itu. Tuyul berambut hitam, baru benar.
"Ayah kenapa sih?" Rian semakin heran dengan gelagat Ayahnya. Seperti ada yang sangatΒ mengganggunya.
"Uang Ayah hilang, Yan. Hampir separuh yang hilang! Apa mungkin Melisa yang mengambilnya?" Tutur Ayah tanpa bisa di cegah.
Rian benar-benar terkejut, bahkan dia hampir tersedak kopi yang di sesapnya. "Hilang? Separuh? Bagaimana bisa, Yah?"
Ayah mengangguk, lalu mengangkat bahu, "Entahlah, semua seperti sangat kebetulan,"
Ayah sama sekali tak berminat untuk sarapan. Dia meletakkan kembali roti tawar yang akan di suapkan ke mulutnya.
Rian berpikir sejenak, aneh juga saat Melisa pergi tanpa banyak syarat padanya. Tapi, Rian lihat, Melisa langsung ke depan menuju taksinya, setelah keluar rumah.
"Mungkin ngga sih, Yah? Aku sendiri juga tidak yakin, tapi Melisa langsung keluar setelah pamitan!"
"Lalu, siapa lagi yang mungkin mengambil uang itu? Ini terlalu rapi jika di bilang pencurian oleh orang luar!" Ayah mencoba mengutarakan pendapatnya.
"Kita lapor polisi saja, Yah! Rian pusing!" Rian memijit keningnya. Kepalanya mau pecah rasanya. Ada saja masalah dalam hidupnya. Saling bertumpuk dan melindas satu sama lain. Tumpang tindih, hingga dia tak bisa berpikir jernih.
β’
β’
β’
Hai, semuanyaπππ
Maaf Author jarang nongol di komen, tapi semua masukan di tampung kok,π€π€
Semoga Author di beri kecerahan dalam berpikir hingga cerita ini sesuai dengan harapan kalian.ππ
Maaf jika untuk Melisa belum "savage", maklum author hatinya lembutπ΅ wkwkwkwk, becanda doang. Author mah gesrek orangnya.πππ
Like, komen dan Vote kenceng besok bakal lebih nyesek deh!π Karena hanya dukungan dari Shelvers(Misshel lovers/pembaca setia karya Misshel) π€ _lebay ih author_ππ yang mampu mendongkrak semangat untuk nulis.πππ
Selamat malam, dan selamat membacaππ
__ADS_1
Love you allπππ§ββοΈ